Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-50 Foto pernikahan


__ADS_3

Lagi-lagi Ara memeluk tangannya Jack mengajak kembali ke kamarnya. Ara mendudukkan suaminya dipinggir tempat tidur, lalu mengambil sebuah koper yang Jack tahu itu pasti koper milik istrinya karena dia tidak memiliki koper seperti itu.


Dilihatnya Ara membuka koper itu dan mengeluarkan sesuatu dari sana, sebuah bingkai. Jack penasaran foto apa yang di bingkai itu.


Ara duduk disamping Jack dan membalikkan bingkai yang berukuran besar itu.


Jack melirik bingkai itu yang ternyata foto pernikahannya dengan Ara. Istrinya itu melihat foto itu dengan wajahnya yang sumringah.


“Aku membawa beberapa foto pernikahan kita Jack. Ini salah satu foto yang kusuka, kau juga suka foto ini?” ucap Ara menyentuh foto itu.


“Kau sangat tampan. Aku tidak pernah menyangka kalau kau sedang sakit. Sungguh kau sudah membuat semua orang terpesona,” ucap Ara lagi, mengusap wajahnya Jack dibingkai foto.


Jackpun berfikir, jadi istrinya tidak tahu kalau dia sakit makanya mau menikah dengannya? Bagaimana sampai itu itu terjadi? Dia hanya ingin menikahinya waktu itu karena dia merindukan tatapan matanya istrinya itu yang mirip matanya Arum, selebihnya dia tida memikirkan apapun.


Tiba-tiba Ara menoleh kepadanya, Jack segera mengalihkan pandangannya lurus ke depan.


“Meskipun aku tahu kaadaanmu seperti ini tapi aku tidak akan meninggalkanmu Jack. Aku masih berharap kau bisa sembuh,” ucap Ara, menatap suaminya itu dengan tulus, lalu menoleh lagi pada bingkai yang ada di pangkuannya.


Jack tetap diam mendengarkan apapun yang istrinya katakan. Sekarang dia melihat Ara pergi menjauh darinya menuju dinding di sebrang tempat tidur.


“Bagaimana kalau fotonya dipasang sebelah sini?”tanya Ara, sambil menempelkan bingkai ke tembok lalu digeserkannya keatas, kemudian menoleh pada Jack.


“Biar setiap kita bangun tidur, kita kan melihat foto pernikahan kita,” ucap Ara, lalu menggeser-geser lagi foto itu.  Jack hanya memperhatikan saja.


Kembali dilihatnya istrinya itu menggeserkan sebuah kursi ke dekat tembok lalu naik keatas kursi itu dengan bingkai ditangannya, dicari-carinya posisi yang pas untuk bingkai fotonya.


Jack yang melihat istrinya sibuk mengatur foto itu jadi ikut-ikutan menilai. Dilihatnya posisi foto itu kurang simetris, karena dia kebetulan duduk di tempat tidur jadi dia tahu kalau bingkai itu kurang simetris kalau dilihat dari sana.


Dilihatnya lagi Ara turun dan menggeserkan kursinya lagi.


“Sepertinya aku butuh paku, nanti aku akan panggil orang kalau sudah menemukan posisi yang pas,” ucap Ara bicara pada diri sendiri.


Jack menatap istrinya yang kembali naik ke kursi memasang-masangkan bingkai itu.


“Bagaimana menurutmu Jack? Disini posisinya pas ke tempat tidur kan?” tanya Ara, kembali menggeser-geser bingkai.


Jack memperhatikan bingkai itu, benar, disitu adalah posisi yang tepat simetris dari tempat tidur tapi memang dibutuhkan orang lagi untuk memasangnya karena  bingkai itu kurang tinggi.


“Nah aku rasa pas disini, sudah bagus posisinya kan?” tanya Ara yang bicara sendiri. Jack kembali melihat bingkai.


“Bagus,” ucap Jack tiba-tiba dengan spontan, membuat Ara terkejut. Wanita itu menoleh pada Jack yang juga terkejut karena dia menjawab pertanyannya Ara.


“Bagus Jack? Aku senang kau mau bicara. Seharusnya kau sering bicara Jack,” ucap Ara sambil tersenyum. Jack kembali diam, sekilas menatap istrinya itu. Istrinya itu setiap menatapnya selalu tersenyum, dia tidak pernah mengomeli dirinya meskipun mungkin saja istrinya merasa kesal karena harus melakukan apapun tanpa dirinya.


“Baiklah nanti aku akan memanggil orang untuk memasangnya disini, hanya mungkin harus lebih tinggi sedikit,” kata Ara, lalu kembali memasang-masang bingkai itu naik turun.


 Jack melihat kaki Ara yang satunya lagi naik ke sandaran kursi, dia berusaha mengambil posisi yang lebih tinggi untuk bingkainya.


Jack melihat kaki Ara yang menggapai-gapai ujung sandaran kursi, dengan mata focus menaikkan bingkai itu.

__ADS_1


“Nah segini mungkin cukup kan Jack?” tanya Ara. Tanpa dia sadari kakinya yang menginjak ujung sandaran kursi membuat kursi itu oleng dan dia kehilangan keseimbangan.


Ara berteriak kaget saat merasakan tubuhnya akan jatuh, tapi ternyata tidak, kedua tangan kokoh sudah lebih dulu memeluknya. Ara terkejut dan tidak menyangka kalau Jack akan menyelamatkannya.


“Jack,” gumam Ara, satu tangannya memeluk bahunya Jack, dengan tubuh yang menempel di tubuhnya Jack, sedangkan satu tangan lagi memegang  bingkai foto besar itu, ternyata Jack juga memegang bingkai itu kalau tidak, tidak mungkin dia bisa menahan bingkai dengan satu tangan.


Jack juga tidak menyangka akan memeluk Ara seperti ini. Dia hanya merasa kaget saat melihat Ara akan terjatuh karena pijakan kaki disandaran kursinya oleng. DIa juga tidak bisa membiarkan foto pernikahannya jatuh kelantai dan pecah.


Pandangan merekapun bertemu. Jack menatap mata yang selalu mengingatkannya pada Arum.


“Arum,” gumam Jack.


Ara langsung memberengut saat mendengar nama itu diseut.


“Aku Ara Jack, bukan Arum. Lama-lama aku merasa tidak suka kau memanggilku terus Arum,” ucap Ara, sambil melepaskan pegangannya di bahu Jack dan mencoba menurunkan kakinya yang terangkat oleh pria itu beberapa centi dari lantai.


Jack terdiam mendengar protesnya Ara. Bagaiman dia tidak akan mengira Ara itu Arum? Mata itu benar-benar mengingatkannya pada Arum.


“Sebaiknya aku panggil orang untuk memasang fotonya,” ucap Ara lagi, sambil menyimpan bingkai foto itu di atas tempat tidur, lalu keluar dari ruangan  itu.


Jack mendengar pintu kamar dibuka lalu di tutup. Setelah memastikan Ara pergi, Jack kembali ke tempat tidur lalu meraih bingkai foto itu. Rasanya tidak percaya kalau dia benar-benar menikahi wanita itu yang sekarang menjadi istrinya.


Menikahi tanpa dia tahu pasti apakah dia mencintainya atau tidak. Tanpa dia tahu wanita itu wanita yang baik atau tidak. Tanpa dia tahu apakah wanita itu mencintainya atau hanya sekedar menginginkan hartanya?


Ara keluar kamar celingukan melihat ruamh yang besar ini dan begitu sepi. Ke kemarnya Pak Beni juga dia tidak tahu dimana. Rumah ini begitu besar dan sangat sepi.


“Orang orang itu pada tinggal dimana sih? Dibelakang juga tidak ada orang,” gumam Ara, melihat ke bagian lain rumah itu dan ternyata juga sepi.


“Ada juga satpam-satpam didepan pingu masuk, aku minta bantuan mereka saja,” gumamnya lagi lalu berbalik menuju ruangan depan yang membutuhkan waktu lama juga untuk sampai disana.


“Mr! Mr! Apa aku boleh minta tolong?” tanya Ara dalam Bahasa Inggris.


“Siap!” jawab pria itu, berdiri tegap menghadap Ara yang tampak risih karena menurutnya satpam itu terlau formil, berdiri dengan sikap sempurna.


“Bantu aku memasang bingkai foto,” ucap Ara.


“Siap!” jawab satam itu, lalu menoleh pada temannya, saling pandang tapi mereka tidak bicara apa-apa.


Merekapun  mengikuti langkah Ara, saat istri Jendralnya itu membalikkan badannya menuju lantai atas.


Saat membuka pintu kamar, Ara melihat Jack masih duduk dipinggir tempat tidur.


“Tolong pasang foto pernikahan kami di sana!” kata Ara sambil menunjuk kearah dinding.


Telunjuknya terhenti saat melihat fotonya sudah terpasang di dinding.


“Ko?” Ara kebingungan.


 Dia menoleh pada tempat tidur tidak ada bingkai foto itu, benar-berat bingkai foto itu sudah berpindah ke dinding. Ara menoleh pada Jack. Pria itu hanya diam saja dengan pandangan beralih ke jendela yang gordennya terbuka. Tidak mungkin Jack memasang foto itu!

__ADS_1


“Jack siapa yang memasang foto ini?” tanya Ara.


Tidak ada jawaban dari Jack, Arapun menoleh pada dua satpam.


“Maaf, fotonya sudah terpasang,” ucap Ara dengan bingung.


“Kalian boleh pergi!” lanjutnya.


“Siap!” jawab satpam itu dengan tegas membuat Ara terkujut dengan nadanya yang tinggi.


“Kalian bicara terlalu keras,” keluhnya.


“Siap!” jawab mereka lagi bukannya lebih pelan malah lebih keras, membuat Ara semakin bingung saja dengan sikap mereka yang kaku.


“Kalian pergi saja, terimakasih,” ucap Ara, akhirnya tidak mau berpanjang-panjang bicara dengan orang-orang kaku itu.


“Siap!” jawab mereka, membuat Ara kembali tersentak kaget. Dia merasa lega setelah pria-pria itu keluar dari kamarnya.


Ara segera naik ke tempat tidur lalu berbaring dan menatap foto itu.


“Ternyata sangat pas dilihat dari sini, jadi kalau kita bangun tidur kita bisa langsung melihat foto pernikahan kita, Jack,” ucap Ara.


Jack tidak menjawab, hanya saja dia terkejut saat tiba-tiba ada yang melingkar didadanya, kedua tangan Ara memeluk tubuhnya. Jari-jari mungil itu menyentuh dadanya, membuat jantungnya berdebaran tidak karuan.


“Ayo Jack, kau harus beristirahat,” ucap Ara, menarik tubuh Jack supaya naik ke tempat tidur.


Jack melihat lagi kearah tangan mungil yang memeluknya. Apa harus sambil memeluk begini untuk menyuruhnya tidur? Ternyata wanita itu sangat agresif! kaluhnya dalam hati tapi dia tidak bisa protes selain mengikuti apa yang Ara inginkan.


“Ayo tidur, tidur,”ucap Ara, menarik tubuh Jack naik ke tempat tidur dan membaringkannya lalu menyelimutinya.


“Lihat Jack, tepatkan fotonya? Tapi aku heran siapa yang memasangnya? Kau pasti lihat kan? Apa itu Pak Beni?” tanya Ara


Jack hanya berbaring saja, dia merasa lelah dan berusaha tidur. Sebelum memejamkan matanya dia menatap foto itu, di foto itu dia terlihat sangat mencintai wanita itu terlihat jelas dari tatapan matanya.


Tapi baru juga terpejam, Jack terkejut saat merasakaan ada yang mencium pipi kanannya.


Jack merasa shock, kedua pipinya menjadi korban ciumannya Ara! Tadi pipi kiri sekarang pi[i kanan, besok-besok bagian tubuhnya manalagi yang akan dicum Ara? Wanita itu menciumnya tanpa menunggu perintah darinya! Wanita yang genit! Keluhnya dalam hati.


“Selamat malam Jack,” ucap Ara, lalu berbaring miring menghadap Jack sambil memeluk


lengan pria itu dan menempelkan wajahnya ke bahunya Jack.


***************


Yang slow slow dulu ya..semoga tidak bosan. Pengen ngadem dulu.


Jangan lupa like dan vote nya.


**************

__ADS_1


__ADS_2