
Hari ini, hari sudah gelap tapi Jack belum juga pulang, padahal Ara sudah menunggunya pulang dari tadi. Akhirnya Ara mencoba menelpon Jack.
Jack masih sibuk diruang meeting dengan para karyawannya saat ponselnya berbunyi. Diapun melihat ponselnya, ternyata istrinya menelpon. Meskipun dia lelah, melihat istrinya menelpon membuat hatinya senang, istrinya ingat padanya, senyum langsung mengembang dibibirnya.
Diangkatnya ponselnya.
“Halo!” sapa Jack. Masih duduk di meja besar berbentuk elips itu yang sedang di kelilingi karyawan-karyawan yang memiliki posisi penting diperusahaannya.
“Kapan kau pulang? Aku sudah menunggumu dari tadi,” kata Ara.
Jack langsung melihat jam di dinding ruangan itu yang tepat ada di sebrangnya, ternyata sudah jam 7 malam. Dia terlalu sibuk jadi tidak tahu kalau sudah gelap.
“Sayang, sepertinya aku pulang larut, kau makan duluan ya, aku makan di kantor dengan karyawanku, “ kata Jack.
“Jangan terlalu malam, kau juga harus menjaga kesehatan,” ucap Ara.
“Iya, mungkin sekitar jam 9 10 aku pulang, kau tidur duluan saja, jangan menungguku,” kata Jack, tidak memperdulikan para karyawannya mendengarkan percakapannya dengan istrinya.
“Iya, aku mencintaimu,” ucap Jack, lalu telponpun ditutup. Saat menoleh pada karyawannya, ternyata mereka sedang menatapnya.
“Kenapa? Aku mengatakan cinta pada istriku!” kata Jack, dengan ketus pada yang hadir.
“Iya, Tuan! Maaf,” jawab karyawannya bersamaan.
“Ayo teruskan!” perintah Jack, merasa kesal pada karyawannya, memangnya aneh menyatakan cinta pada istrinya sendiri?
“Baik,Tuan!” jawab mereka lagi bersamaan. Bukan aneh, tapi pria itu tidak sungkan untuk memperlihatkan perhatiannya pada istrinya di depan orang lain.
Pak Beni menghampiri Jack, mendekatkan kepalanya ke telinga Jack.
“Tuan, Dokter Ridwan sudah menelpon, hasil tes DNA sudah ada, akan diambil sekarang atau besok?” tanya Pak Beni.
“Buat janji, pulang dari sini kita kesana,” jawab Jack.
Pak Beni mengangguk, diapun keluar ruangan untuk menelpon Dokter Ridwan.
Sekitar jam 10 malam, sebenarnya sudah sangat larut untuk kunjungan ke Rumah sakit, tapi karena sudah ada janji, Jack dan Pak Beni langsung menemui Dokter Ridwan di ruangannya.
Pria yang sudah berumur itu mempersilahkan mereka duduk.
“Maaf kami datang terlalu malam,” kata Pak Beni.
“Tidak apa-apa, kau kan teman lamaku,” kata Dokter Ridwan sambil tertawa.
“Apa hasilnya sudah ada?” tanya Jack, tidak mau berlama-lama, dia sudah tidak sabar ingin tahu apa hasilnya.
“Ditunggu sebentar,” ucap Dokter Ridwan, sambil beranjak dan mengambil amplop dilaci mejanya, lalu kembali menemui Jack dan Pak Beni yang duduk dikursi tamu.
__ADS_1
Dokter Ridwan memberikan amplop berlogo itu kepada Jack, dia semakin tegang saat menerima amplop itu, jantungnya berdebar kencang.
“Apa ini hasilnya bisa dipertanggungjawabkan?” tanya Jack.
“Iya, Tuan tidak perlu ragu, prosesnya dibawah pengawasan saya langsung,” jawab Dokter Ridwan, sambil kembali duduk.
Jack membuka surat itu dengan hati yang gelisah dan langsung membaca hasil intinya saja, karena itu yang paling penting. Dia tertegun saat membaca hasilnya.
“Setelah melewati berbagai proses, hasilnya Ny.Delmar memang putri dari Ny. Imelda,” kata Dokter Ridwan.
Jack terdiam, sungguh diluar dugaan kalau instingnya ternyata benar, rasanya dia tidak percaya dengan hasil itu. Apa ini hasil yang benar?
Pak Benipun tampak terkejut, dia menatap Jack lalu pada Dokter Ridwan. Begitu juga Jack menatap Dokter Ridwan.
“Dokter, apa ini benar-benar hasilnya?” tanya Jack, menatap Dokter.
“Iya, Tuan,” jawab Dokter Ridwan.
Pak Beni menoleh pada Jack.
“Ada apa Tuan? Bukankah itu bagus? Tandanya Arum masih hidup,” tanya Pak Beni.
Jack juga menoleh pada Pak Beni.
“Yang ingin aku tahu, kenapa Arum bisa ada disini? Kenapa dia tidak tinggal di Paris? Atau kota lainnya di Perancis? Kenapa ada disini?” tanya Jack, berjuta pertanyaan muncul dikepalanya.
Pak Beni merenung, apa yang dikatakan Tuannya Benar.
“Baik Tuan,” jawab Pak Beni.
Jack bukannya tidak senang Arum ternyata masih hidup, hanya dia tidak mengerti dengan kondisi ini, kenapa Arum tidak tinggal di Paris?
Jack menoleh lagi pada Dokter Ridwan.
“Kenyataannya memang DNA mereka cocok, Ny.Delmar memang putrinya Ny.Imelda,” jawab Dokter Ridwan.
Jackpun kembali diam, semua terjawab sudah, perasaannya yang merasa Ara mengingatkannya pada Arum ternyata dia adalah teman kecilnya. Sungguh diluar dugaan. Sebenarnya apa yang terjadi?
Pasti bukan suatu kebetulan Arum ada dikota ini, bukan dengan orangtua kandungnya, malah bersama Bapak dan Ibu Amril? Siapa yang mempermainkan hidupnya Arum? Dia mengalami depresi berat karena dihantui rasa bersalahnya pada Arum dan Ayahnya, ternyata Arum masih hidup? Dia harus tahu apa yang sebenarnya telah terjadi?
Jackpun menoleh pada Pak Beni dan mengajaknya pulang. Setelah berterimakasih pada Dokter Ridwan, merekapun pulang.
Sepanjang perjalanan Jack terus memikirkan hasil tes DNA itu, dia senang Arum masih hidup, dia penasaran apa yang terjadi dengan Arum? Apakah ada yang sengaja membuat scenario ini? Sepertinya dia harus membuat perhitungan dengan orang ini.
Saat sampai dirumah, rumah itu terlihat sepi, memang selalu sepi, rumah ini banyak dihuni oleh yang bekerja mengurus rumah, sedangkan tuan rumahnya hanya istrinya saja seorang.
Jack membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Dilihatnya istrinya sudah tidur meringuk menghadap ke jendela sambil berselimut.
__ADS_1
Sejenak dia berdiri mematung menatap wanita yang tidur itu. Rasanya tidak percaya kalau yang berbaring disana adalah Arum teman kecilnya. Teman yang hilang tenggelam yang telah membuatnya depresi selama ini. Teman yang dicemburui istrinya.
Jack membuka jasnya disimpan dikursi, lalu membuka kancing lengan kemejanya juga kancing kemeja atasnya. Tidak lupa melepaskan sepatunya juga.
Dengan perlahan dia naik ke tempat tidur, masuk kedalam selimut istrinya, lalu berbaring dan memeluk tubuhnya Ara dari belakang. Jack membenamkan wajahnya dirambut istrinya lalu diciumnya. Pelukannya sangat erat, peluk rindu yang tidak terlukiskan betapa dia sangat merindukannya.
Tidak ada kata yang bisa Jack ucapkan, dia hanya ingin memeluknya saja.
Merasakan ada yang memeluknya dari belakang, Ara terbangun. Tangannya menyentuh tangan Jack. Dia merasa pelukan suaminya begitu erat sampai detak jantungnya suaminya terasa oleahnya.
“Jack, kau pulang? Maaf aku ketiduran,” ucap Ara pelan.
Tidak ada jawaban dari Jack. Pria itu hanya memeluknya saja.
“Jack, ada apa?” tanya Ara, merasakan pelukan Jack semakin kuat, seperti takut dia akan lepas.
Jack masih tidak menjawab, hanya terasa oleh Ara pria itu mencium rambutnya.
Arapun mencoba memutar tubuhnya menghadap suaminya.
“Jack, kau memelukku sangat erat, aku susah bernfas,” ucap Ara, tangannya terulur menyentuh pipi suaminya.
Jack menatap wajah di depannya itu, wajah istri yang sangat dicintainya, juga sekaligus teman kecilnya yang sangat disayangnya. Begitu besar tragedi itu menghantam jiwanya, merubah seluruh hidupnya yang penuh kebahagiaan menjadi penderitaan sepanjang hidupnya.
Ara terkejut saat melihat mata suaminya memerah.
“Jack, kau..kau menangis?” tanya Ara, dengan bingung, menatap wajah Jack yang merah? Apakah suaminya menangis? Ada butiran bening dimata itu.
Jack menarik kepala Ara lebih dekat padanya, lalu mencium semua bagian wajahnya Ara, keningnya, pipinya, hidungnya juga bibirnya dengan lembut. Sangat lembut. Betapa wanita ini sangat berarti baginya.
Ara tampak kebingungan dengan sikap Jack ini, tapi dia membiarkan pria itu menciumi wajahnya. Lalu Jack kembali memeluk tubuh Ara mendekapnya sangat erat. Ara hanya balas memeluk punggung suaminya, menyusupkan wajahnya di leher Jack. Dirasanya Jack mencium rambutnya
Beberapa saat Ara membiarkan Jack seperti itu memeluknya erat tanpa bicara. Lalu Ara menengadah menatap Jack yang memejamkan matanya. Terlihat wajah itu seperti memendam kesedihan yang amat dalam. Apakah suaminya sedang ada masalah? Ara hanya bisa menebak-nebak saja. Diapun mendekatkan bibirnya, mencium bibirnya Jack.
“Kau lelah?” tanyanya dengan pelan, sambil mengusap pipinya Jack, lalu mencium bibirnya lagi.
Pria itu tidak menjawab, hanya memeluknya semakin erat. Arapun tidak bicara lagi, membiarkan suaminya memeluknya erat, meskipun dia bingung dengan sikapnya Jack ini.
Hati Jack sudah tidak bisa terlukiskan bercampur-aduknya, antara senang, sedih, marah, kesal, bingung, dan banyak hal lainnya. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi dengan hidupnya?
Jack terus memejamkan matanya, dia tidak mau istrinya melihatnya menangis, tapi sungguh semua ini membuat hatinya rapuh. Siapa yang telah mempermainkan hidupnya? Juga hidupnya Arum? Tetap saja airmata itu keluar diantara bulu matanya.
Ara semakin terkejut melihat airmata itu. Sepertinya suaminya sedang sangat bersedih, yang entah karena apa. Ara mendekatkan bibirnya mencium mata itu, yang airmatanya langsung menempel di bibirnya, dia juga merasa sedih melihat suaminya seperti itu.
“Jangan bersedih Jack, aku menyayangimu,” ucap Ara, dia merasa suaminya sedang bersedih tapi tidak ingin bicara dengannya.
“Sayang,”ucapnya lagi, mencoba menghibur Jack, lalu mencium bibir Jack lagi dan mengusap pipinya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Jack, pria itu hanya terus memeluknya, tidak mau membuka matanya. Akhirnya Ara hanya menyusupkan wajahnya di lehernya Jack. Merasakan pelukan itu semakin erat.
****************