Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 50


__ADS_3

Bianca kembali sadar dari lamunannya saat melihat matahari yang sudah tampak meninggi. Bianca keluar dari kamar, dan menuju halaman depan rumah. Hamparan luas perkebunan teh menyambut dirinya pagi ini. Pagi ini ia tidak merasakan mual yang terlalu seperti hari hari sebelumnya, ia hanya merasa mual saat bangun tidur, dan setelah itu semuanya kembali normal


Bianca tersenyum sendiri melihat hamparan kebun teh didepan sana, terlintas bayangan dirinya bersama Riko dan anak kecil yang Bianca harapkan adalah buah hatinya bersama Riko. Semakin lama memandang kebun teh itu, imajinasi Bianca semakin menjadi. Ia merasa bahwa apa yang ia lihat benar benar nyata. Ia seakan melihat dirinya duduk diatas tikar, dan menyaksikan Riko yang bermain bersama anak mereka.


"Andai semuanya seindah itu" Bianca mengusap perutnya, ia tidak tahu apa yang menyebabkan dirinya mual akhir akhir ini, tapi entah mengapa ia merasa bahwa ada kehidupan didalam perutnya. Ia bisa merasakan damai saat dirinya mengelus perutnya seperti ini


"Teteh ngapain?"


Lamunan Bianca buyar saat mendengar suara seseorang yang ia kenali. Ia tersenyum menatap sosok itu, seseorang yang menolongnya hingga akhirnya menemukan rumah yang damai untuk ia tinggali ini. Bianca duduk dikursi depan rumah kecilnya, dan diikuti oleh wanita tersebut


"Tidak, hanya mencari udara segar"


"Disini udaranya memang segar teh, apalagi kalau pagi seperti ini"


"Iya" Bianca kembali tersenyum menatap hamparan kebun teh itu. Hingga akhirnya ia teringat sesuatu "Mm Neng, Disini apotek dimana ya?" tanya Bianca


"Apotek?" tanya Neneng yang dijawab anggukan antusias oleh Bianca "Disini apotek teh jauh, harus ke pusat kota dulu. Memang ada perlu apa teh? Teteh sakit?" tanya Neneng khawatir

__ADS_1


"Tidak, hanya penasaran, apakah didesa ini ada apotek atau tidak" kilah Bianca


"Disini mah orang orang kalau sakit, beli obatnya di warung teh. Jarang yang ke apotek kota. Karena kan jauh, butuh biaya transportasi segala macam"


"Ohh, memang di warung jual test pack?" tanya Bianca pelan


"Test pack?" tanya Neneng bingung "Alat tes kehamilan bukan teh?" sambung neneng dengan ragu, dan dijawab anggukan oleh Bianca.


"Memang ada di warung?" tanya Bianca lagi saat tidak mendapat jawaban dari Neneng


"Dukun?"


"Iya, dukun kandungan teh. Rumahnya tidak jauh dari sini, dia juga kadang ikut memanen teh di kebun ini" terang Neneng "Memang teteh kenapa? Hamil?" tanya neneng, dan setelah itu ia menutup mulutnya saat merasa terlalu lancang


"Tidak apa apa" ucap Bianca memaklumi


"Maaf ya teh, Neneng tidak bermaksud untuk menyinggung teteh"

__ADS_1


"Iya, tidak apa apa Neng"


"Teh, Neneng merasa seperti tidak asing sama wajah teteh. Teteh pernah masuk Tv ya?"


"Masuk Tv?" tanya Bianca, yang diangguki Neneng dengan polos. "Hahaha, Memang bisa orang sebesar ini masuk Tv Neng?" tanya Bianca


"Bisa atuh teh. Orang gendut saja bisa masuk Tv" jawab Neneng antusias


"Tapi aku tidak percaya kalau ada orang masuk Tv neng, kan susah harus bongkar kaca Tv dulu, setelah itu dipasang lagi. Susah Neng" terqng Bianca


"Ishh bukan itu maksud Neneng teh, maksud neneng itu syuting"


"Ohh syuting? Mana mungkin sih Neng orang kampung seperti ini bisa syuting. Stasiun Tv-nya pasti tidak setuju"


"Tapi buktinya orang orang bisa viral teh. Sekarang mah bukan soal rupa teh, tapi soal potensi" jawab Neneng yakin sembari mengacungkan jari jempolnya


Bianca hanya tertawa melihat tingkah Neneng. Wanita yang Bianca perkirakan seumuran dengannya itu tampak lucu menurut Bianca. Rambut dikepang dua layaknya anak kecil, gaya Bicara yang lembut, dan lesung pipi yang menawan. Jika saja kepang dua dikepala Neneng dilepas, Bianca yakin Neneng pasti akan terlihat sangat cantik.

__ADS_1


__ADS_2