Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-118 Merindu


__ADS_3

Pak Amril menatap pria yang ada di depannya itu.


“Maaf Pak Agus, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak menyewa pengacara untuk mengurus KK keluargaku,” kata Pak Amril, membuat Pak Agus juga jadi ikut bingung.


“Beberapa hari yang lalu datang pengacara yang menanyakan identitasnya Arasi, katanya untuk membuat KK baru,” jawab Pak Agus.


Pak Amrilpun diam, apa itu pengacaranya Jack, menantunya?


“Oh mungkin sepertinya menantuku! Putriku baru menikah, mereka memang harus membuat KK baru,” seru Pak Amril.


“Iya, mereka juga minta data-data kelahirannya Ara,” kata Pak Agus.


“Maksudnya apa?” tanya Pak Amril, semakin tidak mengerti saja.


“Mereka memastikan identitasnya Ara dari sejak lahir,” jawab Pak Agus.


Pak Amril tertegun mendengarnya.


“Kenapa harus menanyakan identitas Ara dari lahir?” tanya Pak Amril.


“Menantu Pak Amril itu kan orang kaya pasti banyak hal yang harus diurus, bukan KK saja,” jawab Pak Agus.


“Apakah data lahir Ara sudah diberikan pada pengacara itu?” tanya Pak Amril.


“Sudah, semua yang mereka minta sudah tersedia, kau tidak perlu khawatir, apalagi kita kenal sudah lama, bertetanggaan, pasti aku bantu semaksimal mungkin,” jawab Pak Agus.


“Ya ya, terimakasih Pak Agus, mungkin menantuku sedang banyak urusan yang dikerjakan karena baru menikah dengan putriku,” kata Pak Amril.


“Baiklah Pak Amril aku permisi, kau nanti terlambat,” ujar Pak Agus.


“Iya tidak apa-apa,” kata Pak Amril


“Kapan-kapan mampir ke rumahku!” seru Pak Agus.


“Pasti-pasti,” jawab Pak Amril, menganggukkan kepalanya, sambil membalas lambaian tangannya Pak Agus.


“Sayang! Ini jaketnya!” terdengar suara Ibunya Ara berdiri didepan pintu rumah.


Pak Amril menoleh pada istrinya lalu menghampirinya.


“Ada Pak Agus?” tanya istrinya.


“Iya, semalam menginap dirumah Ayahnya” jawab Pak Amril sambil mengambil jaket itu.


“Pak Toto itu sakit sudah lama maklum sudah tua juga,” kata Ibunya Ara itu. Menoleh lagi pada suaminya yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Kau kenapa?” tanya  Ibunya Ara.


“Aku baru tahu kalau ada pengacara yang datang ke kantor Pak Agus mencari identitasnya Ara, katanya untuk membuat KK baru,” kata Pak Amril, membuat istrinya keheranan.


“Ya mungkin pengacaranya Jack sedang membuat KK baru, mereka  kan sudah menikah memang harus membuat KK baru,” ujar Ibunya Ara.


“Tapi pengacara itu minta identitas keterangan lahirnya Ara,” jawab Pak Amril, membuat istrinya menatapnya.


“Untuk apa?” tanya Ibunya Ara itu.


“Itulah yang ingin aku tanyakan,” jawab Pak Amril.


“Kalau membuat KK kenapa mencari data kelahirannya Ara?” Pak Amril tampak berfikir keras.


 “Kalau membuat KK bisa langsung ke Desa atau Kelurahan  dimana Jack tinggal. Seharusnya Pengacara itu datang ke rumah kita kan, minta data apa saja yang dibutuhkan, bukannya mencari identitasnya Ara ke kantor Pak Agus. Ada apa ini?” kata Ibunya Ara, hatinya mendadak gelisah.


“Sungguh aneh,” gumam Pak Amril.


“Sudah jangan terlalu difikirkan, menantu kita itu orang kaya mungin dia butuh data-data untuk urusan lain juga bukan cuma KK,” kata Ibunya Ara.


“Hanya aneh saja kenapa mencari identitasnya Ara?” ujar Pak Amril.


“Sadah, kau berangkat saja, nanti kesiangan,” kata Ibunya Ara.


“Ya sudah, aku berangkat dulu,” jawab Pak Amril, lalu beranjak meninggalkan teras menuju mobilnya untuk berangkat ke tempatnya bekerja.


Ibunya Arapun kembali masuk ke rumah menutup pintnya.


**********

__ADS_1


Setelah kepergian tamunya, Ara merasa gelisah, ternyata Ny.Imelda sangat membenci Jack. Mau gadis itu Arum atau bukan, memang sudah diniatkan untuk mengganggu Jack. Bagaimana cara mengatasi hal ini? Dia harus menghentikan Ny. Imelda mengganggu Jack, harusnya Ny.Imelda sadar itu bukan kesalahannya Jack. Tapi sepertinya sulit, Ny. Imelda terlanjur membenci Jack.


Siang ini Ara begitu gelisah, memikirkan Jack akan menemui Arum. Dia takut terjadi sesutau disana. Bagaimana kalau ini jebakan? Tapi jebakan apa? Ara menggeleng-gelenglan kepalanya.


Jack sangat sibuk hari ini. Meskipun sesekali dia harus menghentian aktifitasnya, karena bayangan wajah istrinya selalu muncul dibenaknya. Kalau bukan karena pekerjaan yang bertumpuk, dia masih ingin berlama-lama berasa istrinya di rumah.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia fikir istrinya akan menelponnya, ternyata pengacaranya. Wajahnya langsung berubah masam setelah menerima panggilan itu.


“Pak Beni, aku minta nomor ponsel istriku,” kata Jack, saat berada diruang meeting, menoleh pada Pak Beni yang duduk bergabung di meja elips itu.


“Tuan akan menelpon Nyonya?” tanya Pak Beni.


“Iya,” jawab Jack.


Pak Beni mengeluarkan ponselnya lalu menyebutkan nomornya Ara. Sungguh aneh, suami tidak punya nomor ponsel istrinya. Waktu itu Ara menelponpun dia menelpon lewat nomor Pak Beni karena waktu itu Ara mengira Jack masih sakit.


Ara yang sedang makan  sendirian di balkon kamarnya, melihat ponselnya yang ada diatas meja disampingnya itu berdering. Diambilnya ponsel itu, ada nomor yang tidak dikenalnya. Diapun mengangkatnya dengan raggu.


“Halo!” sapa Ara, hati-hati.


Mendengar suara istrinya, Jack yang berdiri di dekat jendela ruang meeting  langsung tersenyum lebar, sekedar mendengar suara istrinya sangat membuatnya bahagia.


“Maaf, ini dengan siapa?” tanya Ara, karena Jack tidak langsung bicara, malah diam saja.


Jack malah bingung, dia menelpon mau bilang apa?


Karena yang di sebrang tidak bicara, Arapun mulai kesal.


“Akan aku tutup telponnya, jangan menggangguku!” bentak Ara dengan ketus. Diapun akan menutup telponnya tapi tiba-tiba terdengar suara disebrangnya.


“Jangan sayang, aku yang menelpon!” seru Jack agak keras sampai semua orang menoleh padanya.


“Kau! Siapa kau? Mau apa kau menelponku?” tanya Ara masih ketus, terlanjur kesal tadi.


Tentu saja Jack yang mendengarnya terkejut, wajahnya langsung memerah, kenapa istrinya malah ketus begitu?


“Aku ini suamimu! Masa kau tidak hafal suaraku?” keluh Jack, jadi ikut ikutan bicara dengan nada tinggi, membuat semua orang mendengar apa yang dia katakan.


“Apa? Suami? Suami apa? Jangan ngaku-ngaku! Suamiku tidak tahu nomor telponku!” bentak Ara, lalu menutup telponnya dengan kesal.


Jack terpana melihat ponselnya yang dimatikan Ara, dia semakinn kesal saja, kenapa istrinya menutup telponnya?


“Kau ini! Masa suara suami sendiri tidak tahu..” gerutunya, wajahnya semakin kecut saja.


Tidak ada yang bicara diruangan itu mendengar pemilik perusahaan ini mengomel sendiri pada ponselnya.


Jack kembali mendial nomornya Ara.


Ara melihat nomor itu muncul lagi, diapun semakin kesal, ada penelpon gelap yang ingin mengganggunya, pasti tukang tipu.


Diangkatnya telpon itu dan langsung marah-marah.


“Heh! Aku tahu kau pasti mau menipu! Kurang kerjaan!” maki Ara, lalu telponpun ditutup.


Jack kembali menatap ponselnya, ini istrinya apa-apaan mengatainya tukang tipu?


Diapun menoleh pada Pak Beni.


“Pak Beni, ini benar nomor istriku?” tanyanya padahal jarak dia berdiri dengan meja meetingnya lumayan jauh, tapi sepertinya Jack tidak peduli dengan orang- orang yang ada diruangan itu yang menoleh kearahnya tapi kemudian buru-buru sok sibuk menatap kertas di mejanya.


“Iya Tuan,” jawab Pak Beni.


Jack kembali menghadap jendela, lalu mendial lagi, hatinya semakin kesal saja tidak bisa menelpon istrinya.


Ara melirik ponselnya yang muncul nomor itu lagi.


“Ini apa-apaan, penelpon gelap terus-terusan menelponku!” gerutunya.


Arapun kembali mengangkat telponnya.


“Heh, aku menyadapmu! Aku akan melaporkanmu ke polisi! Dasar tukang tipu!” maki Ara, dia akan menutup telpon lagi tapi terdengars suara disebrangnya.


“Kenapa kau mengatai aku tukang tipu terus? Aku suamimu! Masa kau tidak mengenali suaraku!” Jack balik marah-marah.


“Heh! Suamiku tidak tahu nomor telponku! Tidak usah ngaku-ngaku!” Ara balas memarahinya  lagi, membuat Jack semakin kesal.

__ADS_1


“Kenapa kau terus memarahi suamimu?” bentak Jack.


“Jangan ngaku-ngaku! Kalau kau benar suamiku, katakan sesuatu supaya aku yakin kalau kau suamiku!” teriak Ara, masih kesal karena si penelpon malah membentaknya.


“Kenapa harus begitu?  Kita sudah bercinta semalaman, kau masih tidak mengenaliku? Apa aku harus mengatakan seluk beluk tubuhmu?” teriak Jack semakin keras, membuat semua orang kembali menoleh padanya.


Pak Beni hanya menunduk diam saja, yang lain juga buru- buru sok sibuk pura- pura tidak mendengar atau ada yang kena damprat.


“Apa? Bercinta semalaman?” tanya Ara, terkejut, bayangan semalam bersama Jack langsung muncul dibenaknya.


“Kau keterlaluan, setelah melewati malam bersamaku, kau tidak mengenaliku sama sekali!” keluh Jack.


 Dia tidak peduli semua orang mendengar perkataannya, dia masih berdiri menatap keluar jendela memegang ponselnya dengan satu tangan disaku celananya, wajahnya semakin merah saja.


Ara terdiam mendengarnya, apa benar itu Jack?


“Jack!” panggil Ara, mulai melunak.


Mendengar suara Ara yang merendah, Jackpun mulai tidak marah lagi.


“Iya, sayang, aku Jack Delmar, suamimu,” jawab Jack, tentu saja yang mendengarnya merasa geli mendengarnya, ternyata istri pemilik perusahaan ini  tidak mengenali sauranya dan membuatnya marah.


“Jack!”


panggil Ara.


“Iya,” jawab Jack, sudah tidak marah lagi, hatinya kembali senang mendengar suara istrinya.


“Maaf, aku tidak menyangka kau yang menelpon, kau tahu dari mana nomor ponselku?” tanya Ara.


“Dari Pak Beni,” jawab Jack.


“Oh,” gumam Ara.


“Terus kau menelponku mau apa?” tanya Ara lagi.


“Aku rindu!” jawab Jack, membuat semua orang saling lirik dan menahan senyumnya.


“Kau kan baru berangkat tadi pagi masa sudah rindu lagi,” kata Ara, merasa geli dengan jawabannya Jack.


“Iya kau benar! Baiklah kalau begitu, aku akan bekerja lagi,” kata Jack.


“Cuma itu?” tanya Ara.


“Kau menelponku cuma untuk mengatakan rindu padaku?” ulang Ara.


“Iya, aku merindukanmu,” jawab Jack, semakin membuat semua orang menahan tawanya.


“Ya sudah, aku bekerja lagi, I love U,” lanjut Jack.


“I Love U too Jack,” jawab Ara, lalu telpon pun terputus.


Setelah itu Ara hanya menatap telponnya itu, masih keheranan dengan sikapnya Jack, lalu kembali disimpannya ponsel itu diatas meja dan melanjutkan makannya.


Jack membalikkan tubuhnya menghadap meja meeting, orang-orang yang menatapnya tadi itu buru-buru sok sibuk lagi.


“Kalian kenapa?” tanya Jack. Tidak ada yang menjawab.


“Aku sedang rindu istriku!” kata Jack dengan ketus.


“Iya Tuan!” jawab yang hadir diruangan itu bersamaan.


“Sampai mana tadi? Teruskan!” perintah Jack, kembali duduk di kursinya.


***********


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2