
"Ayah... Ayah tahukan kalau Bia sangat menyayangi ayah, Bia sangat menyayangi ayah. Ayah adalah laki laki pertama yang Bia lihat saat Bia lahir kedunia. Ayah adalah laki laki pertama yang membuat Bia mengerti arti cinta dan kasih sayang. Tapi bagaimana bisa anak ayah yang katanya sangat menyayangi ayah ini tidak tau tentang penyakit yang bersarang ditubuh ayahnya sendiri. Apakah aku masih mampu mengatakan bahwa aku menyayangi ayah?" Bianca menghapus air matanya dengan menggeleng tidak yakin
"Bia malu untuk mengakuinya ayah, Bia malu. Nyatanya Bia tidak bisa menjaga ayah, Bia tidak bisa menggantikan peran bunda dalam hidup ayah. Maafkan Bia ayah, maafkan putrimu yang telah melalaikan kesehatanmu selama ini. Maaf"
Keheningan sangat terasa didalam ruang perawatan tuan Andre, bahkan tetesan air infus terdengar begitu jelas ditelinga Bianca. Hingga suara yang sedikit nyaring dari salah satu alat yang ada di ruangan itu membuat Bianca tersadar. Diliriknya asal suara itu, dan tiba tiba nafasnya tercekat saat menyadari sesuatu. Tanpa pikir panjang Bianca segera memencet tombol yang ada dimeja ruangan tersebut, sebuah tombol yang ia tahu berfungsi untuk memanggil dokter dan perawat.
Diluar ruangan sana, om Iwan dan mba Nini yang sejak tadi memberi waktu luang untuk Bianca berinteraksi dengan ayahnya, segera beranjak dari kursi saat menyadari dokter yang barusaja pergi dari ruangan tuannya kini tengah berjalan cepat kearah mereka. Apa yang terjadi? Mungkin itulah sederet peetanyaan yang hanya mampu keduanya ucapkan dalam hati. Bahkan keduanya tidak berani memberhentikan dokter untuk sekedar bertanya ada apa
Hingga suster yang tadi mengikuti sang dokter membuka pintu ruang perawatan dan membawa Bianca keluar. Setelahnya perawat itu kembali menutup pintu ruangan dengan rapat. Mba Nini yang melihat Bianca menangis sesegukan, segera memapah Bianca dan memeluknya. Ia tidak sanggup melihat Bianca serapuh ini, ia tidak pernah melihat Bianca menangis seperti ini bahkan dalam keadaan sedih sekalipun. Namun kali ini, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana anak yang selama ini ia dampingi pertumbuhannya dalam dunia entertainment, kini tengah menangis sesegukan dihadapannya
__ADS_1
"Mba... Ayah mba... "
"Ayah... "
Bianca terus menerus menyebut ayahnya dalam pelukan mba Nini. Bianca belum siap jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, Bianca tidak sanggup. Sedangkan mba Nini hanya diam dengan terus mengelus punggung Bianca, sesekali ia akan menghapus air matanya yang jatuh. Mba Nini mengerti ketakutan anak perempuannya ini, mba Nini faham bagaimana rasanya berada dalam posisi yang saat ini dirasakan anak perempuannya ini
"Maaf, pasien tidak bisa kita selamatkan. Garis takdirnya sudah datang, dan pasien dinyatakan meninggal dunia" Bukan ini kabar yang Bianca harapkan, bukan kabar buruk ini yang Bianca tunggu.
"Dokter, katakan bahwa apa yang dokter katakan salah, ini semua tidak benarkan dok? Ini kesalahan medis kan? Dokter salah menggunakan alat tadi. Ayo kita cek ulang, kita cek sama sama dok"
__ADS_1
Bianca menarik tangan mba Nini untuk masuk kedalam ruangan tun Andre. Namun mba Nini kembali membawa Bianc kedalam pelukannnya dengan terus mengelus punggungnya. Ia tahu bagaimana hancurnya hati anak yang ada dalam pelukannya ini
"Bia sabar nak" mba Nini menahan tangisnya
"Ini benar nona, pasien tidak bisa kami selamatkan. Allah lebih sayang kepada ayah nona, jadi mohon ikhlaskan kepergiannya"
"Tapi kenapa dok? Kenapa secepat ini?" raung Bianca tak tahan
"Penyakit kanker hati ini seringkali disebut The sillent killer karena ia bisa membunuh penderitanya secara diam diam, dan ini yang terjadi pada ayah nona kali ini"
__ADS_1