
Ara duduk dipinggir tempat tidur, memikirkan Jack yang menurutnya terasa semakin aneh saja. Dilihatnya sekeliling kamar yang berantakan karena di obrak abriknya demi mencari tempat Jack menyembunyikan obat yang tidak diminumnya, tapi tidak ditemuan.
Sepertinya memang benar Jack suka nakal tidak minum obatnya jadi tidak sembuh-sembuh, entah dimana Jack membuangnya atau memang Cuma satu kali saja obat yang dibuangnya ini? Seharusnya dia menemani Jack berobat ke paris jadi dia bisa bicara dengan Dokternya soal masalah ini.
Arapun menelpon Dokter Mia.
“Dokter, sepertinya Jack sudah nakal,” ucapnya.
“Kenapa Nyonya?” tanya Dokter Mia.
“Ada obat Jack yang ditemukan di saku celananya, jadi bukan satu butir saja yang kurang tapi memang dia menyimpannya disaku celananya, sepertinya Jack suka main-main dengan obatnya. Apa mungkin dia bosan jadi tidak mau minum obat? Atau dia lagi mogok minum obat?” tanya Ara.
“Apa ada perubahan dari perilaku Tuan Delmar?” tanya Dokter Mia.
“Tidak sih, dia masih begitu-begitu saja, jarang bicara. Malah menurutku masih mending waktu awal-awal bertemu dengannya, dia kadang-kadang bisa aktif tidak sependiam sekarang,” jawab Ara.
Dalam benak Ara terlintas bagaimana lancarnya proses pernikahannya dengan Jack, kadang Jack juga berperilaku normal, dia bisa mengatakan cinta padanya, mengingat itu membuatnya Rindu pada Jack. Tapi pria itu malah lebih pendiam sekarang, jarang sekali bicara, sejak ke Paris sikapnya jadi begitu.
Dokter Mia tampak berfikir keras, mendapat laporan dari Ara.
“Lebih diam?” tanya Dokter Mia.
“Iya Dokter, aku merasa justru Jack itu lebih diam sekarang,”jawab Ara.
“Seperti ada yang aneh,” kata Dokter Mia.
“Aneh kenapa Dok?” tanya Ara.
“Seharusnya tanpa obat, Tuan Delmar itu akan tidak stabil dibandingkan kalau meminum obat,” jawab Dokter Mia.
“Dia masih minum obat seperti biasa. Makanya aku bingung kenapa ada obat disaku celananya Jack? Dia pasti sengaja melakukannya kan?” kata Ara.
Ingatannya melayang pada saat di ruang makan sebelum Jack pergi ke Paris, dia memberikan obat pada Jack seperti biasa dan sepertinya Jack juga meminumnya. Aah sungguh membingungkan!
“Nyonya ingat kira-kira kapan Tuan Delmar tidak minum obat yang disaku celananya itu?” Tanya Dokter Mia.
__ADS_1
“Pelayan rumah mengambil pakaian kotor setelah hari pertunangan Bastian dan Kinan, beberapa hari yang lalu,” jawab Ara.
Kepalanya terus teringat pada malam pertunangan itu, malam itu Jack mengajaknya berdansa, padahal sepulang acara dia menemukan obat yang tercecer disofa itu.
Apa ini? Jack stabil meski obatnya kurang dan ternyata malah ditemukan juga butiran lain di celananya. Jadi malam itu Jack benar-benar tidak minum obat?
Kepalanya Ara langsung saja pusing, dadanya berdebar kencang, apa Jack sembuh? Tapi besoknya kan dia minum obat lagi dan sekarang tidak ditemukan obat-obatan lainnya yang dibuang oleh Jack, berarti Jack kembali minum obat.
“Kalau tanpa obat Tuan masih stabil itu artinya Tuan sudah berangsur pulih,” kata Dokter Mia.
“Apa benar begitu?” tanya Ara.
“Iya, berarti itu perkembangan yang bagus,” jawab Dokter Mia.
“Tapi setelah itu Jack masih minum obat Dok. Obat yang tidak diminumnya hanya ditemukan kali ini saja, yang lainnya tidak, aku yakin Jack meminumnya karena biasanya aku yang memberikannya,” ucap Ara.
“Saya harus memeriksa Tuan kalau begitu. Kalau Tuan pernah stabil tanpa obat berarti kesehatan Tuan sudah membaik, mungkin saya akan mengurangi dosisnya,” kata Dokter Mia.
“Jack sekarang sedang berobat ke Paris, kata Pak Beni ada janji dengan Dokter disana,” ucap Ara.
“Bagus kalau begitu, Nyonya tidak perlu khawatir, semoga Tuan Delmar lebih baik,” jawab Dokter Mia.
Akhirnya pembicaraanpun selesai, meskipun masih menyisakan tanda tanya buat Ara. Dokter Mia keheranan karena tanpa obat Jack masih bisa stabil. Mungkinkah memang kesehatan Jack sudah berangsur pulih?
Ara menghela nafas pendek, dia masih memikirkan Jack, ternyata pria itu mengajaknya berdansa tanpa meminum obat.
Bahagianya kalau ternyata Jack memang sudah sembuh dan mengajaknya berdansa apalagi kalau dia kembali mengatakan cinta padanya, ternyata setelah Jack sembuh dia tetap mencintainya, semoga saja begitu. Tapi kan Jack minum obat lagi, berarti dia masih sakit. Semakin bingung saja!
Ara kembali teringat Jack yang di Paris. Sehari berpisah dengan pria itu sudah tidak terurus, sudah siang masih berselimut dan tidur memakai sepatu. Bagaimana sih Pak Beni? Jangan-jangan Jack memang sakit karena tidak teratur minum obat dan Pak Beni berbohong kalau di Paris cuaca sedang dingin. Kasihan sekali Jack, seharusnya dia memang ikut kesana!
Kini pandangan Ara tertuju kearah pintu ruangan yang tertutup itu, pintu museum mininya Jack. Diapun berjalan kepintu itu dan diambilnya kunci di laci dan dibukanya, pintu itu kosong!
Semua mainan Jack tidak ada yang tersisa, hanya satu box yang ada dietalase itu. Ara menghampiri etalase itu, lalu dibukanya, diambilnya Jenderal 9 nyawanya yang ada di box itu yang masih utuh, yang diberikannya saat mereka menikah.
Arapun tersenyum, itu miniatur kesayangannya Jack. Disimpannya lagi miniatur itu. Ara jadi teringat kalau Jack sudah tidak memainkan miniature itu, ke Paris juga tidak membawanya. Apa Jack memang sudah berangsur pulih? Sepertinya dia harus menyusul Jack ke Paris, harus bicara dengan Dokter Atlantes soal perubahannya Jack.
__ADS_1
Ara kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, matanya terhenti pada sebuah bingkai foto. Dia tidak memperhatikan kalau di museum mini ini ada bingkai foto besar.
Ara mendekati bingkai itu. Itu adalah fotonya Jack kecil duduk disamping ayahnya yang sedang duduk menumpangkan sebelah kakinya. Ara beralih melihat ayahnya Jack, mertua yang tidak pernah ditemuinya.
Ayahnya Jack itu sangat mirip dengan Jack. Suaminya mendapatkan ketampanannya menurun dari ayah mertuanya. Ara memperhatikan ayahnya Jack itu yang menggunakan pakaian perwira tinggi di Perancis dengan banyak atribut dipakaiannya.
Setelah puas melihat foto ayah dan anak itu, Ara melangkahkan kakinya hendak keluar. Tapi baru juga beberapa langkah dia teringat sesuatu dan mundur lagi, menatap foto itu.
Ada yang menarik di foto itu. Dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Foto itu, foto ayahnya Jack itu yang menggunakan pakaian militernya, bukan Pakaiannya yang menarik Ara, tapi sepatu. Posisi duduk ayahnya Jack yang menopang kaki itu membuat celananya terangkat dan memperlihatkan sepatunya dengan jelas. Ya, sepatu itu..sepatu itu hampir sama dengan yang digunakan Jack saat tadi video call.
Jack berselonjor dengan memakai sepatu yang hampir sama dengan yang digunakan oleh Tn.Constantine Delmar.
“Apa ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua begitu membingungkan?” gumam Ara.
Ara terdiam memandang foto itu, dia mendadak gelisah. Kenapa Jack memakai sepatu yang mirip dengan yang digunakan ayahnya? Apakah Jack memakai sepatu ayahnya? Pastilah sepatu sejenis itu tidak akan sembarang orang memakainya.
Ara menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan segala keanehan yang dirasanya, kenapa sepatu saja jadi masalah? Dia tidak mau berfikir berlebihan, yang pasti dia harus memastikan kalau Jack tidak sakit di Paris dan dia harus bicara dengan Dokter Atlantes tentang masalah Jack.
Untuk itu dia harus menyusul Jack, itu lebih baik daripada tinggal disini dengan banyak prasangka ini dan itu. Dengan mengantar Jack berobat dan mendengarkan hasil dari Dokter Atlantes itu akan sangat menenangkannya.
Ara segera keluar dari ruangan itu, untuk bersiap-siap pergi ke Paris.
Selama mandi Ara masih terus berfikir tentang Jack. Mengingat-ingat lagi perubahannya Jack yang menyolok. Sejak di Paris Jack lebih pendiam, dia juga makan… ya makan Jack tiba-tiba berubah jadi teratur, pandangannya juga lebih focus, apa Jack memang sudah membaik? Ada perasaan lega dihatinya Ara, tentu saja dia akan bahagia kalau Jack bisa sembuh.
Setelah mandi, Ara menyiapkan kopernya, dia tetap akan menyusul Jack ke Paris. Dia tidak perlu bicara dengan Pak Beni, yang pasti akan melarangnya karena takut dia lelah dan sakit karena perjalanan Jauh.
Ara juga berfikir harus memastikan Jack minum obat jangan sampai Jack membuang obatnya lagi tanpa sepengetahuannya Pak Beni.
Ara masih ingat alamat Jack tinggal, dia bisa minta taxi untuk mengantarkannya ke rumah Jack.
***********
__ADS_1
Readers maaf ya, udh upnya kesorean, dikit lagi nulisnya, nanggung.
*****