Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 48


__ADS_3

"Jangan pernah tunjukan wajahmu dihadapanku lagi. Pergi!"


Om Iwan segera membawa mba Nini masuk kedalam rumah. Meninggalkan Riko yang masih mengaduh menahan sakit karena pukulan om Iwan tadi. Namun bukan itu yang menjadi beban pikirannya, yang menjadi beban pikirannya sekarang adalah, dimana Bianca berada? Melihat sikap mba Nini dan om Iwan, nampaknya dua orang itu tidak mengetahui keberadaan Bianca. Apa mungkin Bianca sengaja pergi tanpa memberi tahu siapapun.


Riko kembali menuju mobil dengan langkah gontai. Ia sudah berusaha mencari Bianca kesana kemari. Namun hingga detik ini, ia masih belum menemukan dimana Bianca berada. Riko ingin marah pada dirinya karena sebagai seorang suami, ia tidak bisa menjaga istrinya. Namun disisi lain ia juga masih membutuhkan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan besarnya selama ini, dan satu satunya orang yang bisa membantunya menuntaskan pertanyaan ini hanya kak Chintya.


Riko segera mencari kak Chintya, sesaat setelah ia memasuki rumah "Kak"


"Riko bagaimana dengan Bianca, apa dia... " ucapan kak Chintya terhenti saat melihat wajah Riko yang dipenuhi memar dibeberapa bagian. "Wajah kamu kenapa Riko?"

__ADS_1


"Tidak apa apa kak, hanya luka kecil" jawab Riko


"Iya tapi kenapa? Siapa yang melakukan ini?" tanya kak Chintya menuntut


"Om Iwan. Tadi aku kesana untuk menanyakan keberadaan Bianca, tapi setelah om Iwan dan mba Nini tahu semuanya, om Iwan memukuli aku tanpa ampun"


"Kemari, biar kakak obati"


"Ingat ya Riko, kakak tidak akan pernah memaafkan kamu kalau kamu tidak membawa Bianca kembali ke rumah ini. Jadi kamu harus tetap sehat supaya bisa mencari Bianca. Sekarang kemari biar kakak obati"

__ADS_1


Riko menurut pasrah. Sedari dulu orang yang ia takuti bukanlah mama ataupun papanya, tapi kakaknya. Maka dari itu ia tidak akan pernah bisa menolak segala keinginan kakaknya. Termasuk keinginan kakaknya agar ia memperbaiki hubungannya dengan Bianca. Namun ia tidak mau begitu saja memperbaiki hubungannya dengan Bianca sebelum ia memastikan semuanya. Memastikan bahwa wanita yang akan ia perjuangkan itu bukanlah pembunuh seperti yang ia tuduhkan.


*


Huek...


Bianca mengusap mulutnya setelah memuntahkan semua isi perutnya. Hampir setiap pagi hal ini ia alami, ia akan merasakan mual sejak bangun tidur, hingga menjelang jam 9 pagi. Tidak hanya itu, ia juga akan merasa mual jika mencium bau tertentu. Bianca mengatur nafasnya berulang kali. Ia bahkan merasa tubuhnya sangat lemas jika pagi seperti ini.


Disaat seperti ini Bianca jadi mengingat ayahnya. Ia juga mengingat rumah besar keluarganya, apakah bik Sum masih tetap membersihkan rumah peninggalan orang tuanya seperti apa yang ia ucapkan beberapa hari yang lalu saat akan pergi dari rumah keluarganya. Bagaimana kabar kak Chintya dan bik Wati saat mendengar kabar bahwa dirinya tidak berada di rumah kediaman keluarga Pradipta di pagi buta saat itu. Bianca jadi menebak nebak sendiri, apakah laki laki yang masih berstatus suaminya itu ada usaha untuk mencarinya atau tidak. Atau mungkin laki laki itu malah pergi party untuk merayakan kesuksesannya untuk menyingkirkan hama dari keluarganya.

__ADS_1


"No Bia, jangan pernah memikirkan laki laki brengsek itu"


Bianca keluar dari kamar mandi dan menuju kamarnya yang tepat bersebelahan. Bianca membuka tas berukuran sedang yang berisi beberapa potong baju yang sudah tergeletak sejak tiga hari yang lalu. Ya, dan sejak tiga hari yang lalu ia sampai di desa ini, ia belum sama sekali memindahkan pakaiannya kedalam lemari, karena sejak ia turun dari bis waktu itu, ia langsung merasakan mual dan lemas sepanjang hari.


__ADS_2