
Ara turun dari Taxi, menginjakkan kakinya di teras rumah megah itu. Seorang prajurit yang berjaga di depan teras, membantunya membukakan pintu taxi memberinya hormat seperti dulu saat dia datang.
Tidak ada yang Ara ucapkan, dia menghentikan langkahnya begitu sampai pintu rumah.Entah kenapa kakinya ini terasa begitu berat untuk masuk kerumah ini. Ada perasaan ragu untuk masuk ke rumah ini lagi, apa benar dia adalah istri pemilik rumah ini?
Kalau benar Jack adalah seorang Jendral dan ternyata sebenarnya dia tidak sakit, apakah pria itu menikahinya karena benar-benar mencintainya atau apa? Buat apa Jack berbohong kalau sebenarnya dia tidak sakit? Apakah obat itu yang tidak diminum Jack karena memang Jack tidak membutuhkannya?
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Ara menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya. Dia bukan tidak senang kalau Jack sembuh tapi mendapat kenyataan seperti ini sungguh membingungkan. Saat Depresi dia merasa memiliki Jack, tapi begitu tau siapa Jack sebenarnya, pria itu tersasa sangat asing baginya.
Entah kenapa matanya terasa begitu perih dan ingin menangis saja. Harapan-harapannya untuk melanjutkan pernikahan yang normal dengan Jack hilang sudah, karena melihat kenyataan seperti ini, dia ragu akan cintanya Jack.
“Mrs!” terdengar seorang prajurit menyapanya. Dia keheranan karena Ara hanya diam saja dipintu.
Ara tersenyum pada prajurit itu tanpa bicara apa-apa, lalu bergegas masuk kedalam rumah.
Perlahan dengan terasa melayang di udara, kakinya memasuki rumah berlantai bening itu. Kenapa menyaksikan kemewahan sebagus ini tidak memberikannya kebahagiaan? Kenyataan menunjukkan suaminya bukanlah orang sembarangan, selain kaya raya Jack juga seorang yang cemerlang dalam karirnya. Pria itu pasti sangat gagah kalau memakai baju dinasnya. Tapi sekali lagi, kenapa dia tidak merasa bahagia?
Ara terus melangkah memasuki kamarnya yang ternyata tidak dikunci. Melihat ruangan yang sangat luas itupun rasanya begtu dingin dan sepi. Dilihatnya di dinding ada foto pernikahannya dengan Jack, entah siapa yang memasangnya, mungkin Jack diam-diam menyuruh orang memasangnya saat dia mencari orang untuk membantunya memasangnya. Entahlah, apa orang depresi bisa menyuruh orang untuk memasangnya?
Ara duduk disofa dengan lesu, dia benar-benar butuh penjelasannya Jack. Matanya tertuju pada pintu walk ini closet, diapun segera bangun dan masuk kesana.
Dilihatnya lemari baju baju itu tidak ada yang mencolok, hingga pada lemari yang dulu terkunci itu. Arapun mencoba membukanya dan ternyata lemari itu masih terkunci, dia tidak tahu kuncinya dimana. Jangan-jangan memang lemari pakaian ini adalah lemari baju dinasnya Jack?
Ara juga pergi ke rak sepatu, dia menemukan ada banyak sesuatu yang dipakai Jack disana, ternyata banya sekali model-model sepatu disana, Ara tidak tahu apakah yang Jack pakai itu sepatu dinasnya atau bukan meskipun sepatu itu mirip sepatu ayahnya, mungkin hanya modelnya saja yang mirip?
Sementara itu di markas besar GIGN…
“Bagaimana kabar Paman, apa lebih baik?” terdengar suara Jack dalam sebuah ruangan.
“Aku ini sudah tua, sebentar lagi pensiun, tubuhku tidak sekuat dulu,” kata Paman Favier, duduk dimeja kerjanya.
“Kau datang dari kemarin?” tanya paman Favier.
“Iya,” jawab Jack.
“Sebaiknya kau tinggal disini, karena tempat kerjamu disini,” kata Paman Favier.
“Iya setelah semua urusanku salesai,” jawab Jack, dia segera duduk di sofa yang ada diruangan itu dan menyimpan topinya diatas meja.
Paman Favier menatap keponakannya itu.
“Bagaimana keadaan disana? Kau sudah melihatnya langsung,” tanya Paman Favier.
“Ternyata ibuku memang tidak pernah menyayangiku, ibuku hanya peduli degan uangku saja,” jawab Jack, dengan nada kecewa.
Paman Favier mengambil sebuah amplop dari laci mejanya, dikeluarkannya isi amplop itu.
“Lihatlah!” kata Paman Favier.
Jack segera bangun dan menghampiri meja kerja pamannya. Matanya langsung tertuju pada foto-foto diatas meja itu, lau diambilnya satu persatu dan dilihatnya.
“Ini foto-foto ibu muda dulu, maksudnya apa?” tanya Jack sambil melihat-lihat foto yang lainnya lagi.
“Ayah tirimu sepertinya menyukai ibumu dari dulu,” jawab Paman Favier.
Wajah Jack langsung memerah, dia sangat tidak suka dengan semua ini.
“Bagaimana Paman dapat foto-foto ini?” tanya Jack.
“Dari seorang teman yang mempunya usaha service electronic segala macam, dia pernah membetulkan cameranya Ferdi yang rusak dan sambil dibetulkan dia sempat menyimpan filenya di supaya tidak hilang dan dia lupa menghapusnya lagi,” jawab Paman Favier.
“Sungguh beruntung filenya masih tersimpan sudah begitu lama,” ucap Jack.
__ADS_1
“Ya, memang kalau suatu kasus sudah saatnya terjawab akan ada jalannya meskipun membutuhkan waktu lama,” kata Paman Favier.
“Menurut Paman Ibuku ada affair dengan ayah tiriku, padahal ayahku masih hidup?” tanya Jack.
“Paman tidak tahu apakah seperti itu atau hanya Ferdi yang menyukai ibumu, kau tanyakan langsung pada ibumu,” jawab Paman Favier, sambil menatap Jack.
Dia merasa kasihan kalau ternyata ibunya Jack memang ada affair dengan ayah tirinya sejak ayahnya masih hidup.
“Apa kau akan memaaflan ibumu jika mereka ternyata memang punya affair?” tanya Paman Favier.
Jack tidak menjawab pertanyaan itu hanya wajahnya tambah semakin memerah, menahan kesal dan marah dalam hatinya.
“Semua kekayaanku ada ditangan Ibuku, bahkan ibuku tidak mengijinkan istriku memegang uang. Untuk berpendapat saja tidak didengar, keberadaan istriku hanya untuk merawatku saja. Kasihan sekali istriku,” kata Jack.
“Ibumu ingin menguasai warisan dari ayahmu?” tanya Paman Favier.
“Sepertinya begitu,” jawab Jack, lalu menghela nafas pendek dan bicara lagi.
“Aku benar-benar ingin tahu, apakah ibuku ada affair dengan ayah tiriku sejak ayahku masih hidup? Kalau itu benar, aku tidak akan memberikan apapun pada ibuku, tidak akan! Tapi aku tidak bisa bertanya langsung pasti mereka mengelak, aku harus mencari tahu sendiri,“ lanjut Jack dengan nada tinggi.
“Meskipun semua itu sudah terlambat, kau berhak pastikan itu,” ucap Paman Favier.
“Pantas saja ibuku tidak pernah menjengukku, dia memang tidak pernah menyayangiku,” ucap Jack, wajahnya tambah masam.
“Kau akan mengambil semua uangmu?” tanya Paman Favier.
“Iya, aku akan mengambil semuanya tidak tersisa,” jawab Jack,
“Satu lagi,” ucap Paman Favier.
“Ada temuan apalagi?” tanya Jack.
“Kenapa ayahmu bisa tenggelam,” jawab Paman Favier.
“Sepertinya ada yang membuat kondisi ayahmu tidak fit dan tidak stabil waktu itu. Kau tahukan ayahmu perenang hebat, waktu kejadian itu laut tidak begitu pasang, seharusnya ayahmu bisa menyelamatkan Arum, paling tidak dia tidak akan terseret arus,” kata Paman Favier.
“Jadi semua ini mengarah pada memang ada yang menginginkan ayahku meninggal?” tanya Jack semakin terkejut saja.
“Sepertinya begitu. Kasus ini sudah ditutup sejak lama dan dinyatakan hanya kecelakaan biasa, jadi kita sendiri yang harus mencari tahu,” jawab Paman Favier.
“Apa ayah tiriku dan Ibuku berencana untuk melenyapkan ayahku?” tanya Jack.
“Paman tidak mengatakan begitu,” jawab Paman Favier.
“Arum masih hidup,” ucap Jack, membuat paman Favier terkejut.
“Apa? Masih hidup? Bagaimana bisa begitu?” tanya Paman Favier.
“Ferdi yang mengatakan kalau Arum masih hidup dan ingin mempertemukanku dengannya,” jawab Jack.
“Kenapa bisa begitu? Apa wanita itu benar-benar Arum? Rasanya sangat mustahil,” tanya Paman Favier.
“Itu yang ingin aku ketahui. Sepulang dari sini aku akan bertemu Arum. Aku semakin curiga saja pada ayah tiriku, entah rencana apalagi yang ada di kepalanya,” jawab Jack.
Paman Favier hanya mengangguk.
“Kalau benar ayah tiriku ingin menguasai hartaku, kenapa dia tidak membunuhku saja? Tanggung sekali dia membuat scenario ini dan itu,” tanya Jack dengan eksal.
“Kalau ada yang membunuhmu, akan sangat mencurigakan pihak kepolisian! Kau fikir kami akan diam saja kalau kau terbunuh? Yang membunuhmu pasti akan mati mengenaskan!” jawab Paman Favier.
Jack tidak bicara lagi, dia tampak masih menahan marah. Diapun duduk di sofa untuk menenangkan diri.
“Hidupku sangat tidak beruntung, ayahku meninggal, ibuku ada affair dengan ayah tiriku, aku juga masuk rumah sakit jiwa, ibuku tidak pernah tahu kalau aku sembuh,” keluh Jack.
__ADS_1
Melihat keponakannya yang berkeluh kesah, Paman Favierpun pindah duduknya di sofa samping Jack.
“Masih ada istrimu yang menyangimu kan,” ucap Paman Favier.
Jack terkejut mendengarnya, dia langsung teringat pada Ara, lalu tersenyum.
“Iya, dia sangat menyayangiku,” ucapnya, wajah merahnya bukan lagi marah tapi berubah memerah yang lain.
“Paman lihat kau berbeda sekarang,” kata Paman Favier.
“Apanya yang berbeda?” tanya Jack.
Paman Favier tidak menjawab, dia malah tertawa, membuat wajah Jack semakin merah saja.
“Dia pasti sangat cantik! Kau menikah tidak ada yang memberi kabar,” kata Paman Favier.
“Iya dia sangat cantik! Dia wanita paling cantik dari semua wanita cantik di dunia ini,” ucap Jack, sambil tersenyum, karena muncul dibayangannya wanita paling cantiknya itu berwajah pucat, rambut acak-acakan dan belum mandi.
Pamannya malah tertawa.
“Dia sangat baik, aku menyayanginya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya,” ucap Jack dengan jujur.
“Kalau begitu, cepatlah bereskan urusanmu, apa yang akan kau lakukan pada ibumu, ayah tirimu, bawa istrimu tinggal disini,” kata Paman Favier.
“Iya, aku akan melakukannya,” jawab Jack.
“Kau tidak membawa istrimu?” Tanya Paman Favier.
“Tidak, aku tidak akan bisa bekerja kalau dia ikut, dia tidak tahu kalau aku sudah sembuh,” jawab Jack.
Baru juga Jack selesai bicara, terdengar ponselnya berbunyi. Diapun meraih ponselnya dan menjawabnya.
“Tuan!” terdengar suara Pak Beni.
“Ada apa?” tanya Jack.
“Saya sedang ada diluar, saya dapat telpon dari penjaga kalau Nyonya ada dirumah,” jawab Pak Beni, tentu saja Jack terkejut, dia langsung berdiri.
“Apa? Istriku ada dirumah? Dia menyusulku?” tanya Jack, dengan terkaget-kaget, Paman Favier jadi ikut keheranan.
“Iya Tuan,” jawab Pak Beni.
“Tapi semua aman kan? Tidak ada yang mencurigakan dirumah?” tanya Jack.
“Aman Tuan. Jadi Tuan akan pulang kapan? Saya akan jemput,” jawab Pak Beni.
“Aku masih banyak pekerjaan, jemput aku sore saja,” jawab Jack.
“Baik, Tuan,” jawab Pak Beni, telponpun ditutup.
“Kenapa?” tanya Paman Favier.
“Istriku ada dirumah, dia menyusulku,”jawab Jack.
Paman Favier malah tersenyum.
“Istrimu sudah rindu rupanya jadi menyusulmu,” ucap Paman Favier.
“Dia yang selalu mengurusku,” ucap Jack sambil tersenyum.
Padahal dia sedang kesal pada ibu dan ayah tirinya, mendengar Ara datang ke Paris membuat hatinya senang, meskipun dia harus kembali berpura-pura sakit.
**************
__ADS_1