Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 36


__ADS_3

Tok.. tok..


Bianca yang berada didapur untuk mengambil minum segera menuju pintu depan saat mendengar suara pintu yang diketuk lumayan keras. Baru saja Bianca berjalan, ia mendengar sayup sayup suara seseorang yang tampaknya sedang berbicara pada bik Wati dipintu depan. Dapat Bianca lihat jika disana bik Wati sedang berbicara dengan seorang laki laki yang sedang memapah suaminya, Riko.


"Jangan sampai kak Chintya tahu bik. Bawa saja Riko kekamarnya"


Itu kalimat yang bisa Bianca tangkap dari obrolan bik Wati bersama laki laki yang tidak Bianca tahu siapa. Laki laki itu memindahkan Riko untuk dipapah oleh bik Wati, dan semua itu tidak lepas dari pandangan Bianca yang sejak tadi mengawasi. Setelah melihat laki laki itu pergi, Bianca baru keluar dari persembunyiannya dan bersikap seolah biasa saja.


"Nona?" bik Wati tampak kaget mendapati keberadaan nona mudanya


"Bik, mas Riko kenapa?"


"Bibik, bibik tidak tahu non. Tuan pulang sudah dalam keadaan seperti ini" jawab bik Wati


"Tolong bantu bawa ke kamar ya bik"

__ADS_1


"Baik non"


*


Bianca melihat Riko yang tidur terlentang diatas kasur. Terbersit niat untuk membiarkan saja laki laki itu tidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Tapi entah mengapa ia merasa sangat bersalah jika ia melakukan itu. Hingga akhirnya ia berinisiatif mengganti pakaian dan membersihkan suaminya.


"Dasar pembunuh, murahan" Bianca mendongak disela sela ia melepas sepatu suaminya. Tampaknya suaminya itu hanya sedang melantur, tidak benar benar sadar. Tapi... Pembunuh? Murahan? apa maksudnya


Bianca tidak ingin terlalu ambil pusing, ia mempercepat pekerjaannya untuk mengganti pakaian suaminya. Setelahnya ia pergi meninggalkan kamar suaminya, dan menuju kamarnya sendiri yang tepat bersebelahan dengan kamar suaminya.


Drtt... Drtt...


"Halo Assalamu'alaikum mba" sapa Bianca


"Wa'alaikum salam Bia" terdengar sahutan mba Nini dari ujung sana

__ADS_1


Bianca melirik jam dinding sekilas, pukul 1 dinihari, ada apa mba Nini menghubunginya di jam se-larut ini "Ada apa ya mba?"


"Mmm Ayah... Ayah dirawat Bia"


"Ayah dirawat? Kenapa bik? Ayah sakit apa?"


"Bia tenang, Bia dengarkan bibi. Sekarang kamu tenang karena ayah sekarang sudah ditangani dokter dan perawat disini. Kamu datang saja kesini, ayah dirawat dirumah sakit Medika"


"Bia kesana sekarang bik"


Bianca segera bangkit dari kasurnya, mengambil tas selempangnya, lalu berjalan keluar menuju kamar suaminya. Ia akan meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya sebelum berangkat kerumah sakit. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia kembali tersadar jika saat ini hubungannya dengan suaminya tidak sedang baik baik saja.


Lagipula seingatnya suaminya itu tengah tertidur pulas tadi, jadi Bianca rasa ia tidak harus meminta izin kepada suaminya, dan akhirnya ia memilih berjalan menuju tangga tanpa berpamitan dengan suaminya. Namun baru satu langkah menapaki anak tangga, Bianca kembali menghentikan langkahnya, ia merasa bahwa ini salah, bagaimanapun ia adalah seorang perempuan yang sudah menikah, dan harus baginya untuk meminta izin suaminya sebelum pergi


Huh

__ADS_1


Dengan memberanikan diri Bianca membuka pintu kamar suaminya. Masih seperti semula, suaminya masih tertidur pulas dikasurnya. Bianca berjalan mendekat, mengambil tangan suaminya lalu menciumnya sebagai tanda pamit.


"Assalamu'alaikum... Suamiku"


__ADS_2