
Jack benar-benar sangat marah kali ini, menatap Ayah tirinya itu dengan tajam. Tangannya sudah mengepal ingin memukul pria itu. Rasanya untuk kali ini dia tidak ada maaf lagi buat pria itu. Pria itu selain membuat hidupnya menderita ternyata sudah menghancurkan hidupnya Ara.
Melihat Jack melangkah lebih dekat, hatinya Tn.Ferdi sudah ketar ketir, kalau diajak bertarung tentu saja dia akan kalah di tangannya Jack. Dia harus mencari jalan untuk bisa lolos, tapi dia tidak ada jalan lain, belaripun dia tidak bisa, minta maafpun dia pantang minta maaf, dia tidak akan pernah mau minta maaf.
“Aku takkan melepaskanmu kali ini!” kata Jack.
“Kau fikir aku akan menyesal dengan apa yang telah aku lakukan? Kau salah! Aku tidak pernah menyesal!” teriak Tn.Ferdi, membuat Jack semakin marah saja, pria itu tidak ada rasa menyesal sama sekali.
Ny.Inez melihat putranya yang sudah dekat pada Tn.Ferdi langsung berdiri dan menghampirinya.
“Jack, laporkan saja ke polisi, jangan memukulinya,” ucap Ny.Inez.
Jack menoleh pada Ibunya.
“Kau masih membelanya juga?” bentaknya pada ibunya, dia kembali kesal karena ibunya membela pria itu.
“Bukan begitu, Ibu tidak mau…” belum selesai Ny. Inez bicara, Jack sudah melayangkan pukulan ke wajahnya Tn.Ferdi sampai terjatuh ke lantai. Sekali pukulan saja sudah membuat Tn.Ferdi roboh.
“Jack!” teriak Ny. Inez, dia pernah melihat Jack memukuli ayah tirinya itu dia tidak mau Jack keblabasan.
Jack menarik kerah bajunya Tn.Ferdi supaya berdiri dan memukulnya lagi berulang-ulang, tidak mendengarkan perkataan ibunya.
Bugh! Bugh!Bugh! Dipukulnya pria itu berkali-kali.
“Jack, sudah, Jack!” teriak Ny.Inez memegang tangan Jack tapi Jack menepiskannya. Dia belum puas memukul pria itu.
Tn.Ferdi berusaha bangun lagi meski tersungkur tapi Jack langsung menendang tubuhnya, sampai kembali terjerembab ke pojok tembok. Saat Jack menendangnya lagi, Tn.Ferdi menangkap kakinya Jack bermaksud menjatuhkan Jack. Tapi bukannya jatuh, kaki itu malah berganti menendang wajahnya, membuat Tn.Ferdi mengaduh memegang matanya yang langsung lebam.
“Kau anak gila! Harusnya aku membunhmu dari dulu!” teriak Tn.Ferdi, sambil meludahkan darah dari mulutnya yang terluka.
Jack akan memukulnya lagi tapi Ny. Inez menghampirinya lagi.
“Hentikan Jack!” seru Ny. Inez
Jack yang akan memukul lagi, menoleh pada ibunya.
“Kau masih membela pria itu?” tanya Jack dengan kesal, kenapa Ibunya melarangnya memukulinya?
“Ibu tidak mau dia mati, Ibu tidak mau kau di penjara, lapor polisi saja, ingat istrimu, dia pasti sedih kalau kau dipenjara,” kata Ny.Inez.
Mendengar perkataan Ibunya, Jackpun diam, menatap Tn Ferdi yang sudah babak belur. Sebenarnya dia belum puas memukulnya, tapi akhirnya Jack mengeluarkan ponselnya akan menelpon polisi dengan kesal.
Melihat istrinya menghalangi Jack, Tn.Ferdi yang sudah babak belur berusaha bangun dengan susah payah sambil memegang kaki meja. Tiba-tiba matanya melihat botol minuman diatas meja yang tadi diminumnya. Lalu menoleh pada istrinya yang berdiri membelakanginya melindunginya dari pukulannya Jack.
Dengan cepat tangan kanannya Tn.ferdi mengambil botol itu, dan tangan kirinya mendekap tubuh istrinya. Karena kondisi kakinya yang tidak stabil, merekapun terjatuh ke lantai.
Brugh!
Jack yang akan menelpon polisi menghentikan gerakannya dan melihat kearah yang jatuh.
Dia terkejut melihat Ny.Inez jatuh terduduk di dekat tubuh Tn.Ferdi, dan yang lebih terkejut lagi saat Tn. Ferdi memukulkan botol itu ke lantai membuat botol itu pecah ujungnya dan menjadi runcing, lalu ditempelkan keleher Ny.Inez.
“Jack!” teriak Ny.Inez terkejut karena tubuhnya didekap suaminya dengan kuat juga menodongnya dengan botol pecah itu ke lehernya.
Ny.Inez melihat runcingnya ujung botol yang pecah langsung pucat dan berkeringat dingin. Tentu saja Jack merasa kaget, dia tidak menyangka Tn.Ferdi akan mengancam ibunya.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan Ibuku!” teriak Jack dengan keras.
Ny.Inez terkejut mendengar Jack menyebutnya Ibu. Ada haru di hatinya, putraya memanggilnya Ibu lagi.
“Lepaskan!” teriak Jack akan berjalan mendekat, tapi Tn.Ferdi mempererat dekapannya dan tanpa ragu-ragu menggores tipis botoh pecah itu ke leher Ny.Inez.
Sreeet! Darah segar keluar dari lehernya Ny.Inez.
__ADS_1
“Jack!” teriak Ny.Inez, merasakan perih dilehernya.
Jack berhenti melangkah, dia terkejut melihat darah menetes di leher ibunya akibat goresan botol itu. Ternyata pria itu tidak main-main untuk melukai ibunya.
“Kau! Lepaskan Ibuku!” teriak Jack.
Tn.Ferdi tertawa terbahak.
“Kau lapor polisi, Ibumu mati!” kata Tn.Ferdi, semakin menekan ujung botol yang runcing itu keleher istrinya.
Jack terdiam melihatnya, darah segar terus menetes dileher ibunya.
“Jack, jangan hiraukan Ibu, telpon polisi!” kata Ny.Inez.
Jack masih diam, bagaimana mungkin dia membahayakan nyawa ibunya? Meskipun dia marah pada Ibunya tapi dia tidak bisa melihat Ibunya dianiaya gara-gara dia menelpon polisi.
“Aku tidak main-main!” teriak Tn.Ferdi, menatap Jack dengan tajam. Tangan itu begitu kuat mendekap Ny.Inez dan memegang botol pecah itu.
“Dulu kau melihat Ayahmu tenggelam, maka sekarang kau akan melihat Ibumu mati di depanmu! Kaupun akan gila selamanya! Ha ha ha..” teriak Tn.Ferdi sambil tertawa.
Keringat dingin muncul di keningnya Jack, tidak, dia tidak mau melihat itu. Sudah cukup dia melihat Ayahnya tenggelam, dia tidak mau melihat Ibunya mati didepannya.
“Buang ponsel itu, buang!” teriak Tn.Ferdi.
“Jangan ikuti kata-katanya Jack! Cepat lapor polisi, jangan fikirkan Ibu!” teriak Ny.Inez.
“Diam kau!” bentak Tn.Ferdi, mendekatkan lagi botol pecah itu, membuat Ny.Inez memejamkan matanya merasa ngeri melihat ujung botol yang runcing itu, diapun memejamkan matanya, dia pasrah jika memang dia harus mati ditikam botol itu.
Melihat sikap Tn.Ferdi yang tidak main-main menyakiti Ibunya, dengan terpaksa Jack membuang ponselnya, dia benar-benar kesal dengan situasi ini.
Tn.Ferdi tersenyum melihat Jack melempar ponselnya.
“Security! Securty!” teriaknya dengan keras beberapa kali.
Tidak berapa lama berdatangang dua security kedalam ruangan itu, mereka terkejut melihat majikannya yang menodongkan botol pecah ke leher istrinya.
Securty itu menoleh pada Jack.
“Tunggu apalagi?” teriak Tn.Ferdi dengan marah.
Dua security itu langsung memegang tangannya Jack yang langsung menepiskan tangan security.
“Kau berontak, Ibumu mati!” teriak Tn.Ferdi lagi, kembali menekankan botol itu.
Jack bisa saja mengalahkan dua security itu tapi melihat darah dileher Ibunya, hatinya tidak tega.
“Bawa dia keluar! Cepat! Pastikan dia pergi!” perintah Tn.Ferdi lagi.
Securty menarik Jack keluar dari ruangan itu. Jack hanya melihat ibunya sekilas, dia berfikir cara untuk membebaskan ibunya tapi tidak disaat situasi seperti ini, nyawa Ibunya sedang terancam. Meskipun dia berpengalaman membebaskan sandera saat bertugas di GIGN, tapi melihat Ibunya sendiri yang disandera, dia tidak mau mengambil resiko. Jackpun hanya bisa mengikuti security yang memegang tangannya.
Sampai di halaman parkir, security menarik Jack menuju mobilnya.
“Silahkan pergi. Tuan!” kata security itu.
Jack membuka pintu mobilnya.
“Pergi!” Usir security, karena perintah Tn.Ferdi harus memastikan tamunya meninggalkan rumah.
Jack menoleh ke arah rumah lagi, dia merasa khawatir pada ibunya.
“Tunggu apa lagi? Pergi!” usir security.
Akhirnya dengan rasa kecewa yang bertumpuk-tumpuk, Jack masuk ke mobilnya meninggalkan rumah itu. Dia berharap ibunya baik-baik saja setelah dia pergi.
__ADS_1
Jack memukul stirnya dengan kesal. Kenapa pria itu masih lolos juga darinya? Tapi dia tidak bisa mengorbankan Ibunya, apalagi pria itu tidak segan-segan melukai Ibunya. Hah, kenapa Ibunya menikah dengan pria yang seperti itu? Apa kurangnya Ayahnya sampai Ibunya berselingkuh begitu?
Mobilnya dengan cepat sampai ke rumahnya. Dia melihat mobil yang digunakan Pak Beni ada terparkir dihalaman, berarti Pak Beni sudah pulang.
Diapun turun dari mobilnya dengan lesu, masuk kerumah dengan langkah yang serasa tidak menapak dilantai.
“Tuan!” terdengar suara Pak Beni yang muncul ke ruangan itu.
Pak Beni menatap Jack keheranan karena bajunya yang acak-acakan.
“Mana ponselmu?” tanya Jack.
Pak Beni memberikan ponselnya, Jack langsung menelpon kantor polisi dan melaporkan penyanderaan yang dilakukan Tn.Ferdi. Dia harus menunggu lengah pria itu baru ada kesempatan membebaskan Ibunya.
“Tuan! Nyonya disandera?” tanya Pak Beni, terkejut mendengar perkataannya Jack di telpon.
“Iya, ayo kita ke kantor polisi, kita harus membebaskan Ibuku,” ajak Jack.
Dia merasa tidak berguna, dia bekerja di GIGN yang terlatih melepaskan sandera, tapi menyelamatkan Ibunya saja tidak bisa. Melihat darah di leher Ibunya membuatnya merasa khawatir.
Dia dan Pak Beni akan keluar lagi tapi terdengar suara yang memanggilnya.
“Jack! Kau pulang?” tanya suara itu, membuat Jack menoleh keatas tangga.
Istrinya sudah berdandan cantik muncul di tangga sambil tersenyum. Dia tertegun melihatnya, melihat istrinya terlihat sangat cantik malam ini padahal ini sudah larut, tapi istrinya belum tidur.
”Jack, dari tadi aku menunggumu, ponselmu ku telpon tidak kau angkat,” kata Ara, menghampiri Jack sambil tersenyum. Suaminya itu hanya menatapnya.
“Jack kau kenapa?” tanya Ara, kaget melihat bajunya Jack yang acak-acakan.
“Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti orang yang sudah berkelahi?” tanya Ara, sambil menyentuh tangan Jack, dan meraba-raba pakaian Jack.
Satu tangannya menyentuh pipinya Jack, melihat wajah itu barangkali ada luka pukulan atau semacamnya.
“Kau juga berkeringat,”
ucapnya, melihat baju Jack juga basah, membuatnya bingung.
“Aku tidak apa-apa,” ucap Jack, tidak lepas menatap istrinya itu.
“Kau cantik sekali,” puji Jack.
Ara langsung tersenyum dengan pipinya yang memerah.
“Aku tidak mau kau melihatku belum mandi terus,” ucap Ara sambil tertawa, Jackpun tersenyum mendengarnya.
“Tidak mandi juga kau selalu cantik,” ucap Jack, semakin membuat hati Ara terbang ke awang-awang.
Tangan Jack langsung menarik pinggang istrinya dan mencium bibirnya.
“Aku harus pergi lagi, kau istirahat duluan,” kata Jack.
Ara menatap suaminya dengan heran.
“Kau baru datang, kenapa pergi lagi?” tanyanya kebingungan, lalu menoleh pada Pak Beni.
“Aku masih ada pekerjaan penting,” jawab Jack, lalu mencium istrinya lagi.
“Kau tidur duluan, aku akan pulang larut!” ucap Jack lagi.
Ara terbengong saja mendengarnya, apalagi melihat suaminya yang terburu-buru keluar dari rumah bersama Pak Beni.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” gumam Ara tidak mengerti, sambil berjalan keluar rumah.
__ADS_1
Di lihatnya mobilnya Jack sudah menuju gerbang, membuatnya semakin bingung saja.
*********