
Bianca mengangkat kepalanya saat mendengar perkataan dari suaminya itu. Tidak pernah Bianca bayangkan jika kata kata hina itu akan keluar dari mulut laki laki berkelas dihadapannya. Kata kata yang sama sekali tidak menyimpan tanggung jawab mengapa harus keluar dari mulut laki laki yang sangat disegani ini? Bianca bangkit dari duduknya, mengambil tas yang sempat ia taruh diatas meja, dan kini berganti menatap tajam laki laki tak berperasaan didepannya
"Aku sama sekali tidak menyangka jika mulut seorang laki laki dewasa sepertimu bisa se-menjijikkan ini. Bagiku pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bahkan saat aku memutuskan menikah denganmu, aku sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Aku harus mempersiapkan diriku untuk hidup selamanya bersama laki laki yang bahkan tidak pernah aku kenal sebelumnya, dan sekarang dengan mudahnya anda meminta saya untuk melupakan kejadian yang tadi malam anda lakukan? Anda sudah merampas semua hak saya, kebebasan saya, bahkan kehormatan saya, dan sekarang anda meminta saya melupakan semua itu?"
Bianca pergi dari ruangan itu tanpa kata, cukup baginya menerima penghinaan ini. Tidak ada lagi kata hormat dan menghormati dalam keluarga yang ia jalani ini. Pernikahan tanpa cinta yang ia harapkan bisa menumbuhkan cinta, ternyata musnah begitu saja. Bahkan saat laki laki itu sudah mengambil kehormatannya pun, ia masih belum bisa memiliki hati dari laki laki yang merupakan suaminya itu.
Disepanjang jalan Bianca hanya menatap pepohonan yang ia lalui, hatinya sejak tadi menimbang tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Menjalani rumah tangganya dengan do'a dan berharap suaminya luluh, atau berhenti di titik ini dan menyerah? Jika ia memilih menjalani pernikahan ini lebih lama, maka berarti ia harus lebih menguatkan hati, dengan ucapan bahkan perlakuan suaminya yang mungkin akan menyakitinya. Tapi jika ia memilih berhenti dan menyerah, maka ia akan melihat wajah kecewa ayahnya karena pernikahannya yang gagal. Belum lagi hujatan netizen diluar sana yang pasti akan mengganggu dirinya. Karena bagaimanapun sampai detik ini masih banyak netizen yang terus menghujatnya perihal penggerebekkan 3 bulan yang lalu
Huh
__ADS_1
"Pak, kita ke rumah ayah sebentar bisa?" tanya Bianca pada supir keluarga Dirgantara yang memang ditugaskan kak Chintya untuk mengantarnya
"Mmm maaf nona, tapi tuan... "
Bianca memperhatikan wajah supir didepannya dari kaca mobil, dapat ia lihat supir itu kebingungan untuk mengutarakan alasannya. Bianca menghela nafas kasar. Ia tahu jika supir itu pasti mendapat perintah dari tuannya untuk tidak melakukan hal diluar kewajibannya. "Yasudah kita pulang saja"
*
Bianca yang baru saja masuk ruang keluarga dengan melamun, sedikit tersentak saa5 mendengar suara kak Chintya yang berada dimeja makan. Bianca lantas jalan mendekati kak Chintya dengan menormalkan ekspresi wajahnya. Ia tidak mau jika sampai kak Chintya tahu apa yang terjadi padanya beberapa menit yang lalu
__ADS_1
"Bagaimana, Riko suka makanannya?" tanya kak Chintya mengawali pembicaraan saat Bianca sudah duduk dimeja makan
"Suka, masakan bi Wati kan tidak pernah gagal" jawab Bianca sambil melirik bi Wati yang sedang membersihkan piring di wastafel. Wanita tua itu hanya tersenyum malu, dan kini perhatian Bianca kembali ia fokuskan pada kak Chintya yang sedang menyantap makanannya.
"Kenapa dulu kakak bercerai?"
Uhuk
Bianca segera memberikan minum untuk kak Chintya saat melihat kakak iparnya tersedak karena mendengar pertanyaan gilanya. Bianca bahkan merasa tidak sadar mengeluarkan pertanyaan itu. Pertanyaan itu seakan meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah
__ADS_1
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya kak Chintya disela batuknya
"Aahh tidak, lupakan saja kak"