
Ara masih menangisi kepergiannya Jack. Berdiri diteras dengan tatapan hampa melihat mobil Jack sudah menghilang dari pandangannya.
Ny.Inez menghampiri dan memegang bahunya Ara.
“Ayo masuklah, jangan terlalu bersedih, Jack pasti pulang,” kata Ny.Inez.
Ara membalikkan tubuhnya menatap Ny.Inez, dengan mata yang masih berair. Sepertinya air matanya tidak akan pernah kering menangisi kepergiannya Jack.
Ara menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu kapan Jack pulang atau mungkin Jack tidak akan kembali lagi,” ucap Ara terbata, membuat Ny.Inez terkejut.
“Kau ini bicara apa? Jack hanya bertugas, nanti juga pulang,” kata Ny.Inez.
Ara kembali menggelengkan kepalanya.
“Jack bukan pergi ke Paris, tapi dia bertugas ke Negara konflik, aku khawatir dengan keselamatannya, aku takut terjadi apa-apa padanya, aku tidak mau kehilangan Jack,” ucap Ara dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Mendengarnya membuat Ny.Inez terkejut dan diapun terdiam, merasakan tubuhnya gemetaran dan menjadi gugup.
“Ke Negera konflik?” tanya Ny.Inez, hampir tidak terdengar.
“Di tempat seperti itu nyawa tidak ada harganya, dan Jack pergi kesana, bagaimana aku tidak sedih?” jawab Ara, lalu menunduk dan menangis lagi.
“Aku mengkhawatirkannya,” ucapnya lagi.
Ny.Inez terpaku, dia tidak menyangka kalau tugas Jack sangat berat. Bagaimana kalau terjadi hal buruk pada Jack, tubuhnya mendadak lesu. Airmata kembali menetes di pipinya.
Ara menatap ibu mertuanya itu yang kini berurai airmata. Ada banyak penyesalan dalam dirinya Ny.Inez karena begitu banyak kesalahan pada Jack. Dan sekarang diapun harus siap dengan kemungkinan terburuk pada Jack.
Saat Jack di RSJ meskipun dia tidak menengoknya tapi dia tahu Jack ada disana bersama Pak Beni seperti yang dilaporkan suaminya, tapi ini, siapa yang tahu kabarnya Jack di Negara yang sedang konflik seperti itu? Bahkan untuk ditelponpun mungkin tidak bisa.
“Jack tetap pergi, Jack meninggalkanku,” ucap Ara lagi, menatap Ny. Inez.
Ibu mertuanya itu melangkah lebih dekat lalu memeluknya. Merekapun saling berpelukan menangisi kepergiannya Jack.
Setelah berapa lama mereka diteras seperti itu, bersedih dan khawatir Jack akan mengalami hal buruk disana. Ara dan Ny.Inezpun kembali masuk ke rumah. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain merelakan kepergiannya Jack meskipun berat.
Ara menutup pintu kamarnya yang terasa begitu sepi. Matanya sudah bengkak karena menangis sedari tadi. Diapun duduk dipinggir tempat tidur. Meraih pakaiannya Jack yang digantinya tadi belum sempat dia rapihkan. Dipeluknya kemeja itu lalu diciumnya, masih tercium bau parfum yang Jack kenakan. Airmata kembali menetes membasahi pipi itu.
“Aku akan sangat merindukanmu,” ucapnya kembali mencium kemeja itu.
Dilihatnya di dinding foto pernikahannya dengan Jack, hatinya kembali sedih. Ara mengambil ponselnya yang ada di meja lalu mencoba menelpon ponselnya Jack, ternyata diluar jangkauan. Mungkin sedang di pesawat. Hatinya semakin lesu tidak bisa menghubunginya. Mungkin nanti dia akan mencoba lagi menghubunginya.
Karena tidak berhasil menelpon Jack, Ara berbaring ditempat tidur itu memeluk gulingnya. Baru juga beberapa menit yag lalu Jack pergi tapi dia sudah merindukannya. Merindukan pelukannya, ciumannya.
“Aku tidak keberatan kau menggangguku, asal kau cepat pulang, Jack,” gumamnya mempererat pelukan ke gulingnya.
Diapun mencoba memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya, mencoba befikir postif kalau Jack akan cepat pulang, akhirnya Ara terlelap dalam tidurnya karena terlalu lelah menangis.
*********
__ADS_1
Di Paris…
Pria itu berdiri di dekat jendela dengan satu tongkat ditangan kirinya dan tangan kanannya memegang gelas minuman, wajahnya tampak memar-memar babak belur bekas dipukuli.
Terdengar suara ketukan dipintu.
“Masuk!” ucapnya.
Seorang pria bertubuh tinggi besar masuk ke ruangan itu.
“Tuan!” panggil pria yang baru datang itu.
Pria yang berdiri itu membalikkan tubuhnya dengan susah karena harus menahan tubuhnya dengan tongkat itu.
“Kau dapat informasi apa? Kalau cuma lapor saja sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku!” bentak pria itu.
“Tenang dulu Tuan Ferdi, saya ada informasi penting!” kata pria itu.
Pria itu yang ternyata Tn.Ferdi menatap pria itu. Tn Ferdi berhasil melarikan diri ke Paris, karena dia sebelumnya sudah menugaskan seseoang untuk mengatur keberangkatannya ke Paris sebelum Jack menemuinya. Dia sengaja tidak membawa istrinya karena terlalu merepotkan baginya dan tidak mau istrinya merusak rencananya.
“Apa?” tanya nya, menatap pria itu.
“Saya mendapat informasi kalau pemerintah Perancis mengirimkan pasukan GIGN ke Negara konflik,” jawab pria itu.
“Ke Negera konflik? Apa Jendral itu dikirim kesana?” tanya Tn.Ferdi terkejut.
“Benar Tuan, Jendral Jack Delmar membawa pasukannya kesana,” jawab pria itu.
Tn.Ferdi langsung terbahan- bahak mendengarnya.
“Ini kabar bagus, ini kabar bagus, aku suka!” kata Tn.Ferdi lagi sambil minum minuman di gelasnya.
“Kau tidak perlu khawatir meskipun aku tidak bisa pulang, tapi aku menyimpan banyak uang di Paris. Aku masih bisa membayarmu! Kau kerjakan saja pekerjaanmu!” ucapnya lalu tertawa lagi.
“Jadi apa pekerjaan selanjutnya, Tuan?” tanya Pria itu.
“Aku tidak bisa pulang gara-gara dia! Aku bisa dipenjara kalau pulang! Aku jadi buronan sekarang! Semua karena ulahnya Jenderal itu!” kata Tn.Ferdi menggebu-gebu, berfikir sebentar lalu bicara lagi.
“Jadi dia juga harus mengalami hal yang sama, buat dia tidak bisa pulang dari negera itu! Buat dia mati tertembak atau terkena bom disana, bukankah itu bagus? Tidak akan ada yang tahu dia korban perang atau korban kejahatan, aman!” lanjut Tn.Ferdi, kembali tertawa, dia merasa senang ternyata jalan untuk menghabisi Jack terbuka lebar.
“Baik Tuan, saya mengerti, semua akan diatur. Tapi…” ucap pria itu.
“Tapi apa?” tanya Tn.Ferdi.
“Kalau pergi ke Negara konflik, resikonya terlalu besar,Tuan! Bisa-bisa orang-orang saya juga jadi korban disana,” kata pria itu.
“Kau tenang, aku punya banyak uang dan bisa membayarmu berlipat-lipat. Aku tidak peduli berapa uang yang aku habiskan asal dendamku terbalas! Kau lihat kakiku? Jendral itu membuatku seperti ini! Aku tidak akan pernah melepaskannya!” kata Tn.Ferdi, mengatupkan bibirnya dengan marah, giginya menggeretuk.
“Baik Tuan, akan saya kerjakan!” ujar pria itu.
Tidak berapa lama pria itu keluar dari ruangan itu. Tn Ferdi mencoba duduk dikursi tapi kesulitan karena menggunakan tongkatnya. Membuatnya kesal dan melempar gelas di tangannya sembarang sampai gelas itu pecah di lantai.
__ADS_1
“Semua karena anak gila itu! Mau duduk saja susah!” gerutunya, akhirnya bisa duduk di kursi itu lalu memukulkan tongkatnya ke meja saking kesalnya, lalu diapun tertawa.
Tn.Ferdi merasa senang karena kesempatannya untuk membalas dendam pada Jack terbuka lebar. Melenyapkan Jack di negara yang sedang konflik itu mempermudahnya, karena tidak akan tahu dia korban kejahatan atau korban peluru nyasar, tuntas sudah semua dendamnya.
Tidak! Tidak! Tn.Ferdi merenung lagi. Belum tuntas! Ada istrinya yang ditinggalkan disana. Apakah wanita itu hamil? Dia harus mengetahui apakah wanita itu benar-benar sudah hamiL? Dia tidak mau jika Jack lenyap tapi masih ada anaknya yang dilahirkan, keturunan Constantie harus habis!
Diapun kembali memukul tongkatnya ke atas meja dengan kesal tenyata masih ada pekerjaan lain yang harus dikerjakannya.
**********
Ara tertidur lumayan lama, saat dia terbangun kepalanya terasa pusing, mungkin karena dia terus-terusan menangisi kepergiannya Jack. Melihat langit-langit kamar tidak ada yang berubah, kamarnya itu terasa begitu dingin dan sepi. Dilihatnya ke jendela, sepertinya hari sudah sore. Dia merasakan hatinya begitu hampa. Merasa ada sesuatu yang hilang dalam jiwanya.
Matanya kembali menyapu ruangan itu dan terhenti pada foto pernikahannya. Tidak disini tidak di Paris, dia sengaja memajang foto pernikahannya dengan Jack di tembok sebrang tempat tidur, supaya setiap akan tidur atau bangun tidur bisa melihat foto pernikahan itu. Diapun tersenyum.
“Kau sangat tampan Jack dengan baju pengantin itu. Aku tidak pernah menyangka kalau waktu itu kau sedang depresi, aku mencintaimu, Jack,” ucapnya lalu matanya kembali berkaca-kaca, dia kembali merindukan Jack.
Maksud hati tadi akan bangun, tai Ara kembali memeluk gulingnya, tetes airmata itu kembali menetes di guling itu.
“Jaga dirimu baik-baik Jack, cepat pulang,” ucap Ara, tidak pernah berhenti meratapi kepergiannya Jack.
Tangannya meraba-raba ke sampingnya mengambil ponselnya. Ara mencoba menelpon Jack, tadi di luar jangkauan, sekarang hanya ada suara tutut-tutut saja. Hatinya semakin gelisah saja. Mungkin disana Jack tidak akan pernah bisa dihubungi.
“Aku merindukanmu Jack,” ucapnya. Kembali menempelkan kepalanya ke bantal.
Ara tidak bisa membayangkan betapa berat hari-hari kedepannya tanpa Jack, tanpa tahu kapan Jack akan pulang.
Terdengar suara ketukan di pintu.
Dengan malas Ara turun dari tempat tidurnya, membuka pintu itu perlahan. Ternyata Pak Beni sudah berdiri disana.
“Nyonya!” panggil Pak Beni.
“Ada apa?” tanya Ara, dengan suara yang serak.
“Tuan menugaskan beberapa orang petugas militer untuk berjaga di rumah ini,” jawab Pak Beni.
Ara menatap Pak Beni.
“Apa itu perlu? Apa ada yang serius?” tanya Ara, keheranan.
“Saya kurang tahu Nyonya, mungkin hanya untuk berjaga-jaga saja, selama Tuan belum pulang,” jawab Pak Beni.
“Tuan juga menugaskan orang untuk menjaga Nyonya jika Nyonya akan keluar rumah,” lanjut Pak Beni.
“Aku tidak butuh bodyguard,” kata Ara.
“Tuan yang menugaskan orang-orang itu, Nyonya,” ucap Pak Beni.
“Ya, baiklah. Pak Beni urus saja mereka. Aku masih ingin istirahat,” kata Ara dengan lesu. Dia tidak mau memikirkan yang lain, hatinya sedang sangat sedih.
Pak Benipun mengangguk, lalu pergi.
__ADS_1
Ara kembali menutup pintunya. Berjalan dengan malas kembali ke tempat tidurnya, memeluk gulingnya lagi. Tidak ada yang ingin dia kerjakan, dia hanya ingin tidur saja.
***********