Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-129 Rencana Tn.Ferdi


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Jack berubah murung. Ara sudah bisa menerka, pasti karena bertemu dengan Ibunya.


Dirumah, Ibunya Ara sudah menyambut mereka dengan sumringah tapi ditambah omelan.


“Akhirnya kalian pulang juga! Buat apa kalian berlama-lama tinggal di rumah sakit menemani wanita itu sampai sore begini baru pulang? Bukankah Jack banyak pekerjaan di kantornya?” keluh Bu Amril.


“Kami kan harus menunggu Arum dulu untuk menjemput Ny.Imelda,” jawab Ara sambil menutup pintu rumah.


“Ngerjain orang itu namanya, tidak perlu baik-baik padanya, dia pasti punya rencana jahat,” ujar Ibunya Ara dengan ketus.


“Tidak begitu Bu, Ny.Imelda sedih karena merindukan putrinya,” kata Ara, mencoba menjelaskan.


“Merindukan putrinya apa? Putrinya kan ada di rumahnya! Sangat berlebihan merindukan putri yang ada di rumah,” keluh Bu Amril, entah kenapa melihat perhatiannya Ara pada Ny.Imelda membuatnya merasa tidak nyaman.


“Arum itu bukan putri kandungnya Bu,” kata Ara, membuat Bu Amril terkejut, ternyata perasaan aneh dihatinya benar.


“Apa?” Bu Amril terkejut, menatap Ara.


“Arum itu sebenarnya bukan putrinya yang tenggelam itu, sampai sekarang Ny.Imelda masih sedih merindukan putrinya, makanya pingsan saat di café dan Jack membawanya ke RS, jadi begitu ceritanya,” jawab Ara.


“Kenapa dia bisa pingsan di rumah sakit?” tanya Bu Amril, keheranan.


“Ny. Imelda cerita padaku waktu dirumah sakit, katanya melihatku suka es krim mengingatkannya pada putrinya itu,” jawab Ara.


“Kau kan tidak suka es krim,” ujar Bu Amril, tiba-tiba saja dia merasa gelisah.


“Tidak, ternyata aku suka es krim, tapi Ibu yang suka melarangku membeli es krim biar gigiku tidak sakit,” kata Ara.


“Ya terserah kau saja, semua orang suka es krim,” ujar Bu Amril.


“Aku heran kenapa Ny.Imelda melihatku jadi ingat putrinya? Jack juga begitu, padahal aku kan putri Ibu. Apa aku memang mirip Arum?” kata Ara, menoleh pada Jack.


Bu Amril tampak terkejut dengan perkataannya Ara, wajahnya berubah pucat.


“Tidak sayang, itu hanya kebetulan saja mengingatkan kami pada Arum, kau berbeda dengan Arum. Benar kata Ibu mertua kalau semua orang suka es krim, mungkin Ny.Imelda memang sedang rindu pada Arum,”sahut Jack, tidak mau membuat istrinya tersinggung dimirip-miripkan lagi dengan Arum.


Bu Amril langsung menyambung.


 “Kau itu putri Ibu! Lagi pula wanita itu mengada-ada, masa melihat kau makan es krim jadi ingat putrinya, semua orang memang suka es krim,” kata Bu Amril.


“Iya,” jawab Ara.


“Ayo kalian makanlah, Ibu sudah memasak buat kalian,” kata Ibunya Ara, tampak gugup, lalu bergegas pergi keruang makan diikuti Jack dan Ara.


Ibunya Ara sudah menyiapkan makanan di atas meja makan itu. Jack dan Ara langsung duduk menghadapi meja makan yang penuh dengan beraneka macam makanan.


Bu Amril menoleh pada Jack yang terlihat sangat pendiam sedari datang tadi.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Bu Amril.


“Aku baik-biak saja,” jawab Jack.


“Kau terlihat sedih,” kata Bu Amril.

__ADS_1


 “Ah sudahlah, ayo kalian makan yang banyak! Kalau ayahnya Ara keluar kota, Ibu  merasa sepi. Apalagi sekarang Ara tinggal dirumahmu, Ibu semakin merasa sepi, walau bagaimanapun Ibu selalu merindukanmu,” kata Ibunya Ara, beralih menatap Ara, membuat Ara juga menatapnya dan tersenyum.


 “Aku juga suka rindu Ibu,” ucap Ara.


Jack mau tidak mau ikut tersenyum. Dia sudah lupa kapan Ibunya mengatakan hal seperti itu, mengatakan merindukannya. Ibunya hanya seorang sosok Ibu yang dingin dan tidak menyayanginya.


Saat mereka makan, Ibunya Ara yang tidak ikut makan, hanya menemani putri dan menantunya saja dimeja makan, terus saja bicara, dia tidak suka pada Ny.Imelda.


“Ibu sudah mengancam wanita itu supaya tidak mengganggu rumah tangga kalian lagi,” kata Bu Amril dengan serius.


“Jack tidak ada urusannya dengan Arum, tidak perlu harus apa- apa melibatkan Jack. Apalagi sekarang sudah tahu kalau Arum yang ada dirumahnya itu bukan putri wanita itu, wanita itu sudah berbohong!” kata Bu Amril lagi, semakin kesal saja pada Ny.Imelda.


Jack dan Ara tidak bicara apa-apa. Telinga mereka sudah panas dari tadi mendengar omelannya Bu Amril.


Tidak berapa lama Ibunya Ara itu beranjak melihat kompornya yang masih menyala, entah sedang memasak apa.


Ara menoleh pada Jack.


“Aku minta maaf, Ibuku sangat cerewet,” kata Ara.


Jack bala menatapnya.


“Aku menyukai Ibumu, setidaknya itu menunjukkan kalau Ibumu perhatian padamu,” kata Jack sambil tersenyum, tapi Ara bisa melihat kalau pria ini sedang bersedih, pasti hatinya kecewa pada Ibunya.


“Apa kau kecewa pada Ibumu?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab.


“Kadang cara perhatian seseorang itu tidak sama Jack,” kata Ara, membuat Jack kembali menatapnya.


“Kau lihat Ny.Imelda?” tanya Jack.


“Kenapa?” tanya Ara.


“Ny. Imelda sangat membenciku karena kehilangan putrinya. Tapi lihat Ibuku, aku masih hidup saja Ibuku melupakanku,” kata Jack.


Perkataan Jack membuat Ara diam. Apa yang Jack katakan itu benar, tapi Ara melihat kalau Ibunya Jack sepertinya mau berubah.


“Tapi Ibumu kemarin itu mau menemaniku membelikan baju untukmu. Aku rasa Ibumu tidak sejahat yang kau fikirkan,” kata Ara.


Jack tidak menjawab, dia kembali makan.


“Mungkin saja Ibumu bersikap begitu karena tekanan dari Tn.Ferdi, bisa saja kan?” lanjut Ara.


Jack tidak menjawab. Ibunya Ara datang menghampiri meja makan dengan membawa buah-buahan.


“Kenapa?” tanya Ibunya Ara, ikut nimbrung.


“Semua Ibu menyayangi anaknya kan?” tanya Ara, menatap Ibunya.


“Tentu saja, yang bukan anak kandung juga bisa sangat disayang,” jawab Ibunya Ara.


“Iya benar, tuh benar kata Ibu juga,” kata Ara sambil menoleh pada Jack, dia hanya mencoba menghibur hatinya Jack supaya tidak terlalu bersedih, dia yakin masih ada sayang dihati Ny.Inez buat Jack.

__ADS_1


Jack tidak menjawab, Ara tahu dalam hatinya Jack rindu kasih sayang Ibunya. Apakah kalau Jack berbaikan dengan Ibunya itu sesuatu yang baik atau buruk? Apa dia harus mendekatkan Jack dengan Ibunya? Tapi bagaimana dengan Tn.Ferdi? Pria itu sangat berbahaya.


Ara tidak bicara lagi. Ibunya Ara duduk sambil mengupas buah-buah itu. Semua tidak ada yang bicara lagi, mereka melanjutkan makannya.


***********


Ny.Inez dan Tn.Ferdi berada di rumah baru mereka.


Tn.Ferdi terus saja marah-marah dan mengomel karena dia tidak suka pindah ke rumah yang lebih kecil meskipun rumah mereka masih termasuk rumah mewah.


“Kenapa kau malah membeli rumah baru? Aku tidak suka rumah ini! Ini sama saja mempermalukanku didepan rekan-rekan bisnisku, pasti aku dicap miskin setelah Jack mengambil alih perusahaan,” keluh Tn.Ferdi, dia berjalan diruang tamu itu dengan dibantu tongkat di kedua tangannya.


“Rumah itu rumah Jack, biarkan dia yang menempatinya dengan istrinya juga anak-anaknya nanti,” kata Ny Inez, duduk diruang tamu itu, menatap suaminya.


Tn.Ferdi terdiam, kepalanya terus berfikir cara untuk membalas dendam pada Jack. Bagaimana dia bisa membalas dendam kalau tempat tinggal mereka berjauhan. Dia jadi tidak bisa melihat gerak-gerik Jack juga schedulnya apa. Dia harus membuat rencana yang halus supaya perbuatannya tidak tercium pihak kepolisian.


“Sayang,” panggil Tn.Ferdi, sambil menoleh pada istrinya.


“Apa kau tidak ingin berbaikan dengan Jack?” tanyanya membuat Ny.Inez terkejut.


“Apa maksudmu berbaikan?” Ny.Inez balik bertanya.


“Aku rasa rumah Jack itu terlalu besar untuk ditempati Jack dan istrinya. Bagaimana kalau kau berbaikan dengan Jack dan kita kembali ke rumah itu?” tanya Tn.Ferdi.


“Maksudmu apa? Jack juga sudah mengusir kita,” kata Ny.Inez.


“Tidak begitu, itu karena Jack marah padamu, kalau kalian berbaikan pasti dia akan mengijinkan kita kembali ke rumah itu. Aku berjanji aku tidak akan berulah dan aku akan minta maaf pada jack” kata Tn.Ferdi.


Ny.Inez menatap suaminya, dia tidak percaya suaminya mau minta maaf pada Jack dan berubah.


“Tidak mau,” jawab Ny.Inez.


“Baiklah kalau kau tidak mau kembali ke rumah itu tapi setidaknya, kau bisa berbaikan dengan Jack, aku tidak masalah,” kata Tn.Ferdi, mencoba meyakinkan istrinya.


Ny.Inez menatap suaminya.


“Apa kau serius mengatakan itu?” tanya Ny.Inez.


 “Tentu saja. Setelah aku fikir-fikir tidak ada salahnya kau berbaikan dengan Jack. Apa kau tidak ingin hubunganmu lebih baik dengan Jack? Kalian kan sudah terpisah lama sepertinya sangat disayangkan kalau sekarang kalian tinggal satu kota  tapi kalian bermusuhan,” kata Tn.Ferdi.


Ny.Inezpun diam. Apa yang dikatakan suaminya itu benar, dia harus berbaikan dengan Jack, itu tidak ada salahnya, untuk menebus kesalahannya dimasa lalu pada Jack.


Sebenarnya Ny.Inez merasa sedih setiap kali Jack terlihat membencinya, tapi dia harus menerima itu karena semua akibat perbuatannya. Dia masih ragu, apakah dia harus mencoba untuk mendekati Jack? Apakah dia harus menunjukkan kalau dia merasa menyesal sudah tidak memperdulikannya selama ini?


Terdengar lagi suara Tn.Ferdi bicara.


“Aku tidak memaksa Jack untuk menerima kita lagi di rumah itu, tapi setidaknya kau akan lebih tenang kalau Jack sudah memaafkanmu,” kata Tn.Ferdi.


“Apa kau serius ingin aku berbaikan dengan Jack?” tanya Ny.Inez lagi, menatap suaminya.


“Tentu saja. Aku tahu Jack tidak mungkin memaafkanku, tapi setidaknya hubunganmu dengan Jack berubah lebih baik,” kata Tn.Ferdi, membuat Ny.Inez diam.


Tn.Ferdi tersenyum melihat istrinya mulai terpengaruh perkataannya. Berbagai rencana busuk terlintas dibenaknya. Meskipun dia tidak bisa kembali ke rumah itu, setidaknya istrinya bisa dijadikan umpan, sumber informasi tentang apa yang terjadi di rumah itu dan dia bisa menjalankan rencananya melenyapkan Jack untuk selamanya.

__ADS_1


**********


__ADS_2