
"Kamu pergi saja ke kebun Neng" ucap Bianca kepada Neneng yang sedari tadi tidak pergi dari sisinya
"Tidak teh, bagaimana kalau nanti saat Neneng pergi, teteh malah membutuhkan Neneng. Neneng tidak bisa meninggalkan teteh sendiri disini. Lagipula, ini sudah jam 9, sebentar lagi waktunya pulang" jawab Neneng
Bianca memejamkan kedua matanya. Ternyata wanita didepannya ini cukup keras kepala juga, walaupun benar yang dikatakan Neneng bahwa dirinya sewaktu waktu pasti akan membutuhkan bantuan Neneng, tapi bukan berarti Neneng boleh menghiraukan jam kerjanya hanya untuk menjaga dirinya. Bianca sadar bahwa saat ini ia tidak memiliki apa apa, dan ia tidak akan mampu memberikan imbalan atas kebaikan Neneng ini.
"Terima kasih ya Neng" ucap Bianca tulus
"Sama sama teh, Neneng teh sudah menganggap teteh seperti saudara Neneng sendiri" ucap Neneng "Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya kepada kamu Bianca. Kamu sudah melalui kehidupan rumah tangga yang pahit gara gara saya, maaf" batin Neneng
Neneng berjalan keluar saat mendengar suara kursi depan rumah Bianca yang tampak berdenyit, ia yakin ada seseorang yang menduduki kursi tua itu, hingga suara kursi tua itu tampak terdengar keras. Neneng membuka pintu, dan mendapati wanita cantik yang tengah duduk didepan rumah Bianca. Neneng tidak lagi terkejut, karena ini bukan kali pertama ada orang yang meneduh dirumah ini, mengingat rumah ini adalah satu satunya rumah yang paling dekat dengan perkebunan teh
"Teh... " sapa Neneng
"Eh... Ternyata ada orang, maaf saya tidak izin dulu untuk meneduh disini" wanita itu menegakkan tubuhnya
"Tidak apa apa teh, lagipula ini juga bukan rumah saya, ini rumah teman saya" jelas Neneng
__ADS_1
"Ohhh, maaf sekali lagi"
"Iya teh tidak apa apa. Teteh sedang penelitian disini?" tanya Neneng lebih lanjut
"Sebelumnya perkenalkan saya Sonia, saya kesini untuk... ya meneliti, meneliti kebun teh ini apakah layak untuk menjadi teh berkualitas untuk produk kami"
"Saya Neneng teh. Jadi teteh dari peusahaan ya teh?"
"Iya, saya sekretaris dari direktur perusahaan yang akan mengelola perkebunan teh ini." jawab Sonia
"Ohhh, kalau begitu Neneng izin kedalam ya teh, takut dicari sama teman Neneng"
*
"Siapa Neng?" tanya Bianca saat melihat Neneg kembali memasuki kamarnya
"Biasa teh, orang orang kota yang meninjau kebun teh" jawab Neneng seadanya "Bagaimana keadaan teteh, perutnya masih sakit?" tanya Neneng
__ADS_1
"Masih sedikit nyeri, tapi sudah lebih baik"
"Apa Neneng panggil mbok Iyem saja kesini 7ntuk memeriksa keadaan teteh, atau... "
"Tidak perlu Neng, aku sudah baik baik saja, sebentar lagi juga sembuh" sangkal Bianca saat melihat kepanikan diwajah Neneng.
"Baiklah, tapi teteh masih harus istirahat. Jadi untuk kali ini saja, tolong iatirahat, tidur yang cukup, dan jangan banyak fikiran"
"Iya"
...****************...
"Riko tunggu" seru Sonia sembari menyusul Riko yang berjalan jauh didepan sana
"Kenapa menyusul? Bukannya kamu mau istirahat?' tanya Riko saat Sonia sudah ada dihadapannya
"Tunggu dulu aku capek, jangan banyak bertanya karena nafasku tercekat"
__ADS_1
Riko kembali berjalan meninggalkan Sonia. Lebih baik ia berjalan kembali agar cepat sampai keujung sana darpiada harus mendengar keluhan Sonia yang terdengar lebai. Namun baru beberapa langkah, ia sudah mendengar teriakan keras yang memekakkan telinga
"Rikoooo"