Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-98 Aku juga mencintaimu


__ADS_3

Sore itu setelah puas jalan-jalan, Jack mengajak Ara pulang ke rumah saja, dia tidak mau istrinya lelah. Kalau masih mau jalan-jalan masih ada esok hari.


Saat mobilnya Jack mendekati rumah, mobil penguntit itu pun berhenti di perempatan, mungkin mereka memang hanya mengikuti sampai rumah saja, dalam benaknya Jack.  Dan sepertinya dia sudah bisa menebak siapa yang melakukan ini.


Jack dan Ara masuk keruang tamu, ternyata Tn. Ferdi juga baru pulang dan disambut Ny. Inez, mereka berada di ruang tamu.


“Kalian sudah pulang?” tanya Ny.Inez, menoleh pada Jack dan Ara yang baru datang.


“Iya Nyonya,” jawab Ara.


Jack menoleh pada istrinya, kasihan sekali istrinya masih saja memanggil ibunya Nyonya, dia berjanji sebentar lagi istrinya akan memanggil ibunya dengan panggilan ibu.


Ny.Inez melihat pada Ara, matanya langsung tertuju saja pada kalung yang dipakai Ara. Yang dia tahu menantunya itu tidak suka menggunakan perhiasan. Bukan tidak ada perhiasan dirumah, tapi dia menyediakan perhiasan untuk Ara secukupnya saja dan tidak ada model yang dikenakan Ara sekarang.


Itu artinya kalung itu baru dibelinya. Apa Jack membelikannya? Siapa lagi? Sudah bisa ditebak harganya pasti mahal. Jack mudah sekali mengeluarkan uang untuk wanita itu. Apa tidak cukup dari perhiasan yang satu koper itu?


Tn. Ferdi juga berfikir sama, yang ada dibenaknya adalah kalau Jack memanjakan istrinya, bisa bisa uangnya terkuras untuk wanita itu. Tanpa repot repot bekerja wanita itu dengan mudahnya mendapatkan hartanya Jack.


Kehadiran Arum juga benar-benar tidak berguna. Sudah susah payah membohongi Imelda ternyata Arum tidak bisa membuat Jack meninggalkan Ara, sepertinya Jack tahu kalau gadis itu bukan Arum. Sekarang malah Jack terlihat memanjakan istrinya.


Apalagi kalau perhatian Jack itu karena Jack sudah sembuh dan mereka punya bayi. Kehadiaran bayi dirumah ini akan menghancurkan segalanya. Sepertinya bukan satu yang harus dilenyapkaan tapi dua mungkin tiga, jadi tiga orang. Tn Ferdi terus berfikir dengan asumsinya.


Ara menoleh pada mertuanya.


“Kami keatas dulu, Nyonya,” ucap Ara, tangannya langsung memeluk tangan Jack.


Ara lupa lagi kalau Jack sudah sembuh, kebiasaan selalu menggandeng tangan Jack.  Saat ingat Jack sudah sembuh Ara melepaskan tangannya tapi tidak bisa karena Jack berbalik memegang tangannya lebih erat. Ara mengangkat wajahnya menatap Jack tapi pria itu terus berjalan tanpa melihatnya. Akhirnya Ara hanya melihat tangannya yang dituntun Jack.


“Jack, apa kau akan mandi sekarang?” tanya Ara, saat mereka sudah masuk kamar. Ara kemudian menutup mulutnya, kenapa dia selalu lupa kalau Jack sudah sembuh?


Semua ini tidak bisa dibiarkan  terus terusan begini. Tapi Ara juga bingung karena Jack masih tidak mau jujur kalau dia sudah sembuh. Bagaimana ini? Jangan-jangan Jack sengaja tidak jujur padanya supaya selalu dimandikan? Bibir Ara cemberut. Ih pria itu sangat mesum!


Jack ingin tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, apa istrinya berani memandikannya?


“Mandi,” ucap Jack.


“Ah tidak, tidak, kau dimandikan perawat laki-laki saja, aku lelah, kakiku pegal- pegal seharian berjalan-jalan, seharusnya kau menggendongku tadi,” kata Ara beralasan sambil duduk disofa dan mengurut-urut kakinya pura-pura sakit supaya tidak memandikan Jack.


Terdengar suara pintu diketuk.

__ADS_1


“Masuk saja!” teriak Ara, karena dia sedang berpura-pura kakinya pegal.


Terdengar suara pintu dibuka.


“Tuan, ditunggu diruang kerja,” terdengar suara Pak Beni.


Ara tidak menoleh kearah pintu, dia masih memijat-mijat kakinya.


Jack menoleh pada Ara yang duduk disofa itu. Dia akan berangkat menemui Dokter Mia untuk berkosultasi.


Jack mendekati Ara lalu berjongkok di depan kakinya Ara. Tangannya terulur akan memegang kakinya Ara tapi Ara segera menjauhkan kakinya.


“Aku baik-baik saja, kau pasti banyak urusan, kau pergi saja,” kata Ara.


Jack hanya menatapnya lalu diapun bangun. Ara kembali menunduk melihat kakinya dan pura-pura diurut-urut. Tangan Jack terulur mengusap rambutnya Ara lalu dia beranjak meninggalkan Ara.


Setelah itu terdengar suara pintu yang ditutup. Sepertinya Jack sudah pergi. Tapi Ara tidak tahu kalau Jack bukan keluar kamar melainkan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Ara memegang kepalanya yang tadi diusap oleh Jack. Diapun tersenyum, pria itu selalu bersikap manis padanya. Lalu tangannya menyentuh kalungnya, buru-buru Ara pergi ke depan cermin yang letaknya tidak jauh dari toilet, berkaca  melihat kalung yang ada di dadanya.


Jack selesai mencuci tangan akan keluar kamar mandi saat mendengar suara Ara bicara, diapun menghentikan tangannya yang sudah memegang gagang pintu.


“Apa Jendral itu benar-benar mencintaiku?” tanya Ara lagi, bertanya pada diri sendiri,  lalu menoleh pada buket bunga diatas meja. Sekarang ada ucapan cinta di kartu itu. Diapun kembali menatap cermin.


“Jack, aku ingin kau jujur! Katakan siapa kau sebenarnya?  Katakan kalau kau sudah sembuh dan kau tetap cinta padaku pada saat kau depresi juga sekarang kau sudah sembuh,” kata Ara. Tangannya masih mengusap-usap kalungnya.


Jack akan membuka pintu tapi terhenti lagi karena Ara bicara lagi.


 “Siapapun kau, mau kau Jack yang depresi atau kau Jendral Jack Delmar, aku tetap mencintaimu Jack,” ucap Ara lagi sambil mengangkat kalungnya dan menciumnya.


Setelah tidak terdengar Ara bicara lagi, Jack membuka pintu perlahan, membuat Ara menoleh kearah pintu kamar mandi dan mukanya langsung pucat saat melihat Jack keluar dari sana.


Ara buru-buru duduk dikursi depan cermin itu dan mengambil sisir pura-pura menyisir rambutnya. Dia menjadi tegang, apa Jack mendengar perkataannya?


“Kau belum pergi? Aku fikir kau sudah pergi,” tanya Ara, pura-pura basa basi, padahal untuk menghilangkan rasa kagetnya.


Jack tidak menjawab, dia berjalan mendekati Ara, membuat Ara menahan nafas. Wajahnya berubah memerah. Bagaimana jika Jack mendengar perkataannya tadi? Sangat memalukan dia mengatakan mencintai Jendral itu!


Jack menghentikan langkahnya di samping Ara yang masih terus menyisir, pura-pura tenang padahal gelisah dan gugup setengah mati. Kira-kira Jack mau apa ya? Apa dia mau jujur?

__ADS_1


Jack menunduk melihat istrinya yang sedang duduk menyisir itu yang tidak menoleh padanya. Kemudian Jack membungkukkan badannya, membuat Ara semakin tegang saja.


Tangan Jack menyibakkan rambut ke belakang telinga Ara. Duh Jack mau apa sih? Ara semakin tegang.


Wajah pria tampan itu mendekati telinga Ara, membuat jantung Ara semakin bertalu-talu. Dia pria yang suka membuat orang jantungan! Keluh Ara.


Jack semakin mendekatkan bibirnya ke telinga Ara, membuat Ara merinding apalagi merasakan bibir lembut itu menempel ditelinganya. Apa Jack akan menggigit telinganya? Bagaimana ini?


“Aku juga mencintaimu,” Bisik Jack.


BEP! Ara merasakan jantungnya berhenti mendadak. Pria itu mengatakan cinta lagi! Jendral itu mengatakan dia juga mencintainya! Ternyata Jack mendengar apa yang dia katakan tadi.  Apakah dengan mengatakan itu Jack akan jujur sekarang?


Tapi ternyata tidak, Ara hanya merasakan bibir yang berbisik ditelinganya itu kini berpindah mencium pipinya. Bibir itu terasa dingin. Ciuman pria itu selalu membuatnya panas dingin.


Setelah itu Ara mendengar langkah Jack menjauh dan keluar dari kamar itu. Hatinya langsung lega, dia fikir tadi Jack sudah keluar dengan Pak Beni.


Tadi Jack mengatakan aku juga mencintaimu, itu artinya Jack mendengarkan perkataannya tadi. Sungguh memalukan! Jack sudah tahu kalau dia sudah tahu kalau Jack sudah sembuh.


****


Di ruang kerja Tn.Ferdi.


Hati Tn.Ferdi semakin tidak tenang. Melihat sikap Jack yang selalu mesra pada istrinya.  Kemungkinan Jack sembuh dan lahirnya seoang bayi semakin membuatnya panik.


Kembali diambilnya minuman di botol lalu di tuangkan kedalam gelas, dan meminumnya sampai habis.  Dia benar-benar merasa pusing, dia tidak mau kekayaan dan jabatan yang selama ini dia kuasai akan hilang begitu saja.


Kalau benar Jack sembuh ditambah Ara hamil, semua usahanya sia sia. Harta Jack  tidak akan dipegang istrinya lagi, dan diapun akan didepak dari perusahaan atau jadi karyawan biasa, sungguh sangat memalukan jika itu terjadi. Dimana harga dirinya?


Dulu dia bisa menggagalkan rencana Jack untuk mengambil alih perusahaan, dengan mengganti obatnya Jack di loby. Tapi sekarang? Kata Dokter Mia jika tanpa obat Jack normal-normal saja berarti dia sudah sembuh.


Tn Ferdi kembali menuang minumannya kedalam gelas dan kembali diminumnya sampai habis.


 


 


 


 

__ADS_1


**********


__ADS_2