Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-44 Pergi ke pantai


__ADS_3

Hari ini Ara mendandani Jack dengan rapih, dia memeriksa luka-lukanya Jack yang sudah membaik, sepertinya lukanya cepat sekali mengering.


“Hari ini kita akan berjalan-jalan,” ucap Ara, menyelesaikan mengancingkan kemejanya Jack dan menggulung lengannya sampai siku.


“Kau senang?” tanya Ara, menengadahkan wajahnya menatap Jack.


Pria itu tidak menatapnya, malah melihat kearah cermin.


“Jack harusnya kau berterimakasih karena aku sudah memakaikan baju untukmu dan kau harus menciumku,” keluh Ara, karena pria itu hanya diam saja.


 Ara memberengut sebentar lalu tersenyum lagi dan mengusap lengan suaminya.


“Kau sudah siap?” tanyanya, lalu melihat Jack dari atas sampai bawah.


Ara melihat keatas ternyata kini Jack sedang menatapnya. Kedua tangan Ara mengulur memegang pipinya Jack. Diapun berjinjit dan mencium pipinya Jack.


“Ayo kita berangkat,” ucapnya sambil menarik tangan Jack mengajak keluar dari kamar itu.


********


Lokasi pantai itu ternyata cukup jauh. Dari sepanjang jalan menuju pantai itu berhembus angin sangat kencang.


“Nyonya, sepertinya kondisi laut sedang tidak baik,” kata Pak Beni, saat mereka tiba di pinggir pantai. Ternyata banyak juga pengunjung hari itu.


“Di mana-mana angin laut ya seperti itu Pak Beni,” kata Ara, sambil melihat ke sekeliling. Pak Beni tidak bicara lagi.


Ara mencari Jack yang dari tadi tidak ada.


“Kemana Jack?” tanya Ara.


Setelah di cari ternyata Jack masih ada di dalam mobil itu.


“Jack!” panggil Ara.


Dia kembali ke mobil dan membuka pintunya.


“Jack, kenapa kau tidak mau keluar? Bukankah kau pernah ke tempat ini?” tanya Ara.


Jack diam saja.


“Kau pernah kesini kan? Bersama ayahmu, bersama Arum juga…” ucap Ara dengan nada pelan, mencoba membangkitkan ingatannya Jack. Jack masih terdiam, Ara mengulurkan tangannya pada Jack.


“Jack, bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja kesebalah sana?” tanya Ara sambil mengulurkan tangannya pada Jack. Pria itu diam saja, terpaksa Ara meraih tangannya Jack.


“Apa kau tidak kasihan padaku? Aku ini istrimu, tapi kau tidak pernah mengajakku jalan-jalan,” ucap Ara, mencoba merayu Jack.


Yang dirayu masih diam saja tidak mau menatapnya, pandangannya melihat keluar entah apa yang dicarinya.


“Ayolah Jack,” ajak Ara sambil menarik tangan Jack perlahan, akhrinya Jack mau turun juga.


Pak Beni menoleh pada mereka.


“Pak Beni aku ingin mengajak Jack berjalan kearah sana, disana kan tempat dulu acara gatheringnya keluarga Jack?” tanya Ara.


“Apa semua akan baik-baik saja?” tanya Pak Beni.


“Kalau tidak kita coba, kita tidak akan tahu hasilnya, tapi Pak Beni tenang saja, aku yakin semua akan baik-baik saja,” kata Ara, lalu menarik tangan Jack supaya mau berjalan bersamanya menuju pesisir pantai.

__ADS_1


Ara merasakan udara teras lebih dingin, apa akan ada air pasang?  Ara berjongkok melepaskan sepatunya Jack, begitu juga dengan sepatnya. Dibiarkannya sepatunya begitu saja dipasir. Pak Beni segera menghampiri tempat sepatu itu ditinggalkan, bukan sepatu yang dia khawatirkan, tapi kondisi Jack. Dia takut terjadi apa-apa pada Tuannya itu.


Ara melangkahkan kakinya mengenai air, tapi Jack menahan kakiknya tidak mau terlalu dekat kearah air.


“Tidak apa-apa Jack basah sedikit, bukankah tempat ini sangat indah?” tanya Ara, menendang-nendang air yang mengenai kakinya. Dia terus berjalan sambil memeluk tangannya Jack.


“Jack apa kau sering pergi kesini? Disini tempatnya sangat indah,” ucap Ara.


Jack tidak menjawab, mereka terus berjalan tanpa beralas kaki.


Setelah sekian lama mereka berjalan, tiba-tiba Jack menghentikan langkahnya. Di daerah sekitar itu sangat sepi, area ramai pengunjung sudah terlewati.


“Jack, ada apa?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab, hanya Ara merasakan tangan Jack yang dipegangnya terasa begitu dingin.


“Apa kau kedinginan?” tanya Ara, menghentikan langkahnya menatap Jack, lalu mengusap telapak tangan Jack.


Jack menoleh kearah air laut yang terlihat pasang. Wajahnya mulai pucat, saat ombak bergulung-gulung tinggi dan meninggalkan sebagian airnya mengenai kaki mereka.


“Ayah, Arum,” ucap Jack, kedua tangannya langsung menutup telinganya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia terus berbicara dalam bahasa Perancis.


“Ayah, Arum,” gumamnya, hanya kata itu yang Ara mengerti.


“Jack, kau kenapa? Apa disini tempat kau berenang dengan Arum?” tanya Ara. Memegang kedua tangannya Jack yang masih menutup telinganya.


“Ayah, Arum,” ucap Jack, kini suaranya lirih bersamaan dengan ombak menjauh.


Ara menoleh kearah ombak.


“Jack kau tahu kenapa aku ingin mengajakmu kesini?” tanya Ara, lalu menoleh pada Jack, menurunkan tangannya Jack,  menatap wajah suaminya itu.


Ombak tinggi kembali bergulung-gulung kearah pantai, Jack kembali akan menutup telinganya tapi Ara menahannya.


“Jangan! Kau tidak boeh takut dengan suara ombak itu!” ucap Ara.


Tapi tenaga Jack lebih kuat darinya, Jack berhasil menutup telinganya.


Ombak kembali datang menghampiri pantai. Suaranya begitu riuh berdesir, sebagian menghantam karang.


“Jack! Aku sedih melihat kau seperti ini! Tidak bisakah kau melihat ke depan?” teriak Ara, menandingi suara ombak itu.


Jack malah menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Jack, Ayah dan Arum tidak bisa kembali lagi, mereka sudah meninggal! Iklaskan mereka! Itu sudah takdir mereka!” kata Ara, begitu ombak menjauh.


“Tidak, Tidak!” Jack tiba-tiba berteriak.


“Jack!” Ara balas berteriak.


“Kau tidak bisa selamanya seperti ini Jack! Kau lihat air laut itu? Ayah dan Arum tidak akan pernah kembali! Mereka sudah tenang di alam sana!” teriak Ara, karena ombak kembali datang.


“Dan yang paling perlu kau ketahui adalah, mereka juga menyayangimu Jack! Mereka tidak mau kau seperti ini! Mereka tidak pernah menyalahkanmu! Kau harus sadar itu! Mereka tahu kau menyangi mereka dan tidak mungkin menyakiti mereka! Jadi stop menyalahkan dirimu sendiri!” Ara terus bicara sambil berteriak-teriak, karena suara ombak itu terasa begitu kencang,


Ara baru sadar kalau tidak jauh dari tempat itu ada tumpukan karang dipinggir pantai.


Jack masih menutup telinganya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, menyebut nyebut ayahnya dan Arum, dia terlihat sangat tertekan.

__ADS_1


“Jack, apa kau tahu siapa aku?” tanya Ara.


 Jack tidak menjawab.


“Aku istrimu Jack! Kau mengajakku menikah, tapi kau mengabaikanku. Aku sangat sedih, kau tidak punya keinginan untuk sembuh, kau terus terkungkung dengan masa lalu dan rasa bersalahmu! Aku sama sekali tidak ada artinya bagimu,” ucap Ara.


“Aku menyayangimu Jack! Aku adalah masa depanmu! Tapi kau hanya memikirkan masalalumu saja, aku sangat kecewa,” lanjut Ara.


“Aku merasa cemburu pada Arum. Kau menikahiku tapi kau terus memikirkan Arum,” keluh Ara.


“Kalau kau tidak mau sembuh itu artinya kau tidak mencintaiku Jack,” ucap Ara lagi, dengan hati yang kecewa, dia merasa tidak akan berhasil membuat Jack sembuh.


Ara membalikkan tubuhnya menjauh dari Jack, berjalan lebih dekat ke air  lalu dia naik keatas karang. Berjalan di atas karang itu yang sesekali diterjang ombak. Angin bertiup semakin kencang menandakan air akan semakin pasang.


Ara berdiri disana, menatap laut itu,  tempat masalalu Jack yang selalu ada dalam ingatannya Jack. Hatinya merasa sepi, karena Jack tidak mengingat masa sekarang, yang sudah memperistrinya. Kalau Jack terus-terusan seperti ini maka selamanya rasa sepi itu akan selalu bersamanya.


Jack menutup kedua telinganya karena suara ombak semakin kencang lalu suara itu hilang kembali hening dan tenang. Tidak ada lagi suara Ara yang berteiak-teriak, hanya tersisa, aku menyayangimu Jack, aku masa depanmu , aku sangat kecewa.


Jack menurunkan kedua tangannya, kepalanya menoleh kearah istrinya yang sedang berdiri diatas karang menatap laut. Dia melihat raut wajah istrinya itu bersedih. Wajah cantik dengan rambutnya yang tergerai berial-riak tertebak angin kecang. Wajah yang terlihat begitu pucat.


Tiba-tiba sosok yang dilihatnya itu menghilang, Dia hanya mendengar suara namanya disebut.


“Jaaack!” teriak Ara.


Jack tidak mengerti kenapa Ara menghilang diatas karang?


“Tuan! Tuan!” teriak Pak Beni, dia belari kencang menghampiri Jack.


“Tuan! Tuan! Nyonya Tuan!” teriak Pak Beni yang sedari tadi mengikuti mereka dikejauhan.


Pak Beni berlari dengan nafasnya yang terengah-engah. Terus berlari menghampiri Jack tapi tidak berhenti didekat Jack tapi justru melewatinya dan menaiki karang itu.


“Tuan! Nyonya Tuan!” teriak Pak Beni.


Jack hanya diam, dia tidak mengerti apa yang diucapkan Pak Beni, kenapa Pak Beni berteriak-teriak.


“Nyonya! Nyonya!” teriak Pak Beni.


“Nyonya! Tuan! Nyonya jatuh ke laut!” teriak Pak Beni.


“Tolong! Tolong!” teriak Pak Beni berteriak meminta tolong. Karena lokasi itu sangat sepi tidak ada orang yang mendengarnya.


Pak Beni melihat tubuh istri Tuannya itu terbawa arus semakin jauh. Diapun segera turun dari karang itu lalu berlari menuju air laut.


“Nyonya! Nyonya!” teriak Pak Beni, langsung menceburkan dirinya berenang ke tengah laut, mencoba menyelamatkan Ara.


Ara merasakan sesak didada, banyak air laut yang terminum olehnya. Dia sangat kaget saat tiba-tiba kakinya terperosok ke pinggir karang dan jatuh ke air, bersamaan dengan ombak datang yang langsung menyeret tubuhnya kearah laut yang lebih dalam.


Ara yang tidak bisa berenang, kelababakan, mecoba berenang tapi tidak bisa, alhasil tubuhnya terus terbawa arus semakin jauh. Mimpi itu..mimpi itu..ternyata mimpi itu menjadi nyata sekarang.


Dia merasakan sesak yang amat sangat, dia melambai-lambailan tangannya pada Jack, tapi sia-sia pria itu hanya diam mematung, membuat hatinya semakin sedih, tidak ada yang akan menyelamatkannya, mungkin ini adalah akhir dari segalanya.


Ara hanya melihat Pak Beni berusaha berenang menyelamatkannya, tapi Pak Beni sudah tua dan bukan perenang ulung. Tubuh Ara semakin terbawa jauh.


“Nyonya!” Nyonya!” teriak Pak Beni, berenang sekuat tenaga dengan wajah yang pucat pasi.


Jack menatap kearah Pak Beni yang berenang kelaut sambil memanggil-manggil Nyonya.

__ADS_1


Jack juga melihat ada tangan yang melambai-lambai diatas air. Pemandangan itu mengingatkannya pada kejadian lebih dari dua puluh tahun yang lalu.


*************


__ADS_2