
Jack tampak gelisah didepan ruang operasi, tidak seperti dulu dia bisa menemani istrinya melahirkan normal, sekarang istrinya melahirkan secara cesar karena hamil bayi kembar.
Galand dan Rubiena sedang bersama babysitter masing-masing. Jack memang melarang Ara bekerja terlalu berat apalagi kehamilannya lebih besar dari sebelumnya.
Seluruh anggota keluarga sudah diberitahu kalau hari ini Ara akan melahirkan, kemungkinan mereka akan datang setelah Ara melahirkan. Pak Amril masih aktif bekerja meskipun memasuki masa pensiun kerjanya. Ny Imelda dan suaminya sedang berada dinegara lain. Sedangkan Bastian sedang sibuk dipekerjaannya, mungkin sekitar dua tiga hari lagi dia datang ke paris bersama Arum dan putranya.
Jack menoleh pada Galand yang tidak bisa diam, nakal-nakalnya sudah semakin terlihat, dia tidak tahu aoakah dia sneakal itu saat masih kecil. Babystterny terlihat lelah mengikuti kemana Galand pergi.
Lalu Jack menoleh pada pada Rubiena, yang sedang duduk dipangkuan babysitter dengan membawa bonekanya, anak itu semakin lama terlihat semakin cantik dan lucu.
Diapun tersenyum, dia berasa senang putra dan putrinya sudah tumbuh begitu sehat, cantik dan tampan. Sekarang kebahagiaannya akan bertambah dengan kehadiran bayi kembarnya. Keinginannya untuk membuat rumahnya ramai cepat terlaksana.
Tidak lama kemudian Jack mendegar suara tangis bayi pertama dan kedua, dia sangat terharu mendengarnya. Putra dan putrinya sudah lahir, semoga ibunya baik-baik saja.
Beberapa puluh menit kemudian, pintu itu terbuka. Dua orang perawat keluar dengan masing-masing menggendong satu bayi.
“Bayi-bayiku sudah lahir?” tanya Jack, menghampiri perawat itu dan melihat bayinya.
“Kakaknya laki-laki Tuan, adiknya perempuan,” jawa perawat itu.
Jack tidak mampu berkata-kata, dia merasa terharu dan bahagia melihat bayi-bayinya.
“Mari ikut kami Tuan, sementara bayinya akan di hangatkan dulu,” kata perawat itu.
“Apa Tuan sudah menyiapkan namanya?” tanya perawat satunya lagi.
“Sudah, aku sudah menyiapkannya,” jawab Jack, sambil mengikuti langkah perawat-perawat itu.
“Bagaimana dengan ibunya?” tanya Jack.
“Ibunya masih ditangani Dokter, tapi kondisinya sangat baik,” jawab perawat.
Hati Jack merasa lega mendengarnya. Meskipun dia belum bisa melihat Ara, yang penting dia tahu kalau istri dan bayi-bayinya dalam keadaan sehat.
“Siapa namanya Tuan?” tanya perawat saat mereka sudah sampai di tempat incubator dan memasukkan bayi-bayi itu disana.
“Yang laki-laki Edgar dan yang perempuan Aima,” jawab Jack.
Matanya tidak lepas memperhatikan bayi-bayinya, bayi yang sangat lucu-lucu, dia sangat senang melihatnya. Kalau tidak memikirkan kesehatan istrinya, dia masih ingin memiliki banyak bayi lagi, tapi tidak, sepertinya empat sudah cukup, tapi kalau suatu saat istrinya hamil lagi, dia tidak masalah, asal istrinya tetap sehat.
Galand dan Rubiena digendong masing-masing babysitternya melihat adik-adik mereka di kaca.
Jack tersenyum pada putra dan putrinya, lalu dia keluar menghampiri mereka.
“Adik adik sudah lahir, kalian senang?” tanyanya pada Galand dan Rubiena.
“Adik bermain perang,” jawab Galand.
“Ya nanti kalau sudah besar adik Edgar akan bermain perang-perangan bersama,” jawab Jack, sambil mencium pipinya Galand. Lalu menoleh pada Rubiena yang tampak masih belum mengerti.
“Kau juga punya teman adik perempuan, namanya Aima, kau senang?” tanya Jack pada Rubeina.
__ADS_1
Rubiena menatap ayahnya dan mengangguk. Jack langsung mencium pipinya juga.
“Kalian masih ingin melihat adik-adik kalian? Ayah mau lihat Ibu kalian dulu,” kata Jack lalu menoleh pada babysitter itu.
“Kalian jaga anakku, aku mau mengurus Nyonya dulu,” kata Jack.
“Baik,Tuan!” jawab babysitter itu bersamaan.
Jackpun meninggalkan mereka yang masih melihat bayi-bayi yang baru lahir itu. DIa segera koordinasi dengan perawat ruangan yang akan digunakan oleh Ara beristirahat.
****
Entah berapa lama Ara tertidur setelah operasinya berhasil. Saat dia membuka matanya, wajah yang pertama dilihatnya adalah suaminya. Pria itu duduk dipinggir tempat tidur sambil memegang tangannya, sedang menatapnya.
“Kau sudah bangun?” tanya Jack.
Ara menatap pria itu.
“Iya, apa kau menungguiku dari tadi? Aku bangun kau sudah ada di dekatku?” tanya Ara.
“Iya, aku menunggumu dari tadi, aku senang kau sudah bangun,” jawab Jack, lalu menggeser duduknya lebih dekat pada Ara, mendekatkan tubuhnya keatas tubuh Ara lalu memeluknya dan mencium bibirnya.
Setelah itu ditatapnya wajah pucat itu. Tangan Jack merapihkan rambutnya Ara.
“Terimakasih kau sudah melahirkan bayi-bayi yang sehat,” kata Jack, menatap istrinya penuh kasih.
“Mereka sudah lahir?” ucap Ara, sambil matanya melirik kedua buah box bayi yang Kosong.
“Apa mereka sakit?” tanya Ara.
“Tidak, aku akan bicara dengan Dokter, apakah bisa mempertemukanmu dengan bayi-bayi kita,” jawab Jack, kembali mencium Ara.
“Kau ingin bertemu mereka?” tanya Jack.
“Iya,” jawab Ara mengangguk.
“Baiklah aku akan menemui Dokter sekarang, kau tunggu sebentar,” ucap Jack, Ara hanya mengangguk saja.
Pria itu segera keluar dari ruangan itu.
“Ibu!” panggil Rubiena, dia turun dari kursinya menghampiri Ara.
Babysitternya langsung menggendongnya, mendudukkannya di samping Ara.
“Sayang, kau tidak nakal kan tadi,” tanya Ara.
“Adik bayi disana,” kata Rubiena, menatap Ibunya.
“Iya, kau sudah melihat adik-adikmu?” tanya Ara.
Rubiena mengangguk.
__ADS_1
“Kau senang?”tanya Ara lagi, tangannya mengusap rambut putrinya.
“Adik bayi kecil,” jawab Rubiena, membuat Ara tersenyum.
“Iya, nanti juga besar sepertimu, kau ingin mengajak adik bayi bermain?” tanyanya, menatap putrinya yang lebih mirip Jack daripada dirinya.
“Adik bayi mau aku tembak!” celetuk Galand, membuat Ara menoleh pada putranya yang berdiri disamping ranjang pasien itu.
“Adik bayi laki-laki mau kau ajak main perang-perangan?” tanya Ara, kini tangannya beralih menyentuh kepalanya Galand.
“Iya, aku mau mengajak adik saja, Ayah suka curang, sudah ditembak tidak mati-mati juga,” jawab Galand, membuat Ara tertawa.
Tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah kaki memasuki ruangan itu. Ternyata Jack datang dengan dua orang perawat dan bayi mereka.
Babysitter langsung menggendong Rubiena dan Galand menjauh dari ibunya.
“Nyonya ini bayi-bayimu, tapi tidak bisa terlalu lama diluar,” kata perawat.
“Iya terimakasih,” jawab Ara, menggeser sedikit tubuhnya supaya kedua bayinya bisa berbaring disampingnya.
Jack memberikan tambahan bantal di kepala Ara, supaya bisa sedikit tegak melihat bayinya.
Ara menatap kedua bayi yang di baringkan dismapingnya, tangannya memluk kedua bayi itu, ada airmata menetes dipipinya melihat mereka. Dia sangat terharu sudah memberikan dua anak lagi buat Jack.
Jack tersenyum menatap istri dan dua bayinya yang baru lahir. Dilihatnya istrinya menangis, tangannya terulur menghapus airmata istrinya.
“Mereka sangat cantik,” ucap Ara.
“Tampan juga sayang, bayinya laki-laki dan perempuan,” kata Jack.
“Aku sampai tidak bisa membedakannya, ternyata bayi-bayiku mirip denganmu semua,” ucap Ara.
Mendengarnya membuat Jack tersenyum.
“Tapi mereka terlihat cantik dan tampan, apa kau sudah memberinya nama?” tanya Ara.
“Sudah, namanya Aima dan Edgar,” jawab Jack.
Ara menoleh pada suaminya.
“Kenapa kau memberi nama itu?” tanya Ara.
“Karena Aima itu artinya tersayang, sedangkan Edgar itu kaya raya, makmur. Aku ingin keluarga kita selalu dalam keadaan berkecukupan juga penuh kasih sayang. Aku tidak mau kekayaan berlimpah tapi tidak memberikan kabahagiaan karena tidak ada kasih sayang dalam keluarga,” jawab Jack.
Ara langsung tersenyum senang.
“Aku suka nama-nama itu, semoga kita selalu bahagia bersama,” ucap Ara.
Jack tidak bicara lagi, dia mencondongkan tubuhnya mencium Ara lalu putra dan putrinya.
“Aku menyayangi kalian semua,” kata Jack, sambil mengusap pipi istrinya. Ara menatapnya sambil tersenyum, dia juga begitu sayang pada pria ini. Tangannya memegang tangan Jack yang mengusap pipinya.
__ADS_1
********