Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 51


__ADS_3

Bianca sudah tiba di rumah mbok Iyem, dukun yang tadi Neneng ceritakan. Bianca menghela nafasnya berulang kali untuk menghilangkan kegelisahannya. Bianca sedikit takut dengan hasil yang akan ia terima.


"Ayo masuk Neng" mbok Iyem mempersilahkan Neneng dan Bianca masuk saat menyadari keberadaan keduanya. "Jadi, ada apa ini mengunjungi rumah mbok?" tanya mbok Iyem saat ketiganya sudah duduk diruang tamu


"Neneng kesini mau mengantar teteh ini mbok, katanya mau tes kehamilan" jawab Neneng polos


"Oh begitu, kebetulan mbok juga tidak ke kebun hari ini. Lagi butuh istirahat" jawab mbok Iyem "Kalau begitu ayo ikut mbok, kita periksa di dalam" terang mbok Iyem


"Ayo silahkan berbaring" ucap mbok Iyem


"Baik mbok"


Mbok Iyem mulai menyingkap baju Bianca sedikit, setelahnya ia mulai meraba perut Bianca untuk mengetahui apakah Bianca benar hamil atau tidak. Mbok Iyem tampak fokus dengan aksinya, sedangkan Bianca hanya mampu memejamkan kedua matanya. Ia sedikit takut mendengar penjelasan serta kenyataan yang akan ia terima.


"Sudah" ucap mbok Iyem setelah selesai memeriksa Bianca


Bianca bangun dari posisi berbaringnya "Bagaimana mbok?" tanya Bianca pelan

__ADS_1


"Kamu sedang hamil nak, usia kandungan kamu sudah memasuki 4 minggu" jawab mbok Iyem dengan tersenyum


"Hamil? Saya hamil 4 minggu mbok?" tanya Bianca memastikan


"Iya, kondisi bayinya baik. Posisi bayi pun memang sudah semestinya. Hanya saja sebagai ibu hamil, kamu tidak boleh malas. Harus selalu berjemur, jangan lupa saat mendekati waktu melahirkan, kamu jangan berleha leha karena itu akan mempersulit proses melahirkan" nasehat mbok Iyem, khas orang desa yang benar benar percaya dengan mitos ibu hamil


"Iiya mbok"


*


"Mmm teh, Neneng boleh nanya sesuatu ke teteh?" tanya Neneng saat keduanya berjalan menuju rumah Bianca


"Teteh... Maaf ya teh, teteh memang sudah menikah?" tanya Neneng ragu


Bianca membuka pintu rumahnya, karena memang keduanya sudah sampai di rumah Bianca. Bianca segera masuk kedalam rumah, tidak lupa ia juga mempersilahkan Neneng untuk masuk kedalam rumahnya. Setelah itu keduanya duduk di kursi rotan di ruang tamu.


"Saya sudah menikah Neng" ucap Bianca, menjawab pertanyaan yang sempat diajukan Neneng

__ADS_1


"Lalu suami teteh dimana?" tanya Neneng lebih berani


"Suami saya di jakarta. Saya pergi dari rumahnya karena ada masalah" jawab Bianca sembari menerawang.


"Yang sabar ya teh" Neneng tidak lagi melanjutkan pertanyaannya saat dirasa pertanyaan pertanyaannya sudah tidak sesuai untk ia ajukan


"Terima kasih Neng, untuk saat ini, saya belum bisa cerita banyak. Tapi suatu saat nanti, saya pasti akan ceritakan semuanya, saat saya benar benar siap"ucap Bianca


"Neneng faham teh"


"Kamu sendiri pernah bilang kalau kamu bukan penduduk asli desa ini. Lalu kamu darimana?" tanya Bianca kepada Neneng, karena seingatnya Neneng pernah mengatakan bahwa ia bukanlah penduduk asli desa ini


"Neneng... Neneng penduduk desa sebelah teh. Neneng kesini untuk mencari pekerjaan, dan akhirnya Neneng menemukan pekerjaan yang pas untuk Neneng disini"


Bianca sedikit mengerutkan dahi. Seingatnya Neneng pernah mengatakan bahwa dirinya bukan penduduk asli desa ini, ia berasal dari desa yang jauh, yang akhirnya hidup di desa ini untuk menenangkan diri. Tapi apakah mungkin Bianca hanya salah mengingat?


"Tapi seingat saya, kamu pernah bilang kalau kamu berasal dari desa yang jauh, dan akhirnya menetap disini untuk menenangkan diri" 5anya Bianca sedikit bingung

__ADS_1


"Mmm itu... Neneng teh dari desa tetangga yang agak jauh teh. Bukan desa sebelah ini" terang Neneng


__ADS_2