Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-115 Mandi bersama ( part 1 )


__ADS_3

Ara mendial nomor ponselnya menghubungi seseorang, tapi dia matikan lagi saat pintu kamarnya terbuka. Masuklah Jack yang langsung menghampirinya. Ara segera menyimpan ponsel disampingnya.


“Kenapa kau tidak tidur?” tanya Jack.


“Aku merasa haus,” jawab Ara.


Jack menoleh kearah meja tidak ada gelas yang berisi air, sepertinya Ara belum mengambil air minum. Diapun berjalan kearah meja itu, mengisi gelas kosong dengan airputih lalu kembali lagi duduk disamping Ara dan memberikan gelas itu pada Ara.


“Minumlah,” ucap Jack.


 Ara segera mengambil gelas itu, dengan hatinya yang penasaran apa yang dibicarakan Jack  dengan tamunya itu. Apakah Jack akan mengatakannya padanya?


“Terima kasih,” kata Ara, langsung minum air itu. Jack menatapnya.


“Tamunya sudah pulang?” tanya Ara.


“Sudah,” jawab Jack, mengangguk.


Ara kembali minum air itu, kemudian menunduk masih memegang gelas itu, dia ingin tahu apakah Jack akan cerita soal tamunya? Ternyata Jack tidak membahas itu.


Jack menoleh kearah tempat tidur, melihat ada noda disana. Bagaimana mungkin dia meninggalkan istrinya sekarang, setelah apa yang telah diberikan istrinya semalam. Dia akan menjadi suami yang tidak berperasaan, meski dia sadar dia juga memiliki tugas Negara yang tidak bisa dia tolak. Dia hanya bisa menundanya sementara waktu.


Jack kembali menatap istrinya itu yang menunduk entah apa yang dilihatnya dari gelas itu.


“Spreinya harus diganti, baru kau bisa tidur lagi, “ ucapnya.


Ara juga melirik ketempat tidur, ada noda tanda kesuciannya yang dia serahkan pada suaminya, tapi dia tidak bicara apa-apa.


Jack bangun dari duduknya, mengambil telpon yang menempel di tembok lalu memanggil pelayan rumah untuk membersihan tempat tidurnya, mengganti dengan sprei yang baru.


Ara hanya memperhatikan pria itu. Ternyata Jack sangat memperhatikan hal hal kecil seperti ini. Disaat biasanya pria tidak peduli akan hal itu.


Tidak berapa lama terdengar suara pintu diketuk, Jack segera menuju pintu dan membukanya.


“Tolong bersihkan tempat tidurnya! Kau membawa sprei yang lembutkan? Jangan sampai istriku merasa gerah,” kata Jack.


“Iya Tuan, spreinya sangat lembut,” jawab pelayan rumah itu, dibelakangnya sudah ada dua orang lagi membawa sprei dan selimut juga bantal-bantal baru.


Jack membuka pintu lebar-lebar barulah kembali menghampiri Ara. Kemudian dia mengambil gelas ditangan Ara lalu diberikan pada salah satu pelayan rumah itu. Ara bingung melihat sikapnya Jack yang mengambil gelasnya.


Beberapa detik kemudian dia sudah berteriak kaget saat pria itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


“Jack kau mau apa?” teriaknya, langsung memeluk lehernya Jack.


Pelayan rumah tampak ikut terkejut juga,wajah mereka berubah memerah dan tersipu saat melihat Tuannya menggendong istrinya, tapi mereka tidak bereaksi apapun, hanya menunduk dan mengerjakan pekerjaan mereka mengganti sprei tempat tidur Tuannya juga bantal-bantal.


Jack mengendong Ara menuju sofa, tapi bukan mendudukkannya di sofa melainkan mendudukkannya dipangkuannya. Dia akan sangat merindukan wanita ini jika tiba saatnya dia harus pergi beberapa waktu.


“Jack aku malu,” bisik Ara, karena di dalam ruangan itu ada pelayan pelayan rumah yang membersihkan tempat tidur.


“Tapi aku ingin menggendongmu,” bisik Jack juga, sambil mencium pipinya Ara.


Wajah Ara semakin merah saja, meski posisi sofa itu tidak berdekatan dengan tempat tidur dan dia membelakangi pelayan-pelayan itu tetap saja Ara merasa malu. Jack tidak peduli dengan orang disekitarnya.


Tangan Jack menyentuh kaki Ara yang tidak memakai sendal, mengusap jemari kakinya  perlahan naik menyusuri betisnya, kelutut dan berhenti dipahanya.  Ara hanya menatap pergerakan tangan Jack itu, mau apa lagi Jendral itu mengusap-usap kakinya? Apa tidak cukup semalaman dia mencumbu tubuhnya? Sepertinya sekarang pria itu sangat hafal tiap inci tubuhnya.


“Aku akan memandikanmu, kita mandi bersama,” kata Jack.


Ara langsung menutup mulutnya Jack dengan telapak tangannya.

__ADS_1


“Jangan bicara yang memalukan! Terdengar orang!” bisiknya, dia malu kalau ada yang mendengar percakapan mereka.


“Inikan kamar kita, bebas mau bicara apa saja,” ucap Jack.


“Iih,” Ara menyerah kalau Jack sudah seperti itu.


Jack tersenyum melihat istrinya kesal padanya, dia mencium pipinya Ara.


“Aku menyayangimu,” ucapnya.


Ara balik menatapnya. Kata-kata cinta, sayang, tidak pernah lupa diucapkan Jack padanya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dipintu.


“Siapa itu?” tanya Ara. Dia masih duduk dipangkuannya Jack.


“Bawa kemari!” seru Jack, membuat Ara heran saja, sepertinya Jack tahu siapa yang datang.


 Seorang pelayan rumah datang membawa buket bunga yang cantik dan diberikan pada Jack.


Jack mengambilnya, pelayan itu kembali pergi.


“Untuk istriku. Terimakasih sudah memberikan malam yang indah buatku, buat kita,” kata Jack, sambil memberikan bunga itu pada wanita yang ada dipangkuannya.


Ara menerima bunga itu, menatapnya  sambil tersenyum, dia merasa bahagia setiap Jack memberikan bunga untuknya.


“Kau tidak lupa memesan bunga?” tanya Ara, mengangkat wajahnya menatap Jack.


“Iya,” jawab Jack, sambil mencium rambutnya Ara.


“Apa kau tidak akan membacakan puisi lagi?” tanya Ara.


“Tidak akan, kau tidak memuji puisiku,” jawab Jack, membuat Ara juga tertawa, membayangkan betapa tegangnya Jack membaca puisi untuknya.


Ara membuka kartu yang ada dibunga itu lalu membacanya.


“Untuk Istriku tercinta, terimakasih sudah memberikan malam terindah buat ku. Aku mencintaimu, suamimu,” ucap Ara lalu melihat lagi kebawah ada tulisan lagi.


“Ini…apa ini?” Dia langsung mengerutkan keningnya dan menoleh pada Jack.


“Apa ini?” tanya Ara.


“Itu puisi,” jawab Jack.


“Puisi? Aku tidak bisa membacanya, ini bahasa Perancis?” kata Ara, melihat tulisan yang tidak dia mengerti.


“Kau tebak kira-kira isinya apa?” kata Jack.


“Kau memberiku PR?” tanya Ara menatap Jack, pria itu mengangguk.


“Aku menyerah saja, kau kan bisa menterjemahkannya,” kata Ara.


Jack memeluk Ara, kembali menciumnya.


“Kau suka bunganya?” tanya Jack.


“Iya, terimakasih,” jawab Ara, mencium bunganya.


“Kau katakan terimakasih tapi yang kau cium bunganya,” keluh Jack.

__ADS_1


“Aku harus mencium apa? Aku suka bunganya,” tanya Ara, menoleh pada Jack.


Pria itu tidak menjawab hanya wajahnya berubah masam. Apa pria itu ingin dia menciumnya? Ah Jack, kan dikamar ini bukan mereka berdua saja, dia malu. Tapi melihat wajah masamnya Jack membuat Ara tidak tega.


Diapun mendekatkan wajahnya mencium bibirnya Jack. Pria itu memiliki bibir yang sexy, bibir pinknya membuat Ara iri, sebagai perempuan dia kalah cantik dari pria itu.


Tapi Ara tidak bisa menjauh, karena Jack malah balas menggigit bibirnya tidak melepaskannya sambil memeluknya lebih erat.


“Kau sangat tanggung,” keluh Jack.


Ara akan bicara lagi tapi Jack sudah menciumnya lagi. Pria itu benar-benar menganggap kamar ini hanya milik mereka berdua. Dirasakannya tangan itu kembali mengusap-usap seluruh tubuhnya. Untungnya posisi sofa itu ada disudut siku tembok jadi tidak terlihat jelas dari tempat tidur, atau mereka akan jadi tontonan tapi sepertinya Jack memang tidak memperdulikan hal itu.


Setelah puas menciumnya barulah Jack melepaskannya, tapi itupun tidak membiarkan istrinya menjauh. Mata itu menatap Ara, menatapnya sepuasnya. Tangannya mengusap wajah cantik istrinya, menghafalkan setiap lekuk wajah itu. Dia akan merindukan wajah istrinya itu nanti.


 “Apakah  ada sesuatu?” tanya Ara, dia merasa gelisah melihat sikap Jack.


“Tidak ada,” jawab Jack, mengusap keningnya Ara.


“Aku mencintaimu,” ucap Jack, tidak bosan-bosannya mengatakan itu. Tangannya berpindah menyentuh perutnya Ara.


“Apa kita akan langsung punya bayi?” tanyanya.


“Tidak, kita masih harus menunggu,” jawab Ara.


“Padahal aku melakukannya berkali-kali semalam. Apa harus siang malam?” kata Jack.


Ara kembali menutup mulutnya Jack dengan telapak tangannya.


“Jangan bicara yang malu-malu,” keluhnya


“Aku ingin cepat dapat bayi,” kata Jack, malah mencium telapak tangan Ara yang ada dimulutnya.


“Ya harus bersabar, punya bayi bukan seperti membeli boneka ditoko,” keluh Ara lagi.


“Berarti harus berkali-kali dan siang malam,” ucap Jack, tidak menghiraukan larangannya Ara.


 Ara menutup mukanya karena tidak berhasil membujuk Jack. Melihatnya membuat Jack tersenyum, dia hanya ingin bermesraan dengan istrinya, tidak peduli yang lain.


Jack menyimpan bunga dipangkuan Ara keatas meja, lalu tangannya meraih kakinya Ara.


“Jack kau mau apa lagi?” tanya Ara.


Pia itu tidak menjawab, ternyata Jack menggendongnya lagi.


“Jack!” seru Ara.


Ara mau protes, malu pelayan rumah masih membersihkan kamar mereka. Tapi Jack tidak peduli, dia tetap mengangkat tubuhnya berjalan melewati pelayan-pelayan rumah yang bekerja sambil menunduk tidak berani melihat majikan mereka. Ara hanya bisa menyembunyikan wajahnya ke dadanya Jack, dia sangat malu.


Ara merasakan tangan Jack membuka gagang pintu sambil masih menggendongnya. Diapun menoleh ke pintu itu dan ternyata Jack membawanya ke kamar mandi.


Pria itu benar-benar akan memandikannya, tapi tidak menceburkannya ke bathub melainkan mendudukkannya di sebuah kursi yang ada di kamar mandi itu.


*********


Readers yang bosan, maaf ya, aku ingin mesra-mesraan dulu dengan Jack sebelum bawang bawangan.


Jangan nyinyir! Menuangkan imajinasi kedalam tulisan supaya enak dibaca dan mudah dipahami oleh pembaca itu tidak gampang apalagi aku cuma bermodal hobi.


Bab ini 2 bab,  kepanjangan jadi aku bagi dua, jangan lupa like ditiap bab, dan giftnya, beberapa hr ini tidak ada tips buat Jack dan Ara tumben tumbenan.

__ADS_1


******


__ADS_2