Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-172 Bertemu Ayah Kandung Ara


__ADS_3

Ny.Imelda menarik tangan pria itu menghampiri Ara. Sedangkan Ara menatap pria itu tidak berkedip, menatap pria yang dia tidak ingat apakah dia pernah mengenalnya atau tidak.


“Sayang, ini Ayahmu, Daniswara, kau biasa memanggilnya Ayah Danis, apa kau masih ingat?” kata Ny.Imelda.


Tn.Daniswara itu menatap Ara dengan haru.


“Kau, putriku, Arum?” tanya pria itu.


Ayah kandungnya Ara itu memiliki tubuh yang tinggi dan berkulit putih, juga memiliki hidung yang mancung.


“Jangan memanggilnya Arum, namanya Arasi,” bisik Ny.Imelda.


“Oh ya aku lupa, Arum atau Arasi sama saja yang penting putriku sudah kembali,” kata Tn.Daniswara, matanya terlihat memerah.


“Aku tidak menyangka bisa melihatmu sudah dewasa,” ucapnya.


Ara menatapnya dengan sedih,  semua ini sangat berat baginya, dia bertemu dengan orang-orang asing yang ternyata orangtua kandungnya, sungguh dia tidak pernah membayangkan sebelumnya.


“Kau ayahku?” tanya Ara.


“Iya sayang, dia ayahmu,” jawab Ny.Imelda, sambil menarik tangan suaminya lebih dekat pada Ara.


Ara menatap pria itu dengan bingung, apalagi saat pria itu memeluknya.


“Putriku! Akhirnya kau kembali juga pada kami!” ucapnya.


“Kau tahu, ibumu sangat merindukanmu, dia terus saja menangis memikirkanmu. Ayah tidak menyangka kalau kau masih hidup. Ibumu sudah menceritakan semuanya, “ kata Ayah kandung Ara itu, lalu mengusap rambutnya Ara.


“Apa selama ini kau baik-baik saja, sayang?” tanyanya, sambil melepaskan pelukannya dan duduk dipinggir tempat tidur itu menghadap Ara. Tangannya kini menyentuh bahunya Ara.


“Iya, aku baik-baik saja, aku sangat bersyukur  bertemu Ayah dan Ibuku yang sangat menyayangiku,” jawab Ara.


“Dimana mereka sekarang? Ayah ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih,” tanya  Ayah Ara itu.


“Mereka sedang pulang dulu, Ayah nanti bisa bertemu mereka,” jawab Ara.


Tn. Daniswara tersenyum dan menoleh pada bayi yang digendong Ara.


“Ini cucuku?” tanyanya. Menyentuh kain yang membungkus bayi itu.


“Iya, putranya Jack,” jawab Ara.


Tn.Daniswara menoleh pada Jack.


“Jack, bayimu sanggat mirip dengamu! Benar kan Nez?” tanyanya.


“Benar, dia sangat mirip dengan Jack,” jawab Ny Inez.


“Siapa namanya? kau sudah memberinya nama?” tanya Ny.Imelda pada Jack.

__ADS_1


“Aku mencari di internet, namanya Galand Delmar, artinya berani, aku ingin putraku menjadi seorang pria yang pemberani,” jawab Jack.


“Wah hebat itu! Nanti dia akan gagah seperti ayahnya!” seru Ny.Imelda.


“Jack!” panggil Tn.Daniswara, membuat Jack menoleh kearahnya.


“Terimakasih kau sudah menemukan putriku, aku minta maaf telah memojokkanmu atas kejadian itu, semua itu sangat buruk bagi kita semua,” kata Tn.Daniswara.


“Dan juga tolong jaga putri dan cucuku dengan baik. Kalau kau butuh bantuan apa-apa kau bisa bilang padaku, jangan sungkan, Ayahmu adalah teman baikku,” lanjutnya.


“Iya, aku akan menjaga istri dan anakku dengan baik,” ucap Jack, sambil menoleh pada Ara yang juga menatapnya dan tersenyum.


Jack merasa senang bisa melihat senyum istrinya.


“Sayang, bolehkah Ibu menggendongnya?” tanya Ny.Imelda, menghampiri Ara.


“Iya,” jawab Ara, lalu memberikan bayinya itu pada Ibu kandungnya. Ny.Imelda langsung menggendongnya dan Ny.Inez mendekatinya.


“Benar-benar mirip Jack,kan” kata Ny.Imelda.


“Kapan kau akan kembali ke Paris?” tanya Ny.Inez pada Jack.


“Sepulangnya dari sini, aku ada pekerjaan yang sudah menunggu,” jawab Jack.


“Tunggu beberapa hari, bayimu masih kecil,” kata Ny.Inez.


“Kau jangan terlalu sibuk bekeja, istri dan putramu membutuhkan perhatiannmu,” kata Ny.Imelda.


“Kau akan tinggal di Paris?” tanya ayahnya Ara itu pada Ara


“Iya, aku akan ikut kemanapun Jack pergi,” jawab Ara sambil menoleh pada suaminya yang sedang menatapnya.


Tn.Daniswara mengulurkan tangannya menyentuh rambutnya Ara.


“Ayah juga ada rumah di Paris, kau bisa sesekali tinggal disana kalau kau mau,” kata Ayahnya.


“Iya, Ayah,” jawab Ara, mengangguk.


“Ayah senang kau baik-baik saja,” kata Ayahnya Ara itu, kini memegang tangannya Ara, menggenggamnya dengan kuat.


“Ayah senang ternyata kau masih hidup, semoga hidupnya dan Jack juga putramu, bahagia, sayang,” ucap Tn.Daniswara.


“Bersama Jack, aku akan selalu bahagia, Aku tahu Jack akan selalu menjagaku juga putra kami,” jawan Ara, kembali menoleh pada Jack.


Pria itu segera menghampirinya lalu memeluknya. Ara menempelkan kepalanya ke tubuhnya Jack dan balas memeluknya dengan erat.  Jack langsung mencium rambutnya beberapa kali.


Tn.Daniswara menatapnya sambil tersenyum bahagia. Ara juga menoleh pada Ayah kandungnya itu juga tersenyum.


“Aku percaya Jack akan selalu menjagamu. Aku tidak akan merasa khawatir jika kau bersamanya. Dia sangat menyayangimu dari kecil,” kata Tn.Daniswara, menoleh pada Jack.

__ADS_1


“Aku akan selalu menjaga putrimu,” ucap Jack lagi.


Tn.Daniswara tersenyum senang. Ara mengangkat wajahnya menatap Jack. Suaminya itu langsung menunduk dan mencium bibirnya.


“Aku mencintaimu,” ucap Jack.


“Aku juga,” balas Ara, tersenyum pada suaminya lalu menoleh lagi pada Ayah kandungnya itu.


Meskipun dia merasa canggung, tapi Ara sudah mulai menerima keluarga barunya itu, walaubagaimanapun mereka adalah orangtua kandungnya. Meskipun dia tidak akan pernah melupakan kasih sayang yang telah diberikan orang tua angkatnya, Pak Amril dan Bu Amril yang sangat menyayanginya.


Sedang difikirkan Ara, ternyata Pak Amril dan Bu Amril juga datang. Mereka agak terkejut karena banyak orang diruangan itu.


“Ayah, Ibu!” panggil Ara, membuat semua orang menoleh pada yang datang.


“Itu Ayah Ibumu yang sudah merawatmu?” tanya Tn.Daniswara.


“Iya,” jawab Ara.


Pak Amril dan Bu Amril tampak bingung melihat pria yang tidak dikenal itu duduk dekat Ara.


“Bu Amril, Pak Amril,  ini suamiku, Ayah kandungnya Arasi,” kata Ny.Imelda, pada Pak Amril dan Bu Amril.


Tn.Daniswara langsung menghampiri dan bersalaman dengan Pak Amril dan Bu Amril.


“Bapak dan Ibu, terimakasih banyak sudah mengurus putriku dengan baik, aku tidak tahu bagaimana cara untuk membalas kebaikan kalian selama ini, aku sangat berterimakasih,” kata Tn.Daniswara.


“Tidak perlu Tuan. Saya dan istri saya sangat tulus menyayangi Arasi,” kata Pak Amril, sambil menoleh pada Ara yang tersenyum padanya.


“Iya Tuan, hanya saja saya ada permintaan,” kata Bu Amril ,membuat semua mata memandangnya.


“Iya Bu, ada permintaan apa? Katakan saja jangan sungkan!” kata Tn.Daniswara.


Ara sudah ketar-ketir saja ibunya itu akan meminta sesuatu yang mahal, meskipun dia akan memberikan apapun untuk ibunya.


“Jangan panggil Arasi dengan Arum, namanya Arasi,” kata Bu Amril.


Mendengarnya membuat Ara terharu, dia tersenyum pada ibunya, sungguh dia begitu menyayanginya.


“Ibu!” panggilnya.


“Iya Bu, dia tetap Arasi,” jawab Tn.Daniswara mengangguk.


Bu Amril menoleh pada Ara langsung menghampirinya dan memeluknya juga mencium rambutnya, Ara balas memeluk ibunya dengan sedih.


“Aku sayang Ibu,” ucapnya.


“Iya sayang, Ibu juga menyayangimu, berbahagialah selalu, Nak,” ucap Bu Amril mencium rambutnya Ara.


Tn.Daniswara menatap mereka, dia tahu meskipun dia dan istrinya adalah orangtua  kandungnya Ara, tapi yang membesarkan Ara adalah Pak Amril dan Bu Amril, dia harus mengerti dan menerima jika Ara merasa lebih nyaman dengan orangtua angkatnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2