
Jack merasa bingung, bagaimana cara meyakinkan Pak Amril supaya mengijinkan Ara untuk pulang bersamanya?
Pak Beni menatapnya.
“Tuan, sebaiknya kita pulang saja, kita fikirkan dirumah, malam semakin larut, kita juga membuat macet jalanan,” ucap Pak Beni.
“Aku tidak mau pulang tanpa membawa istriku,” ucap Jack.
“Apa Tuan akan mengatakan kalau Tuan sudah sembuh supaya Pak Amril tidak cemas?” tanya Pak Beni.
“Semua akan berantakan kalau banyak yang tahu soal kesembuhanku,” jawab Jack.
“Jadi bagaimana, Tuan?” tanya Pak Beni.
Jack melihat jalanan yang masih macet di depannya. Mobil mewahnya benar-benar menghabiskan jalan.
“Kau pulang saja, aku akan menunggu Istriku disini,” ucap Jack.
“Apa? Tuan mau menunggu di luar?” tanya Pak Beni.
“Mau bagaimana lagi? Aku tidak mau pulang kalau istriku tidak pulang,” jawab Jack.
Entah rasa cinta atau apa, tapi memang Ara adalah satu-satunya teman hidupnya, tidak ada lagi. Ibunya sibuk dengan urusan keluarganya dan tidak memperdulikannya, hanya Ara yang selalu menemaninya, menerimanya dalam kondisi apapun.
“Tapi Tuan,” Pak Beni merasa khawatir pada Tuannya.
“Kau pulang saja, aku tidak akan akan pulang sebelum mertuaku mengijinkan Ara pulang bersamaku,” jawab Jack.
“Tapi Tuan..”
“Sudah, pulang saja!” ucap Jack.
“Baiklah Tuan,” jawab Pak Beni, dengan berat hati beranjak meninggalkan Jack sendirian di teras rumahnya Ara.
Tidak berapa lama mobil mewah itu meluncur meninggalkan jalanan yang sempit itu, sebenarnya tidak sempit juga hanya mobil dengan ukuran tidak umum itu membuat jalanan macet.
Setelah Pak Beni pergi, Jack membalikkan badannya menatap pintu rumah mertuanya itu. Tangannya terulur akan mengetuk pintu tapi dia tidak mau mengganggau mertuanya, apalagi pasti mertuanya akan istirahat. Bagaimana dengan istrinya? Apa yang sedang Ara lakukan sekarang?
Istrinya itu hanya ada beberapa meter darinya tapi rasanya begitu jauh. Biasanya istrinya selalu memeluk tangannya. Sekarang terasa pegangan tangan itu begitu dirindukannya. Bagaimana kalau Ara tidak lagi memeluk tangannya?
“Istriku, aku tidak mau kehilanganmu,” gumamnya dengan putus asa.
Akhirnya Jack duduk di kursi yang ada di teras. Melihat ke sekeliling rumah itu. Dia mengeluh, kenapa istrinya tinggal dirumah yang sumpek begini. Kanan kiri penuh dengan rumah-rumah, sangat pengap.
Jack kembali melihat kepintu, tidak ada tanda-tanda orang yang keluar dari rumah itu.
Dilihatnya ke atas langit, bulan dan bintang tampak terang tapi tidak seterang hatinya, hatinya sedang mendung. Diapun duduk dikursi itu sendirian, merasakan angin yang berhembus semakin dingin.
Jack tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Ara tidak lagi bersamanya, hidupnya akan terasa semakin sepi saja. Jack melipat kedua tangannya merasakan dinginnya angin yang bertiup malam itu.
Malam semakin larut, Ara masih berada dalam kamarnya, dia teru saja gelisah, dia terus berfikir cara untuk meluluhkan hati Ayahnya tapi bagaimana caranya?
Sebenarnya apa yang dikatakan Ayahnya benar, hanya saja, dia sudah terlanjur menyayangi Jack, kalau dia meninggalkan Jack siapa yang akan mempehatikannya? Walaupun Jack memiliki wanita lain, belum tentu wanita itu akan memperdulikannya paling juga tidak beda jauh dengan keluarganya Jack hanya menginginkan hartanya Jack.
__ADS_1
Karena tidak bisa tidur, Arapun bangun dan turun dari tempat tidurnya, lalu keluar dari kamarnya. Dia merasa haus dan akan mengambil minum di dapur. Setelah mengambil minum, Ara melihat lampu ruang tamu belum dimatikan.
Diapun berjalan keruang tamu lalu mematikan lampunya. Setelah lampunya mati, Ara bermaksud akan kembali ke kamarnya tapi langkahnya terhenti saat melihat di jendela kaca ada bayangan yang sedang duduk diteras membelakangi jendela, membuatnya terkejut.
Dengan perlahan kaki Ara mengendap- endap mendekati jendela. Saat sudah dekat dia sangat terkejut melihat suaminya yang sedang duduk itu sambil memeluk kedua sikunya karena kedinginan.
“Jack!” gumam Ara, diapun langsung menyimpan gelas ditangannya ke atas meja dan segera membuka pintu rumahnya.
Mendengar suara yang membukakan pintu, Jack yang sedang merasakan dinginnya angin malam segera menoleh.
“Jack!” panggil Ara, segera menghampiri.
Jack langsung merasa lega saat melihat istrinya menghampirinya. Diapun menurunkan kakinya dan berdiri menatap Ara.
“Jack, apa yang kau lakukan disini?” tanya Ara, tangannya langsung menyentuh tangannya Jack.
Jack melihat tangan Ara menyentuh tangannya, merasakan rasa bahagia yang amat sangat, betapa sentuhan istrinya pada tubuhnya itu sudah ibaratkan candu, dia selalu ingin merasakan setiap sentuhan istrinya.
Tangannya Jack balas menyentuh jemarinya Ara.
“Tanganmu sangat dingin, ayo masuklah!” ucap Ara, kembali menoleh ke dalam, orang tuanya pasti sudah tidur.
Meskipun Ayahnya menyuruh meninggalkan Jack tapi dia tidak bisa membiarkan Jack tinggal diluar.
“Ayo!” ajak Ara, menarik tangan Jack masuk ke rumah, lalu menutup pintunya dan menguncinya.
Jack melihat ke sekeliling isi rumah itu yang remang-remang karena lampunya Ara matikan.Dia ingat dia pernah masuk ke rumah ini tapi dia juga tidak terlalu ingat.
Ara menatap Jack.
“Tidak,” jawab Jack, dia fikir tidak ada salahnya dia bicara sedikit-sedikit pada istrinya.
“Ayah sudah tidur, kau pulang juga sudah larut, kau tidur disini saja,” ucap Ara, merasakan jarinya di genggam tangan suaminya. Dia menengadah menatap Jack lalu tersenyum dan menarik tangan Jack menuju kamarnya.
Saat pintu kamar dibuka, Jack langsung menghentikan kakinya, dia terpaku melihat isi kamar itu.
“Kenapa?” tanya Ara, keheranan.
Jack tidak menjawab. Ara menutup pintu kamarnya.
“Jangan bandingkan kamarku dengan kamarmu. Kamarmu bermeter-meter lebih luas dari kamarku, tapi apa enaknya kamar luas tapi hatimu merasa sepi?” ucap Ara, lalu meraih tangan Jack supaya duduk diatas tempat tidurnya.
Tangan Jack menyentuh kasurnya Ara. Dia merasa kasurnya kurang nyaman juga. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mau istrinya tidur dikasur yang keras.
“Kau kenapa lagi? Segini kasurnya sudah cukup empuk, daripada kau tidur dikursi di luar sana,” kata Ara, menebak apa yang Jack fikirkan.
Jack memiringkan tubuhnya melihat tempat tidur itu. Kenapa tempat tidurnya juga kecil sekali? Kamar sempit, tempat tidur kecil, di kamar itu hanya ada lemari pakaian dan meja rias juga meja kerja.
“Jack apa kau sudah minum obat saat kesini?” tanay Ara. Dia ingat tadi dia pergi saat jam makan malam.
“Obat,” gumam Jack.
“Sudah? Aku merasa tenang kalau kau sudah minum obat, aku ingin kau sehat terus,” ucap Ara.
__ADS_1
Ara naik ke tempat tidur merapihkannya dan menata bantal-bantal. Jack hanya memperhatikannya, dia senang bisa menatap istrinya lagi.
“Ayo tidurlah,” ucap Ara.
“Istirhatlah, besok aku akan bicara lagi pada Ayah,” lanjut Ara, duduk menghadap Jack.
“Pulang,” ucap Jack.
“Kau ingin aku ikut pulang denganmu?” tanya Ara.
“Pulang,” lanjut Jack.
Sebenarnya begitu banyak kata yang ingin dia ucapkan buat istrinya, tapi dia menahannya untuk tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan.
Jack tahu tanpa dia mengatakan sembuhpun dia sudah yakin Ara tidak akan meninggalkannya. Istrinya itu terlihat sangat menyayanginya, tentu saja dia tidak akan melepaskan istrinya.
“Aku juga tidak ingin meninggalkanmu Jack, aku terlanjur menyayangimu apapun keadaanmu, aku tidak akan tega membiarkan kau sendirian dirumah sana dengan tidak ada keluargamu yang memperdulikanmu kecuali Pak Beni,” ucap Ara, tangannya menyentuh pipinya Jack.
“Aku tidak tahu kalau Pak Beni tidak ada, entah bagaimana hidupmu,” lanjut Ara.
Jack tidak menjawab, dia juga akan merasa kehilangan kalau Ara meninggalkannya.
“Sudahlah, kita istirahat, besok aku akan bicara lagi pada Ayah, supaya membiarkanku bersamamu,” ucap Ara, kini tangannya memeluk pinggangnya Jack.
Jack mencium rambut wanita itu yang tergerai dan menyentuh wajahnya saat mendekat memeluk pinggangnya lalu menariknya keatas tempat tidur.
“Tubuhmu sangat berat,” keluh Ara, membaringkan Jack ke tempat tidur.
Jack merasakan kasur dan bantal itu tidak seempuk yang ada dirumahnya, dia menggerak-gerakan tubuhnya.
“Kau kenapa? Segini sudah empuk Jack,” ucap Ara.
Yang Jack fikirkan bukan dirinya, justru dia memikirkan Ara yang tidur dengan kasur dan bantal yang keras menurutnya.
“Rumah,” ucap Jack tiba-tiba.
“Rumah? Kau menanyakan rumah?” tanya Ara menatap suaminya yang sedang berbaring menatapnya.
Jack tidak menjawab.
“Rumah pemberianmu masih ada, tapi orang tuaku belum kefikiran untuk menempatinya, karena ini rumah peninggalan kakek dan Nenekku yang diwariskan pada Ayah, banyak kenangan di rumah ini, jadi Ayah berat meninggalkannya, meskipun tidak semewah rumah yang kau berikan itu,” ujar Ara.
Lagipula rumah ini sudah lebih dari cukup tidak terlalu besar yang penting penghuninya bahagia, daripada rumah yang mewah tapi hati kita tidak bahagia tinggal disana,” lanjut Ara.
Jack tertegun mendengarnya, apa yang dikatakan Ara benar. Rumahnya berbanding jauh dengan rumah Ara ini yang bagi kalangan umum masih termasuk bagus tapi bagi Jack yang hidup berkemewahan, rumah ini hanya sebesar kolam renangnya saja.
Dia tinggal di rumah mewah tapi hatinya merasa kosong dan sepi, tidak ada yang menyayanginya. Sedangkan disini meskipun kamarnya sempit dan kasur yang menurutnya tidak empuk tapi ada istri yang menyayanginya, hatinya merasa bahagia.
Ara merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, berbaring di samping Jack, bahunya menempel ke bahunya Jack. Sekarang Jack merasakan kalau tempat tidurnya memang kurang besar, hanya cukup tidur berdua saja itupun tidak ada ruang yang kosong.
Jack menoleh ke pinggirnya, dia bergerak sedikit saja pasti akan jatuh ke lantai, begitu juga dengan Ara. Kenapa tempat tidur ini sangat kecil? Jack terus mengeluh dalam hati. Tapi saat menoleh ke sebelahnya, istrinya berbaring sambil melebarkan selimut menutupi tubuh mereka, membuatnya berfikir, apakah ini jauh lebih baik? Daripada tidur di tempat tidur besar dengan kasur dan bantal super empuk tapi tidak ada istri disisinya?
*************
__ADS_1
Masih yang slow dulu ya..bahas konfliknya nanti. Akunya ngantuk, tidur jam setengah tiga dini hari.
************