
Malam telah larut, Ara sudah terlelap dalam mimpinya, tidak dengan Jack. Pria itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Tidur dikasur yang tidak seempuk dirumahnya juga tempat tidur yang sempit membuatnya susah bergerak, juga ruangan kamar yang menurutnya sangat sumpek. Dia merasa kasihan istrinya tinggal dirumah ini, tapi tadi istrinya bilang bukan besar kecilnya rumah yang penting penghuninya bahagia.
Jack menoleh kesampingnya, melihat istrinya yang tidur menghadapnya dan hanya terdengar suara nafasnya yang teratur. Diapun merubah posisinya menghadap Ara.
Ditatapnya wajah cantik istrinya itu. Wanita sederhana yang tidak serakah dengan kekayaan yang dimilikinya. Istri yang begitu sangat menyayanginya. Tentu saja sampai kapanpun dia tidak akan pernah melepaskan istri sebaik Ara.
Tangan Jack menyentuh pipinya Ara yang terasa dingin. Jemarinya beralih menyentuh bibir kecil yang terkatup rapat itu, bibir yang sering mencium pipinya. Ciuman yang awalnya sangat tidak disukai Jack karena dianggap sangat agresif tapi justru belakangan ini ciuman itu selalu dinantinya menempel dipipi kanan dan kirinya.
Jack menghela nafas panjang, dia tidak tahu dia akan merahasiakan kesembuhannya dari istrinya itu sampai kapan? Apa reaksi istrinya kalau tahu dia sudah sembuh? Jack mengusap rambut Ara perlahan.
Banyak hal terbersit dalam fikirannya. Seharusnya dia tidak membawa istrinya dalam kemelut hidupnya. Tapi mungkin inilah takdir, takdir yang membuatnya menikahi istrinya saat dia depresi. Entah kalau pertemuannya dengan Ara dalam keadaan normal mungkin saja mereka tidak akan berjodoh.
“Sayang,” gumam Jack, kembali mengusap pipinya Ara perlahan. Matanya masih menatap wanita yang terlelap itu.
“Selama ini kau sudah banyak mengalami kesusahan saat bersamaku. Aku berjanji akan secepatnya membereskan semua masalah ini dan membawamu ke Paris, tolong bersabarlah. Semoga saat masa itu tiba kau masih bersabar mendampingiku,” ucap Jack.
Tangan kiri Jack mengusap-usap rambutnya Ara lagi, membelai helaian rambutnya yang hitam.
Ditatapnya bibir mungil yang tidak menjawab perkataannya itu. Dengan perlahan Jack mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang tertidur itu, mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya lalu menciumnya dengan lembut.
“Mimpi yang indah,” ucapnya, setelah melepaskan ciuman dibibirnya Ara. Lalu diapun beralih mencium keningnya Ara.
Jack merubah posisi tubuhnya menjadi semakin dekat dengan tubuh Ara dan memeluknya, membuat posisi tidur Ara senyaman mungkin di pelukannya. Jack juga berusaha untuk tidur meskipun ruangan ini terasa sangat aneh baginya.
****
Keesokan harinya…
“Ara! Ara! Bangun! Kenapa kau telat sekali bangun? Ini sudah siang!” terdengar teriakan suara Ibunya Ara sambil mengetuk-ngetuk pintu.
“Apa kau sakit? Kenapa kau belum bangun juga?” Ibunya Ara masih berteriak. Diapun mencoba membuka pintu kamar tapi di kunci.
Jack yang sudah bangun duluan dan hanya duduk bersandar di tempat tidur merasa bingung. Apakah dia harus membuka pintunya? Diliriknya istrinya masih terlelap. Wanitanya itu begitu nyenyak tidur dalam pelukannya.
“Ara! Apa kau masih tidur? Ini sudah siang! Ayahmu sudah sarapan dan mau berangkat bekerja! Kenapa kau masih tidur saja?” tanya Ibunya, memanggil juga mengetuk-ngetuk pintu.
Jack merasa tidak tega untuk membangunkan Ara tapi dia juga merasa berisik dengan teriakan Ibu mertuanya.
Karena suara ibunya yang kencang, Arapun akhirnya bangun.
“Apaan sih Ibu ini, berisik!” keluhnya sambil mengucek matanya, dan dia terkejut saat menyadari sebelah tangannya sedang memeluk paha seseorang. Diapun mengangkat wajahnya menatap pria yang duduk bersandar itu yang menunduk menatapnya.
Ara semakin terkejut melihat Jack ada di kamarnya tapi kemudian dia sadar kalau semalam dia membawa Jack masuk.
“Ara!” terdengar suara Ibunya lagi dan mencoba membuka pintu kamar.
“Kau tidur apa pingsan?” tanya Ibunya, merasa heran sudah berteriak-teriak dari tadi tapi Ara belum bangun juga.
__ADS_1
Ara juga heran kenapa dia tidur begitu nyenyak semalam. Dia merasa saat tidur ada yang memeluk dan menciumnya. Apa Jack menciumnya? Apa benar Jack menciumnya?Apa pria itu sudah mulai sembuh?
Terdengar lagi suara Ibunya mencoba membuka pintu.
Ara bingung apa yang akan terjadi kalau orang tuanya tahu Jack ada di kamarnya? Bisa-bisa Ayahnya marah, tapi dia juga tidak mau di pisahkan dari Jack.
“Jack kita harus melakukan sesuatu!” ucap Ara, sambil langsung bangun, tapi tidak turun dari tempat tidur, melainkan mengulurkan tangannya kearah kemejanya Jack.
Jack terkejut saat tangan-tangan itu membuka kanicing kemejanya dengan terburu-buru.
“Kita harus sedikit bersandiwara, Jack,” ucap Ara.
Wanita itu melepaskan pakaiannya Jack degan cepat, membuat pria itu bertelanjang dada. Arapun menyelimuti kakinya Jack.
Jack merasa bingung dengan apa yang Ara lakukan, apa maksudnya Ara menelanjanginya begini?
“Sayang! Apa kau baik-baik saja?” terdengar suara diluar tapi bukan suara Ibunya melainkan Ayahnya.
Ara buru-buru turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Jack masih kebingungan dengan sikapnya Ara itu. Terdengar suara kran air dinyalakan.
Jack semakin terkejut saat melihat Ara keluar lagi hanya berbalut handuk yang menutupi dari dada sampai setengah pahanya, rambutnya juga terlihat basah digulung dengan handuk keatas kepalanya.
Jack langsung terkesima melihatnya, istrinya itu terlihat sangat ****, membuatnya menelan ludah dan merasakan sesuatu yang bergerak dalam tubuhnya. Tentu saja dia juga pria normal, berdua dengan wanita dewasa yang tidak berpakaian, membuat hasratnya tiba-tiba muncul. Selama satu kamar dengan istrinya tidak pernah dia melihat istrinya seperti itu.
“Sayang!” teriak Pak Amril sambil mencoba membuka pintu..
Ara segera berlari menuju pintu tanpa alas kaki dan membuka pintunya. Jack hanya melihat bagian belakang tubuh istrinya. Salah satu kaki telanjang yang mulus itu sesekali menggosok salah satu betisnya, seakan sedang menggodanya, membuat jantungnya berdebar kencang dan wajah yang memerah mencoba menahan hasratnya.
Ayah dan Ibunya terkejut saat pintu itu terbuka.
“Maaf Ayah, Ibu, aku sedang mandi,” ucap Ara.
Ayah dan Ibunya menatapnya dari atas sampai bawah. Air masih mengucur dari helaian rambut yang tidak tertutup seluruhnya oleh handuk di kepalanya Ara.
“Aku sedang mandi,” ulang Ara, sambil tersenyum dan tersipu.
“Pantas saja Ibu berteriak-teriak tidak kau jawab, Ibu fikir kau pingsan!” kata Ibunya dan matanya terbelalak kaget saat melihat seseorang yang ada diatas tempat tidur Ara, seorang pria dengan bertelanjang dada dan sebagian tubuhnya berselimut.
“Jack?” tanya Ibunya terkejut, begitu juga dengan Pak Amril.
“Kenapa Jack ada di kamarmu?” tanya Pak Amril menatap Ara.
“Maaf. Ayah. Semalam Jack tidak pulang, menunggu di luar, dia kedinginan, jadi aku membawanya masuk,” jawab Ara.
Pak Amril menatap Jack yang bertelanjang dada lalu pada putrinya yang hanya memakai handuk saja dan berkeramas.
“Maaf,” ucap Ara.
__ADS_1
Ibunya Ara mengerjapkan matanya dengan bingung. Bagaimana mereka akan memisahkan Ara dan Jack, melihat kondisi mereka seperti ini? Jack tidak mungkin bertelanjang dada tanpa alasan, dengan putrinya yang masih berkeramas, mereka pasti sudah melakukan sesuatu semalam.
“Kau lanjutkan saja mandimu! Setelah itu sarapan!” kata Ibunya Ara, lalu menarik tangannya Pak Amril.
“Ayo sayang,” ajak Ibunya Ara.
“Aku harus mengeluarkan Jack dari rumah ini!” kata Pak Amril.
“Sudahlah tidak usah, biarkan saja!” ujar Ibunya Ara, terus menarik tangan suaminya menjauh dari kamarnya Ara.
“Kenapa? Mereka akan bercerai!” ucap Pak Amril.
“Apa kau tidak melihat pria itu tidak memakai baju begitu juga putri kita, itu artinya mereka sudah melakukan sesuatu,” ucap Ibunya Ara.
“Kalau mereka melakukan sesuatu, kenapa? Mereka tetap harus bercerai,” tanya Pak Amril.
“Itu artinya kau tidak bisa memisahkan mereka,” jawab Ibunya Ara.
“Kenapa tidak bisa?” tanya Pak Amril kebingungan.
“Itu artinya kita akan segera mempunyai cucu. Apa kau mau saat putri kita hamil tidak ada suaminya? Apa nanti kata orang? Sudah biarkan saja, kau berangkat saja bekerja sudah siang,” ucap Ibunya Ara, terus mendorong suaminya menjauh dari kamarnya Ara.
Ara hanya mendengar sebagian percakapan orangtuanya, setelah itu mereka menghilang dibalik tembok masuk keruangan lain.
Ara menghela nafasnya dengan lega, dia yakin Ayahnya tidak akan memintanya untuk meninggalkan Jack lagi. Diapun menutup pintu kamarnya dan membalikkan badannya.
Ara sangat terkejut saat matanya bertatapan dengan sepasang mata yang menatapnya dengan menahan hasrat laki-lakinya. Karena walau bagaimanapun Jack pria normal, melihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya pada istrinya, tubuh yang hanya berbalut handuk dengan tetesan air dari rambutnya yang jatuh menyusuri dadanya, masuk kebalik handuk itu, membuatnya sangat tergoda untuk menyentuhnya.
Melihat Jack melihatnya seperti itu, Ara baru tersadar dan menunduk melihat pada tubuhnya yang hanya berbalut handuk dari dada sampai paha, mengekspos keindahan kulitnya di depan suaminya.
Wajah Ara berubah merah dadu, dia langsung menjerit saking terkejutnya.
“Aaaw!” Jeritnya, lalu berlari ke kamar mandi secepat kilat, mencoba bersembunyi dari tatapan suaminya.
Ibu dan Ayahnya Ara yang ada di teras terkejut mendengar Ara menjerit , merekapun saling pandang. Ayahnya Ara akan melangkah masuk ke rumah lagi tapi ditahan oleh ibunya Ara.
“Sudah biarkan saja!” kata Ibunya Ara.
“Apa kau tidak mendengar? Putri kita menjerit, apa yang di lakukan pria itu pada putriku?” tanya Pak Amril, memaksa akan masuk ke rumah lagi tapi Ibunya Ara kembali menahannya.
“Sayang, kau seperti tidak pernah jadi pengantin baru saja, biarkan saja urusan mereka di dalam kamar, tidak perlu ikut campur!” kata Ibunya Ara, membuat Pak Amril diam.
“Sudah cepat berangkat!” kata Ibunya Ara.
Akhirnya Pak Amril masuk ke dalam mobilnya. Tidak berapa lama mobil itu meninggalkan pekarangan rumah itu.
Ibunya Ara kembali masuk ke dalam rumah, dia menoleh ke arah kamarnya Ara. Dalam hatinya bertanya-tanya, kira-kira mereka berdua sedang apa sampai Ara berteriak begitu?
__ADS_1
*********