
“Sudahlah, lupakan aku! Kau cantik, kau bisa mendapatkan pria manapun yang kau suka! Buat dirimu bahagia! Berhentilah menjadi wanita penghibur! Menikahlah dengan pria yang kaucintai!” ujar Jack.
“Aku setuju dengan pemikiranmu, Jendral,” seru Rebecca dengan senang dan tersenyum sumringah.
“Apa maksudmu?” tanya Jack.
“Kau menyuruhku menikah dengan pria yang aku cintai kan? Ayo kita menikah, aku siap mau menikah kapanpun kau mau,” jawab Rebecca membuat Jack melongo.
“Kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu! Sudah aku katakan aku sudah punya istri dan anak, jangan menggangguku!” bentak Jack dengan kesal, rasanya sudah hilang kesabarannya menghadapi wanita penggoda ini.
“Masalahnya kau pria yang aku cintai Jendral, kau tidak perlu berpura-pura, aku tahu kau tertarik padaku, aku mau melakukan apapun untukmu, aku berikan apapun keinginanmu, mau sekarang juga tidak masalah,”ucap Rebecca, sambil menarik lengan bajunya sampai memperlihatkan bahunya.
“Jangan membuat onar dikantorku!” bentak Jack.
Rebecca menatap Jack. Pria itu terus-terusan menolaknya, dia semakin heran apa yang dilakukan oleh istrinya itu sampai pria ini begitu setia.
“Istrimu baru melahirkan, kau butuh sentuhanku,” ucap Rebecca.
“Keluar dari kantorku dan jangan datang-datang lagi!” usir Jack, dengan marah.
“Tapi sayang sepertinya aku akan datang lagi kesini!” kata Rebecca.
“Apa kau sudah gila ya?” bentak Jack.
“Aku memang gila Jendral, aku tergila-gila padamu! Apa kekuranganku? Kau terus menolakku? Aku tidak masalah kau menyentuhku, aku akan memberikan layanan yang terbaik buatmu,” kata Rebecca, membuat Jack merasa ingin muntah saja.
“Kau ini sok cantik, kau fikir dengan istriku cantik siapa?” ujar Jack.
“Tentu saja cantik aku! Istrimu tidak ada apa-apanya, apalagi dia baru saja melahirkan, dadanya besar tidak jelas, tubuhnya kecil, hidungnya juga tidak terlalu mancung, dia juga kurang tinggi,” kata Rebecca, mencemooh Ara.
Tentu saja Jack terkejut mendengarnya, seakan Rebecca pernah melihat istrinya.
“Apa maksudmu bicara begitu? Kau menemui istriku?” tanya Jack.
“Iya, aku menemuinya tadi,” jawab Rebecca.
Jack terkejut mendengar perkataan Rebecca, tangannya langsung mencengkram dagunya Rebecca dengan kasar.
Rebecca terkejut pria itu mencengkram dagunya dengan keras.
“Jangan pernah mengganggu istriku!” bentak Jack.
__ADS_1
“Kalau begitu temui aku nanti malam,” jawab Rebecca.
“Apa maksudmu?” tanya Jack.
“Aku hanya ingin kita makan malam saja, maka aku tidak mengganggu istrimu lagi,” kata Rebecca.
“Kau benar-benar keterlaluan!” maki Jack, sambil melepaskan cengkramannya.
“Jendral! Aku tidak minta apa-apa, aku tidak meminta dibelikan barang mewah, aku hanya ingin bermalam denganmu, aku merindukanmu,” kata Rebecca, sudah tidak segan-segan mengungkapkan perasaannya.
“Kenapa kau begitu sulit mengabulkan permintaanku yang hanya hal sepele? Aku hanya ingin bersamamu, terserah kau mau membuat aturan apa dengan istrimu, aku hanya ingin selalu bersamamu, bersenang-senang denganmu, bukan mau menyusahkanmu,” kata Rebecca dengan kesal.
“Sepele katamu sepele? Aku tidak mau menghancurkan pernikahanku! Aku mencintai istriku! Wanita yang katamu kurang tinggi, dada besar tidak jelas itu adalah istriku, aku hanya mencintainya, kau mengerti?” tanya Jack dengan kesal.
“Kau hanya belum merasakan bermalam denganku Jendral, jadi kau mengatakan itu. Kau belum mencobanya, tidak ada salahnya kau mencobanya, aku akan memberikan yang terbaik buatmu, aku yakin dalam sekejap kau akan melupakan istrimu,” kata Rebecca, terus saja merayu.
Jack benar-benar tidak habis fikir bagaimana menyingkirkan wanita ini? Dia tidak mau teroda rayuannya, karena memang sebenarnya wanita ini sangat cantik dan memiliki tubuh yang bagus, tapi dia tidak mau menghianati Ara meskipun cuma satu kali.
Rebecca kembali mendekati Jack, pria itu memalingkan mukanya.
“Pokoknya aku menunggumu nanti malam di sebuah Restoran, terserah kau mau datang atau tidak, itu adalah pilihanmu. Kalau kau tidak mau aku mengganggu istrimu, datang temui aku malam ini pukul 7,” kata Rebecca.
Jack tidak menjawab, dia merasa sangat kesal pada wanita itu. Dia makin terkejut saat Rebecca mendekatinya dan menempelkan dadanya yang indah itu tepat di dadanya Jack. Dia juga mendekatkan bibirnya akan mencium Jack.
Wajah Jack semakin memerah saja, antara marah dan menahan dirinya untuk tidak tergoda.
“Kau harus datang! Tampan,” ucap Rebecca tersenyum. Dia yakin lama kelamaan Jack akan tergoda olehnya, dia hanya harus sabar saja.
Diapun lalu menjauhkan tubuhnya dari Jack, keluar dari ruangan itu.
Jack terdiam memandang kearah pintu dengan kesal, ada apa ini? Dia sudah bahagia dengan Ara dan putranya, kenapa malah muncul wanita pengoda seperti ini, dia sudah menolaknya kenapa wanita itu malah terus mengejarnya.
Tadi Rebecca bilang sudah bertemu dengan istrinya? Kasihan sekali istrinya. Hatinya menjadi merasa khawatir Rebecca akan mengganggu istrinya, bagaimana ini? Sudah dipastikan pulang aka nada pertengkaran lagi.
Jack kembali duduk dikursi kerjanya dengan lesu, dia mengambil ponsel dilacinya ternyata banyak panggilan masuk dari istrinya yang tidak terjawab. Diapun mencoba menelpon balik tapi berapa kali menelponnya tidak di angkat juga, diapun memasukan ponsel ke lacinya lagi.
Jack duduk dengan lesu, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa dia harus menemui wanita itu supaya tidak mengganggu Istrinya? Istrinya baru saja melahirkan, perasaannya masih sensitif dan labil. Dia takut Ara akan sakit karena banyak tekanan.
“Sayang, aku minta maaf, sudah membuat masalah lagi, aku tidak mau menyakitimu, sungguh aku tidak mau,” gumam Jack.
*****
__ADS_1
Telpon dibagian informasi itu berbunyi nyaring.
“Selamat siang!” kata prajurit yang berjaga dibagian informasi.
“Aku bisa bicara dengan Jendral Jack Delmar?” tanya suara disebrang.
“Anda siapa?” tanya pria itu.
“Aku istrinya, Nyonya Delmar,” jawab Ara, dia dari tadi menalpon Jack terus tapi panggilannya tidak diangkat, jadi terpaksa dia menelpon kantornya.
“Sebentar saya sambungkan!” kata Prajurit yang bertugas itu, lalu dia menelpon ke telpon mejanya Jendral Jack.
Jack melihat telpon di meja itu berbunyi dan line 2 menyala, diapun mengangkatnya.
“Ada apa?” tanya Jack.
“Aku sedang tidak ingin menerima telpon,” kata Jack, tidak mengatakan siapa yang menelponnya
“Tapi..” pembicaraan prajurit itu terpotong.
“Tanpa kecuali!”kata Jack, langsung menutup telpon, dia sangat kesal.
"Maaf, Nyonya, Jendral sedang tidak ingin diganggu!” kata prajurit itu.
“Tapi diaada dikantor kan? Aku telpon ponselnya tidak diangkat, apa banyak tamu penting?” tanya Ara.
“Tidak Nyonya, tamunya hanya satu, Nyonya Rebecca,” jawab Prajurit, yang tidak berfikir macam-macam soal tamu wanita itu.
“Rebecca?” tanya Ara, terkejut bukan main, kepalanya langsung saja mendadak pusing. Hatinya begitu sakit mengetahui wanita itu ada dikantor suaminya dan suaminya tidak mau menerima telponnya, ponselnya juga
tidak angkatnya.
Ada genangan airmata yang tidak bisa diajak kompromi, begitu saja menetes dipipinya. Rebecca dengan berani datang ke kantor suaminya, dia sebagai istrinya Jack sama sekali tidak pernah senekat itu jika tidak terlalu penting. Apa hubungan mereka sudah sangat dekat?
“Terimakasih,” ucap Ara pada prajurit itu.
“Baik Nyonya, nanti akan saya sampaikan jika Jendral Jack keluar,” jawab prajurit itu menutup telpon, lalu dia melihat Rebecca melewati ruangan itu keluar dari kantor itu.
Prajurit itu tidak bicara apa-apa. Karena Jendral Jack tidak mau diganggu, jadi dia hanya akan menyampaikannya kalau Jendral Jack keluar dari ruangannya, memberitahu kalau istrinya menelpon.
Ara menatap foto pernikahan yang kini tidak berbingkai. Pelayan dirumah Jack sedang mencarikan bingkai yang sesuai dengan ukuran foto itu. Tangannya menyentuh foto itu.
__ADS_1
“Kapan semua ini akan selesai Jack. Kapan rumah tangga kita akan damai, kadang aku merasa lelah, Jack,” ucapnya. Airmata kembali menetes jatuh membasahi foto itu.
******