
Bianca duduk dikursi yang berada tepat didepan jendela. Langit malam yang indah dapat Bianca saksikan dari jendela kecil yang ada dihadapannya. Bianca mengelus perutnya dengan tersenyum, ia tidak pernah menyangka jika apa yang terjadi malam itu bisa membuatnya berada pada posisi sekarang, hidup jauh dari keluarga, tidak memiliki teman, dan bahkan ia harus bekerja untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi.
"Sehat sehat disana ya nak, kita lewati ini semua bersama sama. Ibu janji bahwa kita akan mencapai bahagia bersama, tanpa ayahmu"
Setetes air mata jatuh tanpa bisa Bianca tahan. Selama ini ia belum pernah merasakan cinta dari laki laki selain ayahnya, saat bertemu dan menikah dengan Riko, ia berharap apa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bisa ia rasakan bersama Riko. Berpacaran setelah menikah, rumah tangga harmonis, suami humoris, Bianca sangat mendambakan itu semua. Namun kini harapan yang telah ia mimpikan harus ia kubur dalam dalam, karena pada kenyataannya, hanya dirinyalah yang menginginkan pernikahan ini.
Bianca bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju lemari usang yang ia pakai untuk menyimpan pakaiannya. Bianca teringat satu benda yang sampai saat ini belum berani ia buka, sebuah flashdisk yang ia temukan didalam laci meja kerja Riko malam itu. Bianca memindai flashdisk itu dengan sedikit ragu, ia takut mengetahui fakta yang mungkin saja akan ia dapatkan dari flashdisk itu.
Huh
"Apa mungkin didesa ini ada warnet? Lebih baik aku tanya saja pada Neneng besok pagi"
*
__ADS_1
Pagi sekali Bianca sudah duduk didepan rumahnya menunggu Neneng untuk bekerja. Tidak lupa Bianca juga membawa beberapa peralatan yang akan ia bawa untuk memetik daun teh. Atas ajakan Neneng, saat ini Bianca bekerja sebagai tukang petik daun teh, dan saat itu tanpa pikir panjang Bianca mengiyakan, mengingat jika ia tidak memiliki apapun untuk menjamin hidupnya didesa ini. Ia tidak membawa apapun dari kediaman Dirgantara, bahkan handphone-nya pun terpaksa ia jual untuk mendapatkan uang, dan pergi dari jakarta secepat mungkin
"Pagi teh, tumben pagi sekali teteh sudah siap" tanya Neneng saat melihat Bianca yang sudah tampak siap untuk bekerja
"Ia Neng" Sahut Bianca tersenyum "Oh iya Neng, disini ada warnet tidak?" tanya Bianca
"Warnet?" tanya Neneng tak yakin
"Iya"
"Oh ya? Kebetulan kalau begitu, nanti setelah pulang bekerja aku akan meminjam laptopmu saja ya Neng"
"Siap. Oh ya, bagaimana keadaan kandungan teteh, tidak ada masalahkan?" tanya Neneng khawatir
__ADS_1
"Tidak, dia sangat kuat Neng. Bahkan aku tidak pernah merasakan mual lagi sekarang, dia sepertinya mengerti kondisi ibunya" jawab Bianca sembari mengelus perutnya
"Syukurlah kalau begitu"
Jika didesa Bianca bisa hidup tenang, karena masa kehamilan yang tidak terlalu merepotkan. Maka ditengah kota sana, Riko sedang memarahi bik Wati habis habisan karena bik Wati lupa membelikan persediaan mangga muda yang harusnya selalu dikonsumsi Riko setiap pagi untuk mengurangi rasa mualnya. Kak Chintya yang mendengar suara Riko yang tampaknya tengah marah, segera menuju dapur, disana ia melihat Riko yang sudah berjalan menjauh menuju pintu depan.
"Riko kenapa bik?" tanya kak Chintya
"Bibi lupa membelikan mangga muda pesanan den Riko, non" jawab bik wati
"Mangga muda?"
"Iya non, selama satu minggu terakhir den Riko selalu memakan mangga muda dipagi hari, dan biasanya bibi tidak lupa untuk menyiapkan persediaannya, tapi kemarin bibi lupa untuk membeli ke pasar, dan den Riko marah"
__ADS_1
"Bukankah selama ini Riko tidak pernah marah bi?" tanya kak Chintya tak percaya
"Iya nona, tapi selama satu minggu terakhir sepertinya mood den Riko lagi tidak baik, mungkin ini juga disebabkan karena non Bianca yang pergi dari rumah"