Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-84 Mau sampai kapan Jack?


__ADS_3

Ara segera menghapus airmatanya. Tiada guna dia meratapi nasibnya melihat suaminya dipesta ini. Dengan Jack merahasiakan kesembuhannya dan identitas dirinya membuat hatinya begitu terluka, tapi itulah keputusan Jack, mungkin memang dia tidak ada artinya bagi Jack makanya Jack tidak memikirkan perasaannya.


Ara menatap sekali lagi pada pria tampan yang sedang bersama teman-temannya itu. Yang penting sekarang Jack sudah sembuh, itu saja yang penting.


Entah kenapa Jack merasa ada seseorang yang mengamatinya, entah siapa, tapi dia merasa ada yang mengamatinya, diapun menoleh kearah pintu ke ruangan lain.


Ara cepat-cepat bersembunyi saat pria itu menoleh kearah tempat dia mengintip.


Segera dihapusnya airmatanya lalu beranjak meninggalkan tempat itu. Ara kembali ke tempat dia berganti pakaian, dia segera mengganti pakaiannya lagi.


Setelah itu, Ara menyelinap keluar dari rumah itu. Beberapa pekerja yang melihatnya tidak terlalu memperhatikannya karena mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing ditambah saking banyaknya tamu jadi mereka tidak memperhatikan siapa yang keluar masuk ke rumah itu lewat pintu belakang.


Dari rumah paman Favier ke gerbang utama sangat jauh, seharusnya memang menggunakan kendaraan kalau mau sampai kerumah itu.


Tapi karena Ara tidak mungkin menumpang pada tamu yang lewat, dan memang tidak ada mobil yang keluar dari rumah itu. Dia juga tidak mungkin meminta Nancy untuk mengantar ke pintu gerbang karena  Arapun berjalan kaki.


Dengan langkah yang gontai dan hati yang terasa sakit porak poranda, Ara berjalan kaki cukup jauh, tidak dirasakannya kakinya lecet-lecet berdarah karena jauhnya ke gerbang utama.


Rasa perih dikakinya tidak seberapa daripada rasa perih dihatinya. Dia begitu sedih memikirkan kenyataan Jack yang sudah sembuh tapi merahasiakannya.


Meskipun begitu, dia sangat senang Jack sembuh, itu yang di inginkannya, melihat Jack sembuh. Meskipun kesembuhan Jack malah memupus impiannya yang indah.


Dulu dia membayangkan Jack sembuh akan memberikan kebahagiaan dalam hidupnya, menjalani pernikahan normal seperti orang lain pada umumnya, tidak lagi dicemooh karena kekurangannya Jack. Dia dan  Jack bisa memiliki keturunan yang lucu-lucu yang berlarian dihalaman rumah dekat airmancur yang indah itu, ternyata impiannya benar-benar sudah hilang musnah.


Jack tidak mencintainya lagi, Jack jadi orang asing sekarang, dia merasa tidak mengenal Jack. Lagi-lagi Ara menghapus airmatanya, sambil terus berjalan menuju gerbang tanpa henti tidak dirasanya luka di kakinya semakin dalam.


Jack merasakan sesuatu yang aneh, entah kenapa dia merasa ada yang mengamatinya. Diapun menyimpan gelasnya diatas nampan seorang pelayan.


“Aku tinggal dulu sebentar,” ucap Jack pada teman-temannya, lalu dia meninggalkan ruangan pesta itu, isntingnya mengatakan kalau ada yang memperhatikannya, tapi siapa?


Jack terus berkeliling keluar dari ruangan yang dia rasa tapi ternyata tidak ada. Akhirnya dia kembali bergabung dengan teman-temannya lagi.


Dipintu gerbang, beberapa prajurit menyapa Ara dalam bahasa Perancis.


“Temanku yang lain masih di dalam, aku ada urusan jadi pulang duluan. Aku pesan taxi penuh terus jadi akan naik di depan saja,” kata Ara dalam bahasa Inggris, sambil menunjuk ke jalan raya. Dia menebak-nebak saja apa yang ditanyakan  prajurit itu yang merasa keheranan karena dia berjalan kaki begitu jauh.


Prajurit itu tidak bicara apa-apa lagi, setelah memeriksa Ara sebentar, dan tidak ditemukan hal yang mencurigaan, lalu Ara diperbolehkan keluar melewati gerbang itu.


Ara langsung menyetop taxi yang kebetulan lewat di depan gerbang.


Sepanjang jalan, airmatanya tidak berhenti tumpah. Rasa sedih terus menyelimuti hatinya. Jack benar-benar sudah menghancurkan perasaannya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa dia harus meninggalkan Jack? Apa kata ayah ibunya nanti? Dia begitu ngotot untuk tetap bersama Jack dan sekarang dia pulang?


Sungguh sangat memalukan jika dia pulang. Dia begitu bersikeras untuk menemani Jack seumur hidupnya tapi nyatanya Jack tidak menginginkannya, Jack tidak mengangapnya, Jack melupakannya, dia tidak ada artinya buat Jack. Arapun kembali terisak.

__ADS_1


Tidak terasa taxi memasuki rumah itu. Saat turun, Prajurit itu menyapanya. Ara hanya mengangguk saja dengan lesu.


“Jika Pak Beni bertanya, katakan aku ingin istirahat tidak mau diganggu,” kata Ara, lalu masuk kedalam rumah.


Sekali lagi dilihatnya isi ruangan itu yang begitu luas tapi rasanya begitu sempit dihatinya, dia merasa sangat sesak tinggal dirumah ini.


Ara langsung menuju kamarnya, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, menangis sejadi-jadinya, mencurahkan rasa kecewanya pada Jack.


Saat Ara membalikkan tubuhnya, matanya langsung tertuju pada foto di dinding itu. Foto pernikahannya dengan Jack. Dia mengatakan kalau foto itu sengaja dipasang disitu supaya disaat dia bangun, yang dilihatnya adalah foto pernikahannya, tapi yang dirasanya sekarang dia merasa sedih dan kembali menangis, menelungkup diatas tempat tidur.


Entah berapa lama Ara seperti itu meratapi nasibnya, terus menangis hingga dia terlelap karena lelah menangis seharian.


Sore harinya, Jack pulang sudah berganti pakaian dengan kemeja biasa.


Saat Jack masuk ke dalam rumah, Pak Beni langsung mengikutinya.


“Tuan, Nyonya seharian di dalam kamar tidak mau diganggu,” kata Pak Beni.


“Kenapa?” tanya Jack, terkejut mendengarnya.


“Tadi pagi bilang pada saya hanya ingin bersantai,” jawab Pak Beni.


“Oh mungkin dia lelah, biarkan saja,” kata Jack.


Pak Benipun menghentikan langkahnya tidak mengikuti Jack lagi.


Perlahan dia membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu. Benar saja, dilihatnya istrinya sedang tidur menelungkup.


Jack berjalan mendekat, lalu duduk dipinggir tempat tidur. Tangannya terulur menyentuh kakinya Ara. Jack terkejut saat melihat kakinya Ara yang lecet lecet. Diapun panic. Jack langsung bangun mengambil air hangat dan kotak obat, lalu kembali ke tempat tidur, membersihkan lukanya Ara dan mengobatinya.


Jack merasa heran apa yang terjadi dengan Ara? Kenapa kakinya lecet-lecet begini? Kata Pak Beni Ara hanya ingin beristirahat tapi ternyata kakinya lecet-lecet?


Merasa kakinya perih saat Jack mengobatinya, membuat Ara mengaduh dan terbangun dari tidurnya. Dengan spontan dia menariak kakinya tapi Jack sangat kuat memegangnya. Arapun membalikkan tubuhnya dan terkejut saat melihat Jack sedang mengobati lukanya.


Kenapa pria menyebalkan ini mengobatinya? Dia tidak mau Jack mengobatinya, yang sakit hatinya bukan kakinya dan Jack tidak perlu berpura-pura pehratian padanya.


Ara kembali menarik kakinya tapi Jack masih memegangnya dengan kuat, terus mengobati luka dikakinya. Karena kalah tenaga, Arapun hanya bisa bangun dan duduk.


Ditatapnya pria itu yang menunduk mengobati kakinya tanpa bicara. Yang ada dalam benak Ara bertanyata-tanya, kira-kira  apa yang akan Jack lakukan sekarang? Apakah dia akan jujur atau tetap saja pura-pura depresi? Tentu saja dia akan pura-pura depresi. Ara ingin tahu mau sampai kapan pria itu seperti itu. Apa tidak cape berbohong terus? Ara terus mengeluh dalam hatinya.


 “Aw!” teriak Ara mengaduh karena kakinya terasa perih.


Jack selesai mengobatinya, lalu menoleh pada Ara yang merasakan kakinya berdenyut-denyut. Padahal tadi saat jalan kaki sama sekali tidak merasakan kalau kakinya akan terluka begini.

__ADS_1


Jack melihat wajah Ara yang kusut. Bekas riasannya  tidak rapih seperti habis menangis. Hatinya merasa tidak nyaman kalau melihat istrinya  bersedih begini.


Apakah Ara merasa kesal karena dia sendirian di rumah akhirnya berjalan kaki di sekeliling rumah sampai kakinya lecet-lcetet? Jack merasa jadi suami yang tidak beretanggungjawab, membiarkan istrinya kesepian dirumah.


Jack melihat kaki Ara yang sedang ditiup-tiup Ara karena pedih. Tangan Jack terulur mau meraih kaki itu tapi Ara menjauhkannya. Dia tidak mau menerima kebaikan Jack yang pura-pura itu, dia tahu kebaikan Jack itu palsu. Entah apa maksud dibalik semua itu.


“Tidak usah,” ucap Ara.


Jackpun diam. Kalau perasaannya tidak salah, istrinya itu seperti sedang merajuk. Ara pasti kesal ditinggal dirumah sendirian. Ditatapnya lagi istrinya itu. Ara menoleh pada Jack.


“Kenapa kau melihatku? Aku hanya bosan di rumah lalu jalan-jalan diluar sampai kakiku lecet,” kata Ara dengan ketus.


Jack tidak menjawab.


“Padahal aku masih ingin jalan-jalan tapi kakiku lecet, aku akan susah berjalan,” keluh Ara lagi sambil meniupi kakinya.


“Jalan-jalan,” ucap Jack.


“Iya jalan-jalan,” ulang Ara dengan nada ketusnya, membuat Jack mengerutkan dahinya. Ternyata Ara sedang marah.


Jack memutar tubuhnya membelakangi Ara.


“Apa? Kau mau apa?” tanya Ara menatap punggungnya Jack.


Tapi sebelum pertanyaannya terjawab, Ara berteriak kaget saat tangan Jack manarik tangan dan tubuhnya menempel dipunggungnya Jack.


“Jack, kau mau apa?” teriak Ara, terkejut dan langsung memeluk lehernya Jack.


“Jalan-jalan,” ucap Jack.


“Jalan-jalan apa maksudmu? Kakiku sakit aku tidak bisa berjalan,” keluh Ara. Setiap kali mengingat kebohongan Jack dia merasa kesal.


Ara kembali berteriak kaget saat tiba-tiba Jack bangun, membuat tubuhnya yang menempel dipunggung Jack terangat. Dirasakannya kedua tangan pria itu memeluk bokongnya. Supaya tidak terjatuh terpaksa Ara harus memeluk leher dan bahunya Jack.


“Sebaiknya kau turunkan aku! Aku tidak mau digendong olehmu,” ucap Ara ketus.


Tapi Jack tidak menggubrisnya, malah mencari posisi nyaman menggendong Ara. Ara merasa terkejut, ternyata Jack benar-benar menggendongnya keluar rumah.


Para prajurit  yang berlalu lalang tampak memperhatikan sambil pura-puara melihat kearah yang lain, mungkin takut kalau sampai disemprot oleh Jack karena menertawakannya.


“Ini sangat memalukan Jack, semua orang melihat kita,” keluh Ara.


Dia mencoba turun tapi tangan Jendral itu begitu kuat memeluk tubuhnya. Jack bukannya tidak tahu, dia hanya ingin memenuhi keinginan istrinya jalan-jalan meskipun kakinya sedang sakit.

__ADS_1


Akhirnya Ara hanya diam saja saat Jack mulai menyusuri halaman rumahnya sambil menggendongnya. Hati Ara sedikit terobati dengan sikap Jack ini, tapi dia masih kesal dengan kebohongan Jack. Mau sampai kapan Jack pura-pura depresi didepannya?


**********


__ADS_2