
Bianca keluar dari persembunyiannya saat melihat Riko yang kembali maklsuk ke pemakaman. Bianca berjalan perlahan, dan pqndangan matanya jatuh pada Riko yang terlihat duduk diantara makam kedua orang tuanya. Setelah dirasa cukup, Bianca kembali ke mobil dan meminta om Iwan untuk segera melajukan mobilnya.
Sepqnjang perjalanan, tidak ada pembicaraan antara mba Nini, om Iwan, dan Bianca. Jika Bianca terdiam karena memikirkan apa tujuan Riko ke makam kedua orang tuanya, maka om Iwan dan mba Nini terdiam karena mereka sempat melihat dimana Bianca yang bersembunyi dibalik pohon besar yang berada didekat pemakaman hanya untuk menghindari Riko. Om Iwan sedikit menghela nafasnya, jujur ia tidak ingin ada perpisahan antara Bianca dan Riko, karena menurut cerita yang ia dengar dari Bianca, permasalahan yang terjadi dalam pernikahan mereka hanya sebuah kesalahfahaman, dan om Iwan takut Bianca akan menyesal suatu saat nanti. Tapi jika ia bersikeras untuk tetap mempertahankan hubungan Bianca dan Riko, ia takut jika Bianca akan marah padanya
"Bia... "
Om Iwan mencoba memanggil Bianca yang sedari tadi duduk melamun, dan memandang keluar jendela. Om Iwan ingin mengingatkan pada Bianca agar ia bisa memikirkan hal ini matang matang. Namun melihat Bianca yang terlihat lesu tanpa semangat membuat om Iwan mengurungkan niatnya
*
Sementara itu, Dio yang sejak tadi berada didalam mobil, segera keluar dari mobil saat melihat mobil Riko memasuki parkiran perusahaan. Dio berdiri di kap mobil menunggu Riko melewatinya. Jika ada Riko, itu berarti ada Sonia, dan ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara kepada Sonia
"Riko tunggu" melihat Riko menghentikan langkahnya, Dio segera menghampiri
__ADS_1
"Dokter Dio?"
"Sorry, aku fikir ada Sonia" ucap Dio kikuk
Riko menatap Dio sejenak, sebelum akhirnya ia mengeluarkan handphone dari saku celananya "Hallo, ke parkiran sekarang!" titah Riko,
Dio hanya mengernyitkan dahinya, tidak mengerti akan apa yang dilakukan Riko. Sedangkan Riko yang melihat kebingungan diwajah Dio hanya tersenyum tipis. Hingga didetik berikutnya hentakan hak tinggi yang beradu dengan lantai terdengar nyaring
"Maaf pak" Sonia menundukkan kepalanya, masih belum sadar akan keberadaan Dio yang berada dibelakang Riko
Diainilah dokter Dio bersama Sonia berada, di kantin perusahaan milik Riko. Sonia meminum minuman yang sudah ia pesan sebelumnya, tanpa menghiraukan Dio yang sejak tadi menatapnya. Sonia seolah acuh walau sebenarnya hatinya berdetak tidak karuan
"Berapa usianya?" tanya Dio ambigu. Namun Sonia mengerti akan arah pembicaraan Dio, ia bahkan sampai menghentikan minumnya saat mendengar pertanyaan dari Dio
__ADS_1
"Dua puluh tiga tahun" jawab Sonia asal
"Son..."
"Aku rasa pertemuan ini tidak penting, seharusnya aku menolak dari awal"
"Son aku... "
"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan, aku permisi" Sonia bangkit dari kursinya, dan meraih handphone-nya yang sejak tadi ia letakkan diatas meja. Setelah itu melangkah meninggalkan Dio disana. Namun Dio yang melihat Sonia melangkah pergi segera mencekal pergelangan wanita itu
"Aku minta maaf" ucap Dio penuh sesal
"Aku maafkan" tanpa menunggu kata selanjutnya, Sonia segera menghempas tangan Dio dan kembali berjalan menjauh
__ADS_1
Melihat Sonia yang berjalan menjauh, Dio segera mengejarnya, hingga akhirnya Dio berhasil menghalangi langkah Sonia dengan berdiri tepat dihadapannya "Aku minta maaf karena sempat menuduhmu yang tidak tidak, sekarang aku tahu yang sebenarnya bahwa kamu tidak hamil anak Riko, dan tolong beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan kita"