
Ny. Inez terduduk dikursi, terus menangis, menangisi sesuatu yang telah terlanjur terjadi dan waktu tidak akan bisa diputar ulang. Dia merasa bersalah dan menyesal telah menelantarkan Jack selama ini. Dia terlalu egois dengan rasa malunya yang memilki anak yang depresi dan hal itu malah jadi dimanfaatkan oleh suami barunya, dengan membohonginya merahasiakan keadaan putranya yang sebenarnya.
“Aku sudah percaya padamu, ternyata kau membohongiku,” keluhnya diantara isaknya.
“Siapa yang mengatakan itu semua? Jack?” tanya Tn.Ferdi.
“Tidak penting Jack atau siapa, yang pasti kau sudah membohongiku! Kau sengaja menjauhkanku dari putraku,” jawab Ny. Inez.
“Tentu saja aku tidak suka anak itu ada di dalam rumah tangga kita. Masih untung anak itu tidak aku habisi!” kata Tn. Ferdi, sama sekali tidak merasa bersalah.
Ny. Inez terus menangis tidak henti-hentinya.
“Aku akan bersiap-siap berkemas, aku akan pindah dari rumah Jack sekarang juga,” kata Ny.Inez sambil menghapus airmatanya.
“Apa maksudmu pindah? Aku sudah minta padamu, ulur waktu jangan dulu pindah!” bentak Tn.Ferdi.
“Aku malu pada Jack! Bahkan aku tidak tahu dia seorang Jendral, sungguh aku ibu yang tidak bertanggung jawab,” kata Ny. Inez sambil bangun dari duduknya.
“Hei-hei, kau mau apa? Kita tidak boleh keluar dari rumah itu!” teriak Tn.Ferdi.
“Aku tidak peduli apa yang kau katakan! Aku tidak pantas tinggal disana! Aku akan keluar dari rumah itu! Rumah itu milik Jack!” kata Ny.Inez lalu keluar dari ruangan itu, tidak dihiraukannya suaminya memanggil-manggilnya.
Tn.Ferdi sangat kesal dengan kepergian istrinya itu. Kalau sudah begini semuanya semakin kacau, dia tidak bisa mengendalikan istrinya lagi.
Sore itu Ara sudah berdandan cantik, hatinya sangat senang hari ini. Masih terngiang di telinganya, Jack mengatakan mencintai Arasi Mayang, hatinya sangat lega, Jack mencintainya, bukan mencintai Arum. Siapa wanitanya yang mau dibanding-bandingkan dengan wanita lain? Sungguh tidak mengenakkan dirinya dimirip miripkan dengan orang lain.
Ara kembali mematut dirinya dicermin. Jack mengatakan dia pulang larut, tapi dia akan menunggu suaminya pulang di teras. Ara hanya merasa moodnya sedang baik hari ini.
Saat keluar dari kamarnya, dia melihat banyak orang yang hilir mudik masuk ke ruang kerjanya Ny. Inez juga ke kamarnya.
“Ada apa?” tanya Ara pada salah satu pelayan rumah yang membawa koper.
“Kami sedang mengemasi barang-barangnya Ny. Inez dan Tn.Ferdi,” jawab pelayan itu.
Arapun diam tertegun, kata Ibu mertuanya kalau dia belum mendapatkan rumah, tapi kenapa sekarang berkemas? Bilang pada Jack minta waktu sampai suaminya sembuh.
Arapun melangkahkan kakinya ke kamarnya Ny.Inez. Pintu kamar itu terbuka lebar,karena pelayan rumah masih hilir mudik keluar masuk.
Dilihatnya Ibu mertuanya sedang memilih-milih barang yang akan dibawanya.
“Nyonya!” panggil Ara.
Ibu mertuanya itu menoleh padanya.
“Kenapa berkemas sekarang?” tanya Ara.
“Asistenku sudah mendapatkan rumah,” jawab Ny Inez, sambil kembali menunduk menyimpan beberapa barang ke dalam kotak.
“Apa tidak menunggu Jack pulang? Sebentar lagi dia pulang!” tanya Ara.
“Tidak, tidak perlu. Aku harus segera menyiapkan rumah baru,” jawab Ny.Inez.
Arapun diam, ibu mertuanya terlihat sangat sedih dan pendiam. Tapi dia juga tidak tahu apa yang ada dalam fikirannya.
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Ara mengerutkan dahinya, siapa yang bertamu? Soalnya Jack bilang dia akan pulang larut.
Tanpa bicara apa-apa lagi, Ara keluar dari kamarnya Ny. Inez. Bergegas keluar rumah, penasaran dengan siapa yang datang.
Dilihatnya Jack turun dari mobilnya, membalikkan badannya akan masuk kerumah. Langkahnya terhenti saat melihat istrinya muncul dipintu menyambutnya sambil tersenyum. Istrinya terlihat sangat cantik sore ini.
“Kau sudah pulang? Katamu kau akan telat,” sambut Ara, sambil menghampiri Jack.
Jack tidak menjawab, dia hanya menatapnya saja. Ini adalah pertama kalinya pulang ke rumah disambut istrinya dan sepertinya istrinya ini sudah berusaha keras berdandan secantik mungkin. Bibirnya menggunakan lipstick yang basah, terlihat sangat sexy, apa istrinya sedang menggodanya?
“Kenapa? Ada apa? Kenapa kau diam saja?” tanya Ara, menghentikan langkahnya didepan Jack.
__ADS_1
Bukannya jawaban yang Ara dapatkan tapi tangan Jack yang langsung menarik pinggangnya dengan kuat membuat tubuhnya menempel di tubuhnya Jack. Tentu saja Ara sangat kaget dengan pergerakan yang tiba-tiba itu, diapun berteriak kaget.
“Jack!” panggilnya, sambil memeluk bahunya Jack.
Ternyata Jack tidak berhenti disitu saja. Kedua tangannya memeluk bokongnya Ara mengangkat tubuhnya Ara supaya sejajar dengannya.
“Jack!” teriak Ara, saking kagetnya, kini tangannya beralih memeluk lehernya Jack.
“Kebiasan! Kau sering mengagetkanku!” teriak Ara lagi, bibirnya langsung memberengut, wajahnya memucat, sebagian rambutnya menutupi wajahnya.
Yang dimakinya bukannya marah malah tersenyum.
“Kau sangat cantik hari ini! Apa kau sedang menggodaku?” tanya Jack, membuat wajah Ara yang pucat berubah menjadi merah, membuatnya semakin terlihat cantik di mata Jack.
“Jangan bercanda Jack, aku hanya sudah mandi saja,” jawab Ara, tersipu.
Sebelah tangan Jack menyibakkan helaian rambut dikeningnya Ara juga yang menempel di bibirnya. Tangan itu sengaja menyentuh bibir babypink mengkilat itu. Pria itu bisa menahan tubuh Ara hanya dengan sebelah tangannya.
“Apa kau sedang menyambut suamimu pulang?” tanya Jack, tangannya kembali memeluk bokong istrinya.
“Ah tidak juga, aku tahunya kau lembur, aku hanya berdandan saja, jangan kau pulang melihatku belum mandi terus,” jawab Ara sambil tertawa dengan wajahnya yang semakin merah.
“Jadi kau berdandan untukku?” tanya Jack, menatap Ara.
“Tentu saja, kau kan suamiku,” jawab Ara pelan, hampir tidak terdengar.
Mendengarnya membuat Jack merasa geli. Istrinya itu hanya untuk mengatakan dia suaminya saja begitu ragu.
Jack kembali menurunkan tubuhnya Ara. Kini kedua tangannya memegang wajahnya Ara lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
“Kau istriku,” ucapnya sambil tersenyum, menatap Ara. Kedua tangannya mengusap rambutnya Ara. Hatinya selalu merasa bahagia setiap melihat istrinya itu.
“Katakan padaku, apa saja yang kau lakukan hari ini?” tanya Jack.
“Aku membeli beberapa baju kerja untukmu,” jawab Ara.
“Kau sendiri kenapa kau pulang cepat?” tanya Ara, keheranan.
Jack menatap wajah yang ada didepannya itu.
“Aku merindukanmu!” jawabnya, membuat Ara tertawa.
“Kau mulai merayuku,” ucap Ara.
Lagi-lagi dia berteriak kaget saat tangan Jack sudah menarik pinggangnya lagi membawanya kepelukan pria itu.
“Jack!” teriak Ara. Sepertinya dia harus rajin berolah raga supaya tidak jantungan.
“Aku memang merindukanmu! Aku tidak konsentrasi bekerja jadi aku pulang cepat,” jawab Jack sambil menundukkan kepalanya mencium pipinya Ara.
Ara hanya memegang kedua lengan Jack, Ah dia masih merasa ragu-ragu untuk bermanja-manja dengan pria itu.
Jack menatapnya lagi.
“Ada apa lagi?” tanya Ara.
“Sepertinya kau sudah lama tidak menciumku,” jawab Jack.
“Apa benar begitu?” tanya Ara.
“Iya,” jawab Jack.
Jack memang benar, sejak Jack sembuh dia jarang mencium suaminya. Arapun langsung berjinjit dan mencium pipinya Jack.
“Aku sudah menciummu,” jawab Ara.
__ADS_1
Seperti yang tidak cukup hanya dengan sebuah ciuman di pipinya, Jack kembali menciumi wajahnya Ara, bagian mana saja yang tersentuh oleh bibirnya.
Sedang bermesra-mesra begitu, terdengar suara dari dalam rumah.
“Sudah semua?” tanya Ny. Inez.
“Sudah Nyonya!” jawab suara laki-laki yang keluar dair pintu rumah dengan membawa koper.
Jack dan Ara menoleh kearah pintu.
“Ibumu sedang berkemas. Akan pindah hari ini!” kata Ara, menoleh pada Jack.
“Berkemas? Bukannya katanya nanti kalau suaminya sembuh?” tanya Jack, dengan nada ketus.
“Kata Ibumu asistennya sudah mendapatkan rumah,” jawab Ara.
“Baguslah kalau begitu,” kata Jack. Lalu kakinya akan melanglah masuk ke dalam rumah tapi terhenti karena Ara memanggilnya.
“Jack!” panggil Ara, sambil memegang tangannya Jack, membuat suaminya itu menoleh padanya.
“Aku merasa ada yang disembunyikan Ibumu,” jawab Ara.
“Kau benar, memang banyak yang disembunyikannya dan aku sudah tahu itu,” jawab Jack, masih ketus. Dalam benaknya, dia tahu perselingkuhan ibunya dengan ayah tirinya dulu.
Tangan Jack menarik tangan Ara mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ara hanya bisa mengikutinya, sepertinya Jack memang sangat marah pada ibunya.
Saat masuk ke ruang tamu, Ny.Inezpun masuk keruangan itu dengan satu tas terselempang di bahunya, sepertinya sudah siap-siap akan pergi.
Ny. Inez menghentikan langkahnya saat melihat Jack masuk ke ruangan itu bersama Ara.
Jack tidak menghiraukan keberadaan Ibunya, dia terus berjalan melewati Ibunya tanpa mengatakan apa-apa.
“Jack!” panggil Ny. Inez, barulah langkah Jack terhenti, tapi sama sekali tidak menoleh.
Ny.Inez membalikkan badannya menatap punggung putranya itu. Matanya terlihat berubah meneduh. Ara hanya diam saja memperhatikan.
“Jaga dirimu baik-baik, “ kata Ny. Inez, lalu menoleh pada Ara.
“Semoga kalian bahagia,” ucap Ny.Inez .
Jack tidak menjawab, dia malah bergegas masuk kedalam meninggalkan ruangan itu.
Ara tampak bingung, sepertinya Jack memang tidak ingin bicara dengan ibunya lagi.
Ara menoleh pada Ny. Inez.
“Jaga Jack baik-baik,” ucap Ny.Inez , lalu diapun keluar dari ruangan itu.
Ara hanya bisa menatap kepergian Ibu mertuanya, dia bingung melihat situasi ini. Diapun segera melangkahkan kakinya menyusul Jack.
Saat membuka pintu kamarnya, Ara tidak melihat Jack, kemana dia? Didengarnya suara kran air di kamar mandi menyala. Apa Jack mandi? Tumben sekali Jack mandi tidak minta dimandikannya?
Jack merendam tubuhnya dalam air hangat di bathub. Bukan tubuhnya saja tapi juga kepalanya. Sampai dia merasa benar-benar sesak barulah kepalanya muncul diatas air. Setelah itu Jack kembali menurunkan kepalanya berendam dalam air berlama-lama.
Ara duduk dipinggir tempat tidur dengan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tahu hatinya Jack merindukan kasih sayang ibunya, tapi hati Jack terluka, Jack sangat kecewa pada ibunya.
Dilihatnya kamar mandi itu masih menutup. Ara merasa khawatir Jack lama-lama di kamar mandi, pasti Jack sedang bersedih. Bagaimana caranya untuk mengobati kesedihannya Jack? Bahkan Ibu dan anak itu sama sekali tidak mau bicara.
Akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka.
“Jack!” panggil Ara, langsung menghampiri Jack.
Pria itu berdiri dengan berbalut piyama handuk dengan rambutnya yang dibiarkan basah mengucur membawahi tubuhnya.
**********
__ADS_1
Readers terimakasih bagi yang sudah mampir di karyaku yang di Fc. Buat kak Gusty yang sudah ninggalin jejak, makasih ya.
*********