
Sepulang Ibunya Ara, Jack dan Ara masih duduk berdua diruang tamu itu. Pria itu sepertinya tidak akan pernah melepaskan pelukannya.
“Jack, apa kau tidak akan melepaskanku? Hari sudah gelap, kita harus membersihkan diri,” ucap Ara.
“Kau benar,aku harus mandi. Apa kau akan memandikanku?” jawab Jack, balik bertanya. Tangannya mengusap-usap punggungnya Ara.
“Kau kan bisa mandi sendiri, sekarang,” keluh Ara.
“Aku terbiasa kau memandikanku,” ujar Jack, membuat Ara cemberut.
“Ya baiklah, tapi kali ini saja, selanjutnya kau mandi sendiri,” kata Ara.
Jack tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dia tidak janji, besok-besok akan minta dimandikan lagi.
“Jack!” panggil Ara.
“Iya,” jawab Jack.
“Aku minta maaf atas perilaku Ibuku. Ibu tidak bermaskud membuatmu tidak nyaman, Ibuku hanya perhatian padamu tapi ya seperti itulah Ibuku,” ujar Ara.
“Aku senang Ibumu perhatian padaku. Perhatiannya sangat tulus,” ucap Jack, sambil menempelkan keningnya ke keningnya Ara.
“Apa kau akan menciumku lagi? Kau tahu, kau terus menciumku bibirku rasanya mau lepas,” keluh Ara.
Jack tertawa mendengarnya.
“Kalau aku minum jamu dari Ibumu mungkin bibirmu akan benar-benar lepas,” godanya, membuat Ara memberengut dan sebuah kecupan menempel lagi dibibirnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk ke ruangan itu. Ara segera turun dari pangkuannya Jack. Ternyata Pak Beni datang dengan membawa setumpukan berkas.
“Kita ke ruang kerja,” kata Jack pada Pak Beni, sambil bangun dari duduknya.
Kalau Jack dan Pak Beni pergi keruang kerjanya Jack, Ara pergi ke kamarnya, langsung ke kamar mandi menyiapkan keperluan mandinya Jack.
Ara menyalakan air kran memenuhi bathub. Dia berfikir apa dia memang harus memandikan Jack? Kenapa Jack minta dimandikannya segala padahal sudah sembuh? Ternyata suaminya sangat manja!
Hari ini adalah hari yang berat buat Jack, jadi Ara mengatur airnya sedikit lebih panas supaya tubuh Jack lebih segar.
Setelah semuanya siap, Arapun bergegas mencari Jack ke ruang kerjanya.
Di ruang kerjanya Jack membuka berkas-berkas yang tadi dibawa Pak Beni.
“Aku sudah bilang pada Ibuku akan menarik surat kuasa kekayaanku. Pak Beni tolong bantu proses penarikannya dan alihkan pada istriku.” kata Jack tanpa menoleh.
“Baik, Tuan!” jawab Pak Beni.
“Aku juga minta Ibuku dan keluarganya pindah dari rumah ini,” kata Jack lagi, membuat Pak Beni terkejut dan menatap Tuannya itu.
“Aku benci ibuku, mereka berselingkuh saat ayahku masih hidup. Aku tidak mau melihat mereka dirumahku,” ujar Jack.
Pak Beni tidak bicara apa-apa.
Ara melangkahkan kakinya menuju ruang kerja suaminya, dia mau melihat dulu apakah Jack masih sibuk atau tidak, air mandinya sudah siap. Terdengar dari luar percakapan diruang kerja itu.
“Bagaimaa hasil mencari tahu soal identitas istriku itu?” tanya Jack, menatap Pak Beni
Mendengar Jack mengatakan itu, membuat Ara yang akan mengetuk pintu ruang kerja itu mengurungkan niatnya.
“Sudah Tuan,” jawab Pak Beni.
“Bagaimana hasilnya? Apakah Ara bukan anak kandungnya Pak Amril?” tanya Jack.
Tentu saja Ara terkejut mendengarnya, apa maksud perkataannya Jack?
__ADS_1
“Tidak Tuan, sesuai data yang ditemukan Nyonya memang putrinya Pak Amril,” jawab Pak Beni.
“Jadi Ara benar-benar putrinya Pak Amril? Ternyata dia bukan Arum? Dia sangat mirip dengan Arum,” kata Jack.
“Dari data yang kami temukan seperti itu. Nyonya putrinya Pak Amril,” jawab Pak Beni.
Percakapan itu membuat Ara tersinggung dan marah. Dia baru tahu kalau Jack ternyata diam diam mengecek identitasnya yang dicurigai sebagai Arum. Apa-apaan Jack ini?
Apa maksud Jack melakukan itu? Apakah Jack masih terobsesi pada Arum meskipun dia sudah meninggal sekian lama? Ternyata Arum tidak bisa lepas dari hatinya Jack.
Tanpa mengetuk pintu lagi, Ara langsung membuka pintu ruang kerja itu. Tentu saja Jack dan Pak Beni terkejut melihatnya.
Ara langsung menghampiri mejanya Jack, berdiri menatap tajam pria itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Ara dengan ketus.
“Melakukan apa?” tanya Jack kebingungan, hatinya merasa keget dan takut Ara mendengar apa yang dikatakannya.
“Apa maksudmu menyuruh Pak Beni mencari tahu aku putrinya Ayahku atau bukan?” tanya Ara dengan nada tinggi.
Belum juga Jack menjawab, Ara sudah bicara lagi.
“Kau mencurigai aku adalah Arum? Atau kau memang berharap aku adalah Arum?” tanya Ara dengan marah.
“Bukan begitu sayang, aku hanya memastikan saja,” jawab Jack.
“Memastikan buat apa?” tanya Ara hampir berteriak.
Ara sangat marah dengan apa yang Jack lakukan. Dia tersinggung Jack mencurigainya bukan putri ayahnya dan malah disama-samakan dengan Arum. Dia tidak suka disama-samakan dengan Arum.
“Aku menemukan beberapa hal kalau kau mirip dengan Arum dan membuatku mengingatkannya pada Arum, jadi aku hanya memastikan saja kalau kau Arum atau bukan,” jawab Jack, mencoba menjelaskan.
Ara menatap Jack dengan tajam.
Jack merasa panic melihat Ara marah seperti itu.
“Sayang, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud begitu, aku mencintaimu,” kata Jack, bangun dari duduknya menghampiri Ara. Tangannya terulur akan meraih tangan Ara, tapi Ara bergerak mundur.
Ara menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak Jack, kau tidak mencintaiku Jack. Kau menikahiku karena kau merasa aku mirip Arum. Kau terobsesi pada Arum, kau tidak mencintaiku,” kata Ara, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
“Tidak sayang, kau salah faham,” ucap Jack, dengan bingung.
Ara tidak bicara lagi, dia langsung keluar dari ruangan itu.
Jack tertegun melihat istrinya marah dan pergi begitu saja. Dia menoleh pada Pak Beni yang terlihat terkejut juga dengan kehadiran Ara.
Ara duduk dipinggir tempat tidur, sambil menghapus airmata yang jatuh kepipinya. Dia kecewa ternyata Jack tidak benar-benar mencintainya, Jack hanya terobsesi dengan Arum. Arum lagi Arum lagi, kenapa bayang-bayang Arum itu ada dalam kehidupannya?
Dia tahu bagaimana Jack kehilangan Arum tapi bukan berarti Jack harus terus-terusan menganggap kalau dirinya mirip Arum. Sekali dua kali tidak masalah, tapi kalau sampai dengan sengaja mencari tahu dia putri ayahnya atau bukan, itu menunjukkan Jack memang berharap kalau dirinya adalah Arum, itu sangat menyakitinya.
Ara kembali terisak, menyadari kalau yang dicintai Jack bukan dirinya, tapi Arum, karena dia mirip Arum dimatanya Jack. sungguh menjengkelkan!
Terdengar suara pintu kamar dibuka, Ara langsung memiringkan tubuhnya supaya tidak melihat kearah pintu.
Jack terdiam melihat istrinya terisak dipingir tempat tidur. Diapun berjalan perlahan mendekatinya.
“Sayang, aku minta maaf! Aku salah, aku tidak bermaksud menyakitimu, tolong maafkan aku, ini hanya salah faham saja. Aku tidak bermaksud menyama-nyamakanmu dengan Arum!” kata Jack.
Ara tidak mau mendengar. Saat Jack duduk disampingnya, diapun segera pindah ke pinggir tempat tidur yang lain, dia tidak mau dekat-dekat dengan Jack.
Melihat istrinya menghindar, membuat Jack bingung, bagaimana dia harus menjelaskan semua ini, bagaimana cara supaya Ara tidak lagi marah padanya.
__ADS_1
Jack bangun dan kembali duduk dipinggir Ara. Istrinya itu bangun lagi, pindah duduknya ke sofa, tidak mau sedikitpun menoleh padanya, hanya sesekali menghapus airmatanya yang menetas di pipinya, membuat Jack benar-benar merasa bersalah.
Jack bangun lagi akan menghampiri Ara tapi terdengar Ara bicara.
“Menjauh dariku atau aku akan keluar dari kamar ini!” kata Ara dengan nada tinggi, membuat Jack menghentikan langkahnya.
“Sayang, jangan marah, aku sudah mengaku salah, tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu,” ujar Jack.
“Sudah cukup Jack, aku sudah tahu apa yang ada dalam hatimu. Yang ada dihatimu hanya Arum. Kalau aku tidak mengingatkanmu pada Arum kau juga tidak akan menikahiku,” ucap Ara.
“Tidak sayang, jangan bicara begitu!” Jack melangkahkan kakinya akan mendekat tapi Ara langsung berdiri. Akhirnya Jack diam.
“Baiklah aku tidak akan mengganggumu, tapi jangan keluar dari kamar ini. Aku mencintaimu,” kata Jack, akhirnya mengalah.
Ara kembali duduk di sofa.
“Kau tadi menyusulku karena mau mengabari air hangatnya sudah siap kan? Aku mau mandi,” ujar Jack.
“Mandi saja sendiri!” jawab Ara dengan ketus.
“Iya aku akan mandi sendiri,” ujar Jack.
Jack melihat istrinya masih marah padanya. Dia tahu istrinya berulangkali mengatakan kalau merasa cemburu karena dirinya memikirkan Arum terus. Seharusnya dia tidak bersikap membuat istrinya tersinggung.
Jackpun pergi ke kamar mandi. Ternyata istrinya sudah menyiapkan peralatan mandinya, semakin membuat hati Jack merasa bersalah saja. Istrinya menganggap dia tidak mencintainya. Bagaimana caranya untuk meyakinkannya kalau dia benar-benar mencintai istrinya?
Setelah mandi, dilihatnya Ara berbaring ditempat tidur membelakanginya. Jack akan mendekat, tapi dia teringat kalau dia dilarang untuk mendekati Ara. Diapun mengurungkan niatnya.
Setelah berganti pakaian, Jack kembali ke ruang kerjanya, ternyata disana masih ada Pak Beni.
Melihat Tuannya datang Pak Beni langsung menatapnya.
“Istriku marah, aku tidak boleh mendekatinya, apa yang harus aku lakukan?” tanya Jack, menatap Pak Beni dengan bingung.
“Aku sudah minta maaf dan menjelaskan semuanya tapi dia tetap marah,” lanjut Jack lalu duduk disofa sambil meremas rambutnya yang tadi sudah disisir rapih.
“Ternyata kalau istriku marah membuatku sangat pusing,”keluhnya lagi, lalu menoleh pada Pak Beni yang dari tadi hanya mendengarkan.
“Apa Pak Beni tahu cara supaya istriku tidak marah lagi? Aku bingung harus bagaimana? Aku sangat menyayanginya, aku merasa bersalah membuatnya sedih,” tanya Jack.
Pak Beni tampak berfikir.
“Bagaimana kalau Tuan minta maaf sambil memberi Nyonya hadiah? Biasanya wanita suka dengan hadiah,” usul Pak Beni.
“Hadiah? Hadiah apa? Tidak, dia tidak suka hadiah, beli kalung saja aku harus memikirkan harga dulu,” jawab Jack.
“Apa ada yang Nyonya inginkan?” tanya Pak Beni.
“Entahah, dia tidak pernah bilang ingin apa-apa,“ Jack tampak berfikir keras.
Pak Beni juga kebingungan kalau begini.
“Dia hanya minta kartu ucapan di bunga itu dituliskan puisi atau kata-kata mutiara,” gumam Jack, tiba-tiba ingat hal itu.
“Nah, kalau begitu buatkan puisi buat Nyonya! Tuan bisa minta maaf sambil memberi bunga yang ada puisinya!” kata Pak Beni dengan semangat.
“Apa? Maksud Pak Beni aku harus minta maaf sambil membaca puisi?” tanya Jack, terkejut.
Pak Beni mengangguk dengan ragu.
“Aku tidak bisa membuat puisi apalagi sambil membacakannya!” keluh Jack.
***********
__ADS_1