Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-81 Pembuktian cara Ara


__ADS_3

Ara menoleh pada pria itu yang ternyata sedang menatapnya.


“Jack, ayo!” ajak Ara, mengulurkan tangannya menarik Jack untuk masuk ke kamar mandi. Suaminya itu menurut saja saat dia menarik tangannya.


Arapun menutup kamar mandinya. Lagi-lagi jantungnya berdebar kencang. Berdua-dua dalam kamar mandi dengan pria yang kemungkinan bisa saja Jack sadar, membuatnya sangat gugup. Wajah Ara langsung saja memerah.


Ara membalikkan tubuhnya menatap Jack. Sekarang setiap menatap pria itu dia menjadi gugup dan serba salah, entah apa yang difikirkan Jack saat menatapnya.


Tangan Ara terulur melepaskan kancing-kancing kemejanya Jack. Seperti biasa Jack hanya memperhatikan istrinya itu. Sekarang Ara merasa sangat gugup setengah mati. Melucuti pakaian suaminya itu satu persatu, yang selain tampan dan kaya, dia juga seorang Jendral yang disegani, sungguh suatu mimpi yang tidak pernah terfikirkan olehnya akan dia alami.


Kemeja sudah terlepas, sekarang ikat pinggangnya Jack akan di lepaskan. Ada keraguan dihati Ara, kalau kemarin-kemarin dia sudah mulai terbiasa melihat seluruh tubuhnya Jack, meskipun tetap kalau untuk bagian privasi itu dibukanya sambil terpejam hanya untuk buang air dan kembali dipakaikannya lagi, jadi saat memandikannya dia tidak melihat langsung bagian itu. Tapi sekarang dia menyadari Jack ada kemungkinan tidak depresi, pria itu pasti memperhatikan setiap gerak geriknya.


Tangan Ara agak gemetaran saat perlahan membuka ikat pinggangnya Jack, kenapa sekarang rasanya seperti akan memperkosa pria itu? Keringat dingin muncul dikeningnya, wajahnya mendadak menjadi pucat.


Jack agak bingung melihat sikap istrinya itu. Biasanya Ara akan terus saja bicara kalau sedang memandikannya. Apakah istrinya sedang marah? Biasanya istrinya akan jadi pendiam kalau bersedih, tapi sekarang bukan bersedih, dia merasa kalau istrinya itu salah tingkah, iya salah tingkah, kenapa istrinya salah tingkah? Bukankah Ara sudah terbiasa melihat tubuhnya?


Ara perlahan melepaskan celana panjangnya Jack. Sekarang dia bisa melihat bagian itu yang masih tertutup ****** *****. Muncul dalam benaknya inilah saatnya dia mencari tahu apakah Jack depresi atau tidak.


Ara tiba-tiba batuk sambil menarik celana panjangnya Jack.


“Aku sepertinya kurang enak badan, tenggorokanku terasa gatal, uhuk uhuk uhuk!” Ara pura pura batuk sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya, lalu berdiri dengan memegang celana panjangnya Jack.


Melihat istrinya yang terus batuk-batuk, Jack merasa khawatir, tangannya akan bergerak menyentuhnya tapi ternyata Ara berjalan menjauh , menyimpan baju dan  celana panjangnya itu di tempat jemuran handuk.


Ara berdiam sejenak, jantungnya kembali berdebar kencang, hatinya gelisah, dia harus melakukan ini, dia harus berani untuk membuktikan Jack sembuh atau tidak.


Ara kembali pura-pura batuk, lalu membalikkan tubuhnya menghampiri Jack lagi.


“Ayo Jack, seperti biasa, kau harus buang air dulu, baru aku akan menggosok tubuhmu,” ucap Ara.


Jack membiarkan istrinya menarik tangannya membawanya mendekati toilet. Kini  dia berdiri di depan toilet.


“Seperti biasa aku akan bersiul, kau cepatlah buang air, tapi sepertinya tenggorokanku sangat sakit, uhuk uhuk! Aku tidak tahu apakah aku bisa bersiul atau tidak,” ucap Ara.


Jack semakin merasa kasihan istrinya batuk-batuk terus. Dia harus memanggil Dokter untuk memeriksa istrinya, dia tidak mau istrinya sakit.


Ara berjongkok didepan bagian yang privasi Jack itu dan memejamkan matanya, lalu tangannya terulur menurunkan penutupnya, dengan terus saja terbatuk-batuk. Setelah itu Ara bangun masih dalam keadaan terpejam.


“Aku akan bersiul, kau segera buang air,” ucap Ara.

__ADS_1


Perlahan Ara mundur menjauhi Jack agak jauh. Tapi kali ini dia tidak membalikkan badannya tapi berdiri menyamping dengan mata yang masih terpejam.


“Suw uuhuk..uhuk..okh..uhuk..batukku semakin parah,” keluh Ara, akan bersiul tidak jadi malah terbatuk-batuk.


“Suiw uhu uhuk..! Jack sepertinya aku tidak bisa bersiul, nanti bagaimana caranya kau buang air? Suiw..uhuk..uhuk..,” keluh Ara, kembali terbatuk-batuk.


Mendengar istrinya terus batuk ,membuat Jack semakin kasihan, sebenarnya tanpa diberi siulanpun, bagian itu bisa menegang dan buang air.


“Uhuk uhuk uhuk, bisakah kau buang air tanpa aku bersiul Jack? Tenggorokanku sangat sakit, Kau harus buang air atau nanti kau kena penyakit,” ucap Ara masih terus terbatuk-batuk.


Jack mendengar istrinya batuk parah semakin tidak tega, istrinya berusaha bersiul untuk membuat bagian privasinya tegang dan buang air. Akhirnya dia memutuskan buang air tanpa harus diberi siulan, karena kemarin-kemarin juga meskipun dengan satu siulan bagian itu bisa sendiri buang air dengan cepat.


Jackpun akhirnya memutuskan buang air sendiri. Saat terdengar suara air masuk ke tolet, Ara membuka matanya perlahan, dengan jantung yang berdebar kencang dan gugup, dia terpaksa melihat Jack buang air.


Dia melihat Jack memgang bagian itu yang menegang dan buang air. Wajah Ara langsung memerah. Dia melihat jelas bagian itu. Bagian yang selama ini dihindarinya untuk dilihatnya, mau tidak mau harus dilihatnya sekarang. Ternyata Jack bisa buang air tanpa diberi siulan!


Hilang rasa shocknya karena melihat bagian itu dengan jelas, ada rasa lain yang ada dihatinya, inilah jawabannya, Jack tidak sakit. Biasanya Jack begitu susah buang air karena dia juga tidak tahu kapan Jack ingin buang air makanya diberi siulan supaya Jack mau buang air, kemarin-kemarin hanya satu siulan sudah bisa membuat Jack buang air tapi sekarang, ternyata tanpa siulanpun bisa buang air sendiri dengan normal. Ternyata Jack tidak depresi.


Ada rasa sedih juga kesal bercampur aduk dihati Ara, Jack pura-pura depresi. Di pejamkannya matanya lagi mencoba menenangkan dirinya. Inginnya dia langsung marah pada Jack karena membohonginya dan membongkar kepura-puraannya Jack ini.Tapi…apakah itu langkah yang baik?


Mata Ara langsung berlaca-kaca saja, menyadari kalau suaminya hanyalah pura pura depresi. Entah sejak kapan Jack sembuh, dia belum tahu pasti. Sebenarnya apa alasan Jack membohonginya? Dia sangat kesal tapi dia tidak bisa marah sekarang, dia ingin tahu mau sampai kapan Jack berbohong padanya?


“Jack! Kau berhasil! Aku senang kau sudah bisa buang air sendiri!” seru Ara.


Dia segera mengambil selang shower untuk dimandikan pada Jack, dan masih dalam keadaan memejamkan mata kembali menutup bagian itu, seolah-olah dia memang tidak melihatnya tadi.


“Ayo Jack, aku akan memandikanmu,” ucap Ara, bersikap setenang mungkin supaya Jack tidak curiga kalau dia berpendapat kalau Jack tidak depresi.


Jack menurut saja masuk bathub dan dimandikan oleh istrinya.


Setiap sentuhan tangannya Ara ditubuhnya terasa mengobati rasa rindunya. Jack hanya akan menatapnya saat wanita itu bergerak kesana kemari menggosok seluruh tubuhnya. Inginnya dia menarik wanita itu masuk ke bathub dan mandi bersama, tapi ah tidak, istrinya akan kaget kalau dia melakukan itu.


Akhirnya bayangan mandi berdua itu harus dihapusnya. Terpaksa Jack harus menghilangkan keinginannya untuk bermesraan dengan istrinya, meskipun dia merasa jiwa normal laki-lakinya terpanggil untuk melakukan itu. Jack hanya bisa cukup merasakan sentuhan tangan istrinya.


“Sudah selesai, kau sudah harum sekarang,” ucap Ara.


Ara segera bangun dan akan melangkahkan kakinya untuk mengambil handuk. Tapi karena lantai yang diinjaknya basah oleh cipratan air bathub juga sabun membuat lantainya licin, Arapun terpeleset hilang keseimbangan dan Byur! Tubuh Ara jatuh masuk ke bathub.


Jack yang sedang membayangkan mandi berdua istrinya sangat kaget. Dengan spontan tangannya menangkap tubuh Ara yang jatuh menimpa tubuhnya.

__ADS_1


Jack tertegun, bayangan mandi bersama itu menjadi kenyataan. Istrinya jatuh tepat diatas tubuhnya dengan basah kuyup. Rambutnya yang basah meneteskan air ke wajahnya. Ara terlihat sangat cantik dan ****, itu sangat menggodanya.


Jack menatap wajah yang basah kuyup itu dengan tegang. Ara juga kaget, tiba-tiba terpeleset jatuh ke bathub, apalagi dengan posisi seperti ini, seakan dia sedang menggoda Jack dan ternyata pria itu menatapnya tidak berkedip.


Jantung Ara langsung saja berdebar kencang, dia juga merasakan kalau dada Jack juga berdebar kencang, kedua tangan itu memeluknya dengan erat. Ara tidak bisa berpaling dari wajah tampan yang ada didepannya.


Beberapa menit mereka hanya terdiam saling tatap merasakan debaran jantung masing-masing yang berdebar kencang.


Ara menatap wajah tampan yang begitu dekat dengannya, hembusan nafasnya Jack begitu terasa memburu. Menatap suaminya seperti ini, sedekat ini, seromantis ini, membuatnya melayang kemana-mana.


Apaka ini suaminya? Suami tercintanya yang sedang memeluknya seperti ini? Tapi siapa pria yang sedang memeluknya ini? Apakah benar suaminya? Apakah pria ini adalah suami tercintanya, Jack Delmar yang depresi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dibenak Ara.


Ara merasakan tangan Jack memeluknya semakin erat. Jack merasa hasratnya sudah tidak kuat untuk dikendalikan. Bukankah dia berhak atas wanita ini? Wanita ini adalah istrinya yang dinikahinya dengan sah, dan dia juga mencintainya!


Apakah dia benar-benar harus melanjutkan momen ini? Di bathub? Tapi semua fikiran itu tiba-tiba hilang saat Ara merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tubuhnya.


“Ap, apa ini?” gumamnya dengan wajah yang tegang, membuat Jack juga terkejut dengan sikapnya ini.


Mata Ara perlahan melirik kebawah dan sedikit menjauhkan badannya, diapun langsung menjerit kaget melihat perubahan dibagian privasinya Jack.


Ara cepat-cepat melepaskan pelukannya Jack dan keluar dari bathub. Jantungnya semakin berdebar kencang saja dan wajahnya pucat, dia sangat gugup.


“Jack, kau sudah selesai mandi,” ucap Ara terbata,  berjalan menjauh dari bathub mengambil handuknya.


Tangannya gemetaran saat kembali menghampiri Jack dan mengulurkan tangannya menarik Jack keluar dari bathub.


Jack hanya tertegun melihat istrinya yang bertingkah seperti itu, dia juga kaget dengan apa yang terjadi. Dia menyadari tidak mungkin memaksa istrinya untuk berhubungan tanpa istrinya tahu kalau dia sudah sembuh dan memang benar-benar mencintainya.


Akhirnya Jackpun pasrah saja membiarkan istrinya mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Hanya satu yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Saat istrinya melap wajahnya, Jack mendekatkan bibirnya mencium pipinya  Ara.


Mendapat ciuman dipipi membuat Ara menghentikan gerakannya. Ini bukan yang pertama kali Jack menciumnya, tapi ciuman kali ini terasa lain karena dia tahu sekarang  Jack menciumnya dalam keadaan sehat, tidak depresi.


***********


Readers, sanggupkah kalian membacanya jika aku menulis novel ini sampai 3 bulan kedepan? Tidak Thooor! Bosaaaaaan! Kelamaan!


Ada aturan baru dari MT, aku sedang memikirkannya!


Kita lihat ya, apa aku sanggup menulis banyak atau membuat season ke-2 seperti novel-novelku yang lain?

__ADS_1


*********


__ADS_2