
Sore harinya, Jack pulang tepat waktu seperti yang dijanjikan pada istrinya tadi pagi. Begitu sampai di depan rumah, istrinya sudah menunggu sampai menggendong Galand, yang juga sudah dimandikan.
“Sayang, Ayahmu pulang,” kata Ara pada bayinya. Senyum menghiasi bibirnya.
Jack turun dari mobil dinas itu dengan sumringah. Dia sangat senang pulang kerumah disambut anak istrinya.
Jack langsung memeluk Ara juga mencium Galand.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Ara, mengusap pipi suaminya.
“Baik sayang,” jawab Jack.
“Aku ingin meggendong jagoanku,” ucapnya kemudian. Dipakaikannnya topinya pada istrinya, lalu dia menerima Galand dari tangan istrinya.
“Lama-lama kau semakin terbiasa mengendongnya,” ucap Ara, memeluk pinggang suaminya.
“Sayang, nanti malam kita makan diluar,” kata Jack, sembil melangkah masuk kedalam rumah bersama Ara.
“Kenapa? Tadi waktu aku menelpon kau tidak bilang. Aku sudah memasak untukmu,” ucap Ara.
“Ada acara pejabat militer yang mendapat promosi jabatan. Kau juga tidak pernah aku ajak bertemu dengan teman-temanku di instansi kan? Kita juga tidak pernah membuat acara pernikahan di Paris. Aku ingin memperkenalkanmu pada teman-temanku,” kata Jack.
“Oh,” jawab Ara.
Jack duduk disofa diruang tengah, Ara mangikutinya duduk disampingnya.
“Jam berapa acaranya?” tanya Ara.
“Jam 7, kau bersiap-siap saja, titip Galand pada Bibi, kita juga tidak bisa membawanya, dia tidak boleh terkena angin malam,” jawab Jack.
“Iya baiklah,” kata Ara.
Jack menoleh pada Ara yang langsung menatapnya.
“Kenapa?” tanya Ara, memeluk tubuh suaminya, menempelkan wajahnya ke pipinya Jack.
“Apa kita perlu mengadakan resepsi disini?” tanya Jack.
“Resepsi? Kita sudah punya bayi, kenapa harus ada resepsi lagi?” tanya Ara. Mengusap pipinya Jack dan menciumnya.
“Apa kau sedang merindukanku?” tanya Jack.
“Kenapa kau malah bertanya begitu? Bukannya menjawab pertanyaanku,” jawab Ara, menempelkaan wajahnya ke hidung mancungnya Jack.
“Aku pulang kau bermanja-manja begini, membuatku berfikir apa Galand sudah waktunya mempunyai adik?” tanya Jack, menatap Ara.
Ara tertawa mendengarnya,dan mencium bibirnya Jack.
“Aku hanya merindukanmu seharian,” ucapnya. Jack langsung mencium keningnya Ara.
“Aku cemburu, sekarang perhatianmu padaku terbagi,” kata Ara, sambil tersenyum. Tangannya menyentuh bibir suaminya.
“Kenapa kau berkata begitu?”tanya Jack menatap istrinya yang malah tertawa lagi.
“Aku mencintaimu Jack,” ucap Ara.
“Aku juga!” jawab Jack, tidak pernah berpaling masih menatap istrinya, membuat Ara kembali menciumnya.
“Apa bayinya tidak rewel hari ini?” tanya Jack, kini mereka melihat bayi yang terlihat merasa nyaman digendongan ayahnya.
“Dia senang digendong olehmu,” gumam Ara. Jack hanya tersenyum saja.
“Bayi kita sangat tampan kan?” ucap Ara, tangannya mengusap kepelanya Galand, sedangkan dia menyandarkan kepalanya ke bahunya Jack.
“Iya, aku sangat senang memilikinya, hidupku terasa sempurna,” jawab Jack, lalu menoleh pada istrinya dan mencium rambut istrinya yang bersandar dibahunya.
__ADS_1
“Aku juga,” kata Ara, lalu mengangkat kepalanya menatap Jack.
“Aku berharap kita akan bahagia selamnaya,” ucap Ara.
“Tentu saja, aku juga menginginkan itu,” jawab Jack.
“Baiklah aku siapkan keperluan mandimu, aku titip Galand sebentar,” kata Ara, sambil bangun.
“Kita siap-siap saja berangkat, supaya kita pulang tidak terlalu malam, kasihan bayinya dtinggal,” seru Jack.
“Iya, sayang,” jawab Ara, bergegas menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Pukul 6.30 Jack dan Ara pergi ketempat acara yang diadakan rekan sejawatnya Jack di Militer.
Ara bisa melihat pada undangan yang hadir itu rata-rata memiliki perawakan yang hampir sama, tidak beda jauh dengan suaminya.
Rasanya begitu bangga datang ke acara temannya Jack. Menggandeng tangan suaminya dengan mesra, banyak yang menyapa dengan ramah, menyebutnya Nyonya Jendral Jack Delmar. Jack juga memperkenalkannya pada teman-temannya dengan bahasa Inggris, supaya Ara tahu kalau dia sedang diperkenalkan.
“Nyonya! Senang berkenalan denganmu!” seorang wanita yang Jack perkenanlkan sebagai istrinya dari temannya, Jendral Ronald.
Kemudian berdatangan lagi tamu undangan lainnya bersama istrinya yang ikut bergabung dengan mereka.
Para istripun saling mengumpul bersebelahan dengan para suami.
“Senang berkenalan denganmu Ny.Delmar. Seharusnya kau membuat resepsi disini, supaya semua orang tahu pernikahan kalian,” kata Ny.Oliver.
“Kami sudah punya anak, sangat terlambat untuk resepsi,” jawab Ara, sambil tersenyum, dia berbicara dalam bahasa inggris.
“Tidak masalah,” kata Ny.Ronald.
“Nanti aku bicarakan dengan suamiku,” ucap Ara. Mengangguk dalam bahasa Inggris, karena dia tidak belum bisa bahasa Perancis, benar-benar harus menjadwalkan privat supaya dia bisa mengerti apa yang dikatakan orang-orang.
“Tn.Ignasius!” panggil Jendral Ronald, berteriak memanggil seseorang yang baru datang. Teriakannya cukup keras membuat orang yang mendengarnya menoleh kearah yang datang, termasuk Jack juga kumpulan ibu-ibu itu.
Bagaimana kedatangan tamu itu tidak menarik perhatian. Pria yang dipanggil Ignasius itu sudah paruh baya dan wanita yang bersamanya sangat kontrak. Masih muda dan sangat cantik. Gaun merahnya yang ketat membantuk lekukan tubuhnya yang bagus jelas terlihat, dengan belahan dadanya yang agak rendah memperlihatkan sebagian dadanya yang membuat mata lelaki memandangnya tak berkedip. Kaki jenjangnya tampak terlihat dari gaun panjangnya yang memiliki belahan cukup tinggi sampai paha.
Para pria tampak menelan ludah, apalagi melihat Tn.Ignasius yang sudah tua itu membuat para pria iri saja.
Ara menoleh kearah wanita itu. Sungguh wanita yang sangat cantik, lihatlah semua mata memandang kearah wanita itu. Jangankan pria, dia sendiri mengakui kalau wanita itu sangat cantik.
“Dia tidak mungkin istrinya kan?” tanya Ny.Oliver pada Ny.Ronald.
“Bukan, aku mengenal istrinya Tn.Ignasius bukan wanita itu,” jawab Ny.Ronald.
Jack menoleh kearah orang yang dating itu menghampiri mereka, tapi reaksinya langsung berubah saat melihat siapa wanita yang bersama dengan Tn.Ignasius itu. Seorang wanita yang masih dia ingat wajahnya, buan wajahnya saja, tapi dia pernah melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benangpun duduk diatas tubuhnya.
Rebecca, wanita itu adalah Rebecca yang malam itu dating ke tendanya menawarkan diri untuk melayaninya dan membuatnya hamper tergoda untuk menyentuhnya.
Wajah Jack langsung memerah, dia merasa kaget kenapa dia bisa bertemu wanita itu disini? Bukankahh wanita itu hanya wanita yang ditugaskan untuk menghibur para prajurit yang sedang berperang?
Kehadiran wanita itu bukan saja mengundang perhatian Jack saja, tapi perhatian semua orang. Bentuk tubuhnya yang indah, membuat mata pria mengekor setiap geraknya.
Beberapa pria tampak berdecak kagum melihatnaya. Tentu saja reaksi pria-pria itu membuat istri-istri merasa kesal, karena suami mereka memperhatikan wanita cantik itu terus.
Ada lagi sepasang mata yang mengenal wanita itu, dia adalah Hector. Dia mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wanita itu? Dan terlintas dalam benaknya, wanita itu adalah wanita yang keluar dari tenda Jendralnya yang sempat membuat Jendralnya marah.
Tn.Igansius menghampiri Jendral Ronald bersama Rebecca yang tampak terkejut melihat Jack ada disana.
“Jendral Jack Delmar!” serunya dengan suara yang lantang, wajahnya langsung berseri-seri. Tangannya yang tadinya memeluk tangan Tn.Ignasius dilepaskannya.
“Jendral! Apa kabarmu? Aku senang kau bisa kembali pulang ke negaramu, aku tidak menyangka akan bertemu disini! Kau terlihat sangat tampan!” serunya dengan tanpa basa basi. Terlihat sinar bahagia dimatanya.
Rebecca langsung mengulurkan tangannya pada Jack. Pria itu melihat tangan itu terulur dan terpaksa menerimanya.
Tentu saja Ara yang mendengar perkataan wanita cantik itu membuat hatinya langsung merasa cemburu. Siapa wanita itu? Bukan Ara saja tapi wanita-wanita yang bersamanya mulai kasak kusuk.
__ADS_1
“Wanita itu ternyata mengenal Jendral Jack Delmar! Apa wanita itu temanmu?” tanya Ny.Oliver pada Ara.
“Mm tidak, aku tidak mengenalnya. Mungkin temannya Jack,” jawab Ara, memiringkan tubuhnya supaya bisa melihat wanita itu yang menyapa suaminya.
Tiba-tiba ada bisik-bisik salah satu wanita itu.
“Ada apa?” tanya Ny.Oliver.
“Kalau temannya Jendral Jack Delmar pasti dikenalkan pada istrinya,” jawab wanita yang kasak-kusuk itu.
Mendengar hal itu membuat Ara merasa panas hati. Kenapa wanita itu mengenal Jack? Sebenarnya ada hubungan apa Jack dengan wanita itu sampai menghabiskan malam bersama?
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Tn.Ignasius, pada Rebecca.
Jack akan bicara tapi Rebecca mendahuluinya dengan gerak tubuhnya yang menggoda membuat para lelaki menahan nafas.
“Iya, kami bertemu saat Jendral Jack bertugas,” jawab wanita itu, sambil tersenyum pada Jack.
Wajah Jack semakin merah saja, kenapa harus bertemu wanita yang malam itu ke tendanya?
“Kami melewatkan malam bersama,” ucap Rebecca membuat semua orang tercengang, apalagi dengan Ara, hatinya langsung terbakar cemburu. Apa maksud wanita itu melewatkan malam bersama dengan Jack? Tubuhnya langsung saja gemetaran. Apakah ini wanita yang Jack ceritakan? Wanita yang dengan jujur Jack mengatakannya kalau dia hampir tergoda? Kenapa hatinya terasa sakit begini?
Terdengar suara Rebecca tertawa.
“Aku hanya bercanda! Maaf Jendral!” kata Rebecca, yang terus saja menatap Jack.
Bagaimana dia bisa lupa dengan Jendral satu ini? Jendral yang sudah menolaknya padahal dia sudah begitu merendahkan dirinya bertelanjang diatas tubuh Jendral itu.
“Kau masih ingat namaku kan Jendral? Rebecca, namaku Rebecca,” kata Rebecca, dengan gerak bibirnya yang sexy.
“Wah itu kan sudah lama sekali, kau masih ingat?” tanya Jendral Arnold.
“Tentu saja, Jendral Jack Delmar meninggalkan kesan yang tidak akan pernah aku lupakan!” kata Rebecca, mengerjapan matanya yang cantik.
Ronald dan Tn.Igansius malah tertawa, mereka berfikir kalau Rebecca bercanda.
Jack benar-benar mati kutu. Wanita ini datang hanya untuk merusak reputasinya.
“Tn. Graham!” terdengar suara Jendral Ronald memanggil seseorang yang baru datang, membuat Tn.Ignasius menoleh kearah yang datang.
“Hai!” seru mereka menghampiri tamu yang baru datang itu. Jack akan mengikuti temannya tapi langkahnya di halangi oleh Rebecca.
“Tunggu Jendral!” kata Rebecca.
Ny.Oliver menoleh kearah wanita itu, lalu melirik pada Ara yang mematung melihat kearah suaminya itu.
“Aku selalu ingat malam itu,” kata wanita itu, menatap Jack.
Tentu saja yang mendengarnya langsung membuka mulutnya terkejut, samua menoleh kearah Ara, yang berdiri dengan menahan rasa sakit dihatinya.
Rebecca mendekatkan bibirnya ke telinga Jack. Hati Ara semakin terbakar melihatnya.
“Jendral aku tahu kau tertarik padaku, aku akan senang hati kalau kita melanjutkan yang tertunda malam itu,” bisik Rebecca.
Jack ingin marah dan memakinya tapi dia tidak bisa melakukan itu karena akan membuat semua orang mengira kelakarnya Rebecca adalah benar. Jadi dia hanya diam saja.
Sungguh tidak terlukiskan betapa hancurnya hati Ara melihat wanita itu begitu berani berbisik ke telinga suaminya. Ada hubungan apa mereka bisa sedekat itu? Apa Jack sebenarnya sudah menghianatinya? Apa Jack sudah berbohong padanya?
Bukan hanya itu saja, saat Jack akan bicara, jemarinya Rebecca ditempelkan di bibirnya Jack.
“Aku senang bertemu denganmu lagi, Jendral tampan,” ucap Rebecca sambil tersnyum lalu jarinya yang bekas ditempelkan dibibir Jack itu ditempelkan ke bibirnya.
Tangan Jack mengepal saking kesalnya, dan dia tidak berniat begabung dengan teman-temannya jika ada wanita itu disana, diapun membalikkan badannya dan dia semakin terkejut saat melihat sosok yang berdiri menatapnya dengan air bening yang menggenang di matanya.
***********
__ADS_1