Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-130 Tamu dari Paris Datang Lagi


__ADS_3

Rumahnya keluarga Ara kembali sepi setelah Jack dan Ara memutuskan pulang ke rumah Jack.


Ibunya Ara berdiri di pintu kamar putrinya yang kembali kosong, rumah ini terasa semakin sunyi, apalagi suaminya belum pulang.


Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Bu Amril segera keluar menuju pintu dan membukakan pintunya. Senyumnya mengembang saat melihat suaminya pulang.


“Kau sudah pulang?” tanyanya, menyambut suaminya di teras.


“Dari kemarin hujan terus,” kata Pak Amril, menghampiri istrinya.


“Kemarin putri kita menginap disini dengan suaminya,” ujar Ibunya Ara, sambil memeluk pinggang suaminya dibawa masuk ke rumah.


“Tumben sekali? Kenapa dia pulang? Apa dia baik-baik saja?” tanya Pak Amril, kemudian duduk dikursi yang ada diruang tamu dan membuka sepatunya.


“Dia bertengkar dengan dengan suaminya. Jack menyusulnya kemari,” jawab Bu Amril.


Pak Amril langsung menoleh, menatap istrinya yang duduk disampingnya.


“Ada apa lagi? Apa yang dilakukan pria itu sampai putriku pulang? Apa dia depresi lagi?” tanya Pak Amril dengan nada tidak suka.


“Tidak, bukan begitu. Jack baik-baik saja, dia sudah sembuh. Ada salah faham antara mereka, tentang Arum,” jawab Bu Amril.


“Arum? Siapa Arum?” tanya Pak Amril.


 “Arum itu anak kecil yang tenggelam itu, yang selama ini membuat Jack depresi,” kata Bu Amril.


“Terus masalahnya apa? Kenapa jadi salah faham dan bertengkar?” tanya Pak Amril, masih tidak mengerti.


“Jadi Arum itu sudah ditemukan, dan gadis itu mencoba merayu Jack, padahal sebenarnya gadis itu bukan Arum kecil. Ibunya Arum, Ny Imelda hanya dendam pada Jack dan ingin menyakiti Jack, jadi sengaja membuat salah faham antara Jack dan putri kita. Ara mengira Jack mencium Arum, jadi mereka bertengkar,” jawab Bu Amril.


Pak Amril tertegun mendengarnya.


“Tapi semua sudah terbongkar. Ny.Imelda sendiri yang mengatakan pada putri kita kalau gadis itu bukan Arum kecil yang tenggelam. Jadi Arum yang tenggelam itu masih tidak ditemukan sampai sekarang, ya mungkin memang sudah meninggal,” lanjut Bu Amril.


Pak Amril masih diam mendengarkan.


“Entah kenapa hatiku sekarang merasa tidak tenang” jawab Bu Amril.


“Kenapa lagi? Putri kita sudah berbaikan lagi kan?” tanya Pak Amril.


“Bukan itu yang membuatku tidak tenang,” jawab Ibunya Ara.


“Jadi apa? Katakan saja! Kau membuatku bingung,” keluh Pak Amril.


 “Itu loh. Ny.Imelda pingsan karena dia sangat rindu pada putrinya gara-gara melihat putri kita makan es krim,” kata Bu Amril.


“Kenapa bisa begitu?” tanya Pak Amril, mengerutkan dahinya.


“Jack juga mengatakan kalau putri kita itu perilakunya mirip Arum yang tenggelam itu,” jawab Ibunya Ara, kembali menatap Pak Amril yang juga menatapnya.


“Aku khawatir,” kata Ibunya Ara.


“Khawatir apa?” tanya Pak Amril.


 “Apa itu pertanda?” ucap Bu Amril.


“Pertanda apa?” tanya Pak Amril, semakin bingung.


“Apa mungkin Ny.Imelda itu Ibu kandungnya Ara? Kalau tidak benar-benar mengingatkan pada putrinya tidak mungkin Ny.Imelda pingsan segala,” jawab Bu Amril.


“Kau ini bicara apa? Kita mengambil Ara dipanti asuhan, bukan dari laut yang ada di Perancis. Kapan kita ke Perancis? Jauh-jauh tenggelam di Perancis, di adopsi disini? Sangat tidak mungkin,” jawab Pak Amril.


“Kau benar, sangat tidak mungkin,” kata Bu Amril, menganggukkan kepalanya.


“Mungkin Arum itu memang sudah meninggal. Anak kecil yang terbawa arus laut mana mungkin bisa selamat di lautan yang luas? Ayahnya Jack saja kan tidak tertolong apalagi cuma anak kecil?” ujar Pak Amril, lalu melepaskan kaos kakinya.


 “Sudah jangan banyak fikiran. Mungkin Ara memang ada kemiripan dengan Arum makanya Ny.Imelda bersedih lagi, itu hanya kebetulan saja, bukan berarti putri kita itu Arum,” kata Pak Amril, bangun dari duduknya menuju ruang makan diikuti istrinya.

__ADS_1


 


 


*******


Di rumahnya Jack.


“Jaaack!” teriak Ara dari dalam karma mandi, dia sedang mengatur kehangatan air di bathub.


“Kenapa kau berteriak-teriak memanggil namaku? Tidak bisakah kau memanggilku sayang saja?” terdengar suara teriakan Jack dari ruangan lain.


“Kau juga berteriak!” teriak Ara lagi, sambil melongokkan kepalanya ke kamar tidur tapi suaminya tidak terlihat disana.


“Jack Sayang!” panggil Ara kembali berteriak lalu tersenyum, menggoda suaminya yang ingin dipanggil sayang.


“Aku disini!” balas Jack masih berteriak.


Ara keluar dari kamar mandi mencari arah suaranya Jack. Dilihatnya pintu ruangan museum mininya Jack itu sedikit terbuka, pasti Jack ada disana, fikirnya. Lalu diapun segera menuju ruangan itu.


Ara mendorong pintu itu dan benar saja suaminya sedang ada di ruangan itu, sedang menatap foto dirinya dan ayahnya yang terpasang di tembok.


Arapun menghampiri.


Jack menoleh kearahnya dan langsung memeluk pinggangnya.


“Airnya sudah siap,” ucap Ara, balas memeluk pinggangnya Jack.


“Kau senang melihat foto ayahmu?” tanya Ara.


“Iya, Ayahku sangat gagah kan?” jawab Jack juga bertanya.


“Tidak,” jawab Ara, menggelengkan kepalanya.


“Tidak?” tanya Jack menoleh pada Ara.


“Tidak, biasa saja,” jawab Ara, membuat Jack memberengut.


“Tapi tidak segagah dirimu Jack,” ucap Ara, menatap suaminya yang langsung kembali menatapnya.


“Kau sangat gagah saat memakai baju dinas itu,” kata Ara, membuat Jack tertegun.


“Kau fikir begitu?” tanya Jack.


“Iya,” Ara mengangguk.


“Aku sedih waktu itu karena pria segagah dirimu tidak melihatku sama sekali,” lanjut Ara.


Jack merobah posisi berdirinya jadi menghadap istrinya. Menatap mata Ara yang berubah nanar.


“Tidak begitu, aku akan selalu melihat dirimu, dimanapun, kapanpun, aku akan melihatmu,” ucap Jack, merasa bersalah setiap kali mengingat dia menyakiti istrinya.


“Aku berfikir kira-kira kapan aku akan memakaikan baju seperti itu,” kata Ara. Kedua tangannya mengusap dadanya Jack.


“Baju itu ada di Paris, kalau kita ke Paris kau boleh memakaikannya padaku setiap hari,” kata Jack, menatap istri yang sangat dicintainya.


“Iya aku akan memakaikannya,” ucap Ara, sambil tersenyum.


Jack mencium keningnya Ara lalu memeluknya dengan erat.


Terdengar ketukan dipintu.


“Tuan! Permisi!” terdengar suara Pak Beni, mengetuk pintu kamar.


“Pak Beni suka mengganggu saja,” keluh Jack membuat Ara tertawa.


Jack memeluk istrinya lebih erat lalu menciumi wajahnya dengan cepat.

__ADS_1


“Aku mencintaimu,” ucapnya, barulah melepaskan pelukannya.


Jack pergi menuju pintu kamar diikuti Ara dibelakangnya.


Saat pintu itu dibuka, Pak Beni sudah berdiri disana.


“Ada apa?” tanya Jack, menatap Pak Beni.


Ara mengikuti Jack dari belakang.


“Ada tamu,” jawab Pak Beni, matanya melirik kearah Ara lalu pada Jack lagi.


Entah kenapa setiap mendengar ada tamu, hati Ara langsung gelisah saja.


Jack mengangguk, langsung keluar kamar dan menutup pintunya. Ara menatap pintu yang tertutup itu. Apa maksudnya Jack menutup pintunya? Hati Ara semakin tidak tenang saja. Diapun segera keluar dari kamar itu berjalan perlahan mengikuti Jack dari jauh.


Ternyata Jack dan Pak Beni menuruni tangga menuju ruang tamu.


Ara berjalan perlahan mengikuti, dia ingin tahu siapa tamunya Jack itu.


 Dia bersembunyi dibalik tembok melihat siapa tamunya.


Ara melihat dua orang prajurit berdiri di ruang tamu sedang berbicara pada Jack dalam bahasa Perancis. Mereka tamu yang tempo hari datang menemui Jack, yang sempat Ara rekam percakapannya. Tapi untuk kali ini Ara tidak bisa merekamnya karena mereka bicara di ruang tamu.


Sepertinya sekarang daripada harus merekamnya, Ara harus menanyakan langsung pada Jack ada perlu apa tamu dari Perancis itu? Apa Jack diminta segera kembali ke Paris?


Jack yang sedang bicara dengan tamunya, instingnya mengatakan kalau ada yang melihat mereka, dia melirik sekilas ke tempat Ara bersembunyi, dia tahu istrinya bersembunyi disana.


“Kalian tunggulah di ruang kerja,” katanya pada prajurit itu lalu menoleh pada Pak Beni yang langsung mengangguk.


Jack melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruamh. Ara buru-buru bersembunyi tapi ternyata  Jack malah menghampirinya.


Ara melirik pada Pak Beni dan prajurit itu yang menaiki tangga lalu menatap Jack.


“Apa kau harus ke Paris?” tanya Ara.


Jack balas menatap istrinya.


“Tidak sekarang,” jawab Jack.


“Kalau memang ada hal yang penting tidak masalah, kita ke Paris dulu,” kata Ara.


Jack masih  menatap Ara tanpa bicara, membuat Ara semakin gelisah.


“Kau kan bekerjanya di Paris, tidak masalah aku tinggal di Paris,” lanjut Ara.


Jack melangkah mendekati Ara.


“Kau tadi memanggilku mau apa?” tanya Jack, tidak menjawab pertanyaan Ara.


“Aku mau memberitahumu kalau airnya sudah siap, kau harus mandi,” jawab Ara.


“Bukan aku tapi kita,” ucap Jack.


“Kita? Kau mengajak mandi bersama?” tanya Ara.


“Tentu saja, kau juga belum mandi,” jawab Jack sambil tersenyum, lalu meraih tangannya Ara, mengajaknya menaiki tangga.


Ara hanya tertawa saja balas memegang tangannya Jack.


“Kau mengurusiku mandi, kau sendiri lupa kalau kau juga belum mandi,” ucap Jack.


“Kau saja yang mandi, nanti tamunya menunggu terlalu lama,” kata Ara.


“Biarkan saja,” jawab Jack, tangannya beralih memeluk pinggangnya Ara. Mereka berjalan menuju arah kamar mereka.


Saat melewati lorong ruang kerja Jack itu. Dia melihat dua prajurit itu masuk ke ruang kerja mengikuti Pak Beni. Lau diliriknya Jack yang berjalan disampingnya tapi dia tidak bicara apa-apa.

__ADS_1


Ara berfikir, kalau seandainya harus pergi ke Paris kenapa Jack menunda-nundanya? Padahal  dia tidak masalah kalau mereka pindah ke Paris karena memang Jack bekerja disana. Tapi Ara tidak bertanya apa-apa lagi, memendam rasa ingin tahunya. Diapun mengikuti langkahnya Jack sambil memeluk pinggang pria itu.


**********


__ADS_2