
Beberapa minggu kemudian …
Tidak perlu menyewa gedung atau mencari gedung yang lebih luas. Cukup di rumah saja, ya cukup dirumah saja.
Jack mengadakan resepsi pernikahannya di Paris, tepatnya di rumahnya. Area taman yang luas cukup membuat acara untuk outdoor bahkan sekaligus indoor, ruangan dirumahnya juga sangat luas tidak kalah dengan hotel berbintang, ruang utama dijadikan tempat pesta yang megah.
Tapi karena cuaca sangat cerah, acara resepsi diadakan ditaman saja. Bunga-bunga menghiasi setiap sudut taman itu. Bahkan air mancur juga semakin indah dengan hiasan bunga disekelilingnya yang warna-warni.
Ara berdiri diteras melihat kearah tamu-tamu yang hadir yang sedang menyantap makanan mereka, dia juga mewajibkan tamu undangannya untuk membawa anak-anak mereka. Karena taman ini lebih cocok untuk pasangan yang sudah mempunyai anak atau sudah berkeluarga.
Tapi tentu saja dengan penjagaan dari para prajurit yang begitu ketat, tidak semua tamu bisa masuk apalagi tanpa undangan.
Tamu-tamu juga banyak yang sedang berdansa ceria sangat meriah. Benar-benar acara yang sangat menyenangkan, penuh kegembiraan. Semua keluarga Ara dan Jack juga hadir, mereka bersenda gurau sambil mengasuh Galand.
Tampak juga anak-anak kecil dan remaja yang menggunakan gaun putih mereka. Anak-anak itu adalah anak-anak dari panti asuhan tempat Ara dulu pernah singgah.
Jack membawa mereka semua untuk datang ke rumahnya. Mereka terlihat sangat senang bermain-main disekitar airmancur yang besar itu.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya ke pinggangnya Ara juga menempelkan pipinya ke pipi Ara.
“Kenapa pengantinku ada disini?” tanya Jack, dia juga melihat ke arah tempat pesta yang begitu banyak dipenuhi orang-orang.
“Aku senang melihat anak-anak yang berlarian penuh kebahagiaan,” jawab Ara.
Jack menatap wajah istrinya yang ada di samping wajahnya, dia menempelkan hidungnya ke pipi Ara.
“Aku juga senang. Kehilangan kabahagiaan dimasa kecil sangat tidak menyenangkan,”ucap Jack.
“Kau benar,” ucap Ara lalu menoleh pada Jack yang langsung mencium bibirnya.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara langkah-langkah kaki dibelakang mereka membuat Ara dan Jack menoleh, ternyata Bastian dan Arum dengan perutnya yang terlihat membulat.
“Kau kenapa?” tanya Ara pada Arum yang sedang disuapi buah-buahan dari piringnya Bastian.
“Istriku ngidam disuapi sambil berkeliling rumah, rumah ini kan besar sekali, aku tidak mau dia capek,” kata Bastian.
“Kau ini bagaimana? Bilang saja kau yang tidak mau, ini permintaan bayi!“ kata Arum dengan kesal, lalu berjalan lebih dulu menuruni tangga teras.
“Sayang tunggu! Aduuuh! Kanapa dia jadi suka marah-marah sejak hamil, aku bingung! Apa orang hamil seperti itu?” keluh Bastian, lalu mengikuti langkahnya Arum sambil terus memanggil-manggilnya.
Jack langsung menoleh pada Ara.
“Aku tidak pernah melakukan itu,” ucap Jack.
“Melakukan apa?” tanya Ara, balas menatap suaminya.
“Itu menyuapimu sambil berkeliling rumah,” jawab Jack.
“Memang kenapa?” tanya Ara.
“Arum kan seperti itu,” jawab Jack.
“Itu kan permintaannya Arum, memangnya semua orang hamil seperti itu? Tidak, aku tidak seperti itu,” kata Ara.
“Seperti itu!” jawab Jack.
“Tidak Jack, orang hamil ngidamnya beda-beda,” jawab Ara.
“Terus kau maunya apa?” tanya Jack.
“Aku tidak ingin apa-apa, lagi pula aku tidak sedang hamil, kenapa kau bertanya seperti itu?” jawab Ara.
“Kau ini, kenapa tidak mengerti juga, aku akan bahagia kalau seperti Bastian begitu, menyuapimu sambil berkeliling rumah,” kata Jack.
Ara menatap suaminya dan memicingkan matanya.
“Apa kau sakit? Cara berifikirmu sangat aneh,” kata Ara.
“Kenapa kau tidak mengidam juga! Aku ingin Galand punya adik!” teriak Jack dengan keras membuat semua tamu menoleh pada mereka.
Jack langsung menutup mulutnya. Wajah Ara memerah. Para tamupun menertawakan ucapannya Jack.
“Kau bikin malu,” ucap Ara, menatap suaminya.
“Aku ingin rumahku ramai,” jawab Jack, balas menatap Ara lagi.
“Aku ingin menebus kesalahanku kemarin,” lanjutnya.
__ADS_1
“Kesalahan apa?” tanya Ara.
“Aku tidak ada saat awal kau hamil Galand,” jawab Jack.
Arapun tersenyum.
“Tidak apa-apa, semua sudah berlalu, aku sudah bahagia sekarang,” kata Ara.
“Kau benar, akan ada waktunya,” jawab Jack.
“Waktunya apa?” tanya Ara.
“Cepatlah kau hamil lagi, aku akan melakukan apa saja saat kau mengidam,” jawab Jack.
“Kau serius?” tanya Ara.
“Ya, aku ingin selalu ada di hari-hari beratmu,” jawab Jack.
Ara tersenyum lagi menatap suaminya.
“Iya, kalau Galand sudah besar, kita program punya anak lagi,” kata Ara.
“Ah tidak, tidak, kenapa menunggu Galand besar dulu? Kelamaan!” keluh Jack, memberengut.
Tiba-tiba ada seorang prajurit menghampiri mereka.
“Lapor Jendral!” kata prajurit itu.
“Ada apa?” tanya Jack.
“Ada tamu tidak membawa undangan, Jendral! Memaksa ingin bertemu! Dia ada di penjagaan pintu masuk,” jawab prajurit itu.
“Siapa? Ayo kita kesana!” kata Jack.
“Aku ikut,” ujar Ara.
Jack mengulurkan tangannya memegang tangan istrinya.
Merekapun menaiki sebuah mobil tanpa jendela, yang digunakan transportasi para tamu disekitar rumahnya Jack, karena ke halaman Parkir lumayan jauh.
Sampailah mereka pada sosok wanita yang sedang berdiri menatapa tanaman-tanaman hias di dekat pintu masuk.
“Halo!” sapa Jack!” menghampiri wanita itu.
Mendengar ada yang menyapanya, wanita itu membalikkan tubuhnya dan membuat Jack dan Ara sedikit terkejut melihatnya.
“Rebecca?” tanya Ara, dia merasa tidak mengundang wanita itu yang ke resepsinya.
Ada yang berbeda dengan Rebecca hari ini, meskipun dia tetap terlihat cantik, tapi gaun yang di gunakannya tidak menyolok seperti biasanya dan tidak terlalu terbuka, dia terlihat sangat cantik dan anggun.
“Maaf aku tidak bermaksud mengganggu kalian, karena aku juga tidak akan lama,” kata Rebecca, menoleh pada Jack, lalu menoleh pada Ara.
Ara tidak suka cara Rebecca menatap suaminya, tapi ya mau bagaimana lagi kalau suaminya itu tampan dia tidak bisa menyalahkan wanita manapun yang menyukai ketampanan suaminya. Yang penting wanita itu tahu kalau Jack sudah berkeluarga jadi mereka tidak berhak mengganggunya.
Rebecca memberikan sebuah kartu pada Ara yang segera menerimanya.
“Itu undangan pernikahanku di London, kalau kalian ada waktu datanglah ke London,” kata Rebecca.
Ara terkejut mendengarnya, dia segera membuka kartu itu dan membacanya, begitu juga dengan Jack.
“Secepat itu kau menikah?” tanya Ara.
“Iya, sepulang dari resto waktu itu aku bertemu dengan seorang pria berasal dari London, dia sedang berlibur di Paris. Kamipun berkenalan, setelah sekian minggu mengenalnya, dia mengajakku ke London tapi aku menolaknya. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Tn.Igansius tapi aku juga sudah tidak mau dijadikan simpanan pria lainnya. Tapi dia memaksaku, aku tidak tahu kalau ternyata dia mengajakku ke London untuk menikak dan menatap disana,” jawab Rebecca.
Ara menatap Rebecca, serasa tidak percaya mendengarnya, begitu cepat Rebecca mendapatkan jodohnya.
“Setelah aku berfikir, akhirnya aku mau menerimanya. Dia memang tidak terlalu kaya, tapi dia berniat baik padaku dan mengajakku menikah saja aku sudah sangat senang,” kata Rebecca.
Ara terdiam mendengarnya, rasanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Aku merasa senang akhirnya ada pria yang tulus mencintaiku dan mengajakku menikah,” lanjut Rebecca, tersenyum senang.
Ara menatap wanita ini, dia bisa membayangkan dibalik kecantikan dan keglamorannya, pastilah wanita itu merasakan suatu kesulitan yang orang lain tidak tahu, mungkin saja dia juga mengalami penderitaan selama menjalani pekerjaannya menghibur pria-pria hidung belang.
“Aku senang akhirnya kau akan menikah,” ucap Ara.
“Ya, semoga acaranya berjalan lancar,” kata Jack, yang sedari tadi diam mendengarkan.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seorang pria yang bergegas menghampiri mereka.
“Sayang! Katamu sebentar tapi kenapa kau lama sekali, kita harus segera ke bandara!” kata pria itu, yang langsung menatap Jack dan Ara.
Rebecca tersenyum pada pria itu.
“Ini temanku, Jendral Jack Delmar dan istrinya,” kata Rebecca.
Pria bertubuh tinggi dan lumayan tampan itu, kulitnya putih dan hidungnya mancung. Pria itu langsung bersalaman dengan Jack dan Ara.
“Apa anda Jendal Jack Delmar?” tanya pria itu.
“Iya,” jawab Jack.
“Senang sekali bertemu dengan anda Jendral Kau tahu, semua orang di Paris ini sangat mengenal anda, kalau anda orang tidak pernah menyelamatkan korban sandera pembajakan di sebuah pesawat,” kata pria itu, lalu melangkahkan kakinya semakin mendekati Jack.
“Kejadiannya sudah lama tapi menjadi saat yang tidak mudah dilupakan. Senang rasanya akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda,” lanjut pria itu, bersemangat.
Jack hanya tersenyum saja. Tapi kemudian dia terkejut saat pria itu semakin mendekatinya sambil mengeluarkan ponselnya.
“Jendral, bolehkah kita berfoto?” tanya pria itu.
Tanpa mendapat jawaban dari Jack, pria itu langsung memeluk Jack dan mendekatkan kepalanya menempel pada kepala Jack lalu mengambil foto mereka berdua.
“Aku sangat senang hari ini bertemu dengan sosok fenomenal!” ujarnya.
Pria itu bertemu Jack serasa bertemu dengan idolanya, pake selfi segala. Ara hanya tersenyum kecut, seharusnya tamu berfoto dengan pengantin pria dan wanita, bukan dengan pria saja.
Rebecca menoleh pada pria itu.
“Sayang bukannya kita harus ke bandara?”tanya Rebecca, mengingatkan.
Pria itu melepaskan pelukannya dibahu Jack dan mengakhiri selfinya.
“Hampir saja aku lupa! Saking senangnya bertemu dengan Jendral ini! Nanti aku jelaskan padamu sayang, bagaimana kisah heroic Jendral ini,” jawab pria itu.
Rebbecca menoleh pada Jack dan Ara.
“Selamat atas pernikahan kalian, kami pergi dulu, kalau kalian ada waktu datanglah ke pesta pernikahan kami di London,” kata Rebecca.
“Benar Jendral, jangan tidak datang, kau akan menjadi tamu istimewaku disana!” seru pria itu, bersemangat.
Jack hanya mengangguk dan tersenyum. Akhirnya Rebecca dan calon suaminya itu meninggalan rumahnya Jack, pria itu sepanjang jalan terdengar begitu antusias menceritakan kepopuleran Jack dulu karena menyelamatkan korban sandera di sebuah pesawat.
Ara menoleh pada Jack.
“Kenapa?” tanya Jack.
“Bukankah ini hari pernikahan kita? Resepsi pernikahan kita?” tanya Ara.
“Iya, memang kenapa?” tanya Jack, keheranan.
“Kenapa pria itu hanya berfoto denganmu saja, seharusnya denganku juga! Kau bukan seorang aktorkan, sampai penggemarmu mengabaikan keberadaanku? Apa pria itu menyukaimu?” jawaban Ara, entah sebuah jawaban atau pertanyaan, dia juga bingung.
Jack melongo saja mendengarnya.
“Kau ini bicara apa? Masa pria itu menyukaiku?” keluh Jack.
“Ternyata bukan wanita saja yang harus ku waspadai akan merayumu, tenyata ada pria juga yang jadi penggemarmu!” keluh Ara.
“Sayang! Hei, kau ini sangat aneh! Sayang!” Panggil Jack melangkahan kakinya menyusul Ara..
Dan tiba-tiba Ara berteriak kaget saat tangan pria itu meraih pinggangnya memeluknya.
“Ini pesta pernikahan kita, jangan cemburuan nanti cepat beruban! Apa lagi cemburu pada pria itu ih,” ucap Jack sambil bergidik. Dia teringat tadi begitu dekat dengan pria itu.
Melihat cara Jack bergidik membuat Ara tertawa.
Jack langsung menciumnya dan memeluknya dengan erat.
“Ternyata kalian ada disini? Lupa kalau sudah punya anak? Galand dari tadi menangis, ingin menyusu, sudah dikasih susu formula tidak mau,” terdengar suara seorang wanita yang sudah turun dari kendaraan pengantar tamu itu.
“Mana bayinya?” tanya Ara pada wanita itu.
“Bersama Ibumu, eh maksudku ya begitulah! Ayo!” jawab Bu Amril, menghentikan langkahnya tidak jadi menghampiri lebih dekat, lalu beranjak lagi kembali naik ke mobil kecil terbuka itu.
Ara menoleh pada Jack. Pria itu hanya tersenyum.
__ADS_1
“Ayo sayang, kasihan bayi kita, kehausan,” ajak Jack yang langsung menarik tangan Ara supaya segera naik ke kendaraan itu dimana Bu Amril sudah duluan naik menunggu mereka.
*********