Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 37


__ADS_3

"Ayah kenapa mba?" Bianca yang baru saja tiba di rumah sakit, memberondong mba Nini dengan pertanyaan


"Bia.. Bia tenang dulu. Ayah sedang dirawat oleh dokter, kita do'a-kan saja yang terbaik untuk ayah ya" mba Nini mengamit lengan Bianca, dan membawanya duduk di kursi tunggu


Huh...


Helaan nafas berulang kali terdengar dari Bianca. Ia bahkan berulang kali menutup matanya dengan mengadahkan kepala keatas. Hingga suara pintu ruangan yang terbuka, membuat Bianca membuka matanya, dan dengan segera menghampiri dokter yang baru saja menangani ayahnya.


"Bagaimana keadaan ayah saya dok?"


"Keadaan pasien sudah lumayan membaik"


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan ayah saya dok?" tanya Bianca penasaran

__ADS_1


"Pasien mengidap penyakit kanker hati"


"Kanker hati? Itu tidak mungkin dokter, ayah saya baik baik saja. Tidak ada gejala apa apa selama ini, tidak ada tanda tanda bahwa ayah saya mengidap penyakit itu. Ini pasti salah, dokter pasti salah dok" Bianca berusaha menyangkal semua kabar yang ia dengar dengan se-tenang mungkin


"Ini nyata, pasien mengalami kanker hati stadium akhir"


Duar...


Bianca mengamit lengan mba Nini untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia masih belum percaya dengan semua ini, bagaimana mungkin ayahnya mengalami penyakit hati, ini sangat tidak mungkin. Berkali kali Bianca menghela nafas, mencoba positif thinking dan meyakinkan dirinya bahwa ini hanya sebuah mimpi, ini tidak benar benar nyata.


"Tidak ada gejala yang terlihat nyata dalam kasus penyakit ini. Hanya saja untuk penderitanya bisa saja merasakan gejala ringan seperti nyeri di perut atau penurunan berat badan"


Lutut Bianca terasa lemas, bahkan ia merasa tidak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri. Ini bukan jawaban yang ingin ia dengar. Ini adalah kabar buruk yang sama sekali tidak ia fikirkan sebelumnya.

__ADS_1


Jawaban dokter sangat memperkuat perkataan dokter sebelumnya tentang pengakit ayahnya. Bianca kembali menguatkan dirinya dan dengan perlahan membuka pintu ruang perawatan ayahnya. Dilihatnya tubuh ayahnya yang tampak ringkih, kenapa ia tidak memyadari ini sejak awal? Dan Sesibuk itukah dirinya hingga ia melupakan kesehatan ayahnya? Apakah karier yang selama ini ia banggakan telah membuat ia lupa untuk melihat keadaan orang tercintanya ini?


"Ayah... "


Bianca mencium punggung tangan ayahnya yang tertancap jarum infus. "Ayah sehat ya yah. Bia sayang ayah" Bianca menghapus air matanya yang bahkan tanpa permisi turun dan membasahi wajahnya.


Sedangkan di luar sana, mba Nini yang melihat Bianca masuk ke ruangan tuan-nya dengan tertatih hendak membantu. Namun ditahan oleh om Iwan "Biarkan Bianca sendiri dulu"


"Tapi mas"


"Dia tahu yang terbaik. Mungkin dia ingin menangis, biarkan. Ingat, anak itu tidak akan mau menangis dihadapan orang lain. Jadi biarkan kali ini dia mencurahkan tangisnya"


Mba Nini yang mendengar perkataan suaminya, mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk mengikuti Bianca. Apa yang dikatakan suaminya benar, Bianca tidak pernah mau menangis dihadapan orang lain dalam keadaan sedih sekalipun. Jiwa kuat dan senyum indah yang selalu Bianca tunjukan kepada semua orang, berhasil membuat semua orang percaya tentang betapa kuat jiwa anak perempuan itu. Bahkan untuk menangis dihadapan mami Gisel, tidak pernah Bianca lakukan karena ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan semua orang.

__ADS_1


"Terima kasih atas informasinya dok" ucap om Iwan kepada dokter yang sejak tadi belum beranjak dari hadapannya, yang hanya dijawab sang dokter dengan anggukan kemudian berlalu


__ADS_2