Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 1 : kehidupan bianca


__ADS_3

Kehidupan yang terasa begitu sempurna karena disayangi dan dicintai oleh seorang ayah yang begitu luar biasa, itulah yang di rasakan Bianca. Namun hal yang begitu sempurna terasa begitu hampa tanpa kehadiran sang bunda


menurut cerita sang ayah, bundanya meninggal 22 tahun yang lalu, tepat saat ia dilahirkan, ia tidak pernah melihat wajah sang bunda secara nyata, tapi foto wanita cantik itu terpajang indah diatas meja kamarnya


Bianca tersenyum menatap foto itu, sebuah foto yang memperlihatkan ayahnya yang terlihat begitu tampan dengan jas mahalnya, dan yang semakin membuat senyum Bianca mengembang saat melihat foto itu adalah, saat ia melihat tangan sang ayah yang melingkar mesra di perut buncit sang bunda, terlihat sekali bagaimana ayahnya begitu mencintai bundanya, senyum menawan yang terpancar, dan sorot mata teduh itu benar-benar tidak bisa berbohong


Bianca meraih bingkai foto itu, di usapnya secara perlahan, dan terus mengembangkan senyumnya "Bunda tau? Bia bahagia sekali setiap melihat foto ayah dan bunda, Bia bisa merasakan betapa ayah mencintai bunda, dan Bia berharap suatu saat nanti bisa mendapatkan laki laki sebaik ayah"


hufff


Bianca memejamkan matanya, meresapi tetesan air mata yang meluncur tanpa permisi di pipinya, tidak bisa ia pungkiri, rasa rindu akan sosok bundanya selalu menghinggapi dan kadang membuatnya menjadi gadis cengeng seperti sekarang ini


*Tok..


Tok..


Tok*..


Bianca menatap pintu kokoh itu, ia bisa menebak siapa orang yang berada di balik sana, itu pasti mba Nini, seorang perias sekaligus temannya disaat mengisi off air

__ADS_1


Ia berjalan malas kearah pintu lalu membukanya, dan benar saja, disana sudah berdiri mba Nini bersama suaminya, om iwan.


"Baru bangun nona?" tanya mba Nini melihat penampilan bianca yang masih mengenakan pakaian tidur


"Hoamm... iya nih mba" jawabnya santai sembari menguap


"Cepat ganti baju, 5 menit lagi kita berangkat ke bandara" ucap mba Nini


"Ganti baju aja nih? ngga perlu mandikan?" tanya Bianca lagi seolah mengulur waktu


"Masuk kedalam, kunci pintunya, mandi, ganti baju, setelah itu keluar!" ucap mba Nini menjelaskan secara detail, tentunya dengan raut wajah yang begitu masam


Bianca masuk kekamar kembali dan melakukan apa yang baru saja mba Nini sampaikan, jika tidak maka ia akan habis ditangan perias hebohnya itu


dasar nini nini


*


Bianca memandang dirinya di depan cermin dengan lesu, ia hanya memakai pakaian seadanya, dengan jilbab yang terpasang berantakan, tapi sedikit pun tidak mengurangi kadar kecantikan yang terpancar diwajahnya

__ADS_1


Lagi lagi ia menghela nafas panjang, entah mengapa kali ini ia merasa malas untuk off air keluar kota, padahal biasanya ia adalah orang yang paling bersemangat jika ada job luar kota, tapi baiklah, demi karier


Bianca berjalan menuruni tangga dengan menarik kopernya tanpa semangat, dari atas tangga ia sudah bisa melihat keberadaan dua orang yang tadi mengganggu waktu sendirinya kini tengah berada di hadapan sang ayah


"Ingat! jaga baik baik Bianca" ucap sang ayah kepada om iwan


Bianca kembali melanjutkan langkahnya, ia duduk di kursi sofa di samping sang ayah dan mengamit lengannya "Ayah tidak perlu khawatir karena bodyguard ku ini pasti akan melindungi putri cantik ayah, iya kan om" ucap Bianca mengedipkan matanya dengan manja kearah om Iwan


Om Iwan, mba Nini, dan tuan Andre hanya tersenyum simpul menanggapi godaan bianca terhadap om Iwan, ini bukan pertama kalinya mereka melihat pertunjukan ini, Bianca memang selalu saja menggoda laki-laki yang menjadi manager sekaligus bodyguard nya ini setiap hari, dan itu merupakan hal biasa untuknya


Setelah berbasa-basi, akhir nya om Iwan, mba Nini dan Bianca melajukan kendaraan mereka meninggalkan kediaman prabaswara menuju bandara


...--------------...




berhubung aku tuh penggemar dangdut, jadi mon maaf karena visualnya biduan dangdut

__ADS_1


__ADS_2