Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-60 Kepergian Ara


__ADS_3

Pak Amril masih menatap Jack, diapun muai bicara.


“Tuan Jack, sebelumnya saya minta maaf, saya kemari untuk membawa Ara pulang,” kata Pak Amril.


“Maaf Pak Amril, tapi kenapa?” tanya Pak Beni.


“Saya tidak mengijinkan Ara menikah dengan pria yang depresi,” jawab Pak Amril lalu menoleh pada Ny.Inez dan Tn.Ferdi.


“Nyonya, Tuan, tolong diurus perceraiannya Ara dan dengan Tn.Jack. Dan Tn. Jack, saya minta maaf saya tidak bisa mengijinkan putri saya melanjutkan pernikahan kalian, maaf,” ucap Pak Amril, lalu menarik tangannya Ara.


Jack yang melihat tangan Ara ditarik Pak Amril langsung panik, apalagi melihat pelukan tangan Ara dilengannya mengendur. Dengan spontan  Jack menarik tangannya Ara.


“Jangan!” ucap Jack.


Pak Amril menghentikan gerakannya, menatap Jack.


“Jangan!” ucap Jack lagi, dengan masih pura-pura depresi dengan pandangan yang berlaih-alih.


“Maaf Tn.Jack, putriku harus pulang!” kata Pak Amril, kembali menarik tangannya Ara hingga tangan Ara terlepas dari pegangannya ke tangan Jack.


Ara merasa bingung, dia menoleh pada Jack lalu pada ayahnya. Dia sangat menghormati ayahnya, dia tidak mau mengecewakan ayahnya, tapi dia juga tidak mau meninggalkan Jack. Bagaimana cara bicara dengan ayahnya supaya mengijinkannya tetap menemani Jack?


“Ayo pulang!” kata Pak Amril, tidak melepaskan pegangannya.


“Ayah, aku tidak bisa meninggalkan Jack,” ucap Ara.


“Kita bicarakan dirumah,” kata Pak Amril.


“Jangan!” ucap Jack, dia bingung apa yang harus dilakukannya untuk menahan Ara.


Pak Beni juga bingung karena dia juga tidak mau terlalu ikut campur urusan rumah tangga Tuannya.


“Pak Amril, apa tidak sebaiknya kita bicarakan baik-baik?” tanya Pak Beni.


Tn.Ferdi langsung menoleh pada Pak Beni.


“Bicarakan baik-baik apa? Pak Amril benar, siapa orang tuanya yang mau menikahkan putrinya dengan pria yang depresi?” kata Tn. Ferdi, lalu menoleh pada Pak Amril.


“Pak Amril, saya tidak keberatan, saya mengerti apa yang anda fikirkan, jadi kami tidak masalah kalau Ara dibawa pergi, kami akan mengurus perceraiannya secepatnya,” ucap Tn.Ferdi.


Tentu saja Ara dan Jack terkejut mendengarnya. Pak Amril menoleh pada Ara dan menarik tangannya.


“Ayo pulang!” ajak Pak Amril


“Tapi Ayah!” Ara kebingungan, apalagi tangannya dipegang oleh Pak Amril, dan terpaksa kakinya melangkah mengikuti ayahnya keluar dari ruangan itu.


Jack segera menyusulnya.


“Jangan!” seru Jack.


Ara menoleh pada Jack dengan tatapan sedih, tapi dia juga tidak bisa berbuat kasar pada ayahnya yang memegang tangannya dengan kuat.

__ADS_1


“Aku pulang dulu Jack, aku pasti kembali,” ucap Ara, mengikuti kaki ayahnya menuju mobil ayahnya.


Jack terus mengikutinya keluar rumah sampai ke mobil ayahnya Ara.


“Masuk!” Pak Amril membukakan pintu mobil.


Arapun masuk ke dalam mobil itu dan menoleh kearah jendela, menatap Jack yang menghampirinya dan menyentuh pintu mobilnya.


Pak Amril menyusul masuk, duduk dibelakang kemudi dan menyalakan mesinnya.


“Jack,” gumam Ara, sambil membuka kaca mobil, mengulurkan tangannya menyentuh tangannya Jack yang memegang kaca mobil yang terbuka.


Jack merasa bingung, hatinya merasa tidak rela istrinya dibawa pergi meskipun itu oleh ayahnya. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya?


“Sayang!” ucap Jack, tiba-tiba tercetus begitu saja dari bibirnya, menatap istrinya itu, membuat Ara terkejut.


Ucapan itu terdengar begitu manis ditelinganya Ara. Jack memanggilnya ‘sayang’.


“Jack,” gumamnya.


Perlahan mobil melaju dan Ara perlahan melepaskan tangannya Jack.


Jack kini terdiam dalam bingung, melihat tangannya yang terlepas dari tangannya Ara. Mobil itu semakin jauh meninggalkan rumah itu.


“Ara, sayang!” gumam Jack lagi, menatap mobil yang kini menghilang keluar gerbang rumahnya.


Ny. Inez menyusul keluar rumah dan mendekati Jack.


“Sudahlah Jack, biarkan Ara dibawa ayahnya,” kata Ny.Inez.


Tn.Ferdi juga menghampiri Jack.


“Kau juga tidak perlu bersedih, masih banyak gadis lain yang mau menikah denganmu!” kata Tn.Ferdi.


Jack masih tidak bicara, apa benar begitu? Apakah gadis lain bisa dengan mudahnya menggantikan istrinya? Apa yang harus dilakukannya untuk membuat istrinya kembali?


“Tentu saja nanti ibu carikan gadis lain, yang lebih cantik dari Ara, kau jangan khawatir,” ucap Ny. Inez menyentuh tangannya Jack.


Ny. Inez dan Tn.Ferdi tentu saja merasa senang, benalu dirumah mereka sudah pergi. Tidak ada lagi yang menghalang-halangi mereka lagi untuk menguasai hartanya Jack.


“Tidak, tidak,” gumam Jack, menggelengkan kepalanya.


“Kalau kau tidak mau dikenalkan dengan gadis lain, aku rasa ada satu gadis yang tidak akan bisa kau tolak,” ucap Tn. Ferdi membuat Ny.Inez menoleh pada Tn. Ferdi juga Pak Beni.


“Maskudmu siapa?” tanya Ny. Inez.


"Seseorang yang sangat berarti buat Jack," jawab Tn Ferdi.


"Maksudmu siapa?" tanya Ny. Inez lagi penasaran.


“Arum!” jawab Tn.Ferdi membuat Ny.Inez terkejut juga Pak Beni dan tentu saja Jack.

__ADS_1


Arum? Apa maksud ayah tirinya dengan Arum? Seketika tubuhnya Jack merasa bergetar dan seperti merasakan serangan jantung saat nama itu disebut oleh Tn. Ferdi. Dia diam mematung dan menunduk.


Arum? Apa maksudnya Arum? Batinnya.


“Sayang, apa maksudmu dengan Arum?” tanya Ny.Inez.


“Kita akan membawa Arum untuk menemui Jack,” jawab Tn.Ferdi.


“Aku tidak mengerti maksudmu! Apa kau tahu Arum masih hidup?” tanya Ny. Inez.


“Nanti kita cari waktu untuk mempertemukannya dengan Jack,” ucap Tn.Ferdi.


Sudah tidak bisa dibayangkan betapa gelisahnya hati Jack dengan perkataannya Tn.Ferdi ini. Apa maksudnya dengan mempertemukannya dengan Arum? Apa Arum masih hidup? Apa selama ini Tn.Ferdi tahu kalau Arum masih hidup? Apa ayah tirinya merahasiakan keberadaan  Arum selama ini dan membiarkannya gila?


Pak Beni sangat terkejut, dia bisa merasakan bagaimana perasaan Tuannya. Dia menatap Tn. Ferdi yang menatap Jack sambil tersenyum. Ada permainan apa lagi yang dilakukan oleh ayah tiri Tuannya itu? Apa benar Arum masih hidup?


“Jadi Arum masih hidup?” tanya Ny.Inez.


Tn.Ferdi tidak menjawab, dia hanya tersenyum lalu masuk kedalam rumah diikuti Ny.Inez yang penuh tanda tanya.


Pak Beni langsung menghampiri Jack.


“Tuan, apa maksud Tn.Ferdi tentang Arum?” tanya Pak Beni berbisik setelah memastikan Tuan Ferdi dan Nyonya Inez itu masuk.


“Arum, apa Arum masih hidup?” Jack balik bertanya.


Dia merasakan tubuhnya kembali gemetaran dan dia berkeringat dingin, begitu gelisah dan gugup.


“Apa sebenarnya Arum itu sudah ditemukan tapi dirahasiakan keberadaannya oleh Tuan Ferdi?” tanya Pak Beni.


“Aku.. aku tidak tahu, apa benar Arum masih hidup?” gumam Jack kebingungan.


“Tuan, sebaiknya Tuan jangan dulu memikirkan masalah itu. Bisa saja Tn.Ferdi akan menyuruh seseorang untuk berpura -pura menjadi Arum supaya Tuan mau menikah dengan Arum palsu itu dan bisa mengambil semua harta Tuan lewat wanita itu!” Kata Pak Beni.


Jack tidak terlalu mendengarkan perkataannya Pak Beni, dia masih memikirkan perkataanya Tn.Ferdi. Dia bertanya-tanya, apa benar Arum masih hidup? Dimana dia?


Pak Beni menatap Jack.


“Tuan, yang harus Tuan lakukan sekarang adalah Tuan harus bisa membawa Nyonya Ara kembali pulang!” kata Pak Beni, membuat Jack tersadar dan menoleh pada Pak Beni.


“Ara!” ucap Jack.


“Benar, kita lupakan Arum! Karena belum tentu juga Arum masih hidup, pasti Tn.Ferdi merencanakan sesuatu,” ucap Pak Beni.


Jack menghela nafas panjang mencoba menenangkan dirinya, benar kata Pak Beni dia tidak boleh terpengaruh oleh ayah tirinya.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Jack.


“Bawa Nyonya kembali!” jawab Pak Beni.


“Baiklah, aku akan menyusulnya! Siapkan mobil!” kata Jack.

__ADS_1


Pak Beni langsung mengangguk dan segera masuk kedalam rumah untuk menyiapkan mobil buat Jack menyusul Ara ke rumahnya.


***********


__ADS_2