
Bianca turun dengan keadaan yang sedikit lebih rapi. Ia melihat mba Nini yang tampak sibuk menyiapkan sarapan di meja makan, sedangkan om Iwan, seperti halnya laki laki pada umumnya, om Iwan membaca koran di meja makan sembari menemani mba Nini. Bianca berjalan mendekat dan duduk di meja makan, hingga membuat Om iwan yang saat itu membaca koran menurunkan koran tersebut dari pandangannya
"Selamat pagi" sapa mba Nini
"Pagi mba, om"
"Pagi" jawab om Iwan sembari melipat korannya dan meletakkannya diatas meja
"Mba yang memasak semua ini?" tanya Bianca takjub, setahunya mba Nini hanya pintar dalam hal make-up, tapi ternyata wanita itu juga pintar memasak, melihat masakan yang tersaji saja sudah membuat Bianca merasa lapar
"Tentu saja" jawab mba Nini bangga
"Hanya cantik visual Bia, kalau soal rasa... "
"Apa?" tanya mba Nini dengan tatapan nyalang
__ADS_1
"Rasanya tidak kalah enak. Tampilan cantik dan rasanya enak, bukankah om sangat pandai memilih istri?" ucap om Iwan sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Bianca
"Tentu saja" jawab Bianca cepat sembari membalas kerlingan mata om Iwan.
Hingga akhirnya, pagi itu ketiganya sarapan dengan canda dan tawa. Sejenak, Bianca bisa melupakan kesedihannya. Setelah selesai dengan sarapannya, mba Nini segera membereskan dapur kembali, sedangkan om Iwan kembali membaca koran yang tadi sempat ia tinggalkan
"Apa laki laki itu masih ada didepan?" tanya om Iwan kepada mba Nini yang saat itu tengah mencuci piring di wastafel
"Aku rasa dia sudah pergi, mobilnya tidak ada lagi diluar" jawab Mba Nini
"Mas sudahlah, mungkin dia tahu bahwa Bianca tidak suka jika terlalu dipaksa, apalagi didesak. Bukankah itu bagus, jika dia memahami Bianca, itu artinya dia selama ini memperhatikan Bianca, hanya saja dia belum sadar jika sebenarnya dia itu jatuh cinta pada Bianca" sahut mba Nini sembari terus melakukan aktivitasnya
Om Iwan melirik mba Nini, ia sedikit curiga dengan istrinya itu, mengapa sejak semalam istrinya itu selalu saja membela Riko. Ia mengalihkan pandangannya kepada Bianca yang tampak sedikit menunduk, setelah itu ia berdiri dan membawa koran tersebut ke ruang tamu, ia tidak ingin membuat Bianca semakin pusing dengan mendengar perdebatan kecil antara dirinya dan istrinya. Melihat kepergian om Iwan, mba Nini mendekati Bianca,
"Bia... Kamu baik kan?" tanya mba Nini
__ADS_1
"Bia baik mba, kalau begitu Bia duluan ke kamar" Bianca segera bangkit dari kursinya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Mba Nini hanya melihat kepergian Bianca tanpa berniat untuk mencegahnya. Hingga tiba tiba pelukan dari belakang membuat mba Nini tersadar dari lamunannya "Mas?" ia tersentak saat om Iwan tiba tiba memeluknya
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya om Iwan
"Aku... Aku tidak merencanakan apapun" jawab mba Nini gugup
"Kamu yakin ingin mempersatukan Bianca dan Riko kembali?"
Mba Nini membalik tubuhnya "Kita hanya orang asing yang akhirnya dipilih tuan Andre untuk mendampingi putrinya. Aku rasa akan sangat salah jika kita mendukung perpisahan antara Bianca dan Riko, aku hanya takut Bianca menyesali keputusannya seperti halnya tuan Andre yang baru menyadari rasa cintanya yang begitu besar, tapi saat ia ingin mengungkapkan itu, dan memperbaiki hubungan antara dirinya dan nyonya Leodra, justru nyawa nyonya Leodra tidak tertolong, dan kamu tahu bahwa hal itu menjadi penyesalan terbesar tuan Andre selama hidupnya" jelas mba Nini
"Tapi Bianca sudah memintaku untuk mendaftarkan gugatan cerai mereka ke pengadilan agama"
"Kita masih bisa membohongi Bianca, katakan saja bahwa kamu sudah mengurus semuanya, dan mengenai Riko, biar itu menjadi urusanku. Percayalah, aku melihat penyesalan yang sangat dalam di wajah Riko. Dan biarkan dia memperbaiki kesalahannya, dia juga manusia biasa mas" mendengar perkataan mba Nini membuat om Iwan sedikit berpikir, sebelum akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju
__ADS_1