Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 22


__ADS_3

Tidak ada sapaan yang terlontar, atau bahkan senyuman yang terpancar. Keduanya hanya diam membisu, menatap satu sama lain dengan tatapan tak biasa. Jika Bianca menatap dengan tatapan penuh tanya, maka Riko menatap dengan tatapan penuh kebencian.


Riko berlalu menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Bianca yang masih diam terpaku di sofa depan televisi kamarnya. Ia seolah menganggap dirinya masih lajang, hingga tidak ada satu orangpun yang harus ia hargai keberadaannya. Hingga suara itu membuat langkahny terhenti


"Apa maksudmu?" seru Bianca, Riko menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang bernada pertanyaan itu, ia membalik badannya, hingga kini berhadapan langsung dengan Bianca


"Apa maksudku?" Riko memicingkan matanya kearah Bianca


"Kau menghancurkan karier dan hidupku, berdalih menikah denganku untuk sebuah pertanggung jawaban, tapi setelahnya kau meninggalkanku sendirian tepat di malam pernikahn kita. Apa tujuanmu?" tanya Bianca menggebu

__ADS_1


Riko berjaln menghampiri Bianca, menatap wajah itu dengan penuh kebencian. "Jadi kau menginginkan sebuah ungkapan, atau sebuah pernyataan?"


"Apa yang kau maksud"


"Jadi kau memilih sebuah pernyataan?" Riko menunjukkan smirk-nya "Aku membencimu" ucapnya tepat di samping telinga Bianca


Deg


Bianca masih diam, mencerna kata demi kata yang tadi dilontarkan suaminya. Bahkan ia tidak menyadari bahwa sang suami kini sudah pergi dari hadapannya. Ia terduduk lemas di kursi sofa, pernyataan suaminya yang mengatakan sebuah kebencian seakan meruntuhkan pertahanannya

__ADS_1


Ia adalah anak tunggal dari keluarga kaya raya, memiliki seorang ayah yang meratukan dirinya, dan mendapat kasih sayang dari orang luar seakan mendapat perhatian dari keluarga sendiri. tapi kini bahkan suaminya pun tidak memberikan perhatian yang seharusnya di berikan seorang suami kepada istrinya. Kepercayaan dirinya tentang sebuah kebahagiaan dalam pernikahan seakan runtuh tak tersisa


Bianca masih diam di tempatnya, hingga ia mendengar suara lemari yang terbuka, memperlihatkan suaminya yang kini telah membawa selimut dan satu bantal menuju pintu kamar. Ia hanya diam dan tidak berkata apapun, seolah tahu bahwa apa yang ia katakan akan berakhir sia sia. Tapi satu yang dapat ia simpulkan, bahwa kebencian suaminya pasti dengan alasan yang kuat, dan mungkin saja, semua hal yang terjadi dalam hidupnya satu minggu terakhir memang sudah terencana dengan maksimal sejak awal.


Huff


"No overthinking Bia"


Bianca bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang. Ia tidak peduli kemana suaminya pergi, karena rumah ini adalah milik suaminya, jadi pasti ia tahu tempat terbaik untuk tidur selain di kamar utama ini. Lagipula untuk saat ini, Bianca masih kesal dengan perlakuan suaminya. Jadi terserah saja apa yang akan suaminya lakukan, ia tidak peduli.

__ADS_1


Bianca membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu, mencoba memejamkan mata walaupun dengan terpaksa. Berguling kesana kemari mencari tempat yang nyaman, hingga akhirnya ia benar benar terlelap dalam buaian alam mimpinya


__ADS_2