Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-152 Jack! Jack!


__ADS_3

Jack masih menodongkan senjatanya ke kepala wanita itu.


“Kau! Kau siapa?” tanya Jack, sangat terkejut melihat pemandangan didepannya.


Seorang wanita cantik berkulit putih tidak memakai sehelai benangpun duduk diatas perutnya, dengan dua lutut menekuk disampang tubuhnya. Seluruh bagian sensitive wanita itu jelas terlihat di depannya.


Wajahnya langsung memerah melihatnya.


“Maaf Jendral, aku ditugaskan untuk melayanimu malam ini,” jawab wanita itu masih dengan dua tangannya ke atas.


Melihat tubuh mulus didepannya itu, siapa laki-laki yang tidak akan tergoda? Jauh dari istrinya sekian lama dan entah kapan kembali pulang, hasrat laki-lakinya muncul, tidak bisa dipungkiri dia membutuhkan kehangatan seorang wanita untuk melepaskan hasratnya.


Melihat Jack yang terdiam, wanita itu menurunkan kedua tangannya perlahan.


“Maaf, aku mengagetkan Jendral,namaku Rebecca,” ucap wanita itu, dengan suaranya yang lembut.


Jack menatap wajah itu, wanita itu sangat cantik.


Rebecca menurunkan sedikit tubuhnya mendekati Jack, membuat dadanya terekspos bebas didepan Jack. Semakin menggoda Jack untuk menyentuhnya, hasrat laki-lakinya mulai muncul.


Kedua tangannya Rebecca mengulur mengusap dadanya Jack dengan perlahan, semakin menurunkan tubuhnya, menyentuhkan dadanya sedikit dada pria itu, lalu sedikit menjauh, seakan sengaja membuat pria dibawahnya tidak berdaya.


“Apa Jendral akan terus menodongku dengan senjata itu?” tanya Rebecca, melirik pada senjata itu dengan tubuh yang semakin direndahkan lagi, semakin jelas terlihat didepan Jack.


“Aku bukan orang jahat, aku hanya akan melayani Jendral malam ini,”ucap Rebecca lagi, suaranya sangat merdu.


Melihat pemandangan didepannya,  keringat dingin mulai menyerang Jack. Apalagi saat merasakan dada itu disentuhkan ke dadanya, ada bagian tubuhnya yang bergerak.


Tangan kanan Rebecca memegang tangannya Jack yang masih memegang senjata.


“Jangan terus memegang senjata itu, malam ini  Jendral bisa memegang yang lain,” ucap Rebecca lagi, bibirnya bergera-gerak menggoda.


Jack merasakan kulit tangan wanita itu sangat halus saat memegang tangannya.Tangan Rebecca menggerakkan tangan Jack kesamping supaya menyimpan senjatanya.


Jack akan bicara, tapi jari tangan kiri Rebecca disimpan di bibir pria tampan itu. Meskipun dia dibayar untuk melayani Jendral itu, tapi melihat Jendral setampan dan segagah itu tanpa dibayarpun dia rela melayaninya.


“Tidak perlu banyak bicara Jendral, kita lakukan saja sekarang,” ucap Rebecca, membuat Jack tidak berkutik.


Dia mencoba melawan hasratnya tapi sebagai pria normal sekian lama tidak merasakan sentuhan istrinya, hasratnya semakin timbul saja melihat tubuhnya polosnya Rebecca dan rayuannya yang menggoda.


Rebecca tidak langsung melepaskan tangan Jack, tangan kirinya meraih tangan kanan Jack, lalu kedua tangan Jack ditariknya di dekatkan ke dadanya untuk menyentuh bagian yang sedari tadi menggoda Jack, tapi Jack menarik tangannya lagi sampai terlepas.


 “Jangan membuatku kecewa, Jendral! Aku hanya ingin melayanimu,” keluh Rebecca, sambil menggerakkan tubuhnya  merangkak mendekati wajah Jack.


Diluar angin bertiup kencang, malam semakin larut. Angin dingin masuk dicelah celah tenda itu.


Sementara itu Ara tertidur di kamarnya sambil berselimut, tidurnya sangat gelisah, keringat membasahi keningnya. Tiba-tiba dia terbangun dan langsung duduk ditempat tidur, dilihatnya jam di dinding sudah dini hamper pagi, lalu matanya tertuju pada foto pengantin itu yang sengaja dia simpan di sebrang tempat tidurnya.


Tiba-tiba Ara merasakan mual yang amat sangat. Cepat-cepat dia pergi ke kamar mandi, perutnya sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkan isinya.


Tidak berapa lama Ara keluar dengan wajah yang pucat, seharian ini mual itu tidak hilang-hilang, seandainya Jack ada disampingnya, tentu suaminya itu akan menemaninya, mengusapkan minyak angin ke tubuhnya supaya tidak terlalu mual.


Ara berjalan kembali ke tempat tidur dan langkahnya terhenti didekat foto pengantin itu. Diapun membalikkan badannya menatap foto itu lalu mendekatinya. Menatap wajah suaminya. Tangannya terulur mengusap wajahnya Jack di foto itu perlahan.


“Aku merindukanmu, Jack,” ucapnya, mengusap mata, hidung, pipi, bibirnya pria itu, sungguh dia sangat merindukannya apalagi dia ingin memberitahu kalau dia sedang hamil.


Apa yang dilakukan Ara yang menyentuh wajahnya Jack dirasakan oleh Jack, tapi bukan jemari istrinya yang menyentuhnya tapi jemarinya Rebecca.


“Kau sangat tampan,” ucap Rebecca, terus menggoda Jack, tangannya mengusap lembut wajah Jack.


Merasakan sentuhan tangan itu, semakin membangkitkan gairah laki-lakinya Jack. Jack menatap bibir merah yang sexy itu, hasratnya semakin ingin menyentuhnya dan menciumnya.

__ADS_1


Rebecca menggerakkan tubuhnya sedikit keatas, membuat Jack merasakan pergerakan tubuhnya Rebecca diatas tubuhnya. Batinnya ingin menolak tapi hasrat laki-lakinya semakin tidak bisa dikendalikan, apalagi wanita cantik itu bergerak maju dan semakin mendekatkan bagian dadanya ke lehernya Jack. Membuat mata normalnya Jack mengikuti gerak dada itu.


Rebecca menunduk perlahan mendekatkan bibirnya ke bibirnya Jack, membuat Jack merasakan sentuhan dada wanita itu menempel ditubuhnya. Dia ingin menolak, tapi hembusan udara diluar sangat dingin, membuatnya membutuhkan kehangatan.


Ara masih menatap wajah suaminya, tangannya masih menempel di foto suaminya.


“Jack, aku sangat merindukanmu, cepatlah pulang, aku begitu ingin menyampaikan kalau Jendral kecilmu sudah datang, aku ingin kau tahu kalau aku hamil Jack,” ucap Ara, lalu menunduk  sedih sambil memegang perutnya, dia tidak tahu apakah saat melahirkan nanti Jack sudah ada disisinya lagi atau tidak? Kembali menatap foto itu dengan airmata menetas dipipinya.


Rebecca semakin mendekatkan bibirnya untuk mencium Jack, yang semakin merasakan tubuhnya kaku dan tidak bisa menghindar saat wanita itu semakin menempelkan tubuh telanjangnya keatas tubuhnya.


Wajah itu begitu dekat dan bibirnya yang sexy semakin menggodanya untuk menciumnya. Jack tidak bisa menolak saat bibir itu semakin dekat.


 “Siapa namamu Jendral tampan?” bisik Rebecca, hembusan nafasnya jelas tercium saking dekatnya.


“Jack, Jack Delmar,” jawab Jack pelan, semakin tergoda, hasrat laki-lakinya sudah sampai ubun-ubun, tidak bisa dikendalikan.


“Jack,” ucap Rebecca, dengan bibirnya yang semakin di dekatkan ke bibirnya Jack.


“Jack,” ulang Jack, tidak lepas menatap setiap gerakan bibirnya Rebecca.


“Jack.”


“Iya, Jack,” ucap Jack, semakin tak kuasa untuk mencium bibir itu, tapi terdengar lagi namanya disebut.


“Jack.”


“Jack.”


“Jack.”


Wanita itu terus berulang menyebut namanya, tidak henti, menyebutnya lagi, menyebutnya lagi, sampai telinga Jack terasa panas karena terus mendengar wanita itu menyebut namanya. Hasrat Jack untuk menciumnyapun terganggu dan berubah menjadi kesal.


Wanita itu sangat terkejut karena Jack membentaknya. Jack menatap wanita yang ada didepannya itu dengan terkejut. Suara itu terus memanggil namanya, bukan suara wanita itu tapi suara itu..suara istrinya.


Tersadar bukan istrinya yang ada diatas tubuhnya, Jack meraih senjata yang ada di sampingnya tadi, dan langsung ditodongkan ke kepalanya Rebecca.


 “Menjauh dariku!” bentaknya.


Rebecca terkejut senjata itu menempel di kepalanya.


“Jendral!” ucapnya dengan gugup, wajahnya langsung pucat.


“Menjauh dariku!” bentak Jack lagi.


“Jendral, aku hanya akan melayanimu,” ucap Rebecca, tidak mengerti dengan sikap Jack, diapun menjauhkan tubuhnya.


“Apa aku membuat kesalahan? Aku minta maaf, apa aku kurang sexy sampai Jendral mengusirku?” tanya Rebecca.


“Kataku pergi, pergi!” teriak Jack, dan suaranya terdengar keluar tenda.


Dua prajurit langsung berlari menuju tendanya Jack.


Wanita itu menatap Jack dengan ketakutan, karena senjata itu terus mengarah padanya.


“Turun dari tubuhku!” teriak Jack.


Rebecca cepat-cepat turun dari tubuhnya Jack.


“Cepat berpakaian dan jangan pernah muncul didepanku!” teriak Jack lagi, lalu diapun bangun dan langsung pergi keluar tenda.


“Hector!” teriaknya.

__ADS_1


Hector yang sedang berada ditendanya dengan seorang wanita terkejut mendengar namanya dipanggil-panggil.


“Hector!” teriak Jack lagi.


Hector segera bangun dan mamakai celana panjangnya, dengan terburu-buru dia keluar tenda dengan dadanya yang telanjang sambil memasang sabuk celananya.


“Siap Jendral!” kata Hector, berdiri tegak didepan Jack.


“Apa yang kau lakukan?” bentak Jack.


“Melakukan apa Jendral?” tanya Hector.


Jack tidak menjawab, dia melirik ke tenda.


Keluarlah Rebecca yang sudah berpakaian lagi. Hector melihat kearah Rebecca lalu pada Jack.


“Saya tidak tahu Jendral, mungkin itu hadiah dari induk semangnya mereka buat Jendral!” kata Hector.


Jack tidak bicara lagi, dia langsung pergi meninggalkan tendanya.


Hector hanya bisa melihat Jendralnya pergi lalu menoleh pada wanita itu.


“Kau sudah melakukan apa sampai Jendral marah?” tanya Hector.


“Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Rebecca dengan wajah pucat.


“Pergi! Jangan muncul lagi di depan Jendral!” usir Hector.


Rebeccapun segera pergi dari tempat itu.


Jack berlari kencang menuju bukit itu, seolah-olah ada yang mengejarnya. Sampailah dia dibukit dengan nafasnya yang terengah-engah. Hampir saja, hampir saja dia tergoda dan membuat kesalahan. Dia baru tersadar bukan istrinya yang ada diatas tubuhnya dan menggodanya


“Sayang, aku minta maaf, aku telah membuat kesalahan, aku sangat merindukanmu,” ucapnya, kembali menghela nafas panjang, dan terduduk ditanah itu.


“Aku hampir saja melanggar janjiku, aku minta maaf istriku. Tolong maafkan aku,” ucapnya, dia sangat menyesal hampir tergoda tadi.


Jack terdiam beberapa saat untuk menenangkan dirinya, mengontrol emosinya. Lalu menatap ke bawah bukit ke tenda-tenda itu.


“Aku tidak tahu kenapa malam ini aku begitu merindukanmu,” ucapnya.


“Tidak biasanya seperti ini,” gumamnya sambil menunduk, lalu mengangkat kepalanya menatap langit.


“Sebentar lagi aku pulang,” ucapnya, seakan langit akan menyampaikan kata-katanya.


Angin bertiup semakin kencang dan dingin, Jack hanya diam dibukit itu, menatap langit yang dihiasi cahaya bulan dan bintang. Apakah istrinya juga sedang merindukannya, berdiri di balkon kamarnya melihat ke langit, melihat bulan dan bintang yang sama dengannya? Dimanapun berada bulan dan bintang itu akan selalu ada.


Di langit muncul bayangannya wajah istrinya itu yang tersenyum padanya.


“Cepat pulang, aku menunggumu,” terngiang terus kata-kata istrinya.


“Sebentar lagi aku pulang,” gumam Jack, seakan sedang bicara dengan istrinya.


Betapa hatinya sangat merindukan istrinya. Kali ini dia merasa tidak professional bertugas. Selama ini dia tidak pernah ingin pulang karena  tidak ada yang menantinya. Tapi sekarang ada yang sedang menantinya dan merindukannya di rumahnya, membuatnya rindu pulang. Setelah tugasnya selesai, dia akan cepat pulang. Tentu saja Ara tidak akan melihat bulan dan bintang itu karena waktu yang perbedaan waktu beda negara.


Sementara itu, setelah puas melihat wajah suaminya di foto, Ara kembli naik ke tempat tidur, mengambil selimutnya dan menyelimuti dirinya, memeluk gulingnya.


“Cepat pulang Jack, aku menunggumu,” gumamnya, sambil memejamkan matanya, mencoba kembali tidur meskipun hari sudah masuk pagi hari.


**********


Readers maaf banyak typo, tadi lagi up laptopnya mati, buru buru up takut mati lagi g bisa up.

__ADS_1


__ADS_2