Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
Extra Chapter CH-3 We Time


__ADS_3

Beberapa bulan setelah melahirkan bayi kembar..


Mengurus anak tidak semudah yang dikatakan meskipun sudah ada babysitter masing-masing anak.


Ara sedang berada di kamar anak-anak mereka, melihat mereka tidur di keranjang bayi masing masing, kecuali Rubiena yang tidur di tempat tidur sendiri tapi masih satu kamar dengan bayi, sedangkan Galand tidur di kamar yang terpisah.


Di kamar itu ada pintu yang menghubungkan ke kamarnya babysitter masing-masing, jadi jika


anak-anak terbangun atau membutuhkan sesuatu, babysitternya bisa cepat melihat.


Ara berdiri sambil memegang ranjang bayi Aima, disebelahnya ada ranjang bayi Edgar.


Terdengar langkah kaki masuk ke kamar itu, suaranya semakin dekat dan sebuah pelukan melingkar di perut Ara.


“Mereka sudah tidur?” tanya Jack, dengan suara pelan supaya bayi-bayi tidak terbangun.


“Iya, mereka sangat lelap,” jawab Ara, mengangguk. Tanpa menoleh juga dia bisa menebak langkah kaki itu punya Jack.


“Bagus kalau begitu,” jawab Jack, sambil mencium pipi istrinya sangat lama, membuat Ara menjauhkan wajahnya karena geli.


“Aku senang melihat mereka,” ucap Ara.


Jack tidak berkomentar, ciumannya malah beralih mencium lehernya Ara.


“Kau menggangguku Jack,” kata Ara, memiringkan kepalanya, karena pria itu tidak menghentikan ciumannya.


“Mereka sudah tidur?” bisik Jack ke telinga Ara, barulah  Ara menoleh dan menatapnya.


“Iya, apa kau mengantuk?” tanya Ara.


“Bukan, bukan itu,” jawab Jack, lalu mencium hidung istrinya.


“Apa?” tanya Ara, merasakan pelukan suaminya yang erat. Dipeluk pria itu membuatnya merasa nyaman dan diberi perlindungan karena tubuhnya yang kokoh pelukannya terasa begitu kuat, tidak akan mudah lepas jika bukan Jack sendiri yang melepaskan pelukannya.


“Masa kau tidak mengerti juga? Sudah berapa lama menikah?” jawab Jack.


“Memangnya kau mau apa bertanya begitu?” tanya Ara.


Jack mencium bibir istrinya memagutnya mesra.


“Anak-anak kan sudah tidur,” ucap Jack, setelah melepas ciumannya, menatap istrinya.


“Ya aku tahu, susah tidur, kau mengatakannya terus,” kata Ara, sambil mengusap pipi suaminya.


“Itu artinya..” ucap Jack, masih menatap istrinya. Ara balas menatapnya.


“Artinya apa?” tanya Ara.


“Artinya..kenapa kau tidak mengerti juga?” jawab Jack, mulai kesal.


“Memangnya kau mau bicara apa? Aku tidak mengerti,” kata Ara, menggelengkan kepalanya, sedikit mengerutkan keningnya, menandakan dia kebingungan.


“Kenapa kau tidak mengerti juga? Anak-anak sudah tidur,” ucap Jack.


Ara mengerucutkan bibirnya.


“Kau bicara berputar-putar, aku tidak mengerti,” kata Ara.


Jack menatap tajam istrinya.


“We Time!” kata Jack.


“We Time? Ada juga Me Time!” keluh Ara.


“Kau ini lama-lama membuatku kesal,” gerutu Jack dan langsung membopong tubuh Ara, saking kagetnya Ara sampai menjerit keras.


Dan Ngeng…bayi-bayi menangis bersamaan.


“Jack! Mereka kaget!” seru Ara.


Jack langsung menurunkan istrinya buru-buru, dan mereka memburu ranjang bayi.


“Sayang, kamu kaget ya?” tanya Ara pada Aima yang terus menangis, tangan Ara menepuk nepuk kakinya.


“Tidur lagi ya sayang, tidur,” kata Ara.


Jack juga sibuk dengan Edgar kecil, dia menepuk-nepuk putranya seperti yang dilakukan Ara.


“Cup cup sayang, tidur tidur lagi,” ucap Jack.


Ara menoleh pada suaminya yang sibuk menepuk nepuk kakinya Edgar, diapun tersenyum dan menahan tawanya. Wajah suaminya sangat masam, karena keinginannya tertunda.


Edgar bukannya diam malah semakin keras menangis.


“Kenapa kau malah semakin keras menangisnya? Cup Cup ayo tidur lagi sayang, tidur, tidur,” kata Jack, lalu menoleh pada istrinya yang menertawakannya.

__ADS_1


Setelah lumayan lama menidurkan mereka, akhirnya kedua bayi itu tidur lagi.


Jack menoleh pada istrinya yang juga menatapnya. Dia langsung menghampiri Ara dan memeluknya lagi.


“Ayo kita We Time, anak-anak sudah tidur lagi,” bisik Jack.


Ara menatap suaminya yang langsung menciumnya.


“Mereka sudah tidur,” bisik Jack lagi, lalu memeluk bahu istrinya keluar dari kamar anak-anak itu.


“Untung Galand dan Rubiena tidak bangun, padahal mereka sangat berisik kalau menangis, sepertinya hanya itu yang menurun darimu,” kata Jack sambil menutup pintu.


“Apa maksdumu menurun dariku?” tanya Ara.


“Itu cara menangis mereka sangat berisik. Aku ingat dulu waktu kau kecil kalau menangis tidak berhenti-henti, sampai orang bosan mendengarnya.” jawab Jack.


“Hem, masa menangis mereka menurun dariku. Lagipula aku tidak merasa seperti itu dulu, kau pasti mengada-ngada, aku anak yang manis,” ujar Ara, cemberut.


Jack malah tertawa dan langsung menggendong tubuh istrinya. Ara melingkarkan tangannya ke leher suaminya.


“Seperinya aku tambah gemuk, iya kan?” tanya Ara, saat Jack mulai melangkah menuju kamar mereka.


“Tidak, tidak apa-apa, “ jawab Jack.


“Kau menjawab begitu berarti benar aku gemuk,” ucap Ara.


“Tidak apa-apa, yang sudah hamil dan melahirkan biasanya butuh waktu  lama untuk menurunkan berat badannya,” kata Jack.


Saat sampai di pintu kamar mereka, Jack memutar tubuhnya Ara supaya tangannya bisa membuka gagang pintu kamar mereka.


Setelah terbuka barulah dia masuk dan menutup pintu dengan kakinya, sehingga tidak betul betul rapat menutupnya.


Dibaringkannya istrinya di tempat tidur, lalu berdiri menatap tubuh terlentang diatas tempat tidur itu.


“Sayang,” ucap Jack.


“Ya!” jawab Ara, sambil menarik bantalnya untuk tidur, membuat Jack membelalakkan matanya.


“Kau mau tidur?” tanya Jack.


“Iya, bukannya ini We Time katamu, kita beristirahat, kita tidur,” jawab Ara sambil menempuk-nepuk bantalnya. Jack langsung memberengut sebal.


“Kau tidak mengerti apa pura-pura tidak mengerti? Kita sudah sibuk seharian bekerja dan mengurus anak-anak, kita butuh We Time,” ucap Jack , masih berdiri didekat tempat tidur dan bertolak pinggang menatap istrinya.


Ara segera bangun dari tidurnya, duduk ditempat tidur dan menatap suaminya.


“Tidak, besok aku ke perusahaan peninggalan Ayahku yang di Paris.Kau belum pernah ke sana kan?” kata Jack.


“Belum,” jawab Ara, menggelengkan kepalanya.


“Nanti aku mengajakmu kesana,” jawab Jack.


Arapun mengangguk.


“Kenapa kita membicarakan pekerjaan? Aku tidak mau membuang-buang  waktu We Time ku,” kata Jack.


Ara malah tertawa lagi mendengar ucpan suaminya itu, dia bukan tidak mengerti hanya lucu saja kalau melihat Jack sudah putus asa begitu.


Jack menatapnya tanpa bicara membuat Ara terdiam.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Ara, kebingungan.


“Aku tahu kau suka pura-pura tidak mengerti!” gerutu Jack dan langsung mencondongkan tubuhnya, tangannya meraih lehernya Ara dan mulai menciumi wajahnya.


Tangan Ara meraih pakaian suaminya dan membuka kancingnya satu persatu sampai terlepas dan dada pria itu terlihat didepannya. Ara tidak bisa menghindar saat suaminya mendorong tubuhnya berbaring  ketempat tidur tanpa melepaskan ciumannya.


Setelah istrinya mulai mendorong tubuhnya karena sesak dia menciumnya terlalu lama barulah Jack melepaskan ciumannya.


“Sudah berapa hari kita tidak melakukannya?” tanya Jack, tubuh polos nya berada diatas tubuh istrinya.


“Aku tidak tahu, lupa,” ucap Ara.


“Masa kau lupa bukannya suka tiap hari?” tanya Jack.


“Mungkin ada dua hari,” ucap Ara.


“Kenapa kita harus mengobrol lagi, ayo We Time,” ucap Jack bersemangat, sambil kembali mencium istrinya, tangannya kini berpindah mencari pembuka gaun istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.


“Bu! Aku mimpi buruk!” terdengar suara anak kecil dipintu itu.


Jack menghentikan gerakan tangannya yang sudah berhasil melepaskan pakaian istrinya, diapun menggulingkan tubuhnya menoleh kearah pintu.


Rubiena berdiri sambil mengucak-ngucek matanya.

__ADS_1


“Bu, aku bermimpi buruk!” ucap Rubiena.


Ara buru-buru membetulkan pakaiannya.


“Kenapa sayang? Sini!” kata Ara sambil duduk ,tangannya mengulur kearah Rubiena.


Jack terduduk ditempat tidur dengan lesu, mau melewatkan semalaman bersama istrinya saja terganggu terus.


Rubiena langsung berjalan menghampiri tempat tidur.


Jack langsung mengulurkan tangannya mengangkat tubuh kecil itu lalu menciumnya. Tadi sempat kesal karena We Time nya terngganggu, tapi melihat wajah polos putrinya hilang musnah semua keluhnya berubah rasa sayang pada putrinya.


“Kau bermimpi buruk?” tanya Jack dan Rubiena.


Rubiena mengangguk.


“Sini tidur sama Ibu,” ucap Ara, sambil kembali berbaring miring dan menepuk tangannya ke tempat tidur. Rubeina langsung berbaring disamping ibunya.


“Kau tidur lagi, jangan diingat mimpi buruknya,” ucap Ara mengusap-usap punggung putrinya.


“Mimpi buruk,” ucap Rubiena.


“Iya sayang, tidurlah lagi,” kata Ara.


“Aku mau tidur sama Ibu,” ucap Rubiena.


“Iya, tidurlah sayang,” kata Ara kembali mengusap puggung putrinya, lalu menoleh pada Jack yang menatapnya dengan lesu.


Ara menatap dada telanjang suaminya itu yang masih berkeringat, lalu tersenyum.


“Kau senang sekali melihatku tersiksa,” ucap Jack.


“Kau sendiri yang ingin anak banyak, ya begini,” kata Ara.


“Ya sudah, kita tunggu sampai Rubiena tidur, nanti aku pindahkan ke kamarnya, baru kita We Time,” ucap Jack, lalu berbaring di samping Rubiena, melipatkan kedua tangannya diatas kepalanya, memperlihatkan otot-otot bisepnya yang kekar.


Ara mengangkat tubuhnya lebih condong ke tubuhnya  Jack lalu mencium pipinya, membuat Jack menoleh padanya.


“Tunggu Rubiena tidur,” ucap Ara, menghibur suaminya.


Jack menatapnya, tangannya langsung meraih leher istrinya dan mencium bibirnya.


“Iya kita tunggu Rubiena tidur,”ucapnya.


Ara tersenyum lalu kembali berbaring disamping Rubiena, memeluk putrinya, tapi putrinya malah berbalik menghadap Jack.


“Kau ingin tidur dengan Ayah?” tanya Jack.


“Mimpi buruk,” ucap Rubiena.


“Tidak, tidak akan mimpi buruk lagi,” jawab Jack, sambil merobah posisi berbaringnya memeluk Rubiena dan mengusap punggungnya, tangan satunya memeluk kepala putrinya itu, mengusap rambut yang kemerahan itu.


Rubiena meringkukkan tubuh kecilnya kedekat ayahnya, tangannya yang kecil  melipat dekat dadanya Jack.


Jack langsung mencium pipi putrinya.


“Mimpi buruk,” ucap Rubiena.


“Tidak, Sayang. Tidak akan mimpi buruk lagi,” kata Jack.


“Tidak bisa tidur,” ucap Rubiena, membuat Jack kasihan, lalu mencium pipinya lagi.


“Bagaimana kalau Ayah bernyanyi saja?” usul Jack pada Rubiena.


”Ayah bisa bernyanyi?” tanya Rubiena, dia kebingungan karena tidak pernah melihat ayahnya bernyanyi.


Apalagi Ara yang kaget dengan perkataannya Jack itu. Jangankan bernyanyi, dia baca puisi saja seperti sedang memarahi orang.


“Bisa!” ucap Jack bersemangat, membuat Rubiena sumringah, apalagi Ara yang penasaraan Jack akan bernyanyi apa.


“Sebentar, Ayah cari dulu lagunya, lagu apa. Tapi setelah Ayah bernyanyi kau tidur yang nyenyak, ya, Sayang!” kata Jack menatap putrinya yang langsung mengangguk.


Ara tidur terlentang, sambil meruncingkan telinganya ingin mendengar Jack bernyanyi.


Terdengarlah suara nyanyian di telinganya Ara yang langsung memberlalakkan matanya, karena telinganya terasa berdengung keras mendengar nyanyian Jack, pria itu bernyanyi bahasa Perancis yang menghentak-hentak, sepertinya itu lagu prajurit yang sedang berlatih biar semangat.


Rubiena menatap wajah Ayahnya yang sedang bernyanyi itu dengan bingung.


Ara menahan tawa karena tidak mau mengganggu cara Jack yang sedang menidurkan putri mereka, bahkan dia pura-pura tidur, karena lagu itu liriknya sangat panjang.


Tapi lama kelamaan nyanyian itu mulai terputus-putus dan menghilang. Arapun membuka matanya dan menoleh kesampingnya. Ternyata Jack sudah terlelap dalam tidurnya begitu juga Rubiena. Arapun tersenyum, mengambil selimut, menyelimuti suami dan putrinya.


Ditatapnya wajah Jack yang sudah terlelap itu, diapun mengusap rambutnya lalu mencium keningnya.


“Kau Ayah yang baik, Jack,” ucapnya, lalu menoleh pada Putrinya yang meringkuk di peluk ayahnya, lalu diciumnya pipi Rubiena.

__ADS_1


“Selamat malam semuanya, mimpi yang indah,” ucapnya sambil menatap mereka berdua, lalu diapun berbaring, masuk keselimut itu, melingkarkan tangannya memeluk Jack, dengan Rubiena diantara mereka.


*****


__ADS_2