Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-166 Ny.Imelda Mengetahui Arasi Putri Kandungnya


__ADS_3

Jack tampak gelisah menemani istrinya diperiksa oleh Dokter diruangan itu.


“Bagaimana Dok?” tanya Jack, mengikuti Dokter ke mejanya.


“Saya akan memberikan obat penguat kandungan, tapi pasien harus dirawat beberapa hari, kita lihat perkembangannya beberapa hari ini,” jawab Dokter.


Jack hanya mengangguk saja. Melirik pada istrinya yang sedang dibantu perawat-perawat untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Dia sangat kesal pada Bastian yang berperilaku kasar pada istrinya. Sepertinya sudah hilang kesabarannya menghadapi anggota keluarganya yang selalu membuat masalah.


Di rumahnya Jack, proses pemakaman sedang dilakukan. Beberapa saat lagi jenazah akan di kuburkan. Tamu-tamu yang melayat sudah banyak berdatangan. Kiriman bunga ucapan berduka cita juga sudah penuh berjajar di halaman.


Bastian tampak duduk termenung dikursi sambil merasakan sakit di punggungnya.  Dia masih tampak terpukul dengan kematian ayahnya. Ny.Inez menghampirinya, duduk disampingnya.


“Kau yang sabar, mungkin memang sudah harus seperti itu takdir Ayahmu,” kata Ny.Inez.


“Pria gila itu sudah membunuh Ayahku,” ujar Bastian dengan kesal.


Ny.Inez memegang tangannya Bastian.


“Apa kau tidak bisa behenti mengatakan hal itu pada kakakmu? Kakakmu sudah banyak berbaik hati pada kita. Kalau kakakmu mau, jenazah ayahmu tidak akan diurusnya sampai ke rumah ini. Biarkan saja tubuh ayahmu membusuk atau di makan anjing mungkin di hutan, apalagi di Negara orang,” kata Ny.Inez.


“Tapi dia sudah menembaknya, aku tidak bisa terima,” ujar Bastian.


“Kalau Ayahmu tidak duluan mencelakai Jack, semua tidak akan terjadi. Jack sedang bertugas disana, Ayahmu malah menculiknya dan akan membunuhnya, apa kau tidak faham juga? Ini bukan kesalahan Jack. Dia harus membela diri, dia punya anak istri disini. Kau juga malah mencelakai Ara, dimana fikiranmu?” kata Ny.Inez.


Bastianpun diam.


“Sudahlah relakan Ayahmu pergi. Perbaikilah hidupmu,” kata Ny.Inez lagi.


“Nez! Inez!” terdengar suara seseorang berteriak-teriak ke ruang keluarga itu dengan terburu-buru.


Ny.Inez dan Bastian menoleh kearah yang datang, ternyata Ny.Imelda dan Arum.


“Aku sangat terkejut mendengar Ferdi meninggal. Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Ny.Imelda, langsung duduk disamping Ny.Inez dan memeluknya.


Ny.Inez kembali berkaca-kaca, menatap temannya itu.


“Ferdi sudah banyak melakukan kesalahan. Mungkin ini yang terbaik buatnya,” kata Ny.Inez.


“Dia sudah banyak berbuat salah padamu, tolong maafkan dia!” kata Ny.Inez.


“Tentu saja aku akan memaafkannya,” ujar Ny.Imelda.


Ny.Inez langsung menangis lagi.


“Tolong maafkan dia!” ucapnya lagi sambil memegang tangan Ny.Imelda dengan kuat dan menangis.


“Iya, sudahlah aku sudah memaafkannya,” kata Ny.Imelda, mengangguk.


“Ferdi sudah melakukan kesalahan besar padamu, aku tidak menyangka dia akan melakukan itu,” ucap Ny.Inez membuat Ny.Imelda keheranan.


“Maksudmu apa? Kesalahan besar apa?” tanya Ny.Imelda.


Ny.Inez menatap Ny.Imelda.


“Dia berbohong pada kita, sebenarnya Arum selamat, dia masih hidup,” kata Ny.Inez.

__ADS_1


Tentu saja Ny.Imelda sangat terkejut mendengarnya.


“Kau ini bicara apa?” tanyanya, tidak percaya. Yang ditanya malah menunduk dan menangis.


Bastian yang mendengarnyapun sangat terkejut. Apa sebenarnya yang ibunya katakan? Kemudian matanya menoleh pada gadis yang bersama Ny.Imelda itu. Apa gadis itu Arum yang ditemukan oleh Ayahnya?


Arum juga terkejut mendengarnya. Kenapa Ny.Inez bicara seperti itu pada ibunya, bukannya dia memang Arum putrinya Ny.Imelda? Tapi Arum hanya mematung saja dengan bingung.


“Nez, ada apa sebenarnya, Jelaskan! Kenapa kau katakan Arum selamat?” tanya Ny.Imelda.


Ny.Inez menatap Ny.Imelda.


“Sebenarnya Arum selamat, tim penyelamat pantai menemukannya setelah ditolong seorang nelayan. Tapi Ferdi berbohong pada kita, dia mengakatakan tidak ada kabar Arum ditemukan padahal Arum ada bersamanya. Semua dilakukannya karena dia ingin Jack semakin tertekan dan gila. Tujuannya seperti itu,” jawab Ny.Inez.


“Apa, apa maksudmu aku… apa ini..aku…” Ny.Imelda tampak bingung, menatap temannya itu dengan mata yang sudah berair.


“Ferdi membawa Arum ke panti asuhan. Arum di adopsi oleh Pak Amril dan Bu Amril. Arasi itu putrimu,” ucap Ny. Inez, sambil berurai airmata.


“Apa yang kau katakan itu benar?” tanya Ny.Imelda terbata.


Ny.Inez mengangguk.


“Arasi memang putrimu. Jack sudah melakukan tes DNA. Maaf aku diam diam memberikan identitasmu untuk dicocokan dengan Arasi,” jawab Ny.Inez.


Ny.Imelda tidak menjawab, dia menunduk sambil menangis.


“Kenapa suamimu begitu jahat? Apa salahku padanya? Dia tega berbuat seperti itu hanya untuk menguasai hartanya Constantine? Dia tega membuang putriku?” ujar Ny.Imelda.


“Tolong, maafkan dia, tolong,” kata Ny.Inez.


Ny.Imelda terus saja menangis.


Ny.Inez dan Ny.Imelda menoleh padanya.


“Apa maksudnya ini?” tanya Arum.


Ny.Inez manatap Arum.


“Kau bukan putrinya Imelda. Ferdi sudah membohongi kita semua, untuk menggangug Jack,” kata Ny.Inez.


Arum terkejut mendengarnya, dia terdiam dan bingng, dia juga merasa shock. Dia dikatakan putrinya ny Imelda dan sekarang ternyata bukan?


Diapun menoleh pada Ny.Imelda yang juga menatapnya.


“Kau memang bukan putriku, aku sudah tahu itu, Ferdi sendiri yang mengatakannya, dia hanya mengakait-kaitkannya dengan putriku,” kata Ny.Imelda.


Arum langsung tertunduk sedih.


“Kenapa semua jadi begini? Aku sudah senang aku mempunyai orang tua kandung,” kata Arum.


Ny.Imelda pindah duduknya mendekati  Arum lalu memegang tangannya.


“Tidak apa-apa, aku senang kau jadi putriku. Aku tidak akan mengijinkanmu pulang pada orangtua angkatmu di pantai, aku tdiak keberatan kau tinggal bersamaku,” kata Ny.Imelda.


“Aku sungguh tidak mengerti, kenapa jadi begini?” ucap Arum sambil terisak.

__ADS_1


Bastian yang mendengar semua perkataan ibunya, hanya diam membisu tdiak bisa berkata apa-apa. Sungguh dia tidak menyangka ayahnya bisa melakukan hal hal seperti itu. Mengorbankan hidup anak temannya sendiri.


Ny.Inez menoleh pada Bastian.


“Itu yang membuat Ayahmu kabur, karena Jack sudah mengetahui kejahatan Ayahmu. Kau lihat kakakmu? Kesalahan Ayahmu sangat besar pada kita semua, tapi dia masih mau mengurus jenazah Ayahmu supaya kau bisa melihat Ayahmu sebelum dikuburkan, dan kau tahu dimana Ayahmu dikuburkan, seharusnya kau berterimakaih pada kakakmu,” kata Ny. Inez dengan airmaya yang terus menetes dipipinya.


Rasaya dia tidak percaya dengan perjalanan hidpnya yang seperti ini. Dipermainkan oleh orang yang ambisius.


Bastian hanya diam tidak menjawab.


Terdengar suara langkah mendekati ruangan itu.


“Nyonya, kita akan berangkat ke pemakaman,” ternyata Pak Beni yang datang.


“Baiklah aku akan kesana,” kata Ny.Inez, lalu menoleh pada Ny.Imelda.


“Imelda, kau tidak perlu ke pemakaman, aku tidak apa-apa. Putrimu dibawa Jack ke Rumah Sait,” kata Ny.Inez, tentu saja Ny.Imelda terkejut.


“Ke Rumah Sakit? Kenapa?” tanya Ny.Imelda.


“Tadi Bastian marah pada Jack dan  mendorong Arasi sampai jatuh dan pedarahan,” jawab Ny.Inez.


Tentu saja Ny.Imelda terkejut mengdengarnya, dia langsung berdiri dan menghampiri Bastian.


“Apa yang sudah kau lakukan? Kau mencelakai putriku? Kau mau ikut ikutan dengan Ayahmu? Menjadi orang brengsek?” makinya dan langsung menampar Bastian. Bukannya menampar saja bahkan memukulnya berkali-kali.


Bastian hanya diam saja menerima pukulan dari Ny.Imelda.


“Kau rasakan itu! Tidak Ayah, tidak anak, sama saja brengsek!” maki Ny.Imelda.


“Aku minta maaf, Nyonya,” kata Bastian.


“Aku benar-benar minta maaf,” ulang Bastian.


Plak! Sebuah tamparan lagi mendarat di pipinya.


Ny.Inez terkejut melihatnya tapi dia tidak bisa apa-apa, memang Bastian bersalah, pantas kalau Ny.Imelda marah.


“Dimana Arasi dibawa?” tanya Ny.Imelda.


“Di RS terdekat, kau bisa langsung kesana,” kata Ny. Inez.


Ny.Imeldapun langsung saja keluar dari ruangan itu. Arum sangat terkejut dia ditinggalkan begitu saja.


“Ibu!” panggilnya, tapi Ny.Imelda sudah pergi.


Arumpun terdiam. Dia tahu dia bukan siapa-siapa Ny.Imelda. Diapun menunduk sedih.


“Kau ikut ke pemakaman saja bersama kami, setelah itu Bastian akan mengantarmu pulang. Tapi sebelum pulang kita ke Rumah Sakit,”  kata Ny. Inez, menoleh pada Bastian, yang langsung menatap Ibunya.


“Temani Arum. Kita ke pemakaman sekarang,” ujar Ny. Inez.


“Baiklah,” jawab Bastian.


Ny.Inez langsung bangun dari duduknya karena Pak Beni sudah muncul lagi diruangan itu. Arum menoleh pada Bastian, dia tidak tahu kalau pria itu adalah adiknya Jack, sepertinya mereka memang tidak pernah bertemu.

__ADS_1


“Ayo!” ajak Bastian pada Arum, lalu mengikuti langkah ibunya. Arum tidak bicara apa-apa lagi, dia juga mengikuti Bastian pergi ke pemakamannya Tn.Ferdi.


*****


__ADS_2