
Ny.Imelda menatap Bu Amril.
“Jadi kau mertuanya Jack? Mau apa kau kemari?” tanya Ny.Imelda.
“Aku peringatkan putrimu untuk menjauhi menantuku! Jangan mengganggunya atau akan berhadapan denganku!” jawab Bu Amril dengan tegas.
Ny.Imelda tersenyum sinis mendengar ucapannya Ibunya Ara itu.
“Kau kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya jangan ikut campur!” kata Ny.Imelda.
“Tidak tau apa-apa bagaimana? Putrimu sudah menggoda menantuku!” bentak Bu Amril.
Ny.Imelda berjalan mendekati Ibunya Ara itu.
“Apa kau tahu rasanya kehilangan putrimu?” tanya Ny.Imelda.
“Apa maksudmu?” Bu Amril balik bertanya.
“Jack sudah membuat Arum menghilang dilaut, dia menderita selama ini! Dia terpisah dari orangtuanya. Dan sekarang Jack sudah sembuh dan bahagia dengan wanita lain, apa kau senang melihatnya?” tanya Ny.Imelda.
“Itu bukan kesalahannya Jack, itu kecelakaan, kau tidak bisa menghukum Jack seumur hidupnya! Dia depresi saja sudah sangat berat buat hidupnya!” kata Ibunya Ara.
“Aku tetap tidak suka hidup Jack bahagia,” kata Ny.Imelda.
Ibunya Ara terdiam sesaat.
“Bukankah putrimu sudah kembali? Kenapa kau terus mengganggu Jack?” tanya Ibunya Ara.
“Kau sudah tahu jawabannya, aku tidak mau melihat Jack bahagia,” kata Ny. Imelda.
Ibunya Ara mendekati Ny.Imelda, berdiri berhadapan.
“Apapun alasanmu, tidak dibenarkan wanita menggoda suami orang lain! Merusak rumah tangga orang lain! Kalau putrimu benar teman kecilnya Jack dan menyayangi Jack, sudah seharusnya dia ikut bahagia melihat temannya bahagia bukan malah mengganggunya? Sangat aneh! Jangan-jangan Arum itu bukan putrimu yang tenggelam?” tuduh Ibunya Ara, memicingkan matanya, menatap Ny. Imelda langsung berubah pucat.
“Dia putriku! Aku sudah tes DNA, dia memang putriku!” jawab Ny.Imelda berbohong.
“Aku peringatkan sekali lagi, jangan mengganggu rumah tangga putriku!” kata Ibunya Ara.
“Kalau aku tidak mau, bagaimana?” tanya Ny.Imelda.
“Kalau kau tidak mau?” tanya Bu Amril, berjalan lebih dekat.
Ny.Imelda mengangguk dengan congkak.
Ibunya Ara melangkah lebih dekat lagi dan tiba-tiba tangannya menarik rambutnya Ny.Imelda sampai wanita itu berteriak kesakitan memegang rambutnya yang ditarik.
“Lepaskan rambutku!” teriaknya, sambil menarik rambutnya yang dipegang Bu Amril.
Ny.Imelda tidak menyangka kalau Ibunya Ara berani berbuat seperti itu.
Tapi ternyata Bu Amril tidak melepaskannya, dan malah menariknya lagi dengan keras.
“Lepaskan! Security! Security!” teriak Ny.Imelda.
Dua orang security langsung berlarian masuk ke dalam rumah.
“Ada apa Nyonya?” tanya security yang terkaget-kaget melihat Ny.Imelda yang kesakitan karena rambutnya ditarik tamunya.
“Hei lepaskan!” teriak security, sambil mendekat.
Bukannya dilepaskan tapi satu tangan Ibunya Ara langsung menjepit lehernya Ny. Imelda.
“Sekali putar aku bisa mematahkan leher majikanmu!” teriak Ibunya Ara, membuat security itu berhenti.
Ny.Imelda mengangkat tangannya pada security supaya tidak mendekat.
Bu Amril menoleh pada Ny.Imelda, kepala wanita itu ada didadanya yang lehernya dijepit oleh satu tangannya sedangkan rambutnya di tarik sebelah lagi oleh tangannya yang lain.
“Berjanji padaku atau aku patahkan lehermu!” teriaknya.
__ADS_1
“Apa?” bentak Ny.Imelda meringis kesakitan, dia mulai sesak karena lehernya terjepit.
“Berjanjilah putrimu tidak akan mengganggu menantuku lagi atau aku benar-benar mematahkan lehermu!” teriak Bu Amril.
“Aku tidak mau!” teriak Ny.Imelda.
Bu Amril semakin keras menjepit lehernya Ny.Imelda sampai dia merasa sesak.
“I iya! Uhuk uhuk!” Akhirnya Ny.Imelda mengangguk. Barulah Ibunya Ara melepaskan tangannya.
Ny.Imelda kembali bernafas dengan lega, tangannya mengusap lehernya dan merapihkan rambutnya. Dia benar-benar shock mendapat perlakuan seperti ini.
Security melihat majikannya sudah terlepas, segera mendekati Bu Amril, tapi Ibunya Ara itu langsung melinting lengan bajunya dan melepaskaan sepatunya, memasang kuda-kuda.
“Kalian fikir aku akan kalah oleh kalian? Kebetulan sekali sudah lama aku tidak mumukuli orang!” kata Ibunya Ara, membuat security itu terkejut, apa mereka benar-benar harus berkelahi dengan wanita?
Ny.Imelda menepiskan tangannya supaya security itu mundur. Barulah Ibunya Ara kembali berdiri tegak dan merapihkan pakaiannya.
Bu Amril menoleh pada Ny.Imelda yang masih merasakan sakit dileher dan kepalanya.
“Sekali lagi putrimu mengganggu menantuku, akan ku habisi kau!” ancamnya.
Ny.Imelda tidak menjawab, dia sangat terkejut ternyata mertuanya Jack sangat kasar.
Bu Amril mengambil sepatunya dan ditentengnya, sambil mendelik pada security yang hanya bisa membiarkannya, diapun keluar dari rumah Ny.Imelda.
“Kenapa Jack punya mertua seperti itu?” gumam Ny.Imelda, kembali mengusap leher dan kepalanya yang berdenyut-denyut, karena rambutnya sebagian sudah rontok. Dia kesal ternyata semua tidak semudah yang dibayangkan.
*****
Di rumah Ara.
Ara masih merasa sedih, dia tidak bisa begitu saja memaafkan Jack, bayangan Jack mencium Arum terus terlintas dibenaknya, membuatnya kembali sakit hati.
Karena hari sudah mau gelap, Ara berjalan kearah jendela, akan di tutupnya jendela itu, tapi dia terkejut saat melihat Jack memanggil-manggilnya dibawah Jendela.
“Kita harus bicara!” teriak Jack, berdiri diantara tanaman yang ada dibawah jendela kamarnya Ara.
“Aku tidak mau bicara denganmu!” teriak Ara.
“Tolong maafkan aku! Jangan marah begitu! Kau salah faham! Aku tidak mencium Arum!” teriak Jack, sambil berfikir bagaimana caranya supaya dia bisa menuju Jendela kamarnya Ara.
“Aku tidak mau dengar, kau pergi saja!” teriak Ara.
“Jangan begitu, nanti aku buatkan puisi untukmu!” teriak Jack, melihat istrinya berdiri dibalik kaca jendela yang masih terbuka
“Aku tidak mau! Puisimu sangat membuatku pusing! Puisimu tidak ada terjemahannya!” teriak Ara dengan kesal.
Ara ingat sudah berjam-jam mentranslate puisi itu tapi tidak ada hasilnya.
“Aku akan membacakannya untukmu!” teriak Jack.
“Aku tidak mau! Aku tidak mengerti bahasa Perancis!” balas Ara.
“Puisinya bukan bahasa Perancis!” teriak Jack.
“Apa?” Ara menatap Jack yang ada dibawah diantara pohon-pohon bunga.
“Puisinya bukan bahasa Perancis, tapi bahasa Spanyol!” jawab Jack, membuat Ara semakin memberengut.
“Jaaaack! Kau mengerjaiku! Aku berjam-jam mentranslate dari bahasa Perancis tidak ketemu-ketemu! Aku membencimu!” teriak Ara dengan kesal.
“Aku kan tidak bilang kalau itu bahasa Perancis,” kata Jack, sambil berfikir kalau dia tidak
salah.
Ara memberengut, pantas saja dia tidak bisa menemukan arti dari puisi itu, Jack benar-benar mengerjainya.
“Aku akan membacakannya! Asal kau mau memaafkanku,” kata Jack.
__ADS_1
“Tidak mau!” Ara malah menutup jendela dan gorden jendelanya, tapi dia mengintip dicelah gorden itu.
Jack kebingungan diantara pohon-pohon itu. Dia bingung cara membujuk istrinya, ternyata istrinya susah dibujuk.
Ara bersandar ke jendela, dia kesal pada Jack karena masih saja seperti itu. Ternyata Jack masih menyayangi Arum meskipun belum tentu Jack berselingkuh, tapi dia melihat Jack membiarkan Arum memeluknya, membelai rambutnya juga menciumnya. Benar-benar mengesalkan! Mata Ara kembali berkaca-kaca.
Sedang sedih seperti itu, tiba-tiba terdengar suara yang bicara dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Apa Jack sedang membacakan puisi dalam bahasa Perancis atau bahasa Spanyol?
Ara tidak mau mendengarnya, tetap saja dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Jack. Ternyata puisinya bukan bahasa Perancis tapi bahasa Spanyol. Lagian kurang kerjaan saja membuat puisi dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Bahasa Inggris saja kadang tidak benar-benar dimengertinya.
Diluar masih terdengar Jack membaca puisinya. Ara mengintip digordennya.
“Sayang, itu puisi yang dikartu itu! Kau ingin tahu artinya?” tanya Jack.
“Tidak mau!” teriak Ara.
“Kau serius tidak mau?” tanya Jack.
“Tidak mau! Kau pergi saja! Aku tidak mau melihatmu!” teriak Ara tapi matanya mengintip dicelah gorden.
Tiba-tiba tidak ada suara lagi. Entah kemana Jack?
Ara kembali mengintip tapi ternyata Jack tidak ada diantara pohon-pohon itu, entah kemana dia? Hatinya langsung saja gelisah.
“Kemana dia?” gumamnya.
Tangannya membuka gorden lebar-lebar dan melihat kearah tadi Jack berdiri.
Tiba-tiba Ara berteriak kaget saat melihat sosok menempel ditembok disebelah jendelanya, dengan kakinya yang berdiri diatas hiasan batu alam ditembok kamarnya.
“Jack! Kau mengagetkanku!” teriaknya.
Jack memegang apa saja yang bisa dipegangnya, dia seperti spiderman saja. Tapi tentu saja hal seperti itu bukanlah hal yang sulit, dia sudah terbiasa latihan militer seperti ini.
“Sayang! Tolong maafkan aku, nanti aku beritahu arti puisinya,” kata Jack, memiringkan kepalanya kejedela menatap Ara.
Ara menatap wajah yang menempel dikaca itu. Apakah dia harus memaafkan Jack?
“Aku tidak mau!” ucap Ara, menatap wajah pria itu.
“Sayang, apa kau tega melihatku jadi laba-laba begini berjam -jam?” tanya Jack.
“Siapa suruh kau begitu? Aku menyuruhmu pulang!” kata Ara, sebenarnya dia merasa tidak tega Jack berusaha keras menemuinya sampai naik ditembok seperti itu.
“Aku mau pulang tapi kau juga ikut pulang! Kasihan anak kita,” kata Jack.
“Anak kita yang mana? Kita belum punya anak!” sanggah Ara.
“Sebentar lagi kita punya!” ucap Jack.
“Sudahlah kau pulang saja! Aku ingin sendiri,” kata Ara dengan sedih lalu menutup gordennya.
Jack menatap gorden yang tertutup itu. Dilihatnya hari sudah mulai gelap, sepertinya akan turun hujan.
Ara pergi ke tempat tidurnya dan duduk disana, sesekali matanya melihat ke jendela, apakah dia harus memaafkan Jack? Tapi teringat lagi sikap mesranya Jack pada Arum hatinya kembali sakit.
Diapun menunduk sedih lagi. Sepertinya kehadiran Arum akan menjadi duri dalam daging di rumah tangganya. Entah apa yang akan dilakukannya, hanya saja dia ingin sendiri sekarang.
Diluar tidak terdengar lagi suara Jack. Mungkin Jack sudah pulang karena terdengar suara mobil dinyalakan, sepertinya akan hujan juga. Ara mendengar suara petir mulai menyambar.
*********
Readers yang mau gabung di GCku, maaf ya untuk sementara GCku di tutup/ dinon aktifkan. Admin dan pengurusnya aku bubarkan.
Soalnya aku juga jarang on di GC, nanti kalau aktif lagi aku kabari.
Yang mau dukung karyaku langsung kasih gift dikaryaku ya.
**********
__ADS_1