Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-162 Hanya Milik Istriku


__ADS_3

Ara menatap suaminya yang tampak bingung.


“Apa kau tidak bereaksi karena kau tidak tertarik lagi padaku?” tanya Ara, membuat Jack terkejut.


“Kau ini bicara apa? Kau istriku, kenapa aku tidak tertarik padamu?” tanya Jack, menatap wajah yang kini malah memerah.


“Karena sekarang tubuhku berubah. Aku lebih gemuk dan tidak cantik,” ucap Ara, dengan rasa kecewa yang tiba-tiba timbul.


Jack terkejut mendengar perkataan istrinya.


“Apa wanita yang membuatmu hampir tergoda itu sangat cantik?” tanya Ara lagi, kini matanya sudah berlinang airmata.


Jack semakin terkejut saja melihatnya. Apalagi melihat istrinya mulai menangis.


“Tidak, sayang, tidak begitu!” Jack mengulurkan tangannya akan memeluk Ara tapi Ara menepisnya. Jack merasa bersalah jadinya, istrinya merasa dia tidak menginginkannya.


“Kau cantik sayang, aku senang melihatmu hamil,” ucap Jack. Dia tersadar kalau ibu hamil katanya sangat sensitive.


Jack tidak menyerah, mendekatkan tubuhnya dan langsung memeluk Ara, meskipun istrinya itu menepis tangannya berkali-kali, dia semakin mempererat  pelukannya.


“Aku mencintaimu. Jangan meragukan itu,” ucapnya sambil mencium rambutnya Ara.


“Aku senang kau hamil, kau terlihat lebih cantik,” hiburnya.


“Tapi kau tidak tertarik padaku,” ucap Ara ditengah isaknya.


“Kalau tidak tertarik padamu, aku tidak akan pulang, dan aku tidak akan menolak wanita-wanita itu,” ucap Jack lagi, barulah Ara menghentikan tangisnya.


Jack langsung mengusap pipi istrinya, lalu mencium pipinya.


“Aku coba lagi, aku tidak akan menyerah. Mungkin aku terlalu lelah saja,” ucapnya.  Tangannya terus mengusap usap pipi istrinya, meskipun dalam hatinya dia masih bingung dan bagaimana kalau tidak berhasil lagi? Sepertinya dia harus ke Dokter untuk berobat.


Arapun menatapnya.


“Kau boleh mencumbuku,” ucap Ara.


Jack malah tersenyum melihat reaksi istrinya, kenapa istrinya harus meragukan cintanya? Dia sangat mencintainya apa adanya.


“Tanpa kau suruhpun aku akan mencumbumu,” ucapnya dan kembali memeluk tubuh istrinya juga mencium bibirnya lebih dalam untuk membangkitkan gairahnya.


Bahkan sekarang tangannya melepaskan seluruh pakaian istrinya satu persatu dan menyusuri seluruh tubuh istrinya juga menciumnya.


Sekian menit telah berlalu, Jack kembali diam dan kebingungan.


Ara menatapnya lagi dengan heran.


“Sayang sepertinya aku sakit,” ucapnya, balas menatap istrinya.


 Padahal dia sudah melepaskan seluruh pakaian istrinya untuk membangkitkan hasratnya, tapi sepertinya ada sesuatu yang salah. Apakah dia benar-benar mendapat masalah dengan bagian privasinya? Kepalanya terasa pusing memikirkannya. Bagaimana kalau itu terjadi dalam waktu lama?


“Sayang sepertinya tidak bangun-bangun, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya jadi resah. Diapun segera melepaskan seluruh pakaiannya. Benar saja tidak ada perubahan disana.


“Aku tidak tahu kenapa jadi seperti ini?” keluhnya, menatap tubuhnya lalu pada istrinya.


“Ada yang bisa kau lakukan untukku?”tanya Jack.


“Tentu saja aku akan melakukannya,” jawab Ara dengan bingung.


Dia juga jadi merasa khawatir, apa semua ini terjadi karena suaminya setia padanya? Apa benar seperti itu.


Jack kembali memeluk istrinya dan mencumbunya lagi. Tapi setelah sekian menit berlalu masih tidak ada hasilnya, merekapun saling pandang lagi.


“Apa ini hukumanku karena hampir tergoda wanita itu?” tanya Jack.


Ara menggelengkan kepalanya dan menatap suaminya, diapun memikirkan sesuatu.


 “Aku ingin menegok bayi kita ternyata gagal,” keluh Jack, lalu mengulingkan tubuhnya jadi tidur terlentang.


“Jangan-jangan sampai bayi kita lahir aku tidak bisa menengoknya,” keluhnya lagi.


Arapun diam, kenapa bisa begitu? Mereka bukannya sudah melakukan pemanasan, tapi ternyata tidak ada perubahan sama sekali? Suaminya mengalami gangguan di bagian privasinya. Ara menoleh pada suaminya yang tidur terlentang dengan tubuh yang telanjang, dia juga bisa melihat memang bagian itu tidak ada perubahan. Sepertinya suaminya sangat kecewa.


“Aku merasa bersalah,”ucap Ara.


Jack menoleh pada istrinya dan langsung memiringkan tubuhnya memeluknya.


“Jangan bicara begitu, mungkin aku terlalu lelah,” ucap Jack.


Ara menatap wajah suaminya, dan merapatkan tubuhnya yang tidak bisa serapat dulu karena terhalang perut besarnya. Jack segera mengusap perut istrinya.

__ADS_1


“Tapi aku tidak mau kau tidak setia padaku, aku tidak mau kau bersama wanita lain,” ucap Ara.


Jack mengusap pipinya  Ara dan tersenyum.


“Iya, aku tidak keberatan setia padamu, aku juga hanya menginginkanmu,” ucap Jack, menganggukkan kepalanya dan mencium bibirnya.


Ara merasa senang Jack mau setia padanya. Sekian lama mereka hanya memeluk dan mencium, saling menghibur satu sama lain. Tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya Ara.


“Jack,


sayang, aku punya ide, apa kau mau mencobanya?” tanya Ara, membuat Jack menatapnya.


“Tapi kau jangan marah,” lanjut Ara, membuat Jack keheranan.


“Kenapa? Memangnya kau punya ide apa sampai aku jangan marah?” tanya Jack.


Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia takut Jack tersinggung.


“Tidak, aku tidak akan marah,” kata Jack.


“Benar, kau tidak akan marah?” tanya Ara, memastikan.


“Iya, aku janji tidak akan marah, kau punya ide apa?” jawab Jack, tangannya kembali mengusap-usap perut istrinya.


“Aku...,” ucap Ara, masih ragu.


“Katakan saja, aku tidak akan marah,” kata Jack.


“Aku akan bersiul,” jawab Ara, membuat Jack terkejut.


“Apa?” tanya Jack.


“Kau ini bicara apa? Kau akan bersiul seperti dulu untuk membangunkannya?” tanya Jack dengan kesal, tidak menyangka Ara akan mengusulkan itu.


“Aku kan tadi sudah bilang jangan marah,” ucap Ara.


“Aku tidak percaya akan berhasil, karena dulu aku baik-baik saja, jadi bisa  berdiri saat kau bersiul,” ucap Jack, dengan wajahnya yang memerah.


Ara langsung tertawa tapi kemudian menutup mulutnya, saat suaminya meliriknya dengan wajah masam.


“Aku cuma berusaha saja, siapa tahu berhasil,” kata Ara.


Jack merenung sebentar.


Arapun segara bangun dan duduk di depan suaminya. Menatap suaminya yang berdiri telanjang  di depannya  sambil menatapya. Dia malah tertawa lalu menutup mulutnya.


“Kenapa kau menertawakanku? Karena aku sakit sekarang? Bukannya dulu kau sangat menyukai tubuhku?” tanya Jack, memberengut kesal karena istrinya malah tertawa.


“Tidak, bukan itu,” jawab Ara menggelengkan kepalanya, dia tidak mau suaminya tersinggung.


“Cepat lakukan! Sebenarnya aku tidak suka aku terlihat lemah,” kata Jack, berdiri tegak di depan istrinya.


“Bersiullah yang kencang!” kata Jack lagi.


Ara menatap tubuh suaminya itu lalu turun pada bagian yang tidak mau berdiri itu. Sebenarnya ini trik yang menggelikan tapi dia harus mencobanya.


Arapun menarik nafas panjang, lalu menempelkan dua jari ke mulutnya, mulailah bersiul.


“Swuit wiiw!” siulnya.


Merekapun melihat pada bagian tubuh Jack itu dan ternyata tidak bergerak sedikitpun, sepertinya memang enggan berdiri.


“Tidak berhasil,” kata Jack.


“Aku coba sekali lagi!” ujar Ara.


“Bersiulnya yang keras,” kata Jack.


“Tadi sudah keras,” ucap Ara. Diapun mencoba lagi.


“Swit wiiiii!” siul Ara lagi, ternyata  tidak berhasil juga, membuat Jack putus asa.


“Coba aku saja yang bersiul,” kata Jack, membuat Ara terkejut dan ingin tertawa.


Suaminya itu langsung bersiul sambil menunduk kebawah, membuatnya semakin merasa geli.


“Swit wiiiw!” siul Jack.


“Kau bersiul pada punyamu sendiri?” tanya Ara, tidak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


Jack masih menatap ke bawah, lalu dia bersiul lagi beberapa kali.


“Tidak menurut padaku,” ucapnya.


Tawa Ara semakin keras saja. Meskipun Jack merasa kesal karena tidak berhasil tapi dia senang melihat istrinya sudah mulai tertawa.


Ara segera menghentikan tawanya, dan tersadar kalau dia bisa membuat suaminya tersinggung.


“Maaf, aku tidak bermaksud..” ucapnya, mengangkat wajahnya menatap Jack.


Pria itu tidak menjawab, hanya membungkukkan tubuhnya lalu mencium bibir yang tadi menertawakannya itu. Kedua tangannya memegang pipinya Ara.


“Aku senang melihatmu tertawa, kau sangat cantik,” ucapnya, membuat Ara menatapnya, dia sering terharu dengan kata-kata Jack yang selalu ingin membahagiakannya.


“Aku mencintaimu Jack, kau suami yang baik,” ucap Ara.


Jack mengangguk lalu berdiri tegak lagi.


“Kita coba sekali lagi,” ucapnya dengan semangat.


Ara mengangguk, lalu dia konsentrasi melihat bagian tubuhnya Jack itu yang kini sudah terbiasa dilihatnya, Arapun mulai bersiul lebih kencang dari yang tadi.


“Swuit wiiiw!” siulnya dengan keras, memasukkan jari ke mulutnya.


Dan mata Jack terbelalak kaget saat sesuatu terjadi pada bagian privasinya, lalu dia menatap istrinya tidak percaya.


“Kau berhasil!” serunya, kembali melihat kebawah.


Ara menatap bagian itu yang menunjuk padanya lalu pada Jack.


“Ternyata dia hanya menurut padamu,” ucap Jack, menatap Ara.


“Sepertinya begitu!” ucap Ara.


Jack merasa kepercayaan dirinya kembali muncul, setelah tadi hampir putus asa.


“Ternyata aku memang di takdirkan untuk setia padamu,” ucap Jack.


Ara menatapnya lagi.


“Tentu saja, aku ini istrimu, kau hanya butuh satu wanita dalam hidupmu. Aku, istrimu,” kata Ara.


“Ya, aku memang hanya membutuhkanmu, istriku,” ucap Jack mengangguk.


“Setelah ini bagaimana?” tanya Jack kemudian.


“Bagaimana apanya?” Ara balik bertanya.


“Aku tidak akan membiarkannya menganggur,”jawab Jack.


Ara tertawa geli, pria itu suka menggunakan kata-kata yang aneh.


“Jadi, apa aku bisa menengok bayiku sekarang?” tanyanya, sambil mencondongkan tubuhnya mendekati istrinya.


“Hati-hati,” ucap Ara.


“Tentu saja,” jawab Jack.


Tapi kemudian dia menghentikan gerakannya, menatap istrinya dengan serius.


“Ada apa?” tanya Ara.


“Maukah kau berjanji padaku?” tanya Jack.


“Janji apa?” tanya Ara.


“Kau tidak boleh sembarangan bersiul apalagi di depan umum, atau kau akan membangkitkan milik semua laki-laki yang ada disekitarmu!” jawab Jack.


Ara langsung tertawa mendengarnya.


“Mana mungkin aku bersiul ditempat umum? Kau ada ada saja, lagian ini siulan special untukmu saja,” ucap Ara disela tawanya, membuat Jack kesal dia serius istrinya malah bercanda.


Diapun langsung mencium yang sedang tertawa itu, sampai Ara hampir terjatuh ke tempat


tidur kalau dia tidak menahan tangannya.


“Jack! Aku sedang hamil!” teriak Ara.


“Aku lupa,” jawab Jack.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian sudah tidak ada yang berbicara lagi.


********


__ADS_2