Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-158 Melihatmu Lagi


__ADS_3

Ara mengikuti langkah kakinya Paman Favier dengan lesu. Sebenarnya hal ini sudah diprediksi akan seperti ini, Jack tidak akan datang, tapi dia ngotot ingin datang jadi hasilnya memang seperti ini. Dia harus kecewa pada suami yang ditunggu-tunggunya tidak ada diantara prajurit-prajurit itu.


Terdengar suara di microfon lagi. Paman Favier melihat sekilas ke tengah lapang tampak ada sedikit ribut-ribut. Dilihatnya lagi pada Ara yang berjalan menunduk.


Tidak berapa lama terdengar suara pesawat terbang dikejauhan. Ara sempat melihat ke lapangan yang masih berkumpul wanita-wanita dengan prajurit-prajurit  itu. Sepertinya dia ingin cepat pulang-pulang saja.


Suara bising pesawat itu semakin berisik karena pesawat itu akan mendarat. Terlihat suasana menjadi ramai.


Paman Favier menoleh kearah lapangan, dan menghentikan langkahnya.


“Ada apa Paman?” tanya Ara, menoleh pada Paman Favier yang ada dibelakangnya yang malah terdiam melihat ke lapangan.


“Ada pesawat lagi yang datang, tapi sepertinya itu pesawat pribadi,” jawab Paman Favier, berdiri melihat kearah lapangan yang ada pesawat itu.


Ara juga melihat kea rah itu tapi dia sudah tidak tertarik dengan pesawat itu, yang pasti Jack tidak datang hari ini dan dia sudah tidak bisa berharap lagi, dia hanya akan buru-buru pulang saja, dia ingin beristirahat yang cukup bersama bayi dalam perutnya.


Suara bising pesawat itu kini hilang, pesawat sudah mendarat, pintu pesawatpun terbuka, kembali terdengar suara riuh dilapangan itu.


Ara sudah tidak peduli apapun yang terjadi dilapangan itu, dilanjutkan nya langkahnya dan langkahnya terhenti saat salah satu barisan belakang prajurit yang dilewatinya, berbicara dengan teman-tamannya dalam bahasa Perancis, hanya ada 3 kata yang Ara tahu artinya.


‘Jendral Jack Delmar’


Prajurit itu menyebut nama suaminya dan sisanya dia tidak tahu artinya. Seketika tubuhnya merinding mendengar nama suaminya disebut.


Terdengar tepuk tangan dan sambutan meriah tengah lapang.


“Sayang, kau harus lihat ini!” seru Paman Favier, dengan senyum yang mengembang di bibirnya, tangan kirinya melambai pada Ara.


Arapun menoleh pada Paman Favier lalu pada kerumunan di kejauhan, didekat  pesawat yang baru mendarat itu dan pintunya sudah terbuka.


“Jack pulang!” seru Paman Favier, membuat Ara terkejut.


“Dia tidak pulang, Paman,” ucap Ara.


“Tidak sayang! Dia datang! Jack pulang!” seru Paman Favier.


Ara tertegun mendengarnya, seketika mematung, jantungnya seakan berhenti berdetak, tubuhnya gemetar dan bibirnya terasa kelu. Apa benar Jack pulang?


“Lihatlah, Jack pulang!” seru Paman Favier lagi, tangannya menunjuk kearah pesawat itu.


Jantung Ara kembali berdebar kencang, rasa gugup langsung menyerangnya. Apa benar Jack pulang? Matanya langsung saja berkaca-kaca, dia langsung melangkahkan kakinya terburu-buru, sedikit berlari sambil memegang bawah perutnya, kembali melewati barisan-barisan di lapangan itu. Dia ingin tahu apa benar Jack pulang? Apa dia tidak salah dengar? Atau semua ini hanya mimpi kalau Jack-nya pulang? Suami yang ditunggu-tunggunya pulang? Kerongkongannya terasa tersekat dan nafasnya menyesak.


Ara terus mempercepat langkahnya ingin cepat sampai ke depan lapangan, seketika airmatanya ingin tumpah.


“Sayang! Kau sedang hamil! Jangan berlari!” teriak Paman Favier.


Ara berlari memutari lapangan itu sambil memegang perutnya, apa benar Jack datang?


Tapi di depan lapangan itu banyak sekali orang berkerumun, bahkan prajurit yang baru tiba juga kembali berkumpul di depan lapangan, entah ada ada disana. Ara tidak bisa melihatnya. Pandangannya terhalang orang-orang yang pastinya memilki postur tubuh yang lebih tinggi darinya.


Ara perlahan melangkahkan kakinya semakin mendekati lapangan, menyelip diantara orang-orang, barulah dia bisa melihat ada apa disana.


Diantara kerumunan itu, dia melihat sosok pria yang sedang sambut gembira rekan-rekannya, yang  bersalaman, berpelukan. Bahkan prajurit-prajurit yang baru tiba itu melakukan selebrasi dengan hebohnya.


Pria itu berdiri sambil tersenyum melihat atraksi mereka.

__ADS_1


Langkah Ara terhenti Ara berdiri menyaksikan samua itu. Dia tidak tahu apakah dia harus senang atau sedih, atau apa. Dia hanya berdiri, rasanya tidak percaya dia melihat sosok suaminya disana.


Ara sama sekali tidak menghampiri, dia hanya berdiri, mematung, melihat suami yang dirindukannya kini ada di depan mata.


Jack merasa ada yang memperhatikannya, diapun menoleh kearah istrinya berdiri diantara kerumunan orang-orang.


Senyum Jack langsung hilang, kegembiraannya bersama rekan dan prajurit yang lain langsung lenyap. Dia terdiam, menatap seorang wanita yang berada diantara kerumunan itu, hanya berdiri menatapnya. Apa dia marah?


Melihat Jack yang terdiam tidak menjawab pertanyaan rekan-rekannya, membuat mereka menoleh kearah pandanganya Jack, mereka ingin tahu apa yang membuat Jack mematung seperti itu.


Para prajurit dan orang-orang yang berdiri didepanny Ara, saling lirik tidak mengerti kenapa Jendral itu melihat pada mereka, merekapun melihat ke belakang, dan melihat ada sosok wanita hamil yang juga hany berdiri mematung, hanya airmatanya tidak henti menetes dipipinya.


Perlahan orang-orang itu menyingkir karena bukan mereka yang dipandang oleh Jendral itu tapi sosok wanita hamil itu. Satu persatu menyingkir kesamping, bahkan yang anaknya diam saja, diajak Ibunya supaya minggir.


Kini Jack melihat sosok wanita itu utuh, dari rambut sampai kakinya. Ada yang berbeda dari wanita itu, dia melihat perut wanita itu lebih gemuk, bukan gemuk tapi membulat, bukan membulat, tapi wanita itu sedang hamil.


Ditatapnya wajah yang sedang menatapnya itu, matanya sudah sembab dan pipinya basah karena airmata terus menganak sungai.


Ara masih menatapnya tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Dia Merasa bibirnya susah untuk bicara. Diapun melangkahkan kakinya perlahan, melewati orang-orang yang menyingkir memberinya jalan itu.


Hening. Seketika tidak ada satupun yang bicara, mereka bertanya-tanya, kenapa, ada apa, segala macam pertanyaan timbul di benak mereka. Siapa wanita itu?


Jack memperhatikan langkah berat istrinya, yang menghampirinya.


Setelah lebih dekat, Ara menghentikan langkahnya, masih butuh bebepa langkah lagi untuk sampai didepannya Jack. Dia hanya diam saja menatapnya. Merekapun saling tatap tidak ada yang bicara.


Kini Jack berjalan mendekatinya dan berhenti tepat didepannya Ara.


“Sayang!” panggil Jack, menatapnya, menatap wanita itu yang hanya diam saja tidak bicara. Tidak seperti yang lain yang istri dan anaknya langsung berlari memeluk suaminya, istrinya hanya diam menatapnya.


Dia begitu merindukan istrinya. Istrinya sama sekali tidak berhambur memeluknya, hanya airmatanya saja yang tumpah membasahi pipinya.


Jack menggelengkan kepalanya, matanya juga mulai memerah. Dia tahu pasti istrinya pasti sangat sedih dan kecewa padanya.


“Jangan sayang, jangan menangis, aku tidak mau melihatmu menangis,” ucap Jack, melangkah lebih dekat.


Ara hanya menatap wajah suaminya yang semakin mendekat, tanpa berkata-kata, hanya airmatanya tidak mau berhenti menetes. Dia masih tidak percaya suaminya ada di depannya sekarang dan menghampirinya.


Jack berhenti sangat dekat didepan Ara, kedua tangannya mengulur menghapus airmata yang menetes di pipinya.


“Jangan menangis,” ucapnya lagi, tidak henti menghapus airamta yang terus saja mengalir. Jemarinyapun, mengusap seluruah waah istsrinya. Sudah lama tidak menyentuh wajah itu, dia begitu merindukannya.


“Aku minta maaf aku tidak cepat pulang,” ucap Jack.


Yang dijawab Ara dengan tangisan dan menundukkan wajahnya.  Sudah dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, dia hanya merasa sedih begitu menyiksanya berada jauh dari pria ini.


Jack langsung merengkuh bahunya Ara, menariknya dalam pelukannya.


“Aku minta maaf,” ucap Jack lagi. Memeluk erat istrinya yang terus menangis, menyusupkan wajahnya ke dadanya. Berkali-kali Jack mencium rambutnya.


Baru tahu orang-orang sekitar kalau wanita itu adalah istri Jendral itu. Merekapun ikut terharu dan bersedih, saling menoleh pada pasangannya dan saling memeluk, mereka juga merasakan hal yang sama ketika harus berpisah dengan orang yang dicintai.


Jack membiarkan istrinya terus menangis dipelukannya. Setelah agak reda, Ara menatap Jack. Pria itu kembali mengusap pipinya menghapus airmatanya.


“Apa benar kau Jack?” tanya Ara, seakan tidak percaya kalau Jack pulang.

__ADS_1


“Iya sayang, aku Jack-mu, suamimu sudah pulang,” jawab Jack, mengangguk.


Arapun kembali diam hanya menatapnya. Jack langsung menempelkan bibirnya pada bibir istrinya, ditempelkannya sangat lama, merasakan kembali bibir istrinya itu barulah menciumnya.


“Aku merindukanmu,” ucapnya, kembali menatap mata itu, pandangan mata itu awal kenapa dia menikahi wanita ini, lalu Jack kembali memeluknya Tangannya memeluk puggungnya Ara mengusap-usapnya lalu


menyentuh perutnya Ara.


"Ternyata Jendral kecilku sudah datang,” ucap Jack, mengusap perut itu dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memeluk Ara.


Ara mengangkat wajahnya menatap wajah pria itu.


“Aku dan bayimu menunggumu pulang,” ucap Ara, dengan mata yang kembali berlinang.


“Aku pulang sayang, aku sudah pulang,” ucap Jack, mengecup keningnya Ara.


Bukan istrinya saja yang sedih, dia juga. Pekerjaan kali ini ternyata terasa lebih berat saat menyadari ada yang menunggunya di rumah apalagi sedang mengandung bayinya.


“Berapa usia Jendral kecilku?” tanya Jack.


“Sudah masuk 4 bulan,” jawab Ara, tangannya menumpang ditangan Jack yang sedang mengusap


perutnya.


“Aku takut kau tidak ada saat aku melahirkan,” kata Ara, mengangkat lagi wajahnya menatap Jack.


Jack kembali menatapnya.


“Aku akan menemanimu nanti,” ucapnya lalu mencium kening istrinya lagi. Dia juga tidak sabar ingin melihat bayinya lahir.


“Kau dengan siapa?” tanya Jack lagi.


“Dengan Paman Favier,” jawab Ara.


Merekapun menoleh kearah PAman Favier yang ternyata sudah ada dekat mereka.


Pria itu tersenyum pada Jack.


“Paman senang kau sudah kembali dan berkumpul dengan anak istrimu,” ucap Paman Favier.


“Iya Paman, terimakasih sudah membantu istriku,” ucap Jack.


Paman Favier hanya menepuk bahunya.


“Kalau kau tidak ada acara lagi, ayo kita pulang,” kata Paman FAvier.


“Aku masih ada acara,” ucap Jack, sambil menoleh pada istrinya.


“Sayang, kau pulang dulu dengan Paman Favier, aku akan menyusul,” ucap Jack.


Arapun mengangguk. Jack mencium bibirnya lagi berkali-kali juga mencium perut istrinya juga mengusapnya berulang-ulang.


“Beristirahatlah, aku pulang cepat,” kata Jack.


Ara kembali mengangguk, diapun pergi bersama Paman Favier. Jack melambaikan tangannya pada istrinya, tersenyum bahagia sudah bertemu istrinya lagi.

__ADS_1


**********


__ADS_2