
Ara mengurung dirinya di kamar, dia sangat kecewa pada Jack. Kenapa Jack sampai harus menyelidiki dia putri ayahnya atau bukan, benar-benar membuatnya kesal!
Katanya Jack mencintainya, tapi kenapa harus menyamakan dirinya dengan Arum? Memangnya semirip apa dia dengan Arum? Sudah jelas-jelas dia putri dari orangtuanya. Ayah ibunya sangat menyayanginya, Jack sangat keterlaluan!
Diruang kerjanya Jack bukannya mengurus kerjaannya, dia sedang mencari-cari puisi untuk istrinya.
“Pak Beni tolong bantu aku carikan puisi yang cocok untuk istriku,” kata Jack.
Pak Beni tampak terkejut, kenapa dia juga harus mencarikan puisi?
“Saya juga tidak mengerti soal puisi. Sebentar saya minta bantuan orang saja untuk memberikan rekomendasi puisi yang bagus,” kata Pak Beni.
“Ya terserah kau saja, pokoknya aku minta contoh puisinya,” ujar Jack.
“Temanya apa Tuan?” tanya Pak Beni.
“Puisi ada temanya?” Jack tampak bingung.
Pak Beni mengangguk.
Jack merenung beberapa saat.
“Temanya kalau aku mencintainya,” jawab Jack.
“Baiklah, Tuan,” kata Pak Beni, langsung menghubungi seseorang lewat ponselnya.
Malam semakin larut, Jack masih sibuk diruang kerjanya. Puisi sebanyak itu tidak ada yang sesuai dengan hatinya, dia bingung. Dia sudah memesan bunga tapi kartu ucapannya belum siap dengan puisinya.
“Sudahlah yang ini saja,” ucap Jack, akhirnya memilih satu puisi yang menurutnya agak lumayan sesuai dengan hatinya. Agak lumayan bukan berarti sesuai dengan hatinya, tapi daripada tidak ada sama sekali.
Lewat tengah malam barulah dia meninggalkan ruang kerjanya karena sudah mengantuk.
Saat membuka pintu kamarnya, Ara berbaring dengan menyelimuti dirinya dari kaki sampai kepala. Jack hanya bisa menatapnya, dia tidak bisa mendekatinya atau istrinya akan pergi dari kamar itu.
Ara yang semalaman ini merasa sedih dan kecewa, tidak bisa memejamkan matanya, dia menangis terus dibalik selimutnya sampai matanya bengkak. Dia tahu Jack masuk ke kamar, tapi dia sama sekali tidak berniat untuk membuka selimutnya.
Didengarnya ada pergerakan disampingnya. Jack naik ke tempat tidur, menatap selimut yang menggulung itu. Lalu pandangannya beralih pada meja yang ada botol jamu dari mertuanya. Seharusnya dia minum jamu itu malam ini, tapi malah bertengkar dengan istrinya.
Dia tidak mungkin memaksa istrinya, itu akan mempersulit hubungan mereka. Jackpun akhirnya berbaring, sesekali melirik tubuh yang berselimut itu, Inginnya dia berbaring memeluk tubuh itu. Tapi daripada istrinya tambah marah, lebih baik dia bersabar saja.
Malam semakin larut, kalau dishoot dari atas, dua insan berbaring berjauhan. Tidak ada yang bicara, meskipun mereka sebenarnya belum benar-benar terlelap.
Kadang hati Jack tidak kuasa untuk menyentuh istrinya, tangannya terulur, menyentuh ujung selimut lalu ditarik lagi. Dia sangat menyesal sudah meminta Pak Beni menyelidiki identitasnya Ara, kalau hasilnya istrinya akan marah begini.
Tentu saja Ara pasti akan marah, diragukan sebagai putri kandung orangtuanya. Jack juga tidak mengerti kenapa dimatanya Ara memiliki banyak kesamaan dengan Arum. Mungkin benar kata Ara, kalau dia terobsesi pada Arum. Rasa bersalahnya seakan mengharapkan Arum itu masih hidup padahal takdir berkata lain.
*****
Keesokan harinya…
Ara membuka matanya suasananya gelap, tentu saja gelap, karena dia tidur dengan menyelimuti dirinya. Perlahan Ara menarik selimut bagian wajahnya. Hari sudah siang, sudah bisa ditebak dia selalu bangun kesiangan. Dirasakannya tidak ada pergerakan dibelakangnya, artinya Jack sudah bangun.
Arapun membalikkan tubuhnya sambil membuka selimutnya, dia langsung berteriak kaget saat mendapati Jack duduk dikursi didekat tempat tidur, duduk menatapnya dengan memegang buket bunga ditangannya.
“Jack! Kau mengagetkanku!” teriak Ara.
“Kau sudah bangun?” tanya Jack.
Arapun bangun sambil membuka seluruh selimutnya, dia duduk menatap Jack, wajahnya masih ditekuk. Dilihatnya pria itu sudah mandi dan berpakaian rapih. Seharusnya dia mengurus suaminya pagi-pagi, tapi dia sedang marah sekarang.
“Kau tidak marah lagi kan?” tanya Jack.
Ara tidak menjawab, memalingkan muka melihat jendela yang terbuka. Dia masih kesal pada Jack.
“Ini bunga untukmu,” ujar Jack, memberikan bunga itu kepada Ara. Tapi Ara tidak menerimanya, dia hanya diam saja.
“Kau masih marah?” tanya Jack, melihat bunganya tidak diterima Ara.
“Aku sudah membuatkan puisi dikartunya, kau lihat saja,” kata Jack.
Ara menoleh pada Jack.
“Aku marah padamu! Aku tidak mau menerima bunga darimu lagi,” kata Ara.
Jackpun diam, dia merasa bingung, bagaimana lagi cara membuat Ara tidak marah.
__ADS_1
“Katakan padaku bagaimana caranya supaya kau tidak marah lagi padaku? Semalamam aku tidak bisa tidur, aku memikirkanmu, aku merasa bersalah sudah menyakitimu,” kata Jack.
Ara menunduk mendengar perkataannya Jack.
“Aku tidak tahu hadiah apa yang bisa membuatmu memaafkanku. Aku hanya sudah menuliskan puisi saja, kau mau dengar?” kata Jack, lalu diapun bangun dari dudunya, berdiri sambil membuka kartu dibunga itu.
“Kau dengar ya, aku akan membacakannya,” kata Jack, membuat Ara menengadah menatap pria itu. Apa Jack akan membaca puisi?
Jack balas menatap Ara. Ara kembali memalingkan mukanya tidak peduli.
“Ehm! Hem!” Jack berdehem, membuat Ara melirik pria itu dengan sudut matanya. Pria itu tampak berkeringat.
“Teruntuk istriku!” Jack mulai membaca kartu itu dengan suaranya yang tegas, membuat Ara memicingkan matanya, suara itu terdengar tidak enak didengar, seperti sedang membentak orang.
“Ehm!” Jack berdehem lagi.
Ara kembali melirik dengan sudut matanya. Pria itu tampak bersikeras akan membaca puisi untuknya.
“Kala sinar mentari pagi menyinari bumi!” ucap Jack, masih dengan nadanya yang tegas membuat Ara meringis, cara membaca puisi Jack terdengar seperti sedang berpidato.
“Kala embun-embun menempel di dedaunan yang hijau,” lanjut Jack.
Ara melirik lagi pada pria itu, kenapa banyak kalanya?
“Indahnya sinar mentari pagi, sejuknya dedaunan hijau yang sedap di pandang mata,” lanjut Jack.
Lama-lama Ara merasa geli, pria itu benar-benar membaca puisi yang entah darimana mendapatka kata-kata itu. Tapi dia tidak akan tertawa, dia masih marah pada Jack.
Terdengar lagi suara Jack membaca puisinya.
“Tapi dikala senyummu menghilang dari pandanganku, semua keindahan itu tidak ada artinya bagiku,” ucap Jack.
Mendengar kata-kata itu Ara mulai mendengarnya dengan serius.
“Sinar mentari terasa gelap, keindahan bumi seakan sirna, jika aku tidak bisa melihat senyummu,” lanjut Jack.
Ara masih diam mendengarkan.
“Senyummu adalah sumber kebahagiaanku,” ucap Jack. Dia berhenti sejenak.
Ara terdiam mendengar itu semua.
“Senyummu adalah segala-galanya bagiku! Senyummu adalah hidupku, senyummu adalah semangatku! Tetaplah tersenyum padaku, supaya aku bisa merasakan hangatnya sinar mentari dan indahnya bumi,” lanjut Jack.
Kini suaranya mulai pelan.
“Aku mencintaimu, istriku,” kata Jack, mengakhiri puisnya.
Ara masih diam menunduk, meskipun Jack sudah selesai membaca puisinya.
“Puisinya sudah selesai, bukankah itu bagus?” tanya Jack.
Ara tidak menjawab.
“Aku harap kau mau memaafkanku. Aku tidak pernah sedikitpun berniat menyakitimu,” kata Jack.
Ara masih tidak menjawab, dia hanya menunduk saja.
Jack berjalan mendekat, lalu duduk disampingnya Ara.
“Kau mau kan memaafkanku?” tanya Jack sambil memberikan bunga itu kepangkuannya Ara.
Ara menatap bunga itu, bunga itu sangat indah, dia memang suka bunga pemberian Jack.
“Aku benar-benar mencintaimu, Arasi Mayang,” ucap Jack.
Ara tertegun mendengar kata-kata Jack. Sepertinya ini pertama kalinya Jack menyebut namanya dengan lengkap. Ada haru dihatinya. Ara baru mengangkat wajahnya menatap Jack.
“Aku tidak mencintai Arum. Aku mencintai Arasi Mayang,” lanjut Jack, menatap Ara.
“Kau mau kan memaafkanku? Aku sudah membaca puisi untukmu,” kata Jack lagi.
Ara melihat bunga dipangkuannya yang masih dipegang oleh Jack. Pria itu sudah susah payah membuatkan puisi, bukan cuma itu, dia juga mau membacakannya meskipun seperti orang yang sedang marah-marah.
Dengan perlahan tangan Ara terulur mengambil bunga ditangan Jack. Melihatnya membuat Jack merasa senang bukan main. Diapun tersenyum.
__ADS_1
Ara menoleh pada Jack dan menatapnya.
“Aku hanya ingin kau mencintaiku, benar-benar mencintaiku, bukan Arum,” ucap Ara sambil menggelengkan kepalanya.
“Iya aku mencintaimu, bukan karena kau mirip Arum, aku benar-benar mencintaimu. Apa aku harus membelah dadaku supaya kau tahu isi hatiku?” tanya Jack, menyentuh dadanya.
“Kau norak Jack, sudah tidak jaman kata-kata itu,” ucap Ara, memberengut.
Jackpun tersenyum melihat reaksi istrinya.
“Kau mau kan memaafkanku?” tanya Jack.
Ara kembali menoleh dan menatap Jack.
“Aku memaafkanmu,” jawab Ara, mengangguk. Membuat Jack merasa senang.
“Aku senang mendengarnya, mau kah kau tersenyum?” kata Jack.
“Apa?” tanya Ara kebingungan.
“Dari malam aku tidak melihat senyummu, aku mau melihatmu tersenyum padaku,” jawab Jack.
Mendengar perkataannya Jack, Arapun tersenyum, membuat Jack merasa bahagia. Kebahagiaannya sangat sederhana, melihat istrinya tersenyum padanya. Puisi itu benar, baginya senyum istrinya adalah pemandangan terindah di muka bumi ini.
Tangan Jack menyentuh kepalanya Ara dan mencium keningnya.
“Aku mencintaimu,” ucapnya, lalu menarik bahu Ara supaya bersandar ke bahunya.
“Aku tersiksa kalau kau marah padaku,” kata Jack, sambil membelai rambut Ara.
Ara membiarkan Jack memeluknya, tangan kirinya mengusap bunga ditangannya lalu membuka kartu ucapan yang ada di bunga itu dan dibacanya. Diapun langsung terbelalak kaget dan kembali duduk tegak, membaca lagi tulisan di kartu itu.
“Jack!” serunya sambil menatap Jack.
“Apa?” tanya Jack.
“Ini.. katamu ada puisinya, kok tidak ada?” tanya Ara, lalu membacanya.
“Untuk istriku, keep your smile, aku mencintaimu, suamimu,” ucap Ara, lalu menatap Jack.
“Tadi puisimu panjang sekali, kenapa dikartu Cuma keep your smile?” tanya Ara, bingung.
“Ya intinya kan itu,” kata Jack.
“Hemm, kau membohongiku,” keluh Ara.
“Tidak, aku hanya meringkasnya saja, kartunya kecil tidak cukup menulis yang panjang,” ucap Jack.
Ara menatap Jack.
“Isi puisinya ada di kepalaku, puisi itu kata isi hatiku,” lanjut Jack, membalas menatap istrinya.
“Jack,” gumam Ara, merasa terharu. Matanya langsung saja berkaca-kaca, dia merasa bersalah sudah meragukan cintanya Jack.
“Maaf aku meragukan cintamu,” ucap Ara.
Jack tidak menjawab, kedua tangannya meraih wajahnya Ara dan langsung menciuminya. Keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya tidak luput dari ciumannya Jack.
“Jack, aku belum mandi!” teriak Ara, dia bingung kenapa Jack suka menciumnya padahal dia belum mandi?
Jack tidak peduli istrinya belum mandi. Dia bahagia istrinya tidak marah lagi padanya.
**********
Readers, bagi yang masih menggunakan aplikasi MT/NT versi lama, segera upgrad ke versi baru ya, biar track dukungannya terecord.
Bagi pembaca novelku yang gantung, Mystery Merried with Rich Man, nanti aku ada pengumuman.
***********
__ADS_1