Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-160 Apa Harus Jujur?


__ADS_3

Awalnya Jack bimbang untuk jujur dan tidak pada Ara, tapi akhirnya Jack memilih untuk jujur.


 “Aku hampir tergoda,” jawab Jack, membuat Ara terkejut.


Ara langsung menurunkan satu kakinya, tapi Jack langsung menariknya ke pangkuannya lagi. Tangan kirinya memeluk pinggang Ara dengan erat, tidak membiarkan istrinya turun.


“Dengarkan aku dulu,” ucap Jack, dia melihat wajah istrinya memerah.


“Aku bilang hampir, bukan iya,” lanjut Jack.


 Ara menunduk, tidak mau menatap Jack.


“Aku jujur hampir tergoda, tapi aku tidak melakukannya,” kata Jack.


“Sampai mana?” tanya Ara, dengan wajah semakin merah dan masih menunduk.


Dia harus kuat kalau seandainya mendengar susuatu yang menyakitkan, kalau misalkan mendengar kalau suaminya berhubungan dengan wanita lain.


“Sampai mana?” tanya Ara lagi dengan nada mulai tinggi.


“Dia..”


“Dia apa? Kau menciummnya?Menyentuh tubuhnya? Sampai mana?” tanya Ara, kini menatap Jack.


Jack melihat mata itu sudah berair, membuatnya menyesal kenapa harus mengatakan hal ini?


“Dia..”


“Dia apa? Apa dia telanjang di depanmu?” tanya Ara.


“Iya,” jawab Jack.


“Apa? Kau tidak mungkin tidak berhubungan dengannyakan?” tanya Ara, mulai emosi.


“Tidak,” jawab Jack menggelengkan kepalanya.


“Kau menelanjanginya bagaimana mungkin kau tidak menyentuhnya?” tanya Ara lagi. Dia kembali menurunkan kakinya tapi Jack kembali menariknya kepangkuannya lagi dan memeluknya lebih erat.


“Jangan seperti itu! Tolong!” ucap Jack, membuat Ara diam.


“Aku sangat menyayangimu, aku tidak akan berhianat padamu,” ucap Jack, dia semakin merasa bersalah saja melihat airmata itu menetes dipipi istrinya.


Tangannya langsung mengusap pipi istrinya yang  menunduk menyembunyikan wajahnya.


“Jangan marah padaku, aku tidak mau kau marah. Kau ingin aku jujur kan?” ucap Jack, tangannya mengusap rambutnya Ara.


“Bagaimana aku tidak marah, kau bersama wanita lain! Apa tidak kau fikirkan aku disini menunggumu, menangisi kepergianmu setiap detik setiap menit, bahkan aku tidak bisa mengabarimu kalau aku hamil! Aku juga tidak tahu kapan kau pulang! Apa kau fikir aku tidak tersiksa dengan semua itu?” ucap Ara menatap Jack dengan matanya yang sudah berair.


Jack terdiam menatapnya.


“Disaat orang lain dimanja oleh suaminya saat masa kehamilannya, aku cuma sendirian, kau tidak ada disampingku,” lanjut Ara. Airmata itu kembali menetes dipipinya. Jack segera menghapusnya.


“Sayang aku minta maaf, aku tidak tahu apa ini suatu kesalahan atau tidak, tapi aku sungguh tidak melakukannya. Wanita itu wanita penghibur, aku juga tidak tahu kalau dia ada ditendaku tanpa busana,” kata Jack dengan jujur.


“Kau melakukannya! Kau berbohong padaku!” ucap Ara, kembali menunduk dan terisak.


Jack menatapnya, dia tidak bisa membayangkan kalau dia sampai melakukannya, bagaimana marahnya istrinya. Mungkin istrinya akan pergi membawa bayi mereka.


“Tidak, aku tidak melakukannya!  Aku memang hampir tergoda tapi aku tidak melakukannya, aku mendengar kau memanggilku,”  kata Jack, membuat Ara mengangkat wajahnya menatapnya.


Tangan Jack kembali menghapus arimatanya Ara.

__ADS_1


“Aku mendengar kau memanggilku, aku tidak melakukannya! Aku lebih merasakan kalau aku mencintaimu daripada hawa nafsuku sendiri,” kata Jack dengan jujur.


Ara menatapnya mencoba percaya dengan ucapannya Jack.


“Jangan menangis lagi, tolong maafkan aku. Aku hanya berusaha jujur, aku tidak mau menutupinya darimu. Tapi kau harus percaya aku tidak berhubungan dengan wanita lain. Aku sangat mencintaimu, aku ingin kau mempercayaiku, aku ingin menepati janjiku padamu,” kata Jack, terus berusaha meyakinkan Ara.


Ara tidak menjawab dan kembali terisak.


“Jangan marah,” ucap Jack lagi.


Dia bisa mengerti perasaannya Ara, tapi dia juga ingin jujur padanya. Dia tidak bisa berbohong kalau tidak ada wanita yang mencoba menggodanya.


Ara menghapus airmata di pipinya lalu menatap Jack.


“Tidak ada yang lain lagi?” tanya Ara.


“Tidak ada,” jawab Jack.


Arapun kembali diam. Jack langsung memeluknya dan menciuminya.


“Hanya kau yang selalu kurindukan,” ucapnya, mencoba meyakinkan Ara.


Ara masih tidak bicara, meskipun suaminya menciuminya.


“Tolong maafkan aku,” pinta Jack, menatapnya penuh permohonan.


“Apa kau mau berjanji padaku untuk tidak tergoda lagi dengan alasan apapun?” tanya Ara.


“Iya aku berjanji,” jawab Jack, langsung mengangguk.


Arap kembali diam. Jack menariknya kembali ke pelukannya, sambil mengusap perut istrinya.  Ara mencoba mempercayai perkataannya Jack yang berusaha jujur padanya dan dia harus mencoba menerima kejujurannya Jack meski kenyataannya pahit.


 Ara menggeleng.


“Kapan kau ke Dokter? Aku ingin melihat bayiku,” tanya Jack lagi.


“Beberapa hari lagi,” jawab Ara.


Jack masih memeluknya erat, mengusap lengan istrinya, juga tangan dan kakinya. Dia begitu menyayanginya.


“Apa kau sudah berbelanja perlengkapan bayi?” tanya Jack.


Ara menggeleng.


“Kenapa?” tanya Jack, keheranan.


“Aku tidak tahu dia laki-laki atau perempuan,” jawab Ara.


“Tidak apa-apa, kalau sekarang laki-laki, anak kedua pasti perempuan,” kata Jack.


“Sekarang kau tidak ingin apa-apa?” tanyanya kemudian.


“Tidak, “ jawab Ara.


“Apa masa mengidammu sudah habis? Aku tidak keberatan kau ingin apa atau meminta sesuatu,”ucap Jack.


“Tapi aku tidak ingin apa-apa, kau sudah memberikan segalanya, aku tidak ingin apa-apa lagi,” kata Ara, membuat Jack menatapnya. Apa istrinya masih marah? Masa hamil tidak mengidam apa-apa? Aneh.


“Kau sudah tidak marah padaku kan?” tanya Jack.


“Sedikit,” jawab Ara, cemberut.

__ADS_1


Jack tersenyum dan  langsung mencium bibir yang cemberut itu.


“Aku kan sudah minta maaf,” ucapnya. Ara tidak menjawab, masih cemberut.


“Kita akan pulang, ada yang ingin aku sampaikan pada Ibuku,” kata Jack.


“Rencananya aku mau pulang sekarag kalau kau tidak pulang,” ucap Ara.


Jackpun diam.


“Kau tidak bisa dihubungi,” keluh Ara.


“Iya Hpku rusak, daerah yang kulalui juga daerah yang tidak ada sinyal,” jawab Jack.


Jack tidak mau melepaskan pelukannya, apalagi tahu Ara masih marah padanya. Dia sama sekali tidak mau menyakiti istrinya.


“Tuan, semuanya sudah siap!” terdengar suara pelayan yang menyiapkan keperluan mandinya.


“Iya,” jawab Jack.


Kemudian terdengar mereka keluar dari kamar itu.


“Apa kau sudah mandi?” tanyanya pada Ara.


“Sudah. Kau fikir aku belum mandi terus?” keluh Ara, memberengut.


“Harusnya kau jangann mandi dulu,” ucap Jack.


Tangan Ara langsung mengusap wajahnya Jack, yang langsung mencium telapak tangannya.


“Bayinya akan kedinginan kalau aku harus mandi lagi, nanti masuk angin,” ujar Ara. Dia tahu maksud suaminya bicara begitu ingin mengajaknya mandi bersama.


Jack tersenyum mendengar jawaban istrinya.


“Kau senang aku pulang?” tanya Jack.


Ara menatapnya lalu mengangguk.


“Setelah urusanku disana selesai, kita tinggal disini dengan bayi kita,” ucap Jack.


“Iya,” jawab Ara. Dimanapun dia tinggal asalkan dia bisa bersama Jack selamanya.


“Supaya kau juga bisa mengurusku setiap hari dan menemaniku. Aku sudah menunjuk orang untuk mengurus perusahaan yang disana, jadi aku bisa focus dengan pekerjaanku disini. Tinggal bersamamu dan anak-anak kita,” ucap Jack.


Ara mengangguk lagi.


Jack kembali memeluknya dengan erat.


“Jack, airmu akan dingin!” seru Ara, tiba-tiba teringat kalau suaminya mau mandi.


“Aku hampir lupa,” ucapnya, sambil tertawa, lalu mencium istrinya lagi.


Setelah Jack melepaskan ciumannya, barulah di membiarkan Ara turun dari pangkuannya. Pria itu langsung berdiri di depannya Ara, bukannya langsung ke kamar mandi.


“Kenapa?” tanya Ara, menatapnya.


“Apa kau tidak akan melepaskan pakaianku?” Jack balik bertanya.


Ara mencibir, suaminya cuma membuka baju saja harus dia yang membukakan, keluhnya dalam hati, tapi dia tetap melakukannya, membukakan pakaian suaminya. Balasannya sebuah ciuman menempel di pipinya. Jack menciumnya.


***********

__ADS_1


__ADS_2