
Hari ini Ara tidak mengerti kenapa Jack mengajaknya keluar rumah berdua saja. Keempat anak mereka ditinggalkan di rumah dengan babysitter masing-masing. Meskipun mereka memiliki banyak anak, Jack tidak membiarkan istrinya kerepotan, ada baby sitter yang membantu mengurus mereksa. Dia tidak mau istrinya terlalu lelah, sudah melahirkan anak-anaknya saja sangat membuatnya senang.
“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Ara, menoleh pada Jack.
Pria itu tidak menjawab, hanya melihat keluar jendela. Membuat Ara ikutan melihat kearah pandangannya Jack. Dia melihat sebuah bangunan yang besar bertingkat di kejauhan, sangat menyolok diantara bangunan yang lain.
“Apa kita akan ke Rumah sakit jiwa itu?” tanya Ara.
“Iya,”jawab Jack.
“Ada apa kita kesana? Kau tidak bercerita apa-apa padaku,” tanya Ara lagi.
Jack tidak langsung menjawab.
“Kenapa?” tanya Ara.
“Aku ingin memberikan bantuan untuk rumah sakit ini,” jawab Jack.
“Aku setuju kalau itu,” ucap Ara.
“Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang, aku akan melepaskan kamar yang biasa aku tempati dulu,” kata Jack lagi.
“Maksudmu?” tanya Ara keheranan.
“Kamar itu selalu dibayar Pak Beni sebagai uang sewa, jadi tidak pernah ditempati oleh orang lain. Sekarang aku sudah yakin dengan diriku sendiri, aku tidak akan pernah kembali lagi ke kamar itu, jadi aku akan melepaskan kamar itu untuk digunakan oleh pasien lainnya,” jawab Jack.
Mendengarnya sungguh membuat Ara terkejut, diapun menatap Jack.
“Jadi kau masih membiarkan kamar itu kosong dan kau berfikir suatu saat kau akan kembali ke rumah sakit ini, kamar itu masih ada?” tanya Ara.
“Ya, tapi sekarang aku sudah yakin aku tidak akan pernah menghuni tempat ini lagi, karena aku sudah punya rumah baru, bersamamu dan anak-anak,” jawab Jack, menatap Ara begitu juga dengan Ara.
“Jack aku tidak tahu harus berkata apa, cuma aku bisa membayangkan betapa beratnya hidupmu, aku masih bisa bersyukur karena Ayah dan Ibuku mengadopsiku di panti asuhan, mereka sangat menyayangiku, sedangkan dirimu, kau kesepian menderita di rumah sakit ini sendirian,” ucap Ara dengan mata yang memerah.
“Untuk itu sekarang aku akan melepas kamar itu untuk selamanya aku tidak akan kembali ke kamar itu lagi,” kata Jack.
“Ya kau benar, kau sudah tidak ada tempat lagi dirumah sakit ini, tempatmu dirumah kita, bersamaku dan anak-anak,” ujar Ara.
Jackpun mengangguk lalu memeluk istrinya.
Jack tidak berkata-kata lagi, Arapun menoleh pada suaminya, dia agak terkejut melihat wajah itu terlihat memerah. Ara tidak berani bertanya apapun lagi, mungkin ada yang difikirkan Jack yang tidak ingin diungkapkannya. Dia hanya menyusupkan wajahnya ke lehernya Jack.
Mobil mewahnya Jack memasuki gerbang tinggi itu, melaju menyusuri jalanan yang luas, kanan kiri terlihat asri tanaman yang menghijau.
Ara tersenyum melihat taman-taman itu, dia sangat senang melihat lingkungan yang hijau yang terasa menyejukkan mata setelah melihat bangunan-bangunan tinggi yang membuatnya merasa sesak dengan padatnya aktifitas penduduk.
Mobilpun berhenti di parkiran, Jack langsung turun diikuti Ara.
Ara masih merasakan tempat ini yang terasa begitu hening, matanya kembali melihat tulisan di bangunan itu, nama rumah sakit jiwa.
Ara menoleh pada pria itu yang terlihat tidak banyak bicara, pantas saja Jack merasa seperti itu dia pasti sedang teringat masa-masa pahit kehidupannya dimasa lalu, seharusnya memang Jack jangan pernah kesini lagi.
Ara langsung memeluk tangan Jack lalu mencium pipinya.
“Aku mencintaimu,” ucapnya, dia tahu kalau pria itu sedang membutuhkan supportnya.
Jack menoleh pada istrinya yang tersenyum lalu dia membalas menciumnya.
__ADS_1
Ara mengusap-usap lengan Jack tanpa banyak bertanya apa-apa.
Jack melangkahkan kakinya memasuki gapura gedung itu, diikuti Ara yang terus memeluk tangannya, mengikuti arah kemanapun Jack pergi, menyusuri lorong rumah sakit.
Semakin dalam memasuki rumah sakit itu aura sedih semakin terasa, apalagi Ara melihat pemandangan yang jarang dilihatnya. Kakinya terus menyusuri koridor rumah sakit itu yang ditengahnya terdapat taman yang luas dan asri, ada banyak pasien dengan kondisi yang memprihatinkan. Pasien dengan kondisi gangguan mental yang bervariasi keadaannya.
Sedih langsung menyeruak dihatinya, membayangkan Jack pernah tinggal ditempat seperti ini. Bagaimana tidak terluka hatinya Jack, saat dia mengalami hal yang sangat buruk dalam hidupnya, justru ibunya mengabaikannya. Airmata Ara tidak terasa langung saja menetes, terisak isak sambil menempekkan wajahnya ke bahu Jack. Sungguh besar hatinya Jack mau memaafkan Ny.Inez ibu kandungnya yang sudah tidak peduli padanya.
Jack menghentikan langkahnya, menoleh pada istrinya yang malah menangis.
Jemarinya menghapus airmata di pipinya Ara.
“Jangan bersedih, aku mengajakmu kesini, supaya aku lebih bisa mencintaimu, menyadarkan aku begitu berartinya dirimu untuk kehidupanku,” kata Jack.
“Aku?” tanya Ara, menatap Jack dengan airmata yang tidak putus menetes dipipinya.
“Iya, kau yang sudah mengembalikan hidupku,” jawab Jack.
“Tapi aku juga yang menyebabkan kau mengalami hal ini,” ucap Ara, dia masih ingat gara-garakejadian di pantai itu yang menyebabkannya terbawa arus, membuat hidup Jack menjadi sangat buruk.
Jack menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada yang perlu disesali, mungkin kalau tidak ada kejadian itu kita tidak akan sebahagia ini sekarang,” kata Jack, sambil memegang kedua pipinya Ara.
Ara menatap Jack. Pria itu tidak berkata-kata lagi hanya mencium keningnya lalu memeluk bahunya mengajak menyusuri koridor itu lagi.
Ara menemukan lagi pasien-psaien dengan beragai macam keadaan, membuatnya sangat sedih, timbul pertanyaan dalam hatinya apakah mereka juga mengalami hal yang sama dengan Jack, dikucilkan dari keluarganya, tidak ditengok dan diterlantarkan?
Meskipun dari segi materi Jack berkecukupan tapi itu tidak lah cukup untuk membantu kondisinya waktu itu, Jack butuh support dan kasih sayang untuk kesembuhannya apalagi usianya masih kecil waktu itu.
Jack menghentikan langkah kakinya di pintu itu, sebuah tulisan Dokter Atlantes.
“Ini ruangan Dokter yang merawatku,” kata Jack, tangannya langsung mengetuk pintu ruangan itu, tapi sebelum dia mengetuknya, pintu itu terbuka.
Seorang pria berseragam putih dan didadanya tertulis nama Dokter Atlantes.
“Jendral Delmar!” sapanya dengan sumringah.
Jack mengangguk dan mengulurkan tangannya pada pria itu yang menyambutnya dengan senang hati.
“Ini istriku, Arasi,” ucap Jack, menoleh pada sitrinya.
“Aku senang bertemu denganmu,” kata Dokte atlantes.
Ara mengangguk dan tersenyum. Dokter itu menoleh pada Jack lagi.
“Apa kita akan bicara didalam, atau kau ingin berjalan-jalan?” tanyanya pada Jack.
“Aku ingin mengajak istriku melihat dimana aku tinggal dulu,” jawab Jack, sambil menoleh pada istrinya.
Ara menatap suaminya lalu tersenyum dan memeluk tangannya. Dia tahu ini pasti sangat berat bagi Jack, mengingatkannya kembali ke masa lalunya yang pahit.
“Kau yakin ingin memperlihatkan dimana kau tinggal?” tanya Ara.
“Iya sayang,” jawab Jack, menoleh pada istrinya.
Dokter Atlantes menatap Ara, dia tersenyum senang melihat istrinya Jack ini. Dia sudah bisa melihat wanita yang menjadi istrinya Jack ini yang akan membawa kebahagiaan untuk Jack.
__ADS_1
“Mari,” ajak Dokter Atlantes sambil melangkahkan kakinya menyusuri lorong gedung itu.
Setelah melewati banyak pintu-pintu dengan banyak nama-nama Dokter ditiap pintu, mereka keluar dari gedung itu dan menyusuri koridor lagi menuju bangunan yang terdiri dari kamar-kamar pasien.
Ara semakin merasa ngeri melihatnya, membayangkan Jack pernah berada ditempat ini dan berremen dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.
“Jendral Delmar mengalamai depresi, perasaan terpukul yang paling berat yang dialami seseorang disaat mengalami hal yang sangat buruk dan ada perasaan sesal yang amat dalam juga menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi,” kata Dokter Atantes, sambil berjalan beriringan dengan Jack.
Ara terus memeluk tangan Jack. Dia merasa sangat sedih menginagt masa lalu Jack yang menderita dalam kesepian.
Hingga sampailah mereka pada sebuah ruangan yang tertutup.
Dokter Altantes tampak bicara dengan seseorang yang pergi meninggalkan mereka dan kembali lagi dengan membawa kunci kamar itu, lalu membuka pintunya.
Isi ruanganpun terlihat. Ada sebuah tempat tidur yang ukurannya tidak terlalu besar, tapi ruangan itu termasuk sangat luas, mungkin ruangan VIP. Tapi meskipun kamar itu sangat bersih dan nyaman, tetap saja lokasinya ada didalam rumah sakit apalagi rumah sakit jiwa, tetap saja sangat tidak menyenangkan.
“Kamar ini masih kosong dan terawat bersih karena Pak Beni selalu membayar biaya sewa dan perawatannya sampai sekarang,” kata Dokter Atlantes.
Arapun terdiam, begitu perhatiannya Pak Beni pada Jack.
“Sekarang aku aku ingin melepaskna kamar ini, Dokter bisa memberikannya pada orang lain,” kata Jack.
Dokter Atlantes menatap Jack.
“Kau benar, karena kau memang tidak membutuhkan kamar ini lagi! Jangan , jangan pernah ingin kembali kesini, kau sudah bahagia dengan istri dan anak-anakmu, kalian memiki berapa anak? Satu?” tanya Dokter Atlantes.
“Empat,” jawab Jack dan Ara bersamaan.
Dokter Atlantes tampak terkejut tapi kemudian tertawa.
“Ternyata anak kalian sudah empat, pasti mereka sangat lucu-lucu,” ucap Dokter Atlantes.
“Iya, mereka lucu-lucu, cantik dan tampan, tapi mereka semua mirip Jack, tidak ada yang mirip denganku,” kata Ara, membuat Dokter Atlantes tertawa.
“Aku sudah tahu kalau gennya Jendral Delmar lebih dominan,” ucap Dokter Atlantes.
“Tunggu, Dokter!” ucap Ara.
“ Iya ada apa?” tanya Dokter Atlantes.
“Waktu Jack berobat itu dia sebenarnya sudah sembuh atau belum?” Ara balik bertanya.
“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Dokter Atlantes sambil menoleh pada Jack lalu pada Ara.
“Dia berbohong padaku, dia pura-pura masih sakit padahal sudah sembuh,” jawab Ara sambil mencibir.
Dokter Atlantes malah tertawa, begitu juga dengan Jack.
“Dia membohongiku Dok,” keluh Ara.
Jack kembali memeluk istrinya.
“Aku minta minta maaf, tapi aku mencintaimu,” ucap Jack, sambil mencium pipinya Ara. Istrinya hanya memeluknya saja
Ara tidak akan mengungkit hal hal itu lagi, yang terpenting sekarang mereka bahagia dengan anak-anak mereka.
*****
__ADS_1