
Terdengar suara yang menekan bel pintu. Ara segera keluar dari kamarnya, dia ingat kalau dia tadi mengunci pintu rumahnya supaya Jack tidak bisa masuk. Saat dibuka pintunya ternyata Ibunya sudah pulang.
“Apa Jack pulang?” tanya Ibunya, karena tidak melihat mobil dihalaman rumah.
“Mungkin dia sudah pulang!” jawab Ara, melihat kehalaman yang kosong.
“Kau benar-benar tidak memberinya waktu untuk bicara?” tanya Ibunya, masuk ke dalam rumah dan menutup pintu lagi.
“Aku ingin sendiri,” jawab Ara.
Ibunya hanya bisa menatap putrinya, mungkin memang Ara ingin sendiri dulu, diapun tidak bicara apa-apa.
“Diluar gerimis, untung sudah sampai rumah,” kata Ibunya.
“Ayah kemana jam segini belum pulang?” tanya Ara.
“Ayahmu ada kerjaan keluar kota beberapa hari,” jawab Ibunya Ara.
“Ibu darimana tadi?” tanya Ara lagi, menatap Ibunya.
“Ibu sudah ke rumah wanita itu!” jawab Ibunya.
“Wanita? Wanita siapa?” tanya Ara.
“Wanita yang sudah mengganggu suamimu!” jawa Ibunya Ara.
“Apa yang Ibu lakukan?” tanya Ara, terkejut bukan main.
“Ibu tahu alamatnya darimana?” tanya Ara lagi.
“Dari Jack. Ibu harus memberi wanita itu pelajaran! Sebenarnya Ibu ingin bertemu dengan wanita penggoda itu, ternyata malah bertemu dengan Ibunya. Kau tahu, ternyata Ibunya memang ingin mengganggu hubunganmu dengan Jack! Untung saja kau tidak memiliki Ibu seperti dia,” kata Ibunya Ara.
“Tentu saja, Ibu kan Ibuku, kenapa aku harus mempunyai Ibu seperti Ny.Imelda?” ucap Ara, sambil tersenyum dan memeluk Ibunya, menempelkan pipinya pada pipi Bu Amril.
“Iya kau benar, kau putriku!” jawab Bu Amril sambil menepuk-nepuk pipinya Bu Amril.
“Sayang, Ibu curiga kalau putrinya itu palsu!” kata Ibunya Ara itu, membuat Ara menatapnya.
“Palsu? Ibu tahu darimana?” tanya Ara.
“Wanita itu bertanya pada Ibu, bagaimana rasanya kehilangan seorang putri,” jawab Ibunya Ara, mengingat kembali pembicaraannya dengan Ny.Imelda.
“Ny. Imelda memang kehilangan putrinya, mereka baru bertemu lagi,” kata Ara.
“Tidak sayang, kalau gadis itu putrinya, nada bicaranya tidak akan begitu. Dia terlihat sedih dan kecewa karena merasa putrinya itu memang tidak ada,” ujar Bu Amril, sambil mengerutkan dahinya.
“Ibu yakin?” tanya Ara.
“Iya. Dari kesedihannya Ibu yakin putrinya itu tidak ada, makanya dia masih dendam pada Jack,” jawab Ibunya Ara.
Arapun diam, dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, apakah Arum itu memang putrinya Ny.Imelda atau bukan.
“Menurut ibu begitu? Arum itu palsu?” tanya Ara.
“Menurut feeling Ibu begitu,” Ibunya Ara mengangguk.
Arapun diam.
“Sudahlah Ibu mau mandi, kau juga mandi, diluar sudah mulai hujan,” kata Bu Amril, sambil beranjak meninggalkan Ara.
Belum juga jauh berjalan, Ara sudah memanggilnya.
“Bu!” panggil Ara.
“Ya!” jawab Bu Amril.
“Apa yang Ibu lakukan pada Ny.Imelda?” tanya Ara.
“Tentu saja Ibu menjambak rambutnya dan mau mematahkan lehernya,” jawab Ibunya Ara itu tanpa beban.
__ADS_1
“Apa? Ibu melakukan itu?” tanya Ara, membelalakkan matanya saking kagetnya.
“Tentu saja biar kapok! Untung saja tidak Ibu patahkan lehernya tadi,” jawab Ibunya Ara itu lalu masuk kedalam rumah menuju kamarnya.
Ara diam mematung mendengarnya. Dia bisa membayangkan bagaimana Ibunya sudah membuat keributan dirumahnya Ny.Imelda.
Setelah tidak melihat lagi Ibunya, Ara menoleh kearah jendela, diluar hujan turun dengan lebat, diapun kembali ke kamarnya, membersihkan diri, membuat badannya serileks mungkin.
Malam semakin larut, udara terasa begitu dingin. Ara merasa diri serba salah, sudah tiduran, duduk nonton tv, buka-buka artikel di ponsel dan sebagainya karena dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Ini adalah kesekian kalinya dia tidur sendiri tanpa Jack. Selain waktu itu di tinggalkan ke Paris itupun dia menyusul Jack ke Paris.
Ara berjalan menuju jendela, melipat kedua sikunya. Diluar hujan masih lebat dan petir menyambar. Padahal dia sudah menggunakan sweater yang hangat tapi rasanya masih terasa dingin. Dilihatnya petir kembali menyambar, cahayanya terlihat dibalik jendela.
Ara membalikkan badannya tapi kemudian dia membalikkan badannya lagi menghadap Jendela. Berdiri disana dan membuka sedikit gordennya. Dia terkejut saat melihat sosok pria sedang berdiri di taman dekat jendela kamarnya.
Siapa sosok itu? Wajah Ara langsung pucat saja. Apakah itu Jack? Buat apa Jack berdiri disana dan membiarkan dirinya kehujanan?
Terlihat lagi petir menyambar, semakin jelas terlihat pria itu adalah Jack, dia hafal betul bentuk tubuhnya. Apa yang dilakuan Jack disana? Bukankah dia sudah pulang?
Ara cepat-cepat mengambil payung lalu keluar dari kamarnya. Sambil memayungi dirinya, dia menghampiri Jack.
“Jack! Apa yang kau lakukan?” teriak Ara ditengah hujan.
Pria itu menoleh kearahnya. Ara mengangkat payungnya, memayungi kepalanya Jack. Karena angin juga sangat kencang, mau tidak mau membuatnya ikut kehujanan.
Ara menatap suaminya itu, wajahnya yang putih semakin pucat saja.
“Aku pulang ke rumah seperti yang kau mau, tapi aku gelisah, aku tidak bisa tidur, aku tidak tenang kalau kau terus marah padaku! Aku kesini, karena ingin melihatmu, aku takut tidak bisa melihatmu lagi,” kata Jack, dengan wajah yang basah oleh air hujan.
Mendengarnya membuat Ara tertegun. Pria itu membiarkan dirinya kehujanan karena ingin melihatnya.
“Kau sudah gila hujan-hujan begini hanya untuk melihatku?” kata Ara.
“Iya, kau benar, aku sudah gila! Aku akan berdiri disini selama aku bisa melihatmu meskipun hanya dibalik jendela itu,” ujar Jack.
Hati Ara semakin mengharu biru, apa dia sudah terlalu jauh menghukum Jack? Apa yang dilihatnya dengan apa yang diucapkan Jack mana yang patut dipercaya? Melihat Jack mencium wanita itu sungguh tidak bisa hilang dari ingatannya.
“Kalau aku tidak keluar apa kau akan berdiri disini semalaman?” tanya Ara.
“Iya,” jawab Jack.
“Kau gila! Kau bisa sakit!” ucap Ara, masih menatap pria itu, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
“Iya aku gila!” jawab Jack, menatap wajah yang selalu dirindukannya.
“Meskipun gila tapi aku mencintaimu,” ucap Ara.
Kini butiran bening mengumpul dimatanya. Dia marah bukan karena tidak mencintai Jack, dia marah kerena merasa Jack sudah menghianatinya.
“Aku tahu kau mencintaiku,” kata Jack.
Jack maju selangkah, kedua tangannya memegang wajahnya Ara, diapun sedikit menundukkan kepalanya, menatap wajah Ara lebih dekat.
“Bibirku tidak pernah mencium wanita lain selain dirimu,” kata Jack. membuat airmata Ara semakin deras saja menetes dipipinya.
Perlahan Jack mendekatkan bibrinya dan mencium bibirnya Ara dengan lembut.
Ara merasakan bibir itu begitu dingin dan kaku, sepertinya sudah cukup lama Jack diguyur hujan.
“Aku mencintaimu,” ucap Jack, setelah melepaskan ciumannya. Tangannya mengusap rambutnya Ara. Menatap wajah istrinya lekat-lekat.
“Aku minta maf membuatmu menangis,” ucapnya.
Ucapannya malah membuat Ara semakin sedih dan menangis. Tangan Jack memeluk tubuhnya Ara, mendekapnya dengan erat. Ara menangis dipelukannya. Berkali-kali Jack mencium rambutnya.
Tangan Jack yang sebelah mengambil payungnya Ara. Meskipun memakai payung, karena hujan yang lebat membuat tubuh mereka tetap kehujanan.
Beberapa saat Ara masih menangis di dadanya Jack. Pria itu hanya memeluk punggungnya.
__ADS_1
“Sayang! Apa yang kau lakukan! Kau sedang apa?” terdengar suara teriakan seseorang diatas jendela kamarnya Ara yang terbuka.
Ara dan Jack menoleh kearah jendela itu, ternyata Ibunya Ara ada dikamarnya Ara.
Tadi Bu Amril bangun keluar dari kamarnya dan melihat pintu rumah terbuka, saat ke kemarnya Ara pintu kamar putriny itu juga terbuka jadi dia melihat ke jendela, ternyata putrinya sedang hujan-hujanan dengan menantunya.
“Kenapa kalian hujan-hujanan malam-malam begini? Masuklah!” teriak Ibunya Ara.
Ara menoleh pada Jack.
“Ibu menyuruh masuk,” kata Ara.
“Apa kau tidak menyuruhku masuk?” tanya Jack.
“Iya, aku menyuruhmu masuk,“ jawab Ara sambil tersenyum.
Senyum yang seketika membuat hati Jack merasa damai. Itu yang selalu membuatnya merindukannya, itu yang selalu ditakutkannya, tidak melihat senyum istrinya lagi.
Jack merangkul bahunya Ara, memayunginya, merekapun masuk kedalam rumah.
Ibunya Ara sudah mengambilkan handuk berdiri dipintu rumah.
“Apa yang kalian lakukan? Itu sama sekali tidak romantis, hujan-hujanan di malam larut begini! Yang ada kalian sakit!” kata Ibunya Ara, memberikan handuk pada Ara dan Jack, lalu mengambil payung ditangan Jack dan dilipatnya kemudian disimpan di sudut pintu.
“Ayo masuklah!” kata Ibunya Ara, sambil menutup pintu dan meninggalkan pasangan suami istri itu.
Ara hanya mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya diikuti oleh Jack.
Lagi-lagi Jack melihat kesekeliling kamarnya. Kamar yang menurutnya sangat kecil.
“Disini masih ada pakaianmu,” kata Ara, sambil mengambil kopernya Jack yang dulu dibawakan oleh Pak Beni. Dikeluarakannya beberapa bajunya Jack disimpan diatas tempat tidur.
Tiba-tiba Jack memeluknya dari belakang.
“Jack!” panggil Ara terkejut, kedua tangan itu berada diperutnya.
Yang membuatnya kaget lagi saat sudah merasakan bibirnya Jack menyusuri lehernya.
“Jack,” ucap Ara, membalikkan tubuhnya menghadap Jack.
“Kau basah, kedinginan, nanti kau sakit,” kata Ara.
“Tidak, pelukanmu membuatku hangat,” jawab Jack mengusap pipinya Ara.
Malihat reaksi Jack begini membuat Ara langsung panas dingin saja, yang tadinya kedinginnan langsung berubah gerah saja.
“Jack, aku harus berganti pakaian!” kata Ara, dia akan pergi tapi tangannya ditarik Jack kepelukannya. Pria itu menatapnya.
“Aku ingin Jendral kecilku laki-laki,” ucap Jack.
“Apa?” Ara tidak mengerti.
“Saat pulang ke Paris, aku ingin bersama Jendral kecilku, laki-laki,” jawab Jack.
Arapun diam, apakah itu artinya Jack mengajaknya berhubungan? Hujan-hujan begini malah membuat pria itu menginginkannya lagi.
Ara tidak bisa berkata-kata selain membiarkan apa yang Jack lakukan padanya, memberikan pria ini seorang bayi laki-laki.
“Bagaimana kalau bayinya perempuan?” bisik Ara ke telinga Jack, saat tangan pria itu sudah menyusup kedalam pakaiannya, menyentuh kulit punggungnya dan melepaskan pakaiannya dalam sekejap.
“Aku yakin bayinya akan secantik dirimu,” jawab Jack, membuat Ara merasa tenang mendengarnya, ternyata Jack tidak ngotot supaya dia melahirkan bayi laki-laki.
Ara tidak bisa berkata apa-apa lagi saat suaminya sudah membawanya ke tempat tidur.
Diluar hujan semakin kencang, udara semakin dingin, petir menyambar memekakkan telinga, sama sekali tidak mengganggu dua insan yang memadu kasih.
*********
Readers yang bosan, maaf.
__ADS_1
Jangan lupa like dan giftnya.
*******