Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH- 58 Rencana Tn. Ferdi


__ADS_3

Setelah pengacara keluar ruangan bersama Pak Beni, Ny. Inez menghampiri Ara.


“Aku sudah memperingatimu untuk menjaga sikapmu, aku sudah mengingatkanmu kalau kau hanya perawatnya Jack, tapi ternyata kau berulah!” kata Ny. Inez.


Ara juga berdiri menatap Ny. Inez.


“Aku sedang menjalanan tugasku menjaga Jack Nyonya, tidak ada yang berlebihan,” jawab Ara.


“Heh! Sepertinya kau masih mau main-main denganku!”Hardik Bastian, mendekati Ara.


“Yang main-main itu aku atau kau? Kau kan yang butuh uang itu? Bukan aku! Tidak masalah kalau kau tidak mau mengikuti persyaratanku, yang pasti Jack tidak akan menandatangani cek itu,” jawab Ara, membuat Bastian kebakaran jenggot.


Ara menoleh pada Jack lalu menarik tangannya Jack supaya keluar dari ruangan itu.


Tn.Ferdi masih berada di ruang kerja itu saat Ny. Inez keluar. Dari tadi dia diam saja menyaksikan acara tadi dengan hasil yang mengcewakan, Ara mempunyai persyaratan untuk pencairan uang itu. Hatinya semakin gerah saja. Dia sudah semakin hilang kesabaran.


Bastian menoleh pada ayahnya.


“Wanita itu mempersulit kita! Aku tidak mau gagal melamar Kinan!” keluh Bastian.


 “Wanita itu benar-benar menjadi duri dalam daging!” gerutu Tn. Ferdi dengan kesal. Berjuta fikiran buruk terlintas dibenaknya.


“Benar! Sepertinya kakak bertekuk lutut pada wanita itu!” kata Bastian.


“Kita juga tidak akan bisa macam-macam pada Jack karena kalau surat pernyataan itu keluar itu artinya kita sedang diawasi oleh Pengacara pidana, mereka akan manjadikan kasus sekecil apapun kejadian yang menimpa Jack. Bisa jadi mereka akn memonitor keadaan Jack setiap periode tertentu, mereka akan curiga telah terjadi sesuatu disini,” ucap Tn. Ferdi.


“Apa serumit itu?” tanya Bastian.


“Wanita itu secara tidak langsung sudah memberikan lampu kuning pada pangacara kalau Jack terancam,” jawab Tn.Ferdi.


“Jadi kita harus bagaimana Ayah? Wanita itu harus disingkirkan! Kalau kakak, kita masih butuh dia! Ternyata hartanya sangat banyak, sayang kalau tidak kita ambil,” kata Bastian.


“Kita tidak berhasil membuat dia pergi, dia terus menempel pada Jack.  Jadi kita yang harus membuat Jack melupakannya,” kata Tn. Ferdi.


“Maksud ayah apa?” tanya Bastian.


“Buat Jack meninggalkan wanita itu!” jawab Tn.Ferdi.


“Kakak tidak mungkin meninggalkan kakak ipar, kakak sangat mencintainya!” ucap Bastian, berfikir keras.


“Tidak,” ucap Tn.Ferdi menggelengkan kepalanya.


“Maksud ayah apa?” tanya Bastian.


“Arum! Cari Arum!” ujar Tn.Ferdi, membuat Bastian kebingungan.


“Apa? Apa maksud ayah mencari Arum? Dia sudah meninggal puluhan tahun yang lalu untuk apa mencari Arum? Buang-buang waktu saja mencari orang yang sudah tenggelam dilaut!” keluh Bastian.


Tn.Ferdi tidak menjawab, malah beranjak keluar dari ruangan itu. Bastian segera berlari mengejarnya.


“Ayah! Aku tidak pengerti! Apa maksudmu mencari Arum? Apa jangan-jangan Arum sudah ditemukan? Apa dia sebenarnya masih hidup?” tanya Bastian, tapi Tn. Ferdi tidak menjawab.


“Ayah! Tolong jelaskan padaku!” seru Bastian.


“Kau urus saja acara lamaran dengan Kinan,” ucap Tn.Ferdi, membuat Bastian tidak mengikuti langkah ayahnya lagi meskipun dia penasaran dengan keberadaaannya Arum.


Di dalam kamarnya, Ara duduk dengan lesu di sofa dan menyalakn televise. Kepalanya Ara terasa pusing, keluarganya Jack hanya mengurusi soal uang dan uang saja. Mereka terus menggerogoti uangnya Jack, tanpa mereka berfikir pasti Jack juga menginginkan sesuatu dengan kekayaannya.


Sedang melamun sambil menonton televisi yang sebenarnya tidak di tonton, Arapun menoleh kearah Jack, dia terkejut karena Jack ternyata tidak ada di kamarnya.


“Jack!” panggilnya.


Tidak ada jawaban.


Arapun bangun dari duduknya melihat ke sekeliling kamar yang luas itu.


“Jack!” panggilnya lagi, lalu mencari keluar balkon kamar ternyata tidak ada, ke kamar mandi  juga tidak ada.

__ADS_1


Hanya saja pintu walk in closet terbuka sedikit, mungkin Jack sedang ada disana, apa dia sedang berganti pakaian?


Dengan perlahan Ara membuka pintu itu dan melongokkan kepalanya kedalam ruangan itu.


“Jack!” panggil Ara, tapi tidak ada sahutan.


 Arapun masuk dan menyusuri  lorong-lorong lemari yang ada di ruangan itu. Langkahnya terhenti saat malihat Jack sedang melihat bingkai fotonya Jack masa kecil dengan Arum yang ada di lemari tempat jamtangan itu yang dulu pernah Ara simpan.


Entah apa yang ada dalam fikirannya Jack, apa dia sedang bersedih? Ara menebak-nebak.


Jack tidak menyangka saat dia masuk ke walk in closet itu, dia menemukan foto masa kecilnya di lemari jam tangan. Dia tidak tahu kenapa foto itu ada disana? Seingatnya saat dia pulang ke rumah ini dia tidak melihat ada foto itu.


Melihat foto itu mengingatkannya ke masa lalu. Itu adalah fotonya bersama Arum waktu kecil.


“Aku minta maaf Arum,” gumamnya.


“Aku masih berharap suatu keajaiban datang memberi kabar tentang keberadaannmu. Aku berharap kau masih hidup, meskipun aku tidak tahu kau ada dimana,” gumamnya lagi.


“Kau tahu, aku menikahi wanita yang memiliki mata sepertimu, setiap melihatnya aku merasa sedang menatapmu,” lanjut Jack.


Kemudian terdengar dari kejauhan suara Ara memanggil-manggilnya. Jackpun diam dan sebelum sempat menyimpan lagi bingkai itu saat mendengar langkah ara semakin dekat.


“Jack, apa yang kau lakukan? Kenapa kau kesini?” tanya Ara, berjalan semakin mendekati dan menatap Jack yang sedang memegang bingkai itu.


Ara ingat dia yang menyimpan foto itu dilemari, tapi kenapa sekarang melihat Jack sedang menatap foto itu dia merasa cemburu. Dia merasa hanya Arum yang berada di hatinya Jack.


“Jack bagaimana jika fotonya aku simpan saja didalam laci saja?” ucap Ara, langsung mengambil bingkai foto itu dari tangan Jack dan dimasukkan kedalam laci, membuat Jack keheranan. Kenapa Ara menyimpan fotonya di laci?


Jack akan mengambil lagi bingkai itu tapi Ara keburu menutup lacinya. Diapun menatap wajah istrinya itu yang berubah kusut. Apa istrinya sedang marah?


Tiba-tiba terdengar suara ponselnya Ara yang ada disakunya, Arapun melihat siapa yang menelpon, ternyata nomor ayahnya! Wajah Ara langsung pucat saja.


Melihat perubahan raut wajah Ara membuat Jack semakin heran, siapa yang menelpon Ara?


“Ya, Ayah!” jawab Ara.


“Kau sudah pulang dari Paris?” tanya ayahnya.


“Aku..tidak Ayah, aku masih di Paris, aku belum pulang!” jawab Ara berbohong.


Jack masih mencoba mendengarkan apa yang akan dikatakan Ara pasa ayahnya. Ternyata Ara berbohong!


“Aku masih di Paris,” ulang Ara.


“Masih di Paris? Kenapa kau tidak pulang juga?” tanya ayahnya dengan kesal.


“Jack, dia sedang berobat ke Dokter, Ayah. Jadi aku belum bisa pulang,” jawab Ara.


“Jadi kapan kau pulang?” tanya Pak Amril.


“Mungkin minggu depan,” jawab Ara.


“Minggu depan? Itu terlalu lama! Besok kau pulang! Dan ingat! Langsung pulang kerumah! Tinggalkan Jack!” ucap Ayahnya.


“Tapi ayah, aku tidak bisa meninggalan Jack,” ucap Ara.


“Kenapa? Pria itu depresi, masa depanmu akan suram!“ tanya ayahnya.


Ara tampak berfikir mencari-cari alasan yang tepat.


“Ya karena Ayah kan tahu aku dan Jack sudah menikah berhari-hari, aku dan Jack sudah suami istri Ayah, aku tidak bisa meninggalkan Jack,” ucap Ara.


“Apa? Apa maksudmu bicara begitu?” tanya ayahnya kebingungan.


“Maksudku, aku dan Jack sudah suami istri, kami sudah berhubungan, masa aku harus begitu saja berpisah dengan Jack?” ucap Ara, dengan wajah yang memerah membayangkan hal yang belum pernah terjadi antara dia dan Jack.


Jack terkejut mendengarnya, apa benar dia sudah berhubungn suami sitri dengan Ara? Kenapa dia tidak ingat sama sekali?

__ADS_1


“Kalau aku meninggalkan Jack, bagaimana kalau aku hamil? Bayiku nanti tidak ada ayahnya,” ucap Ara, mencoba meyakinkan ayahnya.


“Apa? Hamil?” Ayahnya Ara menjadi bingung.


“Iya begitu Ayah,” ucap Ara.


Dia sudah tidak tahu lagi dengan alasan apa supaya ayahnya  berhenti menyuruhnya meninggalkan Jack.


“Apa pria depresi bisa melakukan itu?” tanya ayahnya.


“Tentu saja, Jack juga pria dewasa Ayah, fisiknya normal,” ucap Ara, dalam benaknya malah terlintas saat memandikan Jack, melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Tunggu! Dia kan istrinya, tentu saja boleh melihatnya. Ah fikiran apa ini?


“Jadi kalian, kau dan Jack sudah…” Terdengar lagi suara Pak Amril.


“Iya ayah, kami sering melakukannya!” jawab Ara.


Jack semakin kebingungan mendengar perkataannya Ara. Apa benar dia sering melakukannya? Keringan dingin malah keluar dari keningnya.


“Kenapa semua jadi begini? Kenapa ayah tahunya setelah kau menikah?” ujar ayahnya Ara dengan sedih.


“Ayah tidak mau kau bersuamikan pria yang sakit jiwa,” ucap ayahnya.


“Ayah, aku mengerti perasaan ayah, tapi aku tidak bisa meninggalkan Jack!” ucap Ara dengan lega, sepertinya ayahnya sudah menyerah.


Sejenak hening tidak ada yang bicara. Tapi tiba-tiba terdengar suara ayahnya.


“Kau belum hamil kan?” tanya ayahnya.


“Maksud Ayah apa?” tanya Ara.


“Boleh saja Jack menyentuhmu karena kau istrinya, tapi kau belum hamil kan? Itu artinya kau masih bisa meninggalkan Jack! Cepat pulang!” jawab ayahnya, membuat Ara bengong.


Dia fikir kalau berbohong seperti itu akan membuat Ayahnya mundur.


“Kapan kau pulang?” tanya Ayahnya.


“Minggu depan!” jawab Ara.


“Jangan minggu depan! Nanti kau keburu hamil! Hari ini juga kau harus pulang!” kata Ayahnya.


“Tapi Ayah…” protes Ara.


“Ayah tidak mau membiarkan kau lama-lama bersama Jack dan kau hamil! Tidak, tidak! Cepat pulang! Jangan banyak alasan!” ucap Ayahnya.


“Tapi Ayah…”


“Cepat pulang!” Ayahnya bersikeras.


“Ya Ayah…” ucap Ara dengan lesu. Telponpun ditutup.


Ara membalikkan badannya dan terkejut saat Jack sudah ada didepannya, menatapnya. Wajahnya  Ara langsung pucat lalu memerah. Apa Jack mengerti dengan apa yang dia katakan, kalau mereka sering berhubungan? Kalau Jack sembuh, ini pasti akan sangat memalukan! Dan tatapan Jack itu, kenapa tatapannya seakan menelanjanginya?


“Jack, tadi Ayah menelpon, menanyakan kabarku, Ibuku minta oleh-oleh,” ucap Ara berbohong. Jack tidak menjawab.


“Kau kesini mau berganti pakaian atau apa? Kau gerah? Aku ambilkan pakaian yang baru,” kata Ara,  menghindari tatapannya Jack. Kenapa tatapan itu terasa  menusuk jantungnya.


Arapun memilihkan baju untuk Jack. Pria itu hanya menatapnya saja dengan berbagai pertanyaan dibenaknya. Apa benar bisa melakukan itu saat depresi?


***********


 Readers maaf banyak typo, tadi udah aku edit tapi nge hang balik lagi keawal.


Dan jangan lupa jika aku up sehari 2 bab, likenya di tiap bab, jangan ujungnya doang!


 


 *************

__ADS_1


__ADS_2