
Bianca menatap bangunan mewah yang ada didepannya. Bangunan mewah yang sudah menjadi saksi atas pertumbuhannya. Rumah mewah yang merupakan rumah besar kediaman keluarga Prabaswara.
"Tidak akan lama lagi ayah, tidak akan lama lagi Bia akan kembali kesini untuk menjaga rumah ini dan membangun kenangan baru dalam keluarga kita. Ayah yang tenang ya disana, jangan khawatirkan Bia, Bia janji akan hidup jauh lebih baik mulai hari ini. I love you ayah" ucap Bianca dalam hati sembari menghapus setitik air mata yang memenuhi matanya
Bianca melangkah menjauh meninggalkan rumah besar itu. Hari ini ia akan kembali ke rumah suaminya setelah satu minggu lamanya menghabiskan waktu di rumah besar keluarganya. Ia sudah bertekad untuk menyelesaikan semuanya, ia akan menyelesaikan pernikahan yang bahkan tidak layak disebut sebagai rumah tangga ini.
"Kita jalan pak" perintah Bianca, sesaat setelah ia duduk dikursi mobil.
Hari ini ia pulang tidak dijemput oleh suaminya, melainkan dijemput oleh supir pribadi keluarga suaminya. Bianca hanya duduk diam disepanjang perjalanan. Tidak ada hal yang bisa membuatnya ceria atau bahkan mengalihkan sedikit perhatiannya agar tidak memikirkan apa yang saat ini menjadi beban fikirannya.
"Nona ingin sesuatu?" tanya pak supir berinisiatif karena sedari keluar dari rumah besar keluarganya tadi, ia melihat nonanya begitu murung
"Tidak pak, kita langsung kerumah saja"
__ADS_1
*
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya kini Bianca tiba didepan kediaman Dirgantara. Dapat Bianca lihat, didepan sana kak Chintya tengah menanti dirinya dengan senyuman. Bianca berjalan mendekati kak Chintya lalu menjabat tangannya
"Bagaimana kabarmu Bia?"
"Bia baik kak"
"Ayo masuk, kamu harus istirahat"
"Tolong bawa kopernya ke kamar utama ya pak" pinta kak Chintya
"Baik nona"
__ADS_1
Setelah pak supir berjalan menjauh menaiki tangga, Bianca berjalan mendekati kak Chintya. "Kak... Bukankah?"
"Kakak yang bertanggung jawab jika Riko marah. Kalian harus menyelesaikan masalah rumah tangga kalian, bukan malah sama sama menghindar seperti ini. Kakak mau kalian hidup bahagia Bia"
"Tapi kami sudah baik selama ini kak"
"Seperti pembantu dan majikan maksudmu? Kakak tidak tahu bagaimana jalan fikiran kalian bekerja. Tapi kakak hanya ingin berpesan bahwa perpisahan bukan jalan yang terbaik"
Bianca diam dan menunduk saat mendengar kata kata kak Chintya. Ia sedikit merasa tertampar saat mendengar bahwa perpisahan bukanlah jalan terbaik untuk sebuah hubungan. Ia tahu itu, ia tahu karena ia telah melihat secara nyata bagaimana ayahnya yang selama ini hanya hidup untuk membuat dirinya bahagia. Tapi bukankah kisah cinta antara ayah dan bundanya adalah kisah cinta yang romantis, sedangkan dirinya? Ia bahkan tidak berani mengatakan satu katapun untuk menjelaskan tentang pernikahannya.
"Bia... " panggil kak Chintya saat mendapati Bianca yang hanya melamun
"Iya kak?"
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan. Kamu istirahat ya" kak Chintya meminta bik Wati untuk membawanya menuju kamar setelah berbicara dengan Bianca. Sedangkan Bianca menatap kepergian kak Chintya dengan kepala berdenyut, ia tidak tahu akhir akhir ini ia sering merasakan pusing dan mual secara tiba tiba