Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-26 Menghibur Jack ( part 2 )


__ADS_3

Jack menatap makanan itu lalu pada Ara, yang menoleh pada pelayan itu.


“Terimakasih,” ucap Ara.


Pelayan itupun pergi.


 Jack tidak bicara dia hanya menatap istrinya itu.


“Dari tadi kau diam saja, pasti pengaruh obat itu sudah mulai berkurang, jadi kau harus makan lalu minum obat lagi kemudian tidur, jadi ketika kau bangun, kau akan kembali sehat dan normal, kata Pak Beni begitu, ayo makanlah!” kata Ara, mengisikan berbagai macam makanan yang banyak keatas piringnya Jack.


Pria itu tampak bingung dan menatap Ara.


“Kau kenapa? Ayo makan, aku tidak masalah kau makan banyak, jadi aku bawakan makanan ini, ayo ayo makan!” seru Ara.


Diapun duduk dikursi bekasnya tadi, lalu mengambil sendok gantian menyodorkannya pada Jack.


“Ayo makan! Kau bilang kau mencintaikukan? Biasanya seorang pria itu akan melakukan apa saja untuk wanita yang dicintainya. Dan sekarang aku ingin kau makan, ayo makan!” kata Ara.


Jack tidak menjawab, diapun membuka mulutnya dan makan dari sendok yang diberikan Ara.


“Bagus, ayo makan lagi,” ucap Ara, merasa senang akhirnya Jack mau makan.


“Aku ingin kau normal setiap hari, jadi kau makan dan minum obat harus teratur,” lanjut  Ara. Terus saja bicara tidak henti-hentinya. Dia kembali menyodorkan sendok lagi. Tapi tiba-tia Jack mengambil sendok itu juga piringnya.


“Kenapa?” tanya Ara terkejut, langsung menatap Jack. Ternyata Jack makan sendiri dengan lahapnya dengan siukan sendok yang penuh dan tidak tertampung.


Ara terdiam melihatnya. Jack makan seperti itu lagi, dia disuapi isi sendok yang sedikit tidak disukainya.


Ditatapnya terus pria yang sedang makan itu, yang sama sekali tidak peduli ada yang memperhatikannya, Jack sibuk dengan makanannya.


“Jack makannya pelan-pelan,” ucap Ara.


Tapi Jack tidak mendengarkannya, dia terus saja makan dengan caranya.


Ara menghela nafas panjang. Jack kembali makan seperti itu. Dia tidak tahu sampai kapan Jack makan seperti itu? Banyak fikiran terlintas dibenaknya.


Ara membayangkan bagaimana penderitaannya Jack seorang diri di RSJ di Perancis yang begitu jauh dan sekian lamanya tidak dijenguk oleh ibunya. Kenapa Ibunya Jack begitu tega? Meskipun Jack yang menyebabkan ayahnya meninggal bukan berarti Jack yang salah apalagi waktu itu Jack masih kecil.


Dilihatnya piring-piring itu sudah kosong, Jack sudah menyelesaikan makannya dengan porsi besar. Arapun beranjak dan mengambilkan obat buat Jack, diapun segera menghampiri Jack lagi, duduk didekatnya dan memberikan obatnya itu. Jack tidak banyak bicara dia meminum obatnya.


“Kau sudah minum obatnya, berarti sekarang kau harus tidur! Ayo!” ujar Ara, sambil berdiri dan tangannya langsung meraih tangan Jack.


Niat hati ingin menarik tangan Jack, tapi malah dia sendiri yang tertarik dan terjatuh kepangkuannya Jack.


Jack juga terkejut kenapa Ara tiba-tiba duduk dipangkuannya?


“Maaf Jack, aku terjatuh,” ucap Ara dengan wajah merah, kalau Jack normal pasti menganggapnya gadis yang agresif, sangat memalukan.


 Jack menatap wajah wanita yang ada dipangkuannya. Ara akan mencoba bangun tapi ternyata Jack malah memeluk pinggangnya, membuat Ara terkejut dan menjadi gugup.


“Jack,” ucapnya, sambil meraih tangannya Jack yang malah memeluk pinggangnya dengan erat, lalu menoleh pada Jack yang sama sekali tidak melihat kearahnya.


Arapun jadi diam melihat sikap pria itu yang diam saja, mungkin Jack sedang bersedih sekarang dan memang tidak mau bicara. Dia sudah mencoba untuk membuat Jack bahagia tapi jangankan tersenyum dan tertawa , berbicarapun tidak.


Kini wajah pria itu tepat berada didepannya. Ara menatapnya dengan banyak fikiran terlintas dibenaknya.


“Jack, apa kau sedang sedih?” tanya Ara.


Jack masih tidak menjawab, jadi Arapun diam, mungkin Jack hanya ingin memendam perasaannya sendiri.

__ADS_1


Lama berada dipangkuannya Jack,  lama semakin lama, semakin terasa nyaman, tangan pria itu terasa begitu kuat memeluk punggungnya seakan tidak akan membiarkan Ara terjatuh.


Akhirnya Ara pun mulai mengantuk, menguap beberapakali. Dia menggerakkan tubuhnya senyaman mungkin dipangkuannya Jack dan bersandar ke tubuhnya yang kekar itu lalu menempelkan kepalanya di lehernya Jack, setelah itu Ara terlelap dalam tidurnya.


Jack menoleh pada wanita yang sudah terbuai mimpi itu. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya kedua tangannya yang memeluk Ara semakin erat.


***********


Keesokan harinya…


Ara terbangun dari tempat tidurnya, ternyata Jack sudah tidak ada. Mungkin Jack sudah turun, fikirnya. Apakah pagi ini Jack bersikap normal? Dilihatnya jam di dinding, Arapun bergegas turun dan langsung mandi.


Setelah selesai berdandan, Ara pergi keruang makan dibawah. Ternyata Jack sudah ada disana, juga Ny.Inez, Tn.Ferdi dan Bastian.


Ara segera duduk dikursi sebelahnya Jack. Di meja makan tidak ada yang bicara semua diam. Suasana sangat tegang.


Jack masih makan dengan porsinya yang banyak. Ara kembali mencoba mengajarkan Jack untuk lebih tenang saat makan, meskipun Jack kembali makan dengan porsi yang besar.


Sesekali Bastian tersenyum sinis menertawakan kegagalannya Ara mengajarkan Jack makan.  Ara tetap bersabar, tidak peduli dengan cemoohnya Bastian, dia yakin suatu saat Jack bisa bersikap normal tanpa harus minum obat.


Sampai selelsai makanpun keluarganya Jack tidak ada yang menyapa Jack dan Ara, mereka begitu saja keluar dari ruang makan itu.


Ara hanya menatap kepergian mereka lalu menoleh pada Jack. Menatap pria yang sedang makan itu. Dia senang melihat sikap Jack di ruang kerjanya Ny. Inez kemarin. Pria itu bisa bersikap normal mau bicara banyak meski sesekali. Jack terlihat sangat sempurna.


Sedang menatap suaminya yang sedang makan itu tiba-tiba Jack menoleh kearahnya, membuat Ara terkejut, diapun mengalihkan pandangannya meneruskan makannya.


Jack menyudahi makannya dan melap mulutnya dengan tisu, lalu melihat pada piringnya Ara yang masih belum habis. Menatap istrinya itu lalu pada piringnya. Diambilnya sendok lalu disiukkan pada makanan di piringnya Ara itu dengan penuh seperti yang biasa dia lakukan lalu disodorkan ke mulut Ara.


“Apa ini Jack?” tanya Ara, menatap sendok yang penuh.


“Makan yang banyak, kau kurus,” jawab Jack.


“Apa?” Ara menatap Jack, terkejut.


“Huh!” Arapun menghela nafas pendek lalu menoleh lagi pada Jack.


“Wanita kalau gemuk tidak bagus, pria tidak suka wanita yang gemuk,” kata Ara.


Jack menggelengkan kepalanya, dan kembali menyodorkan sendok itu.


“Kau menyuruhku makan terus, Jack. Itu kebanyakan buatku,” keluh Ara.


Tetapi ternyata tangan Jack tidak mau menyingkir, diapun terpaksa memakan nasi yang ada disendoknya Jack tapi hanya sedikit saja.


“Aku sudah memakannya,” ucap Ara sambil tersenyum.


Seperti biasa pria itu hanya menatapnya tanpa bicara dan menyimpan sendoknya ke piring Ara. Arapun melanjutkan makanan yang ada di piringnya, dengan ditemani Jack yang duduk menyamping menatapnya.


“Kenapa pria itu hanya melihatnya makan?” keluh Ara dalam hati. Tapi itulah Jack dia suka menatapnya. Ara tidak pernah tahu apa yang ada dalam fikirannya Jack.


“Aku sudah menghabiskan makananku,” ucap Ara, lalu menoleh pada Jack.


Jack langsung meraih tangannya Ara.


“Kita akan kemana lagi?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab, dia terus mengajak Ara menaiki tangga rumah besar itu.


Ara terus mengikuti langkahnya. Ternyata Jack mengajaknya ke sebuah ruangan. Setelah pintu dibuka barulah Ara tahu kalau ruangan itu adalah sebuah ruang kerja yang luas. Mungkin ini ruang kerjanya Jack, fikir Ara.

__ADS_1


Ada yang menarik perhatian Ara saat melihat kearah meja kerja itu. Setumpukan kertas HVS ada disana, dan sepertinya itu sebuah gambar.


Arapun mendekati meja itu dan meraih HVS itu, dia terkejut saat melihatnya. Ternyata itu gambar wajahnya . Dilihatnya lagi kertas yang lainnya ternyata masih gambar wajahnya juga, jadi setumpukan kertas HVS itu berisi gambarnya.


Diapun menoleh pada Jack.


“Ini gambarku?” tanya Ara.


Jack mengangguk.


“Kau yang menggambarnya?” tanya Ara lagi.


Jack kembali mengangguk.


“Bagaimana kau bisa menggambarya padahal kita baru bertemu? Ini sangat mirip denganku,” ucap Ara, sambil kembali melihat gambar itu.


Jack menghampiri Ara melihat ke arah kertas HVS itu.


“Cantik,” ucap Jack.


“Kau sedang memujiku?” tanya Ara, tersenyum tersipu malu.


Alih-alih dipuji lagi, pria itu malah diam saja padahal seharusnya pria akan semakin memuji jika wanita merasa terpancing dengan pujiannya. Tapi tidak dengan Jack, dia hanya diam saja.


Arapun menoleh pada Jack.


“Jack harusnya kau semakin memujiku,” keluh Ara, memberengut.


Jack tidak menjawab. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dipintu.


Arapun segera membukanya,  ternyata Bastian sudah berdiri disana.


“Awas!” ucap Bastian dan langsung masuk. Ara diam melihat adik iparnya itu masuk, dia berusaha bersabar dengan sikapnya Bastian.


Bastian mendekati kakaknya.


“Kak, bagaimana dengan mobilku? Aku mau ulang tahun besok, aku ingin memperlihatkannya pada teman-temanku,” tanya Bastian.


“Iya,” jawab Jack, menatap Bastian.


“Baiklah, aku akan bilang ke bagian keuangan. Oh ya ka satu lagi. Aku ingin ulang tahunku dirayakan di rumah ini. Aku ingin pesta yang mewah, aku juga mangundang banyak teman-temanku,” kata Bastian.


“Kau ulang tahun? Apa benar kau ulang tahun besok?” tanya Ara.


Bastian menoleh pada Ara.


“Maksudmu aku berbohong?” tanya Bastian.


“Awas saja kalau kau berbohong!” jawab Ara, menatap Bastian, dia bisa membaca adik iparnya itu sangat culas.


“Aku akan bilang pada bagian keuangan. Semua tagihannya ditagihkan pada kakak,” kata Bastian, tidak menghiraukan kecurigaannya Ara.


Jack tidak menjawab, dia hanya mengangguk.  Bastianpun keluar dari ruangan itu sambil mendelik sebal pada Ara.


Ara menatapnya penuh curiga. Sepertinya perang akan segera dimulai.


“Jack, kau membiarkan Bastian membuat acara di rumah ini? Kenapa dia tidak membuat acara diluar saja?” tanya Ara.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Jack.

__ADS_1


Arapun terdiam, dia merasa aneh, jarang sekali seorang pria muda mengadakan acara dirumah. Apa Bastian merencanakan sesuatu yang buruk? Awas saja kalau iya, batinnya.


**********


__ADS_2